
“Mysterious Guy”
Author by Natalie Ernison
Setelah pertemuan pertama antara George dan Velline. Keduanya pun mulai saling berkomunikasi dan juga beberapa kali makan malam bersama. Namun, Velline hanya menganggapnya sebatas rekan bisnis. Tanpa tahu, jika niat George sudah tak sekedar rekan bisnis.
~ ~ ~
Draco sangat marah, setelah mengetahui Ve pergi bersama pria lain.
“Kak Draco hentikan!” Teriak Ve histeris. George sudah tak sanggup melawan tanaga Draco yang jauh lebih besar darinya.
“Kau dengar itu, breng*k!” Teriak Draco tepat dihadapan wajah George.
“Tuan Draco, aku hanya mengajak Nona Velline makan malam bersama dan menikmati udara sore hari.” Ucap George, darah segar dari hidungnya sudah mengalir sedari tadi.
Draco melepaskan cengkraman tangannya, dan mendorong tubuh George darinya.
Menatap ke arah Ve, dengan napas terengah. Emosinya sudah menguasai pikiran dan hati nuraninya. Meraih paksa tangan Ve, lalu membawanya pergi.
“Kak Draco, lepaskan! Lepaskan! Aku akan melaporkan pada ayah dan ibu apa yang telah kau lakukan padaku!” Pekik Ve yang berusaha meronta.
Draco terus menarih paksa tangan Ve, tanpa peduli rasa sakit pada pergelangan tangan milik Ve.
Secara tiba-tiba, Draco menghentikan langkahnya. “Kau pulang bersamaku, atau aku akan menghajar si brengs*k itu hingga mati!” Tukas Draco. Tentu saja tidak sekedar ancaman saja.
Ve pun menurut, dan menahan rasa ingin memaki sang kakaknya kali ini.
Mereka pun pergi dengan menggunakan kendaraan milik Draco. Sementara George, ditinggalkan begitu saja, dan tak dipedulkan lagi.
Selama perjalanan tak ada lagi komunikasi. Hingga tiba di kediaman mereka.
***
“Mansion kediaman Grissham family”
Suasana mansion masih terlihat sunyi. Draco masih mendengkram tangan milik Ve. Mengangkat tubuh Ve menuju kamar pribadi Ve. Semua pelayan hanya terdiam melihat semua yang terjadi.
Pertengkaran hebat, antara Draco bersama Ve.
Plak
Ve memukul keras wajah Draco.
“Kakak keterlaluan! Apa yang telah kakak lakukan! Kakak tidak bisa menegkangku seperti ini!” Pekik Ve.
“Bukankah seorang kakak yang baik harus melindungi adiknya dari virus-virus?”
“Tapi kakak sangat keterluan! Siapa yang kakak maksud dengan virus! Kakak jangan asal bicara!” Ve hampir kehabisan tenaganya.
“Jika kau ingin orang-orang disekitarmu aman, tanpa ada yang tersakiti. Jangan pernah berani mendekat dengan pria manapun. Karena aku, Draco! Akan selalu menghancurkan siapa saja yag berani mengusik adikku tercinta ini.”
“Adik tercinta! Omong kosong! Kau bukan seperti seorang kakak! Kau!”
“Aku apa! Aku bukan kakak bagimu! Lalu, aku sebagai pria terluka, karena gagall menikah dengan wanita yang ternyata memiliki hubungan darah!” Tukas Draco, melangkah menuju ke sisi Ve.
Ve memundurkan langkahnya, dan tetap menjaga jarak aman. Ia sangat tahu, bagaimana watak asli dari Draco yang sangat keras kepala.
“Aku bisa menjadi seorang kakak yang baik, dengan syarat kau tidak dekat dengan pria lain. Tapi, jika aku mendapatimu bersama pria lain, maka aku akan membunuhnya dengan kejam!” Ancamnya. Namun, kata-kata itu tidak sekedar ancaman bagi Ve.
“Kak Draco, kumohon menyerahlah...” ucap Ve lirih.
“Aku akan menyerah, saat aku benar-benar tak mampu melakukan sesuatu hal. Selama aku masih dapat bernapas, kau tidak akan menjadi milik siapapun.” Draco menatap Ve begitu lekat.
Meraih wajah Ve, membelai wajah Ve.
Ve menangis, memohon agar Draco tidak melakukan sesuatu yang terlarang bagi seorang kakak terhadap adiknya.
“Kak Draco, kumohon jangan kak...” lirih Ve, dan menahan tubuh Draco.
Napas Draco sudah menyapu wajahnya. Jaraknya mereka hanya tersisa beberapa centi saja.
“Jika bukan karena memikirkanmu, aku mungkin sudah membawamu pergi jauh. Tapi, adik kecilku ini sangat menurut kepada orang tua. Aku tidak mungkin tega melakukan hal-hal kejam.” Ucap Draco dengan tawa tak menentu. Tawa yang penuh dengan luka.
“Sekarang, tak ada lagi yang menemaniku, disaat aku berada didalam titik terendah. Kemana Vellineku yang dulu, yang selalu membuatku hangat...”
“Jangan kak... kumohon...”
