
“Mysterious Guy”
Author by Natalie Ernison
George sangat marah pada Velline, setelah menerima kabar berita tentang penurunan drastis perusahaan yang ia kelola. Ia marah, karena Velline dikatakan sebagai dalang dibalik penurunan saham. Velline diduga sebagai mata-mata bagi perusahaannya. Terlebih lagi, foto-foto tak senonoh Ve sedang bersama seorang pria.
~ ~ ~
“Mansion Kediaman Grissham family”
“Kau sangat keterlaluan kak Draco! Mengapa kakak melakukan hal seperti ini!” Pekik Ve, membanting beberapa lembaran foto dirinya saat berada di atas tempat tidur. Dalam keadaan tubuh terbungkus selimut, dan Draco sedang memeluk dirinya.
“Sudah kutakakan, tidak ada yang dapat mendekatimu, selama aku masih berada di sini.” Tukas Draco, menatap Ve dengan tatapan tajamnya.
Sorot mata Draco menjadi kuning keemasan, dan melangkah mendekati Ve.
“Kak Draco, ibu dan ayah sedang tidak ada di mansion. Kakak jangan sembarangan bertindak!” Peringat Ve, dengan memundurkan langkahnya.
“Apa kau takut, jika aku akan melakukan sesuatu hal padamu?” Ucap Draco dengan tersenyum miring. Tentu saja, hal itu membuat bulu kuduk Ve meremang.
“Velline, sampai kapanpun! Aku akan berusaha membuktikan, bahwa kita bukanlah saudara.”
“Kak Draco, terimalah kenyataan. Kakak jangan bertindak gila!” Pekik Ve ketakutan. Draco sudah menghimpitnya hingga di sisi tempat tidurnya.
“Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai adik perempuanku. Sampai kapanpun itu!” Tukas Draco, sembari mencengkram rahang milik Ve.
“Kakak hentikan semua kegilaan ini. Kumohon...” pinta Ve dengan sangat memohon. Tubuh Ve terasa gemetar hebat. Sungguh tak terbayangkan, jika Draco akan melakukan sesuatu hal yang lain padanya.
“Aku akan membuktikannya!” Bentak Draco, hingga membuat Ve menangis.
Draco hendak menyentuh tubuh Ve, tapi hati nuraninya berkata tidak. Ve adalah adiknya, Draco pun bergegas pergi dari kamar pribadi milik Ve.
Ve duduk di pinggir tempat tidurnya, bersandar di bagian kepala ranjang. Menyentuh area dadanya, merasakan betapa sesaknya semua yang baru saja ia hadapi.
Sementara itu, Draco pun meraung di bagian teratas mansion tersebut. Hanya Ve yang dapat mendengarkan raungan dari Draco.
***
Pada suatu malam...
Di meja makan bersama.
Semua telah berkumpul di sana. Suasana makan malam keluarga Grissham terasa begitu dingin. Tak ada percakapan di sana.
Sepanjang makan malam, Draco tak henti-hentinya memperhatikan Ve. Mr. Grissham sudah kurang nyaman dengan susana itu, sedangkan Mrs. Mariah hampir tak mampu melanjutkan makanannya.
“Draco, sabtu malam, kita akan mengadakan pertemuan dengan rekan bisnis ayah. Jadi, kau dan ibu temani ayah.” Ucap Mr. Grissham.
“Apakah anak ayah hanya ada satu, bukankah Velline juga harus turut serta!” Balas Draco dan masih terus menatap ke arah Ve.
“Velline harus beristirahat. Bukankah, Velline akan menghadiri pertemuan bersama klien?” ucap Mr. Grissham.
“Benar ayah, aku tidak dapat ikut bersama.” Balas Ve, tanpa membalas tatapan Draco. Ve sebisa mungkin tidak ingin melakukan kontak mata dengan Draco. ia sangat tahu, Draco sedari tadi terus menatapnya.
“Velline, ini pertemuan penting ayah. Jadi, kau harus turut serta, jangan hanya mementingkan urusanmu sendiri.” Tukas Draco menatap lekat ke arah Ve.
“Ayah, beberapa hari ke depan aku akan pergi bersama rekan-rekanku.” Ucap Ve, mengacuhkan Draco dengan sengaja.
“Velline!” Seru Draco, menghentikan makan malamnya.
“Draco, malam ini pergi bersama ayah, dan Velline langsung beristirahat.” Tukas Mr. Grissham. Suasana makan malam sudah terasa hambar.
Mr. Grissham tak ingin membuat Draco terus bersama Ve, dan ia sangat menjaga jarak antara kedua anaknya. Karena walau bagaimanapun, Draco dan Ve telah sempat hampir menikah. Terlebih lagi, Draco bukan tipe pria yang suka berganti pasangan. Hal itu, membuat Draco tak akan mampu mencari pengganti Ve.
>>>
Tibalah malam, dimana keluarga Grissham akan melakukan pertemuan dengan salah seorang rekan bisnis dari Mr. Grissham. Namun, hanya Mrs. Mariah juga Draco yang turut serta. Sedangkan Ve masih mengurus urusan pekerjaannya.
“Ayah, sepulang dari pertemuan, aku akan menjemput Velline.” Ucap Draco, sembari merapikan dasi miliknya.
“Tidak Draco. Velline akan pulang bersama pengawalnya, dan juga para asistennya.” Tukas Mr. Grissham.
“Velline akan baik-baik saja, selama berada didalam penjagaan.” Timpal Mrs. Mariah.
