
“Mysterious Guy”
Author by Natalie Ernison
Setelah kepergian Velline dari kota A, Draco sungguh risau. Draco terus mencoba untuk mencari informasi mengenai Velline. Hingga suatu saat, Debie pun muncul dihadapannya. Namun, kemunculan Debie justru sebagai iblis antara Draco dan Velline.
~ ~ ~
Selama berhari-hari, Draco terus menemani Debie dalam sesi pemotretannya kala itu.
“Apakah kau sudah menemukan Velline! Bodoh! Kau bisa apa!” Ucap Draco, yang kala itu sedang menelepon seorang rekan.
“Wow! Kekasihmu sungguh gagah Debie. Aku iri padamu.” Ucap para rekan model Debie kala itu. Yah, Debie kini menjadi seorang model iklan yang belum terlalu terkenal tentunya.
“Tentu saja, kau lihat saja postur tubuhnya! Apakah, sangat gagah!” kekeh Debie bersama teman-temannya.
“Tuan Draco!” Panggil Debie kala itu.
“Apakah sudah selesai?” ucap Draco.
“Yah, aku selesai, tapi bisakah kau menemaniku ke kediamanku?” pinta Debie dengan wajah memohon.
“Cepatlah!” Tukas Draco, dan mereka pun pergi bersama. Draco bahkan membuang waktu berharganya, hanya untuk menunggu Debie bicara tentang Ve. Karena, jika melalui paksaan. Debie semakin tidak akan mengatakannya.
***
“Kediaman Debie”
Tiba saatnya, bagi mereka untuk membicarakan mengenai kepergian mereka ke tempat Ve berada. Debie merogoh ponsel miliknya.
“Pastikan Velline bersamamu, dan ke pemandian air panas itu! Lakukan apa yang aku katakan!” Ucap Debie dari balik panggilan suaranya.
Ia melangkah ke arah ruang tamu kediamannya. Namun, ia kini sedang mengenakan pakaian yang sangat minim, hampir memperlihatkan seluruh bentuk tubuhnya.
“Aku sangat lelah hari ini, bisakah kita lanjutkan pembicaraan kita esok hari!”
“Jika kau masih berniat untuk bermain-main denganku, lebih baik kau tidak perlu muncul dihadapanku.” Ucap Draco dengan tatapan tajamnya.
“Hei! Akulah yang mengetahui di mana Velline berada!” Tukas Debie kesal.
“Lalu, dimana dia!” ucap Draco dengan tatapan yang sangat tajam.
“Lihat saja sendiri!” Debie menyodorkan ponsel miliknya.
Wajah Draco seketika berubah muram. Urat-urat tangannya seakan bermunculan, karena kepalan tangannya kala itu. Ve terlihat tersenyum bahagia, hanya dengan mengenakan bikini miliknya. Mereka terlihat sedang berada di pemandian bersama.
“Sialan!” Umpat Draco, menggertakan giginya dan sangat emosi.
“Dimana mereka?” ucap Draco dengan segala amarah yang kian meluap-luap.
“Sungguh ingin tahu! Lalu, mengapa mencoba untuk mengancamku tadi!” Ucap Debie dengan menaikan alis sebelahnya.
“Katakan dimana mereka!” Draco semakin geram.
“Besok kita akan ke sana! Malam ini beristirahatlah di sini.” Ucap Debie menja, dan mendekati Draco dengan gaya sensualnya.
“Kau memalukan!” Ucap Draco, lalu pergi menjauh. Sementara Debie ditinggalnya seorang diri.
“Dasar pria tidak tahu diri! Kupastikan kau akan tidur bersamaku.” Gumam Debie menahan segala kekesalannya.
Mereka pun kembali untuk beristirahat, sementara besok adalah hari di mana Draco akan menemui Ve. Rasa yang sungguh tidak sabar baginya.
***
Kota D
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, mereka pun tiba di kota D. Tentu saja, Debie selalu mencari kesempatan di dalam kesempitan saat bersama Draco di sepanjang perjalanan.
“Penginapan,” ucap Draco, dan ia sudah sangat tidak sabaran untuk menemukan Ve.
“Yah. Bukankah sudah kutakan sebelumnya, bahwa Velline tidak sebaik yang kau pikirkan.” Ucap Debie sembari merangkul manja lengan Draco.
Draco melepaskan rangkulan tangan Debie, dan membuat Debie kembali kesal karena hal itu. Terus mencari tempat Ve kini berada, hingga tibalah di sebuah area terbuka di penginapan tersebut.
Mata Draco terfokus pada sosok wanita yang sedang asyik tertawa bersama pria, juga wanita di sana.
“Velline!” Seru Draco, dan melangkah secara cepat, sementara Debie terus membuntutinya.
“Senior!” Ucap Ve terkejut. Lebih terkejut lagi, saat melihat Debie merangkul Draco.
Draco langsung menarik paksa tangan Ve, dan pergi bersamanya ke sisi area