
Selama ini kami tidak menyusuri track yang biasa dilalui para hiker atau para backpacker lainnya. Kami juga lebih sering berada di pegunungan atau di pantai daripada di perkotaan.
Sudah sekitar tiga minggu sejak kami memulai berjalan kaki. Kami telah menyusuri pantai sampai ke selatan, kemudian mampir ke Rio de Janeiro untuk membeli perbekalan.
Setelah itu kami bergerak ke utara. Sekarang lokasi kami berada di sekitar Manicor, beberapa ratus kilometer sebelah selatan Manaus, tempat paling banyak dikunjungi turis yang ingin melihat Amazon.
Biasanya paling lama kami berada di dalam satu hutan sekitar empat sampai lima hari, kemudian kami menemui pemukiman penduduk, baru kemudian masuk hutan lagi. Tapi kali ini kami sudah berada di dalam hutan sekitar tujuh hari dan belum menemukan pemukiman penduduk.
Perbekalan kami hanya cukup untuk tiga hari lagi. Kami mulai agak bergegas. Namun hari sudah mulai gelap, dan kami pun mulai mendirikan tenda lagi.
Kami tak bisa benar-benar bergerak terlalu cepat, karena bertoleransi pada Gabriel yang staminanya paling cepat habis. Selama berkemah biasanya kami berlatih gerakan-gerakan baru yang lebih sulit untuk dilakukan. Kami sekarang beruasaha untuk lebih kreatif dan atraktif.
Disaat benar-benar bertemu hutan yang lebat kami mulai memadukan capoeira dengan parkoer. Leon dengan senang hati mengajari kami sedikit mengenai dasarnya. Dan kami yang lain belajar dengan cepat. Kecuali Gabriel tentu saja.
Aku banyak mendapatkan pengalaman baru. Di perjalanan banyak hewan-hewan dan serangga tropis yang tak pernah kulihat sebelumnya. Karena di Brasil ini banyak sungai, kami juga tak kesusahan untuk mendapatkan air untuk minum ataupun membersihkan diri.
Buah-buahan pun beragam. Meski begitu, kami harus hati-hati karena banyak juga hewan buas yang mengintai. Untungnya pelajaran parkour dari Leon kadang bisa benar-benar digunakan dalam situasi genting.
***
Tak seperti biasanya, malam ini kami tidak melakukan kegiatan apa-apa. Semua orang terlalu mengantuk untuk mengobrol apalagi berlatih. Meskipun belum terlalu malam, semuanya pergi ke tenda masing-masing dan tidur. Kecuali aku dan Leon yang memang ditugaskan Fox untuk berjaga sampai pukul dua dini hari, sementara ia dan Gabriel nanti akan menggantikan kami.
Aku juga sebenarnya sangat mengantuk, dan kulihat Leon juga sepertinya sama mengantuknya denganku. Aku cepat-cepat menyeduh kopi untuk kami berdua sebelum kami benar-benar tumbang. Sepertinya lumayan membantu. Aku tak terlalu mengantuk sekarang.
Leon yang terlalu mengantuk sehingga meminum tiga gelas kopi sekarang kena getahnya. Ia langsung pergi untuk buang air kecil.
Aku baru saja berpikir Leon tertidur di dalam hutan karena ia lama sekali tak kembali. Tapi kemudian dia muncul dari kegelapan dengan wajah bingung, lalu ia bicara padaku. “Aku melihat cahaya di sana,” katanya sambil menunjuk ke dalam hutan tempat ia tadi berada.
“Sepertinya cahaya senter, tapi aku tak terlalu yakin. Apa kita perlu memeriksanya atau kita bangunkan Fox terlebih dahulu?” tanyanya meminta pendapatku.
“Mungkin ada hiker lain di hutan ini. Sepertinya tak perlu membangunkan Fox. Dia menyuruh kita berjaga sampai jam dua. Kita aja yuk yang pergi mengecek keadaan,” kataku.
Leon berjalan di depanku sebagai penunjuk jalan. Pantas saja tadi dia lama sekali. Dia memilih tempat yang lumayan jauh dari tempat kami berkemah. “Tadi aku melihat cahaya itu dari sini, mungkin arah datangnya dari sebelah sana,” katanya menunjuk tempat yang tak terlalu jauh dari situ. Kami berjalan ketempat yang ia tunjukkan, tapi tak ada siapa-siapa.
