Natalie'S Marriedlife

Natalie'S Marriedlife
Chapter 2



Hari bahagia bagi Natalie dan Chris akhirnya datang juga. Natalie nampak begitu cantik dengan balutan kebaya modern berwarna gray senada dengan bawahannya dan dipadukan dengan hils hitam memperlihatkan ujung kakinya yang bersih membuatnya semakin sempurna. Rambut panjangnya di biarkan terurai dengan sedikit dikerli ditarik kebelakang sebagian dengan jepit rambut bermotif mutiara indah.


Christian dengan setelan jas senada dengan Natalie yaitu berwarna gray, mereka memang sengaja mempersiapkan itu semua agar terlihat serasi. Lebih tepatnya Chris yang memaksa. Wajah tampan blasteran Indo Jerman Chris memang sudah tidak diragukan lagi. Mereka berjalan, tangan Chris menggandeng Natalie melenggak lenggok melewati kerumunan dalam keramaian acara wisuda angkatan mereka.


Semua orang memperhatikan mereka, memuji keserasian pria dan wanita yang berjalan melewati mereka. Tak jarang ada yang iri, berbisik sana sini dengan sinisnya.


Acara itu pun berlalu, kini gelar magister untuk mereka pun akhirnya didapat. Menempuh pendidikan selama bertahun-tahun akhirnya dibayarkan dengan tangis haru Natalie diakhir acara. Terlebih tidak ada sanak saudara Natalie yang datang diacara itu. Chris tau itu, dan dia juga sengaja meminta orang tuanya juga tidak datang. Kebetulan juga orang tua Chris memang sedang terbang ke Jerman mengurus kepentingannya sendiri. Chris menghampiri Natalie yang tampak langsung menyeka air matanya menyembunyikan kesedihan yang teramat didadanya.


Chris memeluknya, menenangkan hati yang kini sedang terluka mengingat kesuraman masa lalunya yang mempengaruhi alur masa depannya kini. Natalie mengerti, dia sekuat tenaga terlihat baik-baik saja. Natalie tidak ingin terlihat lemah dihadapan orang lain, sekalipun itu sahabatnya sendiri.


"Orang tua ku juga tidak datang padahal mereka masih hidup, berbahagialah tanpa kehadiran mereka gelar magistermu tidak akan dilepas" terkekeh Chris pada Natalie dan dibalas tawa renyah memperlihatkan raut bahagia yang sebenarnya dibuat-buat. Hari itu Chris dan Natalie pergi merayakan hari kemenangan mereka berdua. Hanya mereka berdua.


Beberapa tahun kemudian


Ruangan kantor itu sudah cukup ramai karena sebentar lagi jam kantir juga akan segera dimulai. Seorang gadis cantik bersetelan kemeja merah muda dengan blazer hitam senada sengan rok pendek selututnya. Kaki jenjangnya dihias dengan hils yang tak terlalu tinggi nembah keanggunan gadis itu.


Gadis itu melenggungkan senyumnya kala melihat sepucuk mawar merah tergeletak di atas meja kerjanya. Seperti biasa, setiap pagi Chris akan mengirimkan bunga mawar untuk Natalie. Natalie memang sangat menyukai bunga, terlebih bunga mawar. Baginya, melihat bunga adalah hal kecil yang membuatnya merasa bahagia. Melihat keindahanan bunga tersebut membuat Natalie selalu ceria sepanjang hari. Sebab itulah, Chris tak pernah terlambat mengirimkan bunga agar sahabatnya selalu bahagia meski dengan hal sederhana.


Natalie tak pernah meminta itu semua, dia tak meminta apaoun bahkan pada Chris. Chris lah yang justru seting memaksa Natalie menerima apapun darinya.


Trettttt... Tretttttt....


Ponselnya bergetar.


Chris🐵


Hari senin jadi mawar merah, tersenyumlah selalu😊


Natalie mengeleng-geleng kepala membaca pesan ponselnya, kemudian meletakkannya kembali di meja tak jauh dari bunga mawarnya. Dia harus mulai bekerja hari ini, pekwrjaannnya sudah menumpuk karena beberapa hari ini memang banyak sekali pekerjaan. Pemimpin perusahaan akan diganti dengan yang baru. Anak bos besar baru saja menyelesaikan pendidikannya di Amerika dan siap memimpin perusahaan ayahnya. Menggantikan Chris yang tadinya ditunjuk untuk menjadi pimpinan sementara.


