Pilgrims

Pilgrims
Free Time



Saat keempat orang itu tengah berjalan-jalan dalam imajinasi mereka ke tempat-tempat asing dalam lembar-lembar kertas yang mereka baca, aku berjalan menuruni tangga.


Aku berniat menemui John. Ada yang ingin kuminta darinya. Kuketuk pintu kamarnya. Ia membukakan pintu tak lama kemudian.


“Apa aku mengganggu?” tanyaku padanya.


“Aku memang sedang luang. Jadi yah, jawabannya tidak. Masuklah,” John mempersilakan.


Luas kamarnya mungkin seluas rumahku.


Ranjang yang besar dengan kelambu putih yang diikat di atasnya ditempatkan di tengah ruangan. Disekelilingnya bertebaran barang-barang mewah lainnya. Televisi dengan layar yang besar, komputer dengan tiga monitor, lemari es, dan sekumpulan barang-barang antik yang mungkin nilainya malah jauh lebih berharga daripada barang-barang elektronik yang ada di kamar ini.


John duduk di sofa yang berada di depan televisi. Aku mengikutinya dan duduk di sebelahnya sambil terus melihat sekeliling.


“Pantas kamu betah seharian mengurung diri di kamar,” gumamku. “Kenapa kamu habiskan uangmu untuk membeli rumah sebesar ini jika seharian kerjamu hanya di kamar?”


“Kukira kau kesini karena ada yang perlu dibicarakan, bukannya untuk mengkritik gaya hidupku,” timpalnya.


“Oh, benar,” ujarku ingat tujuanku semula.


“Jadi, ada perlu apa?” tanyanya serius.


Aku memikirkan kata-kata yang tepat untuk meminta. “Rasanya aku butuh liburan dari rutinitas ini. Bolehkah besok aku pergi melihat-lihat ke kota lain?”


“Dengan yang lain?” tanyanya tak terlalu kaget dengan permintaanku.


“Tidak. Sekali-kali aku ingin jalan-jalan sendirian. Jika yang lain kau liburkan juga, mungkin mereka juga ingin berjalan masing-masing. Sudah agak lama sejak kami selalu bepergian bersama.”


“Ya, baiklah. Besok seharian kau bebas pergi kemana saja,” ia mengijinkan.


***


Dan di sinilah aku sekarang, berbaring di pasir bersama pinguin-pinguin cebol yang bersuara berisik.


Jujur saja para pinguin ini tak seperti bayanganku sebelumnya. Dulu kupikir pinguin itu hewan yang manis dan agak misterius. Ternyata dugaanku salah. Aku baru tahu bahwa mereka sangat cebol, berisik, dan tidak misterius sama sekali.


Bukan berarti aku tak menyukai mereka. Justru sebaliknya, mereka bisa jadi teman yang baik bagi kita. Mereka oke-oke saja dengan keberadaan manusia. Bahkan kulihat kadang mereka bertingkah seperti manusia.


Ada dua ekor pinguin yang dari tadi berisik saja di dekatku. Lucu juga melihat mereka seakan sedang mengobrol layaknya manusia. Iseng-iseng kunamai dua ekor pinguin itu.


Karena tak tahu bagaimana menentukan jenis kelamin mereka, kunamai asal saja. Yang tubuhnya kecil dan pendek kunamai Unyil sedangkan yang tubuhnya gempal dan tembam serta agak kelihatan sulit berjalan saking gempalnya kunamai Doraemon.


Entah karena semalam aku kurang tidur atau apa aku mulai bertingkah konyol. Aku mengajak Unyil dan Doraemon berbicara. Aku memperkenalkan diriku pada mereka, menyebut namaku dan sebagainya.


Lucunya sebagai respon mereka mundur dua langkah, seolah bertanyatanya apa yang orang asing ini lakukan. Tentu saja aku hanya menebak mereka berpikir begitubtentangku, karena tentu saja aku tak tahu apa yang mereka pikirkan.


