
“Mysterious Guy”
Author by Natalie Ernison
Jaxon akhirnya dapat melakukan pertemuan dengan Velline, tanpa sepengetahuan Draco. Hal itu pun Velline lakukan secara diam-diam dan sangat rapi. Urusan Draco akhirnya mengetahui kebohongannya, itu sudah tak lagi Velline pikirkan.
~ ~ ~
Ve mulai lelah atas segala perlakuan Draco, dan semua sikap posessive yang Draco perbuat. Ve ingin hidup dengan sangat bebas tanpa harus di kekang.
Dibalik jendela kamar pribadi milik Ve, Draco sudah duduk bersandar di balkon kamar milik Ve. Draco sangat kacau malam ini, Draco sangat ingin menembus dinding itu hingga hancur.
“Velline, sampai kapan kau akan terus mengabaikanku?” ucap Draco dari balik pintu arah balkon kamar pribadi Ve.
Ve merinding mendengarkan suara dari Draco. Ve tak dapat membayangkan, apa jadinya jika Draco melakukan hal yang lebih juah lagi. Ve menarik selimut tebal miliknya, dan berusaha untuk segera terlelap.
Selama beberapa saat, Ve menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara sedikitpun dan tidak melakukan pergerakan sedikitpun.
Draco kini sudah duduk di samping Ve kini terbaring.
Bulu kuduk Ve meremang, dan detak jantungnya bagaikan gendang yang sedang berkumandang nyaring.
“Aku tahu kau belum benar-benar terlelap. Perlu kau ketahui Velline, jika saja aku mendapati kau bersama seorang pria. Maka aku akan langsung mematahkan kaki tangan pria itu!” Ucap Draco penuh penekanan.
Ve masih tak bergeming, namun Ve sudah cukup berkeringat dingin mendengar apa yang Draco ucapkan.
“Jangan pernah berpikir untuk terlepas dariku.” Ucap Draco, sembari menyentuh area pinggang Ve dari balik selimut.
Ve semakin menahan napasnya, ia tak ingin hal ini terus berlanjut.
“Kuharap kau dapat berpikir dengan baik. Jangan buat aku menggila seperti ini lagi, hanya karena mencemaskanmu.”
Draco pun segera pergi dari sisi Ve. Setelah beberapa saat kemudian, Ve pun terbangun dari tempat tidurnya.
Menghela napas lega, karena Draco sudah tak lagi berada di dalam kamar pribadinya. Namun, Draco sebenarnya masih berada di balik pintu arah balkon Ve, dan melihat semua yang Ve lakukan.
Draco menatap Ve dengan tatapan hampa. Perasaanya begitu tak menentu dan sangat kacau.
“Sebegitu tidak pedulinya kau padaku, Velline...” ucap Draco lirih, lalu pergi dari area kamar Ve.
Ve sesungguhnya begitu terluka atas apa yang ia sedang lakukan. Namun, Ve tak bisa meneruskan sesuatu yang tidak seharusnya mereka perbuat.
Ve mulai menjauh dari Draco, berbagai alasan ia gunakan. Sehingga Draco tak lagi mendekatinya. Terlihat sangat sibuk, dan pulang hingga malam, lalu segera beristirahat. Dengan begitu, Draco tidak akan mendekatinya. Ve bersusah payah menghindari kontak mata dengan Draco.
>>>
Di suasana makan malam keluarga Grissham.
Ve fokus dengan makan malamnya, begitu pula halnya dengan Draco. Draco kini mulai tak lagi memperhatikan Ve. Sepertinya, Draco benar-benar hampir menyerah atas perjuangannya.
“Ayah, ibu Velline!” Ucap Draco, membuat semua secara perlahan menatap ke arahnya.
“Besok siang, aku akan pergi ke luar negeri. Kemungkinan, aku akan menetap di sana dalam beberapa tahun ke depannya.” Ucap Draco sembari menatap ke arah Mr. Grissham dan Mrs. Maiah, namun ia tak melakukannya pada Ve.
“Mengapa begitu mendadak nak! Apakah tidak bisa ditunda?” ucap Mrs. Mariah dengan wajah sendunya.
Draco tersenyum tipis. “Tidak bu, aku harus segera pergi dan fokus dengan kehidupan masa depanku, mungkin, aku akan menemukan seorang istri.” Ucapnya dengan tersenyum kecut.
