
“Mysterious Guy”
Author by Natalie Ernison
Velline akhirnya menemukan tempat bernaung yang baru, dan tentunya tidak lagi bersama sang ibu. Hal itupun, merupakan bantuan dari Draco, si pria jahilnya. Velline sempat sangat marah atas perkataan yang Draco lontarkan padanya. Walaupun, pada akhirnya Draco melakukan hal yang tak terduga padanya.
~ ~ ~
Setelah makan bersama, Draco pun berniat mengajak Ve untuk pergi membelikan beberapa peralatan rumah.
“Bukankah, ruangan itu kosong, dan kau pun tidak memiliki pakaian!” Ucap Draco hati-hati, sehingga Ve tidak salah paham akan perkataannya.
“Yah, aku akan membeli beberapa pakaian murah. Saat ini, hanya itu yang dapat kulakukan.” Balas Ve sembari merapikan sisa makanannya bersama Draco.
“Di mansion, aku memiliki banyak pakaian, sisa penjualanku. Apakah, kau menginginkannya! Ah, maksudku hanya ingin membantu, tidak bermaksud menyinggungmu.” Ucap Draco lagi.
“Tidak perlu. Kau sudah sangat berbaik hati padaku. Aku takut, jika kau tidak dapat membalasnya.” Ucap Ve, sebelum kembali ke kamar miliknya.
“Velline! Panggil Draco. Sejenak, Ve berbalik padanya.
“Jika kau membutuhkan sesuatu, kau boleh menghubungiku kembali.” Ucap Draco dengan tersenyum ramah. Ve hanya membalasnya dengan senyuman lembut.
***
Disiang yang begitu terik, tepatnya di kota AX.
Ve tanpa lelah melamar pekerjaan kembali, dan memulai karirnya sebagai seorang wanita karir. Karena, beberapa waktu yang telah berlalu, Ve mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja.
Titttt....
Bunyi klakson motor sport berhenti, tepat dihadapan Ve.
“Velline!” Panggil seoraang pria yang baru saja menampakkan wajah tampannya ari balik helm hitam pekat miliknya.
“Kak Hel,” ucap Ve, lalu beranjak dari kursi tempat ia duduk, tepatnya di area gedung menjulang.
“Apa yang kau lakukan disini! Dan, mengapa kau keluar dari perusahaan secara tiba-tiba!” Ucap Hel, salah seorang rekan kerja Ve di perusahaan tempatnya bekerja paruh waktu.
“Aku ingin membantu ibuku menjual roti, kak.” Jawab Ve sendu.
Helbert menatap penampilan rapi Ve kala itu, dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Helbert tersenyum lembut pada Ve.
“Kau sedang mencari pekerjaan?” ucap Helbert.
Ve mengangguk sendu, dengan wajahnya yang terlihat sagat kelelahan.
“Kau bermasalah dengan kedua orang tuamu, bukan?” ketus Helbert.
Ve menghela napas sejenak, dan menatap ke sekelilingnya. “Itu bukan urusan kakak.” Tukas Ve.
“Maafkan aku Velline, aku sungguh tidak bermaksud,” sesal Helber.
“Tidak masalah kak, ini sudah biasa ku hadapi.”
“Beberapa waktu yang lalu, aku berkunjung ke kediamanmu. Ibumu, sedang sakit keras Ve.” Ucap Helbert, membuat Ve sangat terkejut.
“Ibu sedang sakit keras.” Pekik Ve cemas.
“Yah, seharusnya kau segera kembali.” Ucap Helbert.
“Baiklah kak, tolong antarkan aku ke rumah sekarang!” Ucap Ve panik. Ve sangat cemas setelah mendengarkan berita tersebut.
Helbert pun dengan sigap membawa Ve untuk bertemu dengan kedua orang tuanya di kediamannya.
***
“Kediaman Brant family”
Ve pun tiba bersama Helbert.
“Ibu, dimana ibu?” ucap Ve dengan wajah cemasnya.
Plak
Sebuah tamparan mendarat di wajahnya. Ve menyentuh pipinya yang terasa cukup nyeri.
“Ayah, apa maksud ayah?” ucap Ve bingung, dan seakan melupakan rasa sakit dari pukulan ayahnya.
“Dasar anak sialan! Lihatlah, ibumu sudah pergi untuk selamanya, dan semua karena kau!” Bentak salah seorang wanita, yang merupakan bibi dari Ve.
“Bibi, mengapa kalian menyalahkanku?” ucap Ve semakin bingung, lalu mendekati tempat pembaringan terakhir sang ibu.
“Ibu! Apa yang terjadi bu!” Isak Ve kian pecah, saat melihat jasad dari ibunya sudah terbaring tak bernyawa.
“Mengapa aku tidak tahu tentang hal ini!” Isak Ve.
“Karena kau hanya sibuk menggoda pria-pria kaya!” Tukas salah seorang bibinya lagi. Seluruh anggota dari ayahnya, seakan begitu membenci keberadaan Ve.