Lalu dengan tololnya aku menirukan cara mereka bersuara, mengharap respon yang lebih bagus daripada yang sebelumnya. Dan aku mendapatkannya. Mereka menyahutiku atau kedengarannya seperti itu karena pada dasarnya aku tak mengerti bahasa pinguin.


Dan kami pun mulai berteman baik, atau setidaknya kupikir seperti itu.


“Kamu senang?” tanya suara orang yang kukenal.


Aku menoleh. “Oh, kamu.”


“Kulihat kamu bermain-main dengan pinguin-pinguin itu dari kejauhan, tak kusangka kamu juga pergi ke sini,” ujar Leon membaringkan diri di atas pasir.


“Entahlah kenapa aku bisa sampai sini, saat bertanya pada orang di jalan dimana tempat yang pemandangan alamnya bagus, ia memberitahuku tempat ini. Kamu sendiri? Apa yang membawamu datang ke tempat ini?”


“Seperti nama tempat ini, aku sedang mencari harapan,” Leon bicara sambil menutup mata. Wajahnya damai sekali di bawah terik matahari seakan tubuhnya menyerap setiap energi positif di sekitarnya dan menguarkannya kuat-kuat ke arahku. Lama ia diam.


Embusan nafasnya melambat dan teratur.


“Hey, kamu tidur?” tanyaku.


Senyum terukir di wajahnya, matanya masih terpejam. Cukup bagiku sebagi jawaban.


“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanyaku lagi.


“Tanya saja.”


“Apa yang ada dalam pikiranmu sekarang?”


“Matahari.”


“Kenapa matahari?”


“Coba pikir, bagaimana bumi ini bisa eksis tanpa matahari? Lagipula bukankah matahari ini adalah matahari yang sama dengan matahari yang kau lihat di masa apapun kita berada?”


Kupikirkan kata-kata Leon sejenak. “Ya, kamu benar. Apapun yang ada di muka bumi ini berubah seiring waktu. Matahari adalah salah satu dari sedikit hal yang tidak berubah atau setidaknya belum berubah,” aku membenarkan.


Ia membuka matanya lalu menatapku. “Bagaimana rasanya menjadi dirimu?”


“Biasa saja,” jawabku.


“Tidakkah kamu berdebar-debar? Lagipula, dari sudut pandangmu, semuanya tak pasti.”


“Aku tak tahu apa yang perlu kurasakan ataupun apa yang harus kulakukan sebelum permasalahan muncul,” jawabku.


“Benarkah?” tanyaku ragu. Aku sendiri tak yakin dengan pernyataan itu.


“Terkadang aku juga merasa begitu. Kadang rasanya lebih baik saat aku merasakan sakit daripada tidak terjadi apa-apa sama sekali. Karena dengan begitu kita jadi punya tujuan,” gumamnya.


“Ya. Masalah terbesarnya sekarang adalah aku bahkan tak mengerti bagaimana dan kenapa hal ini terjadi. Akhirnya aku merasa seperti sedang tidak ada masalah apa-apa,” ujarku melanjutkan.


Ia tersenyum jail dan menutup matanya lagi. “Kita butuh terapi.”


Aku mengabaikan pernyataan itu.


***


Selewat tengah hari kami makan siang di kafe teras di yang banyak terdapat di sepanjang jalan lalu berjalan-jalan di sekeliling kota.


Lucunya ternyata pinguin-pinguin disini juga berjalan-jalan di jalanan. Mereka berbaur dengan orang-orang. Hidup berdampingan dengan damai.


Sayang Unyil dan Doraemon tak bisa berjalan-jalan dengan kami, mereka sepertinya masih mengobrol di pinggir pantai saat kami pergi.


Tak terasa matahari sudah mulai terbenam saat kami berjalan-jalan di lorong-lorong kota yang sepi. Leon meberitahuku ini jalan memotong untuk sampai di halte lebih cepat.


“Apa kita tersesat?” tanyaku pada Leon setelah berjalan sekitar setengah jam.


“Ini jalan yang benar kok,” jawab Leon.


“Rasanya dari tadi kita berputar-putar di tempat yang sama,” ujarku tak yakin.


