
Mysterious Guy”
Author by Natalie Ernison
Untuk kesekian kalinya, Draco bertemu dengan sosok Mr. Reyhard. Setiap pertemuan, Draco selalu mengalami sensasi yang sama. Namun malam itu, Draco mulai merasa sesuatu berbeda saat Mr. Reyhard memeluk tubuhnya. Kenyataannya, Draco adalah anak kandung Mr. Reyhard dan Mrs. Mariah.
~ ~ ~
Sebuah keadaan yang tidaklah mudah bagi mereka. Dimana, saat ini Draco telah menjadi anak dari Mr. Grissham bersama Mrs. Mariah. Kebenaran akan identitasnya sebagai pria keturunan darah vampire pun hanya Mr. Reyhard dan Mrs. Mariah yang mengetahuinya.
“Perusahaan Cabang S”
“Permisi Nyonya Velline, ada telepon untuk anda.” Ucap salah seorang sekretaris pribadi Ve.
Ve menerima panggilan tersebut, namun suara dari si pemanggil seakan begitu misterius. Hal itu membuat Ve ragu, hingga membawa pengawal untuk pergi bersamanya.
“Mengapa suara pria itu, mengingatkanku pada seseorang...” gumam Ve sembari memikirkan sesuatu hal.
Tak ada rasa takut, ia yakin orang yang telah mengajaknya bertemu adalah seseorang yang sangat dekat dengannya.
>>>
Loby Utama Perusahaan S
“Nyonya muda, apakah kita langsung pergi?” tanya pengawal Ve, sembari membukakan pintu mobil bagi Ve.
“Yah, tapi satu hal yang perlu kalian ingat. Jangan beritahu hal ini pada kak Draco.” Peringat Ve pada para pengawal maupun sekretaris, asistennya.
“Baik, Nyonya muda.” Balas para pengawalnya serentak. Namun tanpa diduga, Draco baru saja tiba ke perusahaan tempat Ve bekerja.
“Nyonya!” Ucap sang asisten Ve, mereka saling bertatapan penuh arti.
Draco turun dari mobil mewah miliknya, menatap ke arah Ve lalu mendekati Ve.
“Bukankah hari ini kau harus bicara
denganku?” ucap Draco, membuat Ve melangkah ke luar dari mobil miliknya.
“Yah kak, tapi aku harus pergi untuk menghadiri pertemuan.” Jawab Ve gugup, dan dengan wajah tersenyum tenang.
“Kau akan pergi kemana?”
“Ke pertemuan, dan pengawal akan pergi bersamaku.” Ucap Ve semakin gugup.
“Oh, baiklah. Jaga Nyonya muda dengan baik.” Ucap Draco pada para pengawal Ve.
***
Ve akhirnya dapat pergi dengan tenang, dan berhasil mencari alasan yang dapat meyakinkan Draco.
Mereka tiba di sebuah Villa mewah di area pinggiran kota B.
“Selamat siang Nona Velline, tuan besar sedang menanti anda.” Ucap seorang pria bertubuh tinggi tegap, layaknya seorang pengawal.
Ve berjalan bersama dua pengawalnya, dan dua orang lainnya.
Setibanya di depan sebuah pintu ruangan, hanya Ve yang dapat masuk. Ve pun menuruti apa yang dikatakan receptionist.
“Kau semakin luar biasa.” Seru seseorang dari balik tirai berwarna hitam berhiaskan lampu kerlap.
“Kak Jaxon!” Ucap Ve, lalu saling berpelukkan.
“Aku sangat merindukanmu,” ucap Jaxon dan mendekap erat tubuh Ve.
“Kak Jaxon, kakak kemana saja selama ini.” Lirih Ve, saat berada didalam pelukan Jaxon.
“Maaf, aku hanya tidak ingin mengusik kebahagiaanmu saat ini.”
“Apa maksud kakak!”
“Aku tidak ingin menganggumu.”
“Kakak tidak pernah menggangguku, aku selalu berharap kakak akan datang padaku.”
Ve mulai terisak didalam pelukan Jaxon.
“Velline, jangan pernah menjauh dariku.”
Ve mengangguk lirih dan masih berada didalam pelukan Jaxon.
>>>
Setelah menjelang malam...
Ve masih terlihat asyik bercengkrama dengan Jaxon. Si pria luar biasanya, dan selalu baik pada Ve.
Di meja makan istimewa, dengan hiasan lampu-lampu taman indah.
“Yah kak. Aku sangat bahagia, ibu sangat baik padaku.” Ucap Ve tersenyum antusias.
“Syukurlah, itulah yang kuharapkan. Aku sangat lega mendengar berita gembira darimu.” Ucap Jaxon, memandangi Ve dengan tatapan sendunya.
“Velline, maafkan atas ketidakberdayaanku saat itu.”
“Sudahlah kak Jaxon. Semua sudah berlalu, tidak perlu dibahas. Kita mulai semua dari awal kembali.” Ucap Ve, lalu menyentuh wajah Jaxon.
Jaxon sangat terkejut atas tindakan Ve padanya. Sentuhan biasanya, namun cukup membuat Jaxon tersentuh hingga tak mampu berkata-kata.
