
Sudah seminggu Christian seperti orang gila menunggu Natalie untuk kembali bicara. Bolak balik kantor miliknya, lalu ke kantor keluarga Eddison, dan ke kediaman Natalie. Namun bukan hanya tak mendapati suaranya, bahkan lelaki itu tak menemui orangnya. Ponselnya pun tidak dapat dihubungi.
Seperti saat ini, lelaki itu sudah kembali tiba di kantor keluarga Eddison untuk menanyakan keberadaan atau kabar Natalie.
Lelaki itu berjalan cepat bahkan sedikit berlari menuju lantai dimana wanitanya dulu bekerja, membuka pintu dan masih saja mendapati kekosongan dalam ruang itu. Christian menghembuskan nafasnya kasar, mendorong pintu untuk lebih terbuka dan kemudian masuk.
Christian mengedarkan pandangannya kesekitar ruangan, pada barang-barang milik kekasihnya yang masih tertata dengan rapih. Juga wangi vanilla yang begitu melekat pada ruangan ini berasal dari pemiliknya. Sungguh, Christian begitu sangat merindukan wanita yang dicintainya itu.
"Sudah seminggu Nat, belum cukup kah hukuman ku?" Christian hampir meneteskan bening matanya.
Lelaki itu mencoba untuk tetap tegar, masih berharap begitu tinggi agar wanitanya kembali.
"Bukankah urusan mu sudah selesai dengan perusahaan ini? atau ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku? ada yang penting sampai kau kesini pagi benar?" suara bariton itu membuat Christian menoleh ke belakang dimana suara itu berasal.
Frans di ambang pintu dengan raut wajah datarnya nampak tak suka dengan keberadaan Christian di ruangan Natalie. Dari dulu mereka memang tak pernah dekat.
Christian tak menghiraukan, lelaki itu berjalan dan memilih untuk keluar ruangan tanpa melihat kearah Frans sedikit pun.
.
Setelah Christian pergi kini giliran Frans yang memasuki ruangan Natalie. Menyentuh buku-buku dan dokumen milik wanita itu kemudian duduk dikursi keberasaran di ruangan itu.
Frans menarik nafasnya pelan, melonggarkan kemeja bagian kerah yang dia pakai dan menyandar pada punggung kursi.
"Maafkan aku Nat" ucap nya kemudian, begitu lirih. Rasa penyesalan masih begitu dalam dirasakan oleh Frans dimana seminggu yang lalu telah membuat Natalie pergi.
*Fransback on
Natalie nampak sudah merasa lega akhirnya malam ini Christian tidak menemuinya lagi. Setelah kejadian tadi siang ternyata kekasihnya itu menuruti permintaannya yang ingin sendiri dulu. Natalie baru saja menyelesaikan mandinya dan kini tekah mengebakan kaus oblong berwarna putih dan celana pendek hitamnya.
tok tok tok.
Natalie memicingkan matanya. Apa ini? dia masih saja datang?
tok tok
Natalie memutar bola matanya tak perduli masih fokus pada buah apel yang dimakannya.
tok tok
kenapa Christian diam saja?
biasanya dia akan teriak-teriak atau berkali-kali menelpon meminta untuk dibukakan pintu. Batin Natalie.
Wanita itu menghentikan makannya berjalan kearah pintu untuk membukanya. Dengan ragu Natalie membuka knop pintu secara perlahan kemudian pintu terbuka menampakan sosok yang berdiri didepan pinty tersebut.
Deg.
Badan Natalue melemas seketika, jantungnya seperti sedang memacu kuda dan bahkan tulang-tulangnya begitu sangat lemah. Lelaki itu, beraninya dia datang, untuk apa?
Natalie segera menutup pintu tetapi lelaki itu langsung menahannya.
"Berikan aku kesempatan untuk bicara Nat, ku mohon"
"Tidakkkkkk. Tidak perlu ada yang dibicarakan" ucap Natalie masih menahan pintu agar tidak terbuka sedangkan Frans menahan pintu agar bisa terbuka.
"Nat, aku gak mau kaya gini"
"Aku? sejak kapan kita sedekat itu tuan Frans yang terhormat" Natalie melepaskan pintunya dan kembali terbuka.
Frans menghembuskan nafasnya lega. "Nat, dengar-"
"Langsung ke intinya" potong Natalie.
"Baik lah, dengarkan aku. Semua tidak seburuk yang kamu fikirkan. Aku mabuk dan kau pun mabuk kita sama-sama tidak bisa mengontrol segalanya dan kejadian seperti itu harus terjadi. maaf."
Natalie memejamkan matanya menahan sakit mengingat kembali kejadian itu. "Dan kau tau siapa yang membuatku juga mabuk? Apakah kau juga dibuat mabuk? atau kau mabuk karena kau buat sendiri? kau tau yang bertanggung jawab atas semua ini? itu pesta mu bukan?"
deg
Frans menelan saviranya.
Sungguh Nat, sebenarnya aku tak bermaksud sampai seperti itu. Jika sekaramg kebencian yang harus ku terima, aku tidak bisa*.
To be continue>>>