
Common sense No. 4: Check & recheck every fact!
Sampai sebuah informasi melewati proses cek, ricek, dan reasoning yang memadai, kemungkinan informasi tersebut benar atau salah adalah 50:50.
Hoax dan propaganda dapat kita kenali jika kita menerapkan proses ini.
***
Kudatangi tempat yang dikatakan Gabriel sebagai basecamp orang yang katanya bisa mengajariku capoeira itu. Tempatnya seperti sebuah gedung olahraga yang sudah tak terawat.
Katanya aku harus menemui orang yang bernama Fox—nama yang tidak lazim disini, mungkin hanya nama panggilan. Aku menghampiri seorang pria tinggi besar yang berkulit coklat mengkilap dan seorang wanita kaukasia yang sedang duduk mengobrol di situ. Mereka berkeringat. Mungkin sehabis jogging atau apa.
Gabriel tidak memberitahuku dengan jelas bagaimana rupa orang itu dan apa persisnya yang harus kukatakan.
“Hai, apa disini ada yang bernama Fox? ” tanyaku pada mereka.
Si perempuan berdiri dan memandangiku dengan pandangan menilai. Wajah cantiknya terlihat tak ramah. “Kamu turis ya,” katanya dengan nada heran. “Ada perlu apa denganku?” tanyanya intimidatif.
Jadi Fox itu perempuan? Masih muda pula. Jelas-jelas kemarin Gabriel menyebutnya 'him' bukannya 'her'. Dasar. Kubalas dia nanti.
Tinggi wanita itu kira-kira 165 senti, lebih tinggi sekitar sepuluh senti dariku. Jadi aku agak mendongak saat bicara padanya.
“Hai,” sapaku canggung. Aku tahu dari nada bicaranya kalau dia punya semacam aura pemimpin. “Aku ingin mempelajari capoeira. Seseorang memberitahuku kalau kamu pengajar yang bagus. Jadi aku datang kesini.”
“Hmm. Turis biasanya tidak datang kesini. Ada beberapa sekolah capoeira yang membuka kelas untuk turis yang sedang melancong,” kata Fox lagi.
“Aku tidak sedang melancong dan berencana disini cukup lama,” aku menjelaskan.
Mata Fox berkilat menyeramkan. “Meskipun tidak sekadar melancong tetap saja kau turis. Kau tak akan punya cukup waktu untuk belajar capoeira dengan baik, karena melatih fisikmu saja akan cukup merepotkan.”
Jadi dia tidak sembarangan melatih seseorang, makanya Gabriel menyuruhku berpersuasi. Tapi aku tahu jurus persuasi tidak akan mempan dalam situasi ini. Mungkin aku harus sedikit berkompromi. “Begini saja. Temanku bilang latihanmu cukup keras. Bagaimana kalau kita buat kesepakatan? Jika aku bisa bertahan dalam latihan fisik yang tadi kamu bilang, kamu akan mengajariku semua hal tentang capoeira.”
Aku berdebar-debar menunggu keputusannya. Fox agak menyeramkan sebetulnya. Tapi aku tidak akan menyerah sekarang, tidak saat aku benar-benar menginginkan sesuatu.
Sepertinya dia sedang mempertimbangkan permintaanku. Ekspresinya tak bisa ditebak. Tapi, akhirnya ia bicara. “Baiklah, kamu diterima. Latihanku keras. Aku ragu kamu akan bertahan. Kamu bisa berhenti kapan saja,” katanya dingin.
“Kamu urus dia ya!” kata Fox pada pria di sebelahnya.
Aku tak menyadari pria itu masih berdiri disini dari tadi. Kehadiran Fox begitu dominan. Pria itu kelihatan ramah, lalu ia menghampiriku.
“Aku Rio,” katanya ramah.
“Maya,” jawabku agak melamun. Aku masih tak percaya Fox benar-benar menerimaku. Perasaanku sedikit menggebu-gebu. Gabriel mengakuinya sebagai capoeirista terkuat yang ia kenal. Aku tak sabar untuk segera belajar.
“Kamu memikirkan apa sih?” tanya Rio heran melihatku masih seperti melamun.
