Mysterious Guy

Mysterious Guy
Semua terasa melelahkan



“Mysterious Guy”


Author by Natalie Ernison


Setelah semua yang Velline alami, ia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan segala kesedihannya. Karena, tak ada lagi yang dapat diharapkan. Semua seakan meninggalkannya, dan bahkan menjatuhkannya tanpa perasaan. Bahkan, sahabat baiknya sendiri pun menusuknya dari belakang.


~ ~ ~


Draco sempat termakan hasutan Debie, yang mengatakan hal buruk tentang Velline. Tentu saja, Draco menjadi sangat meradang mendengarkan berita buruk tentang wanitanya. Hingga terjadilah kesalahpahaman diantara keduanya, yang berujung kepada sesuatu yang tidak menyenangkan.


“Debie, aku menganggapmu tidak sekedar sahabatku, tapi juga keluargaku. Tapi, mengapa kau lakukan ini padaku...” ucap Ve lirih.


Debie melipat kedua tangannya di atas dada, dengan gaya angkuhnya. “Karena kau tak pantas bagi tuan Draco. Kau, bahkan dibuang dari keluargamu.” Tukas Debie dengan menyipitkan matanya.


“Debie, mengapa kau mengatakan hal yang begitu kejam?”


“Karena aku iri padamu! Kau mendapatkan pria yang begitu baik. Kau selalu diistimewakan. Kau bertingkah, seolah kau wanita baik. Aku membencimu!” Teriak Debie, mendorong tubuh Ve hingga terjatuh, lalu pergi dari hadapan Ve.


Ve menangis didalam kekecewaan hatinya. Ia kini sadar, bahwa Debie tidak pernah tulus padanya, dan semua hanya berdasarkan keuntungan untuk mendapatkan informasi tentang Draco.


***


Ve pun pergi menuju kediaman barunya, sementara Draco sudah duduk di depan halaman kediamannya.


“Sudah selesai?” ucap Draco, sembari memandangi wajah sembab Ve.


Ve hanya terdiam, lalu melanjutkan langkahnya.


“Velline! Kau bukan wanita yang bodoh, ingatlah untuk selalu pintar memilih seorang teman.” Peringat Draco, sembari mengahalangi jalan Ve kala itu.


“Senior sudah tahu, betapa sedihnya aku hari ini! Apakah, bicara senior tidak bisa diperbaiki, walau hanya untuk hari ini saja!” Tukas Ve kesal, dan melanjutkan langkahnya.


Draco tahu, jika Ve saat ini membutuhkan waktu untuk sendiri. Ia pun tidak ingin membuat Ve semakin sedih karenanya.


“Jika pikiranmu sudah tenang, jangan lupa untuk memberitahuku. Istirahatlah,” ucap Draco, meraih tangan Ve, lalu melepaskannya.


Ve pun pergi menuju kediamannya, membersihkan dirinya setelah lelah bekerja. Ia bahkan dipecat dari pekerjaan tempat bibi dari Debie.


Kini, Ve memuali pekerjaan barunya sebagai seorang pegawai perusahaan percetakan, sesuai dengan minatnya.


Walau harus memulai semua dari awal, tapi tidak membuat Ve menyerah. Ia tahu, bahwa hidup ini keras dan kejam. Sehingga Ve harus menjadi wanita yang lebih kuat lagi.


Memulai segala sesuatu dengan semangat baru, dan tak ingin membebani siapapun. Tiba sudah waktunya, untuk Ve memulai pekerjaannya sebagai editor majalah, dan sembari menulis naskah miliknya.


***


“Perusahaan xx”


“Nona Velline, apakah nona pernah bekerja di perusahaan yang bergerak dibagian periklanan?” tanya salah seorang atasan Ve.


Ve menganggukkan kepalanya sembari berucap, “benar kak, aku pernah bekerja di perusahaan itu.” Balas Ve, dan mereka saling memperhatikan riwayat pekerjaan Ve.


“Bukankah perusahaan ini sangat bagus, mengapa kau meninggalkannya?”


Ve tertegun mendengarkan pertanyaan menohok itu. Jika mengingat masa itu, hanyalah membuat batinya terluka. Sungguh sesuatu yang tak perlu untuk dikenang kembali.


“Karena masa kontrak percobaanku telah berakhir, dan perusahaan pun menemukan seorang pekerja profesional.” Tukas Ve, lalu melanjutkan pekerjaannya kembali.


Sang atasanya pun terdiam, lalu kembali ke tempat ia bekerja.


>>>


“Yah, Jaxon. Nona Velline baik-baik saja, dan dia sangat cekatan dalam bekerja.” Ucap sang atasan Ve, yang ialah sahabat baik dari Jaxon.


“Dalam waktu dekat, aku akan pergi menemui adikku. Tolong jangan katakan apapun padanya.” Tukas Jaxon dari balik panggilan suara.