Sebenarnya Chris bisa saja menjadi pemimpin perusahaan ayahnya sendiri, tapi sebagai syarat Chris harus bekerja dengan perusahaan tuan Evander tekan ayahnya. Setelah Chris sukses dengan kepemimpinannya maka ayahnya akan langsung memberikan perusahaan besarnya kepada Chris. Dan terbukti, Chris sudah menyelesaikan tugasnya dengan sangat baik.


Tinggal benerapa hari lagi Chris akan resmi menjadi CEO yang sebenarnya diperusahaan keluarganya sendiri. Sebelum itu srbenarnya Chris sudah sering membujuk Natalie untuk juga pindah ke perusahasn miliknya. Namun sayangnya lelaki itu belum juga bisa menaklukan wanitanya. Natalie sudah betah dalam suasana kantor itu.


Chris benar-benar tidak bisa terima jika Natalie tetap berada jauh darinya nanti. Untuk itu segala usaha selalu dilakukannya untuk meluluhkan Natalie.


Siang ini diwaktu jam istirahat Chris berniat mengajak Natalie makan siang bersama. Lelaki itu meninggalkan ruangan kebesarannya mengayunkan langkah keruangan wanitanya yang sudah bisa di tebak oleh Chris pasti wanita itu masih bergulat dengan tumpukan kertas dan dokumennya.


Chris datang menuju meja Natalie disambut sapaan dari bebetapa kariyawan lain yang akan keluar makan siang. Beberapa bisikan juga menyambut Chris.


"Pasti nemuin wanita itu, dasar licik" umpat salah satu wanita teman kerja Natalie.


"Pake pelet apa sih tuh cewek, bos dari dulu ngejar-jar mulu"


"Sok jual mahal sih"


"Jangan sampe bos baru juga bakalan ikut kerayu sama mulut liciknya. amit-amitt deh"


Bukan tuli atau apa pun itu. Natalie jelas mendengar semua tudingan buruk padanya. Yang jaraknya hanya beberapa meter, hanya terhalang sekat tidak terlalu tinggi pemisah meja kerja nasing-masing. Tapi dia memang tidak perduli omongan orang lain yang tidak tau apapun yang sebenarnya terjadi. Inilah yang tidak disukai Natalie jika Chris datang keruang kerjanya.


Itu juga alasan mengapa Nataie terus menolak naik jabatan kepada Chris yang adalah juga bosnya. Natalie tidak mau para mulut itu menyebarkan berita yang lebih buruk dan hina lagi padanya. Bahkan dia bisa masuk perusahaan ini pun dikira karena merayu. Padahal sudah jelas bagaimana keahlian Natalie yang tidak bisa di renehkan. Natalie bisa saja menjadi wakil CEO di perusahaan besar itu jika dia mau, gelar magister ditambah keahlian yang mumpuni Natalie pasti mempermudahnya untuk melakukan apapun. Belum lagi dia sudah kenal orang-orang besar karena sering diajak Chris untuk ikut rapat atau sekadar makan siang dengan para client.


"Sudah kubilang jangan datang, lihat mata-mata syirik itu" Natalie menunjuk dengan bibirnya yang dikerucutkan.


Gemas Chris melihat tingkah sahabatnya itu kemudian mencubit pipi gembul Natalie di iringi pekikan wanita itu.


"Chrissss.. awwww.." memukul dada bidang lelaki itu sontak para kariyawan lain semakin dibuat kesal olehnya langsung pergi.


"Aku gemas sekali Nat, sudah ku bilang juga kan jangan dengarkan mereka. Mereka iri pada mu karena lelaki tampan ini selalu mengunjungi mu" Chris menyombongkan dirinya bangga.


" Kau bangga karena tampan?" dibalas anggukan Chris. "Tapi aku tidak bangga dikunjungi lelaki tampan seperti mu, sudahlah makan lah sendiri aku masih punya banyak pekerjaan"


"Aku akan pecat dia yang sudah memberikanmu banyak sekali pekerjaan ini"


"Chris...." kesal Natalie yang selalu saja dipaksa dengan berbagai ancaman liciknya.


"Bagaimana?" mainkan alis Chris menggoda Natalie lagi.


"Baiklah tuan Christian yang terhormat" lelah Natalie dengan nada yang dilemas-lemaskan.


Langsung saja Chris menarik tangan Natalie dan menggandenganya. Natalie tidak menolak karena jika dia menolak tamgannya digandeng Chris akan semakin menjadi dengan memeluk pundak atau pinggang Natalie yang yakin sekali akan semakin menambah masalah di mulut-mulut lemes kariyawan lainnya.