“Setelah pemakaman ini, kau tidak perlu lagi kembali!” Tukas ayah Ve.
“Ayah, mengapa ayah mengatakan hal ini!”
“Jangan panggil aku ayahmu lagi! Aku hanyalah ayah tirimu, dan kau adalah anak dari suami pertama ibumu.” Tukas Mr. Barnab.
“Apahh!” Ve sangat terkejut, tubuhnya begitu lemas.
“Anakku hanyalah Jaxon. Hari ini setalah pemakaman, kau silakan bawa pergi barang-barangmu!” Tukas Mr. Barnab, seakan tak peduli pada Ve.
Selama bertahun-tahun, Ve tidak pernah mengetahui, bahwa Mr. Barnab adalah suami kedua ibunya. Sedangkan Jaxon sang kakak laki-lakinya, merupakan anak pertama dari Mr. Barnab sebelum menikah dengan ibunya.
Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Mungkin, itulah perkataan yang tepat bagi Ve saat ini.
***
Setelah melakukan prosesi pemakaman, Ve pun mengemasi seluruh pakaiannya. Hatinya sangat hancur lebur, seakan tak ada lagi semangat untuk hidup.
Semua yang terjadi, benar-benar diluar pikirannya. Semenjak menikah dengan Mr. Barnab, ibu dari Ve mengalami penyakit yang membuatnya tak bisa lagi memberikan keturunan pada Mr. Barnab. Hal itu pula menjadi cambuk luka dalam rumah tangganya.
Sehingga, Mr. Barnab kerap kali pergi dari rumah, dan bersama wanita lain.
“Velline, perlu kau ketahui! Akulah yang akan menjadi istri dari tuan Barnab.” Tukas sang bibi, kerabat dari mendiang ibu Ve.
“Bibi, bagaimana mungkin bibi menjadi ibu tiriku. Bukankah, bibi adalah saudara perempuan dari ibu!” Tukas Ve tidak terima.
“Heh! Siapa yang ingin menjadi ibumu! Kau hanya anak pembawa sial dalam keluarga ini! Kau sudah dibuang Velline!” Cela sang bibi Ve, lalu menoyor kepala Ve.
“Kalian sungguh kejam!” Tukas Ve, lalu mencoba mendorong sang bibinya hingga terjatuh.
Ahk.. Pekik sang bibi.
“Ada apa ini!” Ucap Mr. Barnab yang tiba-tiba muncul.
“Sayang, aku hanya mengatakan bahwa aku akan menjadi Nyonya Brant. Gadis gila ini mendorongku dan berniat menyakitiku.” Ucap bibi Ve dengan anda memelas.
“Kau tidak tahu diri! Sekarang aku keluar dari rumah ini!” Usir Mr. Barnab, lalu menarik paksa tangan Ve.
“Sakit ayah! Sakit” Isak Ve. Pergelangan tangannya ditarik paksa, dan ia didorong keluar. Padahal, semua hanyalah bualan dari bibinya.
Selama bertahun-tahun, bibi dari Ve melakukan perselingkuhan di belakang ibu Ve. Bahkan pernah tertangkap basahm saat sedang bercumbu. Namun, ibu tak berdaya. Karena, hidupnya pun tak dapat memberikan keturunan bagi suami keduanya.
Ve membawa beberapa tas runsel yang berisikan pakaiannya. Sedangkan, pakaian yang masih terlihat bagus. Semuanya diambil oleh bibi, yang telah berselingkuh dengan ayah tiri Ve.
Ibu Ve menikah kembali, saat Ve masih bayi. Saat itu, ibu Ve dijodohkan dengan Mr. Barnab. Namun, perjodohan itu justru membawa duka baru bagi kehidupan rumah tangga ibunya.
Belasan tahun bahkan puluhan tahun lamanya, ibu Ve merahasiakan permasalahan itu dari Ve. Ibu dan ayah tiri Ve, selalu bersikap mesra saat dihadapan Ve. Semua dituruti oleh Mr. Barnab, dengan syarat. Ibu Ve harus rela, jika ia bersama wanita lain.
Sungguh tidak berdaya dan hanya bisa pasrah dengan keadaan. Ve baru mengetahuinya, bahkan setelah kematian ibunya.
“Aku akan membawa mobil milikku,” ucap Helbert pada Ve.
“Tidak perlu kak. Aku bisa melakukannya sendiri.” Ucap Ve.
Helbert yang bukanlah siapa-siapa bagi Ve, hanya bisa memberikan dukungan semangat. Terlebih lagi, ayah tiri Ve, Mr. Barnab, telah menjadi seorang direktur utama disalah satu perusahaan keluarga dari bibi Ve.
Tentu saja, Mr. Barnab tak akan menyia-nyiakan wanita kaya dan masih sangat muda untuk menjadi istri barunya. Sementara Ve, harus berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri.
***