“Wanita yang sangat malang, andai kau mendapatkan keluarga yang tepat. Mungkin nasibmu tidak akan semalang ini.” Gumam Maxwell sembari terus memperhatikan Ve, dari balik tirai ruangannya.


Jaxon telah mengetahui keberadaan Ve, dan meminta bantuan dari Maxwell untuk memperkerjakan Ve di perusahaan tersebut.


Karena tidak ingin membuat Ve meraa tidak nyaman, Jaxon pun meminta Maxwell untuk merahasiakan hal itu sementara waktu. Hingga tiba saatnya Jaxon menemui Ve, dan mengatakan yang sebenarnya pada Ve.


“Lihat saja gaya wanita penjilat itu. Sepertinya dia sudah berhasil merebut hati bos Maxwell. Dasar wanita ular.” Cela para pegawai wanita yang iri terhadap kinerja Ve.


Ve yang merupakan wanita tekun bekerja, tentu saja semua pekerjaan yang Ve kerjakan terlihat baik. Hal itu pun menimbulkan kecemburuan sosial, diantara para pegawai lama lainnya.


Apapun yang atasan perintahkan padanya, Ve selalu melakukannya dengan sangat baik dan benar.


Suatu saat, Ve dihadang oleh para pegawai lama lainnya, dan tentu saja para wanita-wanita dipenuhi rasa iri hati.


>>>


“Apakah kau telah melakukan sesuatu pada bos! Sepertinya bos sangat baik padamu!” Ucap salah seorang wanita yang merupakan pegawai perusahaan tempat Ve bekerja.


“Yah! Kau tidak perlu bertingakah! Kau hanya pegawai baru disini!” Bentak salah seorang pegawai wanita lainnya.


“Maaf, aku tidak mengerti apa yang sedang kalian lakukan! Aku tidak melakukan sesuatu yang buruk.” Balas Ve heran, dan menahan rasa marahnya.


“Kau hanya pegawai baru! Dan jika tidak salah, kau seorang yatim piatu!” Cela mereka, lalu tertawa lepas.


Ve hanya melihat satu pper satu dari para wanita itu. “Kalian sudah selesai, jika tidak ada hal yang penting, biarkan aku pergi.”


“Heh! Kau terlalu munafik!” Bentak salah seorang dari mereka, dan mendorong ve hingga terjatuh.


Karena Ve sedang membawa beberapa peralatan, semuanya pun jatuh berserakan.


“Ups! Kasian sekali, bajumu menjadi kotor. Tapi, kau pantas menerimanya! Ingat! Jangan banyak bertingkah, atau kami akan berbuat lebih kejam dari ini!” Peringat mereka, lalu meninggalkan Ve sendiri.


Ve meraih seluruh peralatan kerjanya yang jatuh berserakan. Ve hanya menghela napas kasar. Ia sungguh tidak ingin terlibat dengan hal ini, namun semua terjadi tanpa diduga.


Parasnya yang cantik, dan bentu tubuh yang terlihat sempuran. Hal itulah yang memicu kecemburuan dari para pegawai lainnya, hingga dengan berani menindas Ve.


Namun, tanpa Ve ketahui, Maxwell telah melihat semua yang terjadi padanya. Maxwell sengaja, tak ingin cepat bertindak, ia ingin melihat respon dari Ve. Semua pun membuat Maxwell sangat terkejut, Ve sungguh tidak membalas perbuatan para orang-orang iri itu.


***


Setelah menyelesaikan segala tugas tanggung jawabnya hingga ia harus lembur. Ve pun pergi ke sebuah cafe dua puluh empat jam, hanya untuk menenangkan dirinya, dan menyelesaikan naskah terbarunya.


Mengusap wajahnya, dan menyeruput secangkir coklat hangat sebagai penenang pikirannya sejenak. Malam itu, adalah malam libur bagi Ve. Sehingga Ve bisa lebih bersantai dan menikmati hidupnya.


Mengingat semua yang terjadi hari ini, cukup melelahkan baginya.


Drrtttt.... Senior Draco memanggil...


Draco: “Mengapa tidak membalas pesanku! Apakah kau terlalu nyaman dengan pekerjaan barumu?”


Ve: “Aku sangat sibuk, dan aku lembur. Maaf untuk itu.” Balas Ve dengan nada tenang, tak ingin terpancing emosi, setelah apa yang ia lalui hari ini.


Draco: “Baiklah. Besok aku akan menemuimu. Luangkan waktumu untukku, apakah sulit?”


Ve: “Tentu saja tidak. Bukankah, waktuku harus selalu ada untuk senior!”


Draco: “Baiklah, istrahatlah. Jangan paksakan diri untuk terus bekerja. Ingat kesehatanmu. Aku mencintaimu..—“


Panggilanpun berakhir, Ve kembali hanyut dalam lamunannya. Memandangi ke luar dinding kaca transparan cafe tersebut. Rasanya ingin lari dari kenyataan, namun hal itu tidak akan membuat masalahnya selesai.


Ve hanya berharap, hari esoknya akan menjadi jauh lebih baik.


****