
“Mysterious Guy”
Author by Natalie Ernison
Jaxon membawa Ve ke sebuah pesta bersama, tepatnya di pesisir pantai. Sungguh malam yang indah, keduanya bahkan seperti pasangan kekasih. Namun, sesuatu yang tak terduga pun terjadi.
~ ~ ~
“Kak Jaxon! Mengapa kakak tiba-tiba begini!” Ucap Ve dengan suara bergetar.
Dari hidup Jaxon mengeluarkan darah segar yang terus saja mengalir.
“Kak Jaxon! Kumohon, kakak!” Isak Ve yang mulai panik, berusaha mencari pertolongan, namun ia pun sedang panik tak tahu harus melakukan apa.
Sembari menahan tubuh Jaxon, Ve merogoh kantong milik Jaxon dan mencoba memanggil salah seorang supir kediaman nenek Brant.
“Hallo, paman bisa tolong aku! Aku Velline!—“
Tak lama setelahnya, seorang pria paruh baya datang bersama seorang wanita paruh baya pula.
“Apa yang terjadi dengan cucuku?” ucap nenek Brant, dan menatap ke arah Ve sini.
“Kau, ikut dengan kami!” Tukas nenek Brant, Ve mengangguk dan menuruti ucapan sang nenek.
***
“Rumah Sakit xx”
Nenek Brant juga beberapa kerabat lain sudah berada di dalam ruangan VIP yang mereka pesan secara khusus, dan tak ingin jika penanganannya terlambat. Sedangkan Ve, hanya duduk di luar pintu ruangan VIP tersebut.
Ia mengenakan dress dan cukup membuatnya kedinginan.
“Kau!” ucap seorang wanita, yang merupakan bibi dari Ve dan berstatus sebagai Nyonya Brant.
“Bibi,” ucap Ve.
Plak
Sebuah tamparanlah yang justru Ve harus terima kini.
“Kaulah penyebab Jaxon menjadi seperti ini!” Bentak sang bibi, sembari menunjuk-nunjuk wajah Ve.
Ve tak mampu berkata sepatah katapun, terlebih lagi ada Mr. Barnab di sana.
“Kehadiranmu sungguh pembawa kesialan bagi keluargaku” Tukas Mr. Barnab.
“Lebih baik kau pergi dari sini!” Usir nenek Brant dengan tatapan sinis, dan Ve hanya bisa pergi dengan hati yang sungguh terluka malam ini.
Nenek Brant
Karena, tak ada yang jauh lebih menyakitkan baginya, selain disakiti oleh orang-orang yang dulu begitu menyayanginya. Walaupun, mungkin saja semua kasih sayang itu hanyalah sesaat.
***
Berjalan menjauh dari rumah sakit tempat Jaxon di rawat kala itu. Tak ada satupun yang membelanya, sungguh hal yang teramat menyakitkan.
Duduk sejenak di area trotoar sisi jalan, dan sebisa mungkin menahan segala rasa sesak dihatinya.
Ve teringat akan sosok Debie, seorang teman yang kala itu memberikannya sebuah kartu nama. Ve merogoh isi tas miliknya dan mencoba untuk menelepon Debie.
“Debie! Benarkah! Yah, aku ingin bertemu denganmu besok..—“ ucap Ve, setelahnya mematikan ponsel miliknya.
Ia pun pulang dengan menumpangi sebuah bus umum, yang akan menghantarnya kembali pulang.
Selama berada di bus, Ve tak mampu menahan tangisnya, dan teris terisak pilu. Pertemuannya bersama Debie, tentu ada tujuan yang sangat ingin ia laksanakan.
***
“Cafe xx”
“Velline! Aku sangat merindukanmu,” ucap Debie sembari mendekap Ve.
“Yah, akupun merindukanmu Debie.” Ucap Ve, dan keduanya pun saling berbincang.
“Bagaimana dengan pekerjaanmu Ve?”
“Ah, aku... baru saja berhenti bekerja.
“Mengapa Velline, bukankah kinerjamu sangatlah baik.” Tukas Debie heran, dan tak percaya akan apa yang Ve katakan.
“Yah, aku hanya ingin segera pergi dari kota ini.”
“Pergi?” Debie mendekati wajah ve, dan melihat betapa banyaknya kesedihannya di sana.
“Yah, aku sudah tidak tahan berada di kota ini. Aku ingin memulai hidup yang baru.” Ucap Ve dengan wajah memohon.
“Velline, jika kau memiliki banyak masalah, seharusnya aku bicara padaku.” Tukas Debie sembari meraih kedua tangan milik Ve.
“Aku hanya takut merepotkanmu Debie.”
