Pilgrims

Pilgrims
Bahia



Common sense No. 2: Jangan berjanji jika tidak yakin bisa menepati.


Terkadang, agar seseorang berhenti bicara atau agar dianggap keren oleh orang lain, kita membual janji-janji semu. Tanpa disadari, janji yang tidak ditepati membuat kredibilitas malah menurun, bahkan hubungan pertemanan atau persaudaraan bisa berakhir.


***


Saat hari sudah mulai terang, aku beranjak meninggalkan kedai kecil tersebut langsung mencari tempat homestay di lokasi yang disebutkan pemilik kedai. Aku menggunakan buku percakapan sederhana dalam Bahasa Portugis yang diberikan pemilik kedai kopi orang untuk bertanya pada penduduk setempat.


Tak terlalu sulit mencari lokasi itu, dan karena musim liburan sudah berakhir, sebenarnya banyak sekali rumah yang available. Akhirnya kutemukan rumah teman pemilik kedai.


Rumahnya sederhana. Disekelilingnya dijadikan semacam kebun kecil untuk menanam sayuran. Disamping rumahnya ada sebuah toko bunga. Rumah ini membuatku terkesan karena terlihat segar. Aku bernegosiasi mengenai harga dengan pemilik rumah yang bernama Diego. Setelah sepakat, aku langsung masuk kamar dan tidur.


Karena lelah dan merasa semacam jetlag, aku baru terbangun setelah tidur selama 13 jam. Ternyata aku tidur seharian sehingga saat bangun hari sudah malam. Perutku lapar sekali. Sepertinya aku melewatkan waktu makan malam.


Kulihat di meja kamarku ada senampan penuh makanan, mungkin istrinya Diego yang menyiapkannya untukku. Makan malamku–nasi dan masakan sejenis seafood—kumakan dengan lahap. Lalu kucuci bekas peralatan makanku di tempat mencuci piring di dapur.


Aku berusaha untuk tidak berisik, tak ingin membangunkan jika mereka sudah tidur. Aku kembali ke kamar dan melihat kalender yang tergantung di dinding. Aku tidak terkejut saat kalender itu menunjukkan bahwa saat ini adalah bulan Maret tahun 2005.


Apa seperti inilah kehidupanku sekarang? Bukannya aku keberatan juga sih. Selain canduku, aku tak memiliki kehidupan sosial yang aktif. Orang tua ku dan beberapa teman dekatku tinggal di kota yang berbeda sehingga aku yakin mereka akan baik-baik saja tanpaku.


Aku sangat sadar bahwa kemungkinan aku dipindahkan lagi suatu hari nanti sangat besar. Mungkin seharusnya aku membuat beberapa rencana dan menyiapkan hal-hal yang sekiranya akan berguna di masa depanku—atau mungkin masa lalu--aku tak tahu pasti. Tapi jujur saja, aku tak pintar membuat rencana jangka panjang. Aku hidup untuk hari ini dan besok. Sedangkan lusa akan kupikirkan besok.


***


Kota Salvador da Bahia, sejauh yang kulihat saat mencari lokasi homestay kemarin, sangat berbeda. Disini segalanya begitu eksotis dan unik. Itulah yang membuat suasana hatiku jauh lebih baik. Setelah beristirahat cukup, dan badanku segar kembali, aku tak bisa menahan diriku untuk segera menjelajahi kota satu ini. Sekali-kali aku ingin mencoba menjadi turis.


Pagi-pagi sekali aku bangun dan berniat untuk menyapa pemilik rumah. Diego dan Maria, suami istri pemilik rumah, sudah menunggu di meja makan untuk sarapan. Mereka terbiasa bicara dengan turis sehingga dapat berkomunikasi dengan bahasa Inggris meskipun patah-patah. Awalnya percakapan kami terdengar agak aneh. Tapi sejauh ini kami dapat berkomunikasi dengan baik.


Mereka hanya tinggal berdua di rumah itu. Anak bungsu mereka menikah satu tahun lalu. Mungkin karena itulah mereka sepertinya senang sekali dan menyambutku dengan baik seolah anggota baru keluarga mereka.


“Makanannya enak? ” tanya Maria.


“ Enak sekali, ” jawabku. Aku tidak bohong. Aku bahkan tidak tahu nama makanan ini, tapi ini enak sekali. Mungkin secara kasar bisa disebut daging sapi panggang, tapi rasanya luar biasa.


“Kami senang kau menyukainya. Diego bilang kau berasal dari Indonesia. Aku tidak tahu orang-orang Indonesia menyukai jenis makanan seperti apa. Aku bahkan tidak tahu Indonesia berada dimana, ” kata Maria sambil tersenyum. Ia tipe ibu-ibu yang ramah dan agak cerewet. Aku menyukai Maria. Ia mengingatkanku pada ibuku.


“Kami orang Indonesia lumayan suka mencicipi hidangan baru. Dan aku yakin masakanmu ini pasti sangat disukai disana.”


Maria tersenyum senang.