“Jika itu keputusanmu, ayah akan selalu mendukungmu.” Ucap Mr. Grissham, lalu menatap ke arah Ve yang terlihat fokus dengan makanannya.
“Velline!” Panggilnya, Ve pun mendongak ke arah Draco.
“Yah, kak!”
“Kuharap kau semakin dewasa dan tetap menjadi pimpinan yang hebat. Doakan, agar kakak hebatmu ini segera mendapatkan pendamping yang tak kalah hebatnya denganmu.” Ucap Draco yang berusaha mencairkan suasana.
“Tentu saja, segala yang terbaik pasti kudoakan bagi kakak.” Balas Ve dengan tersenyum tanpa membalas tatapan Draco, ia masih sibuk dengan salad buah miliknya.
“Baiklah, ayah, ibu juga Velline. Besok, aku akan segera pergi. Aku akan sering menelepon kemari.” Draco terlihat begitu tegar saat mengutarakan rencananya.
Usai makan malam, sekaligus perpisahan bagi keluarga Grissham dan Draco. Ve langsung kembali ke kamar pribadinya, dan kembali berkutat dengan pekerjaannya.
Keesokan harinya...
Seluruh anggota keluarga sedang berkumpul di ruang keluarga. Draco siap dengan beberapa tas miliknya.
“Jaga kesehatan dan jangan terlalu memaksa diri untuk terus bekerja.” Ucap Mrs. Mariah melepaskan kepergian Draco.
“Benar Draco. Kau terlalu keras dengan pekerjaanmu, berilah waktu istirahat bagi bawahanmu.” Timpal Mr. Grissham.
“Baik ayah, ibu, Velline. Aku pergi,” ucap Draco memeluk ayah dan ibu, dan juga Ve sekilas.
Draco harus pergi seorang diri menuju bandara. Dikarenakan semua orang hari ini sangat sibuk, termasuk Ve.
Langkah kaki Draco mulai menjauh dari pintu utama mansion. Mobil miliknya sudah mulai bergerak menjauh dari area mansion. Kepergiannya kali ini menyisakan luka tak terlihat bagi seorang wanita yang sangat mencintainya.
Yah, Velline begitu hancur atas kepergian Draco. Namun, Ve tak dapat melakukan hal lain lagi. Kali ini, Draco benar-benar telah menyerah atas usahanya untuk membuktikan bahwa Ve bukan adiknya.
........................
Setelah beberapa bulan kemudian...
Ve masih saja berada dalam duka hatinya. Tak ada yang dapat memahami rasa hancur perasaan Ve kali ini.
Sesuatu hal yang sangat menyakitkan bagi Ve, ialah saat ia tak mampu melakukan sesuatu hal bagi seseorang yang sangat ia cintai. Kisah cintanya bersama Draco sungguh sangat memilukan hati.
Hingga waktu kepergian Draco pun, Ve tidak sanggup melihat kepergiannya. Ve beralasan akan menghadiri pertemuan yang sangat penting, sehingga ia tak perlu merasakan sakit saat melihat Draco benar-benar pergi menjauh.
Beberapa hari setelah kepergian Draco, Ve jatuh sakit selama beberapa hari. Setiap malamnya, Ve selalu menangis didalam diamnya. Tak ada yang mengetahui keadaan hati Ve, bahkan sang ayah.
Disaat bekerja pun, Ve kerap kali melamun. Ve menjadi kurang fokus, dan fokusnya begitu cepat buyar. Ve cenderung menjadi sosok pendiam.
Semakin sakit rasanya, saat Ve tak mampu mengungkapkan keadaan perasaan yang sedang ia alami. Hanya sebuah buku catatan hariannyalah, yang menjadi teman bicara Ve selama ini. Tak tahu, apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
“Tuhan, sepertinya aku akan selamanya menjadi wanita yang mencintai dalam luka. Kisah ini sangat sulit, dan tidak mungkin. Jika aku tidak dapat melupakannya, maka biarkan aku pergi bersama angin malam ini...”
Air mata Ve kian menetes membasahi pipi, saat setiap kata demi kata mulai tertulis di lembar kertas buku catatan harian miliknya.
Saat tak ada yang memahami rasa sakitnya, Ve hanya mampu menyimpannya dalam-dalam. Bersama segala rasa sakit, mencintai tapi tak mungkin bersama.
****