Aku menggelengkan kepala. “Bukan itu kok yang sedang kupikirkan. Aku justru masih kaget dia menerimaku secepat ini. Melihat sifatnya, tadinya kupikir kami akan berdebat lebih lama sebelum ia menerimaku. Aku bahkan sempat berpikir dia tak akan menerimaku apapun yang kukatakan.”
“Oh, itu,” katanya santai. “Kamu tentu gak tahu. Tapi sebenarnya sudah lama sekali tidak ada yang berlatih sehingga kami hanya bisa berjogo berdua. Tapi hari ini kami mendapat dua teman latihan baru sekaligus. Aku senang sekali, aku sudah capek dikalahkan terus oleh Fox. Aku perlu seseorang yang bisa kukalahkan,” katanya sambil menepuk bahuku.
Aku mengerutkan kening, tidak mengerti. “Jadi kamu yang akan melatihku? Bukan Fox?”
“Kenapa? Kamu gak puas?” Rio pura-pura tersinggung.
“Kurasa memang lebih baik berlatih bersamamu. Setidaknya kamu gak galak.”
“Mungkin memang itu tujuannya. Fox agak kurang sabaran. Jadi, orang yang sangat pemula sepertimu memang lebih baik berurusan denganku lebih dulu untuk berlatih hal-hal dasar.” Rio menjelaskan.
“Omong-omong, siapa yang memberitahumu tentang tempat ini? Tidak banyak lho orang yang tahu bahwa kami sering berlatih disini.”
“Kamu kenal Gabriel yang bekerja di toko Souvenir?” aku balik bertanya.
“Oh, Gabriel yang itu. Tentu saja aku dan Fox mengenalnya. Dia pernah berlatih disini. Tapi ia berhenti di tengah jalan karena penyakit asmanya sering kambuh. Dia orang yang punya selera humor yang bagus,” Rio mengenang.
“Dia memang teman yang menyenangkan meskipun kadang agak aneh. O ya, Gabriel tidak memberitahuku soal pembayaran iuran. Apa aku harus membayarnya sekarang atau bagaimana?” Bisa-bisanya aku lupa bertanya soal uang iuran. Bagaimana kalau uangku tidak cukup. Memang sih uang dari Sin masih banyak. Tapi, aku tak tahu sampai kapan itu bisa bertahan jika aku terus hidup ala turis disini tanpa bekerja.
Rio tertawa mendengar pertanyaanku. “Apa Gabriel tidak memberitahumu?”
“Memberitahuku apa?” aku tak mengerti, apalagi yang tidak diberitahukan Gabriel padaku.
“Kami tidak menerapkan iuran apapun. Aku dan Fox mengajar siapa saja yang terlihat serius mau belajar tanpa harus bayar.”
Aku masih tak mengerti. “Tunggu, jadi kalian mengajar secara cuma-cuma? Lalu apa keuntungan yang kalian dapatkan dari ini?”
"Sebenarnya sampai saat ini kami hanya baru mengajar sekitar enam orang. Keenam orang itu ada yang hebat dan punya potensi, ada pula yang tidak. Tapi kebanyakan dari mereka berhenti di tengah jalan. Latihan kami memang cukup berat, jadi banyak yang tidak tahan. Ada pula yang tahan, tapi malah berganti haluan dan tidak berniat lagi belajar capoeira. Hanya satu orang yang benar-benar bertahan sampai akhir," Rio menjelaskan.
"Kalau ditanya apa keuntungan yang kami dapatkan aku bingung harus menjawab apa. Mungkin secara langsung memang tidak ada. Ini hanya hobi atau semacam itulah. Ada lagi yang ingin kau tanyakan? ” tanya Rio padaku setelah ia menjelaskan panjang lebar.
“Ada dimana orang yang bisa bertahan sampai akhir itu sekarang? Kenapa dia tidak ada disini?” aku jadi penasaran.
“Ini bukan sekolah capoeira. Kami bukan wadah resmi. Jadi sekarang dia berada di tempat resmi yang tepat untuk mengembangkan bakatnya,” jawabnya. Raut wajahnya terlihat agak sedih.
“Cukup dulu yuk tanya jawabnya. Masih banyak waktu untuk itu. Jadi kapan kamu mau mulai berlatih?”
Aku menjawab. “Kalau kamu ada waktu, bagaimana kalau sekarang?”
***