Kali ini aku bingung harus menjawab apa. “Emm, mungkin agak lama, ” jawabku tak yakin. Aku tak tahu akan berada disini untuk berapa lama.


“Kami akan sangat senang jika kau disini lebih lama. Kami agak kesepian setelah ketiga anak kami berkeluarga, ” kata Maria lagi. Ia sangat keibuan tapi juga seakan sebaya denganku.


“Aku sangat menyukai kota ini, mungkin aku akan cukup lama tinggal disini. Apa kalian tahu tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi?” aku bertanya pada keduanya.


Maria lagi yang menjawab. “Diego akan berangkat ke toko souvenir, kau boleh ikut jika mau. Dia akan menunjukkan tempat-tempat yang menarik padamu di perjalanan.”


Tanpa pikir panjang aku setuju untuk ikut. Setelah menyelesaikan sarapan aku dan Diego berangkat. Toko souvenir milik Diego berjarak sekitar tiga kilometer dari rumahnya. Kami berjalan kaki tentu saja. Tak seperti istrinya, Diego agak pendiam. Dia hanya bicara ketika ditanya, aku ragu ia benar-benar pedagang. Kami pun berjalan dalam diam.


Dalam perjalanan, aku benar-benar merasa seperti sedang berwisata. Bagaimana tidak? Kota ini memang objek wisata yang menawarkan segala keindahan alam, keunikan arsitektur, dan kekentalan budaya.


Jujur saja aku tak pernah merasa menikmati melihat pantai, tapi yah aku memang jarang berlibur ke pantai sebelumnya. Dulu aku bahkan berpikir jika pantai itu akan terlihat sama saja di belahan dunia manapun kita berada, karena kan semua pantai itu lautnya terhubung, tapi ternyata aku salah. Yang membuat pantai ini menarik untukku mungkin karena pemandangannya yang beragam, dari mulai pelabuhan, mercusuar, bahkan pohon palem dan orang-orangnya membuatnya lebih terasa berbeda.


Kota ini juga agak mengingatkanku pada film-film bajak laut. Bayangkan saja di pantai mana lagi kita bisa melihat bekas meriam perang.


Belum lagi kota ini terdiri dari 'kota atas' yang merupakan pusat kota dan pemukiman dan 'kota bawah' yang merupakan kota pelabuhan. Kedua kota itu dihubungkan oleh sebuah eskalator setinggi tujuh puluh dua meter yang dibangun seabad lebih yang lalu.


Arsitektur bangunan-bangunan di kota ini juga kuno. Memang sepertinya banyak dibangun sedung-gedung baru yang lebih modern, tapi kekentalan budaya kolonial masih tetap terasa. Buktinya bangunan-bangunan baru juga dicat berwarna, persis mengikuti bangunan-bangunan yang menjadi pusat sejarah yang kulihat saat pertama kali menginjakkan kaki di kota ini.


Aku tak hentinya melihat ke sekeliling saat berjalan. Banyak sekali turis-turis yang juga sedang menikmati keeksotisan kota ini.


Kami sudah sampai di toko souvenir milik Diego yang ternyata tepat di dekat tempat pertama kali aku datang yaitu di pusat sejarah, atau yang biasa disebut Pelourinho. Waktu seolah berjalan begitu cepat jika kita menikmatinya. Kota ini kesannya luas, beragam dan hidup.


Toko souvenir Diego menjual berbagai macam kerajinan tangan. Barang-barang yang dijual beragam mulai dari lukisan, jimat pengusir setan, alat musik, dan masih banyak lagi jenisnya yang aku tak tahu namanya ataupun keguanaannya. Toko souvenir milik Diego ini cukup besar. Ada sekitar lima orang pegawai yang ia pekerjakan. Diego mengenalkanku pada mereka.


Aku mengerti sekarang kenapa si pendiam Diego bisa berhasil membuka toko souvenir. Ia tidak benar-benar berhubungan dengan pembeli. Semua yang berhubungan dengan pembeli dan pengrajin dilakukan oleh para pegawainya.


Ia justru terlihat seperti akuntan. Ia menghitung, mengecek, dan mengontrol pemasukan dan pengeluaran. Ia juga yang mengetahui detail barang barang yang dibuat para pengrajin dan membuat diagram statistik barang-barang yang paling diminati pembeli, sehingga keseimbangan permintaan dan penawaran tetap terjaga.


Dalam hal ini secara kasar ia terlihat seperti pria tua yang terlalu suka uang. Tapi aku tahu dia TIDAK seperti itu, karena ia mematok harga yang rasional tidak seperti kebanyakan toko souvenir lain yang menetapkan harga yang selangit kepada para turis. Dan juga karena ia mengijinkanku tinggal di rumahnya dengan harga yang relatif murah. Ia hanya teliti, itu saja.


Karena tidak punya kesibukan, aku memutuskan untuk bantu-bantu di toko souvenir milik Diego secara sukarela. Aku diajari sedikit bahasa Portugis oleh pegawainya yang bernama Gabriel. Saat pulang aku sudah hafal kata-kata sapaan dan sedikit percakapan sederhana.


***