“Draco!” Seru Mrs. Mariah, mengejutkan mereka. Draco pun melepaskan Ve dari dekapannya.
Melangkah keluar, melewati sang ibu begitu saja.
“Jaga sikapmu, tidak seharusnya kau berbuat seperti itu pada adikmu.” Ucap Mrs. Mariah.
“Aku akan melakukan apa saja, jika itu menyangkut Velline. Aku akan menghancurkan perusahaan George.” Ucap Draco lalu pergi.
Ve hanya duduk lemas, ia sangat takut, jika Draco akan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya mereka lakukan.
Draco pergi ke sebuah tempat diantara Kota A dan Kota B.
***
Arghk... haakk....
Draco meringis, sembari terus memukul sebuah pohon besar hingga membuat punggung tangannya berdarah-darah.
“Brengs*k!” Umpatnya dan terlihat sangat putus asa.
Setelah sebuah kebenaran terkuak. Draco kini benar-benar kesepian. Ia sangat kesepian, jika ada yang berani menganggu Ve. Draco hampir patah arah, karena kegagalan pernikahannya bersama Ve. Ia pun tidak mungkin memaksakan kehendaknya, namun ia juga tidak akan pernah bisa membiarkan Ve bersama pria lain.
***
“Perusahaan Strom Group”
Di sebuah ruangan utama Direktur muda, George.
George terlihat sangat kacau balau. Setelah apa yang terjadi pada perusahaannya.
Melihat semua laporan income perusahaan yang kian menurun. Semua klien yang biasanya bekerja sama dengannya, seakan mulai menjauh. Ia pun tidak mengerti dengan keadaan saat ini.
“Apa yang terjadi, mengapa seperti ini. Bukankah, semua investasiku sudah ku limpahkan ke beberapa saham.” Gumam Goerge, yang terlihat sangat kacau.
“Permisi tuan!” Ucap salah seorang pegawainya, dari balik pintu sembari mengetuk pintu.
“Tuan Georg, sepertinya semua klien menghentikan kerjasama kita.” Ucap sang asisten pribadi Georg.
Georg menepuk dahinya, dan menyenderkan diri di kursi kerja miliknya.
“Baiklah. Letakkan semuanya di atas mejaku.” Ucap Georg.
George sangat kacau sepanjang hari, setelah semua yang ia alami beberapa minggu belakangan ini. Semua klien secara tiba-tiba menghentika kerjasama tim mereka. Income perusahaan menurun drastis, dan perusahaan yang saat ini Georg kelola hampir bangkrut.
Meraih ponsel miliknya, lalu melakukan panggilan dengan seseorang.
“Hallo nona Velline, bisakan kita bertemu..—“
***
Georg sangat kacau, dan meminta untuk bertemu dengan Ve.
Secara diam-diam, Ve pun bertemu bersama George di sebuah pinggiran kota. Berharap, Draco tidak akan mengetahuinya.
Sisi Kota B
“Tuan Georg, mengapa bisa seperti ini?”
“Aku pun tidak mengerti, Nona Velline.” Ucap Georg yang terlihat kacau.
“Apakah ini perbuatan kak Draco...” Ve mulai mencurigai, jika Dracolah dalang dibalik kehancuran perusahaan Strom Group, milik George.
Ve menemani Georg yang sedang sangat kacau. Namun, tanpa sepengetahuan mereka, mata-mata Draco sudah mengawasi mereka sejak awal.
Semakin hari, Ve berusaha membantu Georg untuk mulai bangkit dari kajatuhannya. George pun mulai tertarik dengan kepribadian Ve. Meskipun, bagi Ve hubungan mereka hanyalah sebatas rekan kerja.
***
“Mansion kediaman keluarga Grissham”
Mr. Grissham dan Mrs. Mariah pergi ke luar kota sama seperti biasanya.
Georg tiba-tiba datang ke kediaman keluarga Grissham.
“Velline, apakah selama ini aku membuatmu tidak nyaman?” ucap Georg dengan raut wajah yang terlihat sedang kecewa.
“Apa yang tuan maksud?” Ve heran, mereka baru saja bertemu, setelah beberapa minggu tidak saling bertemu.
Georg melemparkan beberapa lembar foto di atas meja di ruang tamu kediaman Ve.
Mata Ve membelalak, saat melihat beberapa foto dirinya saat sedang berada dalam pelukan seorang pria. Pria yang wajahnya tidak terlihat.
“Selama ini, kau sudah menipuku, Nona Velline.” Georg terlihat begitu kecewa. Ia sudah berharap banyak pada Ve. Namun, sebuah foto tak senonoh justru ia terima. Juga sebuah info, jika Ve selama ini menyelidiki data perusahaan miliknya sehingga membuat perusahaannya hampir bangkrut.
“Terima kasih Nona Velline, senang sempat mengenalmu, walau akhirnya, aku hanyalah alat bagimu.” Georg pun melangah pergi.
Tangan Ve gemetar, saat meraih beberapa foto dirinya bersama seorang pria. “Kak Draco, apakah ini perbuatanmu...”
Karena foto tersebut, benar foto dirinya saat bersama Draco. Namun, entah kapan foto itu terambil.
***