“Makanan ditempat ini sangat lezat. Kakak harus menikmatinya,” kekeh Ve. Menyuapi Jaxon dengan senyuman tulusnya.
Sekian lama tak saling bertemu, kini Jaxon bisa melihat senyuman menawan dari Ve.
“Velline, dapatkah aku mengajakmu dilain waktu. Ah, maksudku! Aku ingin mengajakmu makan ditempat yang lebih baik dari tempat ini, mungkin.” Jaxon terlihat begiu gugup.
Ve mengangguk, sebagai tanda persetujuannya. “Tentu saja kak. Kakak, adalah kakak terbaikku dulu hingga saat ini dan seterusnya.”
“Terima kasih Velline, aku menyayangimu, adiku.” Ucap Jaxon, namun ucapan itu Ve anggap sebagai tanda kasih sayang seorang saudara pada adiknya.
“Aku pun menyayangi kakak. Malam ini aku yang akan membayar semua makanan ini. Aku sudah bekerja kak.” Kekeh Ve, membuat jantung Jaxon memacu lebih cepat dari biasanya.
Drrrttt.... Kak Draco memanggil...
Ve hanya menatap sekilas layar ponsel miliknya, lalu mematikan ponsel miliknya.
“Mengapa kau tidak mengangkat panggilan itu Ve?” tanya Jaxon.
“Itu hanya kak Draco. Kak Draco masih bersikeras dengan hubungan persaudaraan kami. Aku pun tidak ingin hal itu terlalu berlarut-larut.” Ve menyeruput coklat hangat miliknya.
Mendengar hal itu, Jaxon merasa tegang. Jaxon telah mengetahui hubungan antara Draco dan juga Ve sebenarnya, dan hal itu ia simpan rapat dari Ve.
“Untuk sementar, jangan katakan pada Draco mengenai pertemuan kit. Akku tidak ingin membuatmu kesulitan.”
“Yah, tentu saja. Aku akan merahasiakan pertemuan kita. Aku pun tidak ingin membuat masalah baru untuk kami. Terima kasih kak Jaxon.” Jaxon memeluk Ve layaknya seorang adik.
Walaupun, akhir-akhir ini Jaxon mulai merasakan perasaan yang berbeda dari biasanya pada Ve.
Ve pun pulang kembali ke mansion bersama para pengawal, juga asisten, sekretarisnya. Jaxon hanya bisa melihat kepergian Ve, dan berharap masih dapat bertemu kembali dilain waktu.
***
Ve terlihat bahagia setelah pertemuannya bersama Jaxon, pria yang selalu ia anggap sebagai suadara lelaki terbaiknya. Ve tidak pernah menyedari benar, bagaimana perasaan Jaxon sesungguhnya.
Karena sepanjang hari mereka sangat menikmati kebersamaan dan membicarakan banyak hal. Ve mulai kelelahan, dan hampir terlelap selama perjalanan pulang.
“Mansion kediaman Grissham family”
Baru saja tiba di area halaman mansion megah keluarga Grissham. Draco sudah berdiri dengan tatapan sinisnya, dan menghalangi mobil yang kini Ve tumpangi.
Salah seorang pengawal pribadi Ve pun mencoba untuk berbicara pada Draco.
“Maaf tuan muda, Nyonya Velline sedang kelelahan. Jadi, harus segera beristirahat.”
“Lalu, salahkah jika seorang kakak peduli pada adik manisnya!” Tukas Draco, membuat para pengawal Ve katakutan. Ve pun keluar dari mobil dan melangkah ke arah Draco.
“Apakah ibu dan ayah tidak ada di mansion?”
“Kau sudah semakin pintar menebak!” Balas Draco sinis, dan melangkah mendekati Ve.
“Kak Draco, aku lelah. Aku butuh istrahat.”
“Kau darimana saja! Ini sudah larut malam. Apakah, pertemuan itu hingga selarut ini!” Ucap Draco dengan nada bicara yang cukup tinggi.
“Kakak, tidak semua hal yang harus kakak atur. Ayah dan ibupun tidak, mengapa kakak sangat suka ikut campur!”
“Apa salah jika aku mencemaskanmu! Adikku..” ucap Draco lalu menurunkan nada bicaranya. Mengepal kedua tangannya, dan berusaha menahan dirinya yang sangat ingin menguasai Ve.
“Lihat apa yang telah kakak lakukan. Kakak membuatku malu dihadapan orang-orangku! Kakak keterlaluan!” Ve menubruk bahu Draco, lalu melangkah dengan penuh kekesalan.
Sementara itu, Draco hanya berdiri di area halaman mansion kediaman orang tuanya.
Ahk.. “Sialan!” Pekiknya, dan menarik napas perlahan.
Ingin rasanya ia meraih tangan milik Ve, dan membuat Ve tunduk padanya. Namun, Draco masih belum menemukan bukti bahwa mereka tidak memiliki hubungan darah.
Sungguh sesuatu yang begitu sangat menyesakkan hati Draco. begitu pula halnya dengan Ve. Ve mulai risih dan lelah dengan semua perlakuan Draco terhadap dirinya.
****