
Sinar matahari pagi itu menembus hordeng jendela kamar hotel milik Frans, membuat orang yang berada di dalamnya merasa silau dan terusik tidurnya. Dia belum membuka mata, rasanya badannya remuk, tulang-tulangnya patah secara bersamaan dan nyeri dibagian bawah membuatnya menggigit bibirnya dengan keras.
Perlahan Natalie membuka matanya, dan masih samar dia lihat sebuah tangan seseorang dibalik selimut yang juga dia kenakan. Seperti tangan seorang lelaki.
Natalie masih mengumpulkan kesadarannya hingga saat dia menoleh dan membalik badannya kearah pemilik tangan yang memeluknya itu dan membuatnya begitu terkejut.
"Siapa kau?" Natalie hendak bangkit dari tidurnya hingga selimut sedikit turun dari tubuh polosnya dan membuatnya semakin terkejut bukan main.
"Apa yang kau lakukan? apa ini? kenapa aku ada disini? aww kepala ku" masih begitu sakit Natalie rasakan pada kepalanya "Frans?" manik Natalie sudah membasah.
"Nat aku bisa jelaskan..."
"Berengsekkkkkkk.... Frans kau gila? salah ku apa? kau..... " Natalie menangis tersedu-sedu.
"Kita sama-sama tidak sadar Nat, tidak bisa mengontrol diri, ini tidak sepenuhnya salahku"
"Omong kosong pergiiii kau berengsekkkkk.. Aku membencimuuuuu...."
"Nat dengarkan penjelasanku dulu"
"Pergiiiiii... pergi berengsekkkk pergiiii...." wanita itu histeris bukan main menyadari apa yang sudah terjadi semalam dimana dirinya merasa pusing hingga seseorang membawanya ke sebuah kamar dan dirinya yang sudah ternodai oleh lelaki bernama Frans itu.
"Maafkan aku Nat, ku mohon dengarkan dulu, aku menyesal" bujuk Frans.
"Pergiiiiii" histeris Natalie dengan memukuli dirinya sendiri membuat Frans mengalah dan takut akan membuat wanita itu semakin terluka.
Frans telanjang dada turun dari ranjang itu mengambil baju dan dikenakannya sembari keluar dari kamar itu. Rasa bersalahnya semakin besar melihat kondisi Natalie seperti itu.
Harusnya dia tak perlu melakukan itu pada Natalie bukan? Sekarang lihatlah, wanita itu sudah membencinya walau tidak bisa dipungkiri bahwa lelaki itu juga yang sudah menodainya dan harus bertanggung jawab atas itu.
Natalie berteriak sekencang-kencangnya dari kamar yang bahkan kedap suara itu. Merasa jijik pada tubuhnya sendiri.
***Apa yang harua aku lakukan setelah ini?
Hidup ku semakin hancur.
Aku bahkan sudah hina.
Berengsekkkkk.
Natalie tidak pernah menyangka hidupnya akan seberat ini. Rasa traumanya belum hilang dan sekarang apa lagi? Hidupnya semakin hancur hanya dalam waktu satu malam saja. Dia tidak habis fikir kenapa Frans setega itu padanya. Dia bahkan baru saja mengenalnya.
Ditengah isakannya ponsel milik Natalie berdering, wanita itu mengyeka air matanya masih menutuli tubuh polosnya mencari keberadaan benda yang sedang berdering itu.
***Calling
Chris🐵***
Deg.
Natalie semakin menangis menjadi-jadi mengingat Christian. Lelaki yang begitu mencintainya, menjaganya selama ini, menunggu hatinya terbuka tanpa pernah menyakitinya. Lelaki itu kini bahkan menjadi kekasihnya. Apa yang harus wanita itu katakan pada lelaki baik ini.
Dirinya sudah tidak suci?
Temannya yang sudah memperkosa??
Melihatnya terluka dan sakit hati?
Tidak.
Natalie tidak bisa membayangkan itu.
.
Didalam kamar mandi Natalie menyalakan shower, berdiri dibawahnya membiarkan tubuhnya tersiram seakan adalah sebuah kotoran yang harus segera dihilangkan.
Maniknya masih terus mengeluarkan bulir beningnya, isakannya masih cukup terdengar kencang. Natalie memukuli tubuhnya sendiri merasa begitu jijik dan hina.
"Chrissss... maafkan aku. Maaf kan wanita bodoh ini, harusnya aku menuruti kata mu untuk pergi..." Wanita itu mengutuki dirinya sendiri.
Tubuhnya sudah tidak berdaya, wanita itu jatuh tersungkur tapi masih dalam keadaan sadar. Kembali menangis bersedu-sedu meratapi malang hidupnya. Natalie bahkan tidak ingin hidup lagi.
Hanya dalam satu malam dia menghancurkan hidupku Chris, maafkan aku. Menjaga diriku sendiri saja aku tidak mampu padahal kau selalu membantu lebih. Dan sekarang apa kau bisa menerima ku lagi Christian.
To be continue>>>>