Tempatnya agak terbuka, tak terlalu banyak pohon. Lalu aku melihat sesuatu di tanah. Aku berjongkok, dan menemukan beberapa puntung rokok yang masih hangat.
Aku berdiri untuk menunjukkannya pada Leon. Tapi ia berdiri agak jauh di depanku sedang terpana menatap sesuatu. “Maya,” katanya sambil menoleh padaku. “Kau takkan percaya ini.”
Berhektar-hektar tanaman setinggi tanaman jagung berjejer rapi. Aku dan Leon saling memandang, mencari pemahaman. Aku memperlihatkan rokok yang kupungut tadi kepadanya.
Dan aku tahu bahwa ia juga mendapatkan kesimpulan yang sama denganku. Kami menemukan ladang mariyuana.
“Apa di Brasil ganja itu legal?” tanyaku pada Leon. Jika legal, tak perlu ada yang dikhawatirkan. Tapi jika ilegal, kami harus bergegas.
“Setahuku, di Kolumbia dan Meksiko penanaman ganja skala kecil itu legal. Tapi di Brasil masih ilegal. Apalagi ladangnya seluas ini dan disembunyikan di dalam hutan. Pantas dari tadi kita semua mengantuk. Sebaiknya kita pergi diam-diam sebelum ada yang melihat,” ajak Leon padaku. Aku mengangguk menyetujui.
Baru beberapa langkah mulai berjalan, langkah kami tertahan oleh dua orang pria yang bertampang menyeramkan. Salah satunya berbadan tinggi besar dan satunya lagi kurus pendek.
Pria yang sedikit lebih pendek dariku itu bicara pada kami. “Kalian sudah melihatnya, ya?” tanyanya dengan nada mengancam. Aku rasa ia lebih berbahaya daripada si tinggi besar.
Aku dan Leon tak menjawab pertanyaan itu, yang sepertinya diartikan pria pendek itu sebagai ‘ya’. Aku hanya berdiri mematung sementara otakku sedang bekerja keras untuk mencari jalan keluar dari situasi ini. Aku yakin Leon juga sedang memikirkan hal yang sama.
Aku cukup percaya diri bisa mengalahkan si pendek itu, kecuali ia bersenjata.
Melihat kami diam saja, pria tinggi besar itu mengarahkan cahaya senternya pada Leon, lalu padaku. “Sepertinya mereka bukan polisi hutan, hanya hiker. Yang wanita ini sepertinya turis Asia. Apa kita lakukan prosedur biasa? ” tanyanya pada temannya.
“Apa kau tak bisa menutup mulut? Kau bicara terlalu banyak,” kata si pendek garang.
Ia menatapku dan Leon satu persatu lekat-lekat. Aku menebak prosedur biasa yang dikatakan si tinggi besar itu pasti bukanlah hal yang menyenangkan untukku dan Leon. Si pendek sepertinya merasakan keresahanku, karena ia tersenyum menyeringai padaku. Aku merasa itu pertanda buruk.
Leon pun sepertinya merasakan bahaya. Kurasakan ia bergerak ke depanku dengan pose protektif. Melihat itu si pendek dengan sengaja memperlihatkan senjata laras pendek yang dia simpan dibalik bajunya.
Aku tahu sedikit provokasi akan menyebabkan pertumpahan darah. Jadi kuputuskan untuk berdiplomasi.
“Well, kami menemukan barang kalian yang terjatuh,” kataku sepolos mungkin dengan bahasa Portugis yang sengaja kubuat tidak fasih. Aku maju dua langkah, tepat ke hadapan dua pria menyeramkan itu. Leon mungkin sedang menatapku tak percaya. Tapi nanti juga dia akan mengerti apa yang harus dilakukan.
Si tinggi sepertinya percaya dengan kepolosanku dan sedikit rileks, tapi si pendek tetap waspada. Lalu aku dengan sengaja mendekatinya. “Ini punyamu, kan?” kataku pada pria pendek itu.
Dan itulah saatnya. Saat si pendek menunduk melihat bekas rokok mariyuana yang sedang kupegang, kukepalkan tanganku dan kutinju hidung pria itu dengan sekuat tenaga.
***