Mereka pun bergegas, sementara itu, Draco merasa tidak senang dengan apa yang ia baru saja dengarkan. Sungguh sesuatu yang sangat menyebalkan baginya.
***
“Hotel B”
Semua klien melakukan pertemuan di hotel B.
Keluarga Grissham pun memasuki ruangan utama pertemuan, dan juga sekaligus ruangan makan malam.
“Selamat malam tuan Reyhard, anda semakin muda saja.” Balas Mr. Grissham, lalu keduanya mulai saling berbincang-bincang.
Duduk di meja makan bundar yang hanya memuat empat kursi khusus.
“Tuan Griss, bukankah tuan bersama anak dan istri tuan?” ucap Mr. Reyhard.
“Sebentar lagi, istri dan anak pertamaku akan tiba. Oh, itu mereka!” Ucap Mr. Grissham, sembari menunjuk ke arah Mrs. Mariah dan Draco yang berjalan ke arah mereka.
Namun, sesaat sebelum Mr. Reyhard berbalik badan. Draco merasakan sesak didadanya, dan aura panas di area kepalanya. Seperti sesuatu aura yang sangat aneh.
Mr. Reyhard
“Sayang, kenalkan, ini tuan Reyhard.” Ucap Mr. Grissham.
Mrs. Mariah pun saling bertatap wajah dengan Mr. Reyhard. Betapa terkejutnya Mrs. Mariah saat melihat pria yang kini menjadi rekan bisnis suaminya.
“Selamat malam, Nyonya Mariah, dan tuan muda Draco.” ucap Mr. Reyhard dengan tatapan lekat.
“Inilah anak dan istriku, tuan Reyhard. Lalu, kapan kau akan menikah, tuan Rey! Kau sudah terlalu kaya!” Ucap Mr. Grissham, dengan tertawa.
“Aku hanya belum mampu menemukan wanita yang bisa menggetarkan hatiku seperti puluhan tahun yang lalu.” Balas Mr. Reyhard, dengan tiba-tiba, raut wajahnya berubah. Tak seceria dan seramah saat awal berjumpa dengan Mr. Grissham.
Mr. Reyhard menatap ke arah Draco, Draco pun menatapnya dalam.
Ahk... Pekik Draco, mencengkran area dadanya.
“Draco!” Pekik Mrs. Mariah cemas.
“Ada apa Draco? apa kau tidak sehat?” ucap Mr. Grissham.
“Tidak ayah, aku hanya merasa sedikit lelah. Semua akan baik-baik saja.” Balas Draco, lalu membasahi kerongkongannya dengan segelas air.
“Tuan muda Draco!” Panggil Mr. Reyhard.
Draco menatap ke arahnya. “Yah, tuan Reyhard?” jawab Draco.
“Berapa usiamu saat ini?” tanya Mr. Reyhard dengan tatapan yang sangat berbeda dari dia biasanya.
“Usiaku sudah tiga puluh tahun lebih.”
Jawabnya, dan juga merasa ada sesuatu yang berbeda saat berada di dekat Mr. Reyhard.
Prang
Suara pecahan gelas, yang terjatuh akibat tersenggol siku Mrs. Mariah.
“Bukankah, masih banyak hal yang harus kita bahas. Tidakkah, makan malam ini sangat lezat.” Ucap Mrs. Mariah yang terlihat gugup.
“Sayang, apakah ada sesuatu yang menggangumu?” ucap Mr. Grissham, merangkul sang istri.
“Tidak ayah, aku hanya merasa, malam ini sangat dingin dari biasanya.” Balas Mrs. Mariah dengan wajah aneh. Mrs. Mariah terlihat begitu gugup saat berhadapan dengan Mr. Reyhard.
“Mungkin, kau perlu ke kamar kecil.” Ucap Mr. Grissham.
“Benar, aku akan ke kamar kecil.” Ucap Mrs. Mariah, dan hampir saja terjatuh akibat ketidak seimbangan tubuhnya secara tiba-tiba.
Mr. Grissham mulai disibukan dengan klien-klien yang mengajaknya berdiskusi. Draco pun turut serta didalam diskusi sang ayahnya.
Sementara Mrs. Mariah masih berada di kamar kecil, dan akan segera kembali melalui sisi taman gedung.
---------
“Mariah!” Seru seorang pria dari arah belakang Mrs. Mariah. Mrs. Mariah mempecepatkan langkahnya.
“Mariah, tunggu!” Seru sang pria lagi, hingga akhirnya berhasil meraih tangan milik Mrs. Mariah.
“Mengapa kau tidak mengatakan padaku, jika tuan Griss adalah suamimu. Lalu, bagaimana dengan anak yang..-“
Plak
“Diam! Kau terlalu banyak bicara! Kau pria sialan!” Tukas Mrs. Mariah setelah memukul wajah Mr. Reyhard.
“Mariah, maafkan aku. Malam itu, aku hilang kendali atas diriku.” Mr. Reyhard meraih tangan milik Mrs. Mariah.
“Reyhard, kau sangat tidak tahu diri! Jangan pernah membahas masa lalu. Jangan pernah usik kehidupan rumah tanggaku!” Peringat Mrs. Mariah dengan bibir gemetar, dan tubuhnya yang hampir kehilangan keseimbangan lagi.
Bergegas pergi dari hadapan Mr. Reyhard.
“Mariah, aku akan mencari tahu kebenarannya.” Seru Mr. Reyhard, namun Mrs. Mariah tetap melanjutkan langkahnya.
“Mengapa anak itu terasa sama sepertiku...” gumam Mr. Reyhard, dengan sorot matanya yang tajam dan berwarna kuning keemasan.
****