
Dua sejoli yang nampak serasi namun hubungan mereka yang hanya sebatas sahabat itu kini menikmati makan siangnya disebuah restauran Jerman tidak terlalu jauh dari kantor. Lidah Natalie sudah biasa dengan masakan Jerman, bertahun-tahun bersama Chris lah alasannya biasa dengan segala makanan aneh itu.
Ya, awalnya memang aneh, saat pertama kali Natalie memakannya saat masih kuliah dulu. Dan lama kelamaan Natalie malah ikut menyukainya. Segala hal sudah mereka bagi, dan ikut menyukai satu sama lainnya. Tapi satu hal yang belum juga ikut diterima Nataie, yaitu perasaan lebih Christian padanya.
"Nat, tinggal beberapa hari lagi kan aku berada di kantor itu" Chris memulai percakapan setelah tadinya hening karena pertengkaran mereka memesan makanan.
"Emmmm" sahut Natalie seadanya.
Tangan Chris menggenggam jemari Natalie yang baru saja menyelesaikan aktifitas makanya.
"Nat, kau tau kan aku tidak bisa jauh dari mu. Ikutlah dengan ku. Jangan bekerja disitu lagi, kau bahkan tidak punya teman disana hal apa yang membuatmu betah berada disana. Aku tau kau tertekan, kau itu berpura-pura kan padaku. Atau kau sengaja ingin jauh dari ku, kau sudah tak butuh aku hahh"
"Omong kosong Chris" lepaskan tangan Natalie dari genggaman Chris. "Aku hanya sulit beradaptasi dengan lingkungan baru. Lagi pula ini tidak terlalu buruk hanya tidak punya teman. Aku lebih suka sendiri, kau tau kan dulu bahkan kuliah aku tak punya teman".
"Sudahlah jangan khawatirkan aku" lanjutnya lagi.
"Natalie, kenapa kau ini sangat keras kepala sekali sih" kesal Chris.
Natalie mengangkat bahunya acuh tak perduli.
"Ya sudah, tak perlu bekerja kalau begitu aku tidak mengizinkan mu bekerja tanpa ada aku bersama mu"
"Kau pikir kau siapa tuan Christian Anderson. Aku butuh uang untuk hidup" Natalie terkekeh dengan keposesifan sahabanya itu. Dia tahu sebenarnya Chris cemburu padanya, takut kalau-kalau ada yang mendekatinya. Tapi kembali lagi pada komitmen Natalie itu tak akan berpengaruh apapun karena dia tak akan menanggapinya.
"Kau akan tetap hidup jika hanya tidak bekerja. Kau lupa kau punya siapa disini?"
"Kau tau aku tak suka merepotkan orang lain hah? lagi pula aku masih kuat mengurus diriku sendiri"
Christian kembali menggenggam jemari Natalie, menatap lembut sorot manik Natalie yang tidak perduli.
"Kalau begitu menikahlah denganku, kau akan tetap hidup dan tidak merepotkan orang lain jika tidak bekerja. Nat, kau tau betul bagaimana perasaanku padamu selama ini"
Natalie tersenyum, dia sangat tau perasaan Christian padanya. Dia juga sangat tau betapa sakit Chris menunggu tanpa adanya sedikitpun harapan dibalas olehnya.
Natalie mempererat genggaman mereka, menatap balik manik Chris kali ini dia perduli.
"Tidak ada yang tidak mungkin, kau hanya perlu sedikit meningkatkan perasaanmu Nat"
"Lalu bagaimana dengan rasa traumaku Chris, semua itu tidak mudah. Aku tidak akan pernah menikah"
Chris melepaskan genggaman mereka.
"Apa belum cukup selama ini aku menunggu mu?" timpal balik Chris kesal dengan Natalie.
"Sudahlah jam makan siang sudah habis. Ayo kita kembali"
Mereka kembali ke kantor dengan suasana hening tidak ada perbincangan diantaranya. Bergulat dengan pikirannnya masing-masing, dan dengan kekesalan masing-masing. Chris kesal dengan penolakan Natalie yang selalu sama dan Natalie kesal dengan pertanyaan Chris yang selalu sama.
Sebenarnya Natalie merasa bersalah pada Christian, akibat masa lalu dan rasa traumanya membuat lelaki yang selama ini menjadi pelindungnya terluka. Bukan Natalie tak tau terima kasih atau bahkan jahat. Tetapi karena hatinya sudah tertutup rapat-rapat dan perasaan traumanya yang kuat membuat rasa cinta pastinya akan sulit tumbuh dalam hatinya. Bahkan Christian yang selalu ada menemani dan membantunya tidak cukup kuat meruntuhkan tembok pertahanan yang dibuat kokoh Natalie.
Bahkan sudah berbagai macam cara, berulang-ulang kali Chris mencobanya gampur tidak bisa dihitung. Tembok pertahanan dalam diri Natalie masih belum bisa disentuh Christian.
Lelaki itu tidak pernah menyerah dan putus asa, Chris yakin suatu saat nanti akan ada waktu dimana perasaanya terbalaskan, menikah dan hidup bahagia bersama Natalie wanitanya. Entah sampai kapanpun itu dia menunggu.
Mobil Christian berhenti di baseman kantor, lelaki itu mematikan mesin mobilnya melepas seatbelt dan turun tanpa berbicara sepatah katapun pada Natalie yang berbicara padanya. Setelah Natalie turun dia mengunci otomatis mobilnya dan berjalan meninggalkan Natalie yang masih dibelakangnya.
Christian bukan marah, dia hanya butuh waktu menenangkan hati dan pikirannya. Natalie bukan hanya menonaknya untuk menikah saja tetapi juga menolak untuk itu meninggalkan perusahaan yang selama ini jadi tempatnya mencari nafkah untuk hidupnya sendiri.
Natalie merasa bersalah, dia tidak menyangka Chris akan semarah itu padanya. Apakah dia sangat menyakitinya pikirnya. Tapi bagaimana lagi semuanya tidak semudah yang diinginkanya.
Wanita itu mempercepat langkahnya mengejar Chris yang hampir sampai di sebuah lift menuju lantai atas.
"Chriss tunggu aku.... Chrisssss" teriak Natalie yang tak didengarkan Chris. Sekuat tenaga dia berlari mengejar sahabatnya yang sudah diambang pintu lift yang hampur terbuka
"Awwww...."
"Natalieeeeeeee"