“Baik, terima kasih Debie. Aku sudah sangat merepotkanmu.” Debie menggeleng, tidak setuju akan pernyataan Ve terhadap dirinya.
“Tidak Ve, kau adalah sahabatku.” Keduanya pun saling terkekeh. Debie merupakan wanita yang sangat lembut, dan juga suka membantu Ve.
***
Beberapa hari kemudian...
Ve mengemasi seluruh barang-barang miliknya yang tidak seberapa tentunya.
“Bibi, terima kasih untuk segalanya. Sepertinya aku harus pergi, dan jika ada yang mencariku. Katakan saja, bibi tidak tahu tentangku.”
“Mengapa Velline, apakah pria tampan itu telah menyakitimu.?” Ucap seorang wanita pengurus rumah tempat Ve tinggal selama beberapa bulan lamanya. Pria yang ia maksud tentu saja Draco.
“Tidak bi, dia akan segera menikah. Kami hanya teman,” sela Ve berusaha agar wanita tersebut mempercayainya.
“Baiklah Velline, jaga dirimu dan jangan lupa berkunjung kemari.”
Velline pun pergi bersama Debie yang sudah menantinya dengan mobil yang akan mereka tumpangi.
“Debie, apakah tidak merepotkan?”
“Tidak Velline. Kita akan menumpangi bus, lalu tiba di kediaman bibiku. Perjalanan kita akan cukup panjang, kusarankan kau untuk beristirahat banyak.” Kekeh Debie, dan keduanya benar-benar asyik berbincang tentang masalah wanita hingga ke hal jodoh. Berbicara banyak, selayaknya para wanita pada umumnya.
***
Kota D
Ve memandangi area kota yang baru saja ia kunjungi. Setela dua puluh empat jam lebih berada dalam perjalanan.
“Kediaman bibi Nancie”
“Velline, masuklah!” Ajak Debie, dan mereka pun mulai berkenalan satu sama lain dan mengakrabkan diri.
“Bi, Velline adalah wanita yang sangat tekun. Jadi, tidak perlu cemas padanya, jika ia sudah mulai bekerja.” Puji Debie.
“Debie, kau terlalu banyak bergurau!” Peringat Ve.
“Santai saja Nona Velline. Kebetulan sekali, aku sedang membutuhkan seorang admin.” Tukas bibi Nancie.
“Baik bibi, dan terima kasih untuk segalanya.”
“Besok aku akan kembali ke kota A. Kau cukup lupakan semua yang telah terjadi di kota A, dan mulailah hidup yang baru.”
Ve pun memulai karir terbarunya, sebagai seorang admin di bagian keuangan perusahaan yang bergerak di bagian pemasok barang-barang bermerek.
Sementara itu....
***
“Kedimanan keluarga Brant”
“Ayah, apa yang sudah kalian perbuat pada Velline! Mengapa kalian sangat tega!” Ucap Jaxon lirih, dan masih dalam keadaan lemah tubuh.
“Dekat dengan keturunan ibunya, kau hanya akan mendapatkan kesialan!” Tukas nenek Brant.
“Nenek, mengapa nenek membenci Velline. Velline adalah gadis yang baik..—“
“Hentikan Jaxon! Cucu nenek, hanyalah satu, yaitu kau. Velline hanyalah anak pembawa sial dalam keluarga Brant. Untukmu Barnab, jangan injakkan kaki kalian, jika wanita dari keluarga wanita itu berada di sini!”
“Ibu, aku tidak penyakitan seperti wanita tuan itu. Aku bisa memberikan keturunan bagi suamiku!” Tukas istri baru Mr. Barnab.
“Diam kau Naomi!” Kau hanya wanita simpanan anakku dan baru menjadi istrinya.”
“Ingat bu, selurih aset keluarga atas namaku. Jadi, hati-hatilah dalam berbicara!” Peringat Mrs. Naomi, bibi dari Ve.
Mrs. Naomi
“Kau, wanita iblis! Jauh lebih buruk!” bentak nenek Brant.
Tak hanya Jaxon, Draco pun kini sedang mencari Ve.
***
“Maaf bibi, apakah Nona Velline pergi?” ucap Draco dengan sopan pasa sang pengurus tempat kediaman lama Ve.
“Anak muda, apakah kau sangat suka bermain dengan hati wanita. Untuk apa kau mencari seseorang yang sudah lelah, dan memilih untuk menjauh.” Tukas sang wanita, lalu pergi dari hadapan Draco.
“Velline, apa yang terjadi padamu.” Ucap Draco penuh penyesalan. Selama berhari-hari bahkan bulan, ia tak lagi mempedulikan Ve, dan hanya fokus dengan pengobatan Olive. Hingga akhirnya, ia harus kehilangan gadis manisnya.
Jaxon Brant new visual
****