“Bangunan-bangunannya memang mirip,” timpalnya santai.


“Kamu yakin?” tanyaku.


“Seratus per...”


“Ssht!!” aku membekap mulut Leon dengan tanganku. “Kamu dengar itu?” tanyaku pelan.


Leon menggeleng.


Aku yakin mendengar sesuatu. “Ikuti aku!”


Kususuri gang-gang kecil di antara bangunan-bangunan lama yang berjejer rapi tapi terkesa angker itu.


Leon menurut dan mengikutiku tanpa bertanya. Gang-gang yang bagaikan maze itu membuatku sedikit disoriented—tak tahu mana utara dan selatan apalagi jalan kembali.


Seharusnya aku berhenti disini. Untuk apa aku peduli? Tapi aku percaya pada ketajaman pendengaranku. Aku mendengar erangan kesakitan meskipun samar.


Entah rasa penasaran atau ketololan yang membuatku terus mencari asal suara. Bukankah seharusnya aku menghindari hal -hal seperti ini?


Ujung gang sudah terlihat. Kupercepat langkahku. Kini aku mendengar suara tawa yang berasal bukan hanya dari satu orang. Aku mulai mencium bau masalah.


Tiba di ujung gang langkahku terhenti. Di seberang jalan agak jauh dari tempatku dan Leon berdiri, aku melihat lima orang pria sedang mengelilingi sesuatu.


Penerangan disini begitu minim. Aku dan Leon tersembunyi dalam bayang-bayang salah satu bangunan. Kucoba membaca yang sedang terjadi.


Lalu aku melihatnya. Seorang wanita dengan baju robek di sekitar bahu dan bibir berdarah terpojok ketakutan dikelilingi para pria yang mabuk itu.


Dengan kemarahan menggelegak, hampir tanpa berpikir aku mulai bergerak sebelum akhirnya langkahku terhenti.


Leon menahan lenganku. Dengan tatapannya ia seolah bilang 'Sudahlah, itu bukan urusan kita!'.


Aku melepaskan genggamannya di lenganku dan melesat pergi.


Ke lima pria itu kaget dengan kedatanganku. Sejauh pengamatanku, mereka belum melakukan apa-apa selain menampar dan menakut-nakuti si wanita. Untunglah.


“Tinggalkan tempat ini sekarang juga!” perintahku pada mereka. Ekspresi mereka seperti menanggapku sedang bercanda. Lalu mereka tertawa melolong-lolong.


“Kalau mau kau boleh bergabung dengan kami, nona manis,” kata salah satu dari mereka.


Mereka berlima perlahan menghampiriku, senang karena menemukan calon korban baru.


Menjatuhkan lima orang mabuk bukanlah sesuatu yang sulit. Sumpah serapah keluar dari mulut mereka saat kudaratkan sederet tendanganku di wajah mereka.


Mereka harus merasakan rasa sakit yang sama dengan yang mereka berikan pada wanita malang itu.


Setidaknya kubuat luka itu agar tidak bisa sembuh dalam waktu cepat. Aku bersiap-siap untuk menerima serangan balik. Tapi mereka ternyata hanya sekumpulan pengecut yang bahkan tidak berani untuk melakukan serangan balik.


Setelah melihat sekumpulan pemabuk itu lari sampai tak terlihat lagi olehku, barulah kuhampiri sang korban.


“Kamu tidak apa-apa?” aku bertanya padanya.


Wanita itu menatapku dari atas sampai bawah dengan pandangan yang membuatku risih.


Lalu dengan santainya ia berdiri, dan menepuk nepuk bajunya yang berdebu gara-gara ia duduk di tanah. Aku bergerak mundur untuk memberinya cukup ruang. Ia kemudian mengikat rambutnya yang tergerai tak karuan sehingga terlihat lebih rapi.


Kejadian seperti itu biasanya menimbulkan trauma bagi korbannya, tapi kulihat ia tidak begitu terganggu dengan fakta bahwa dirinya baru saja mengalami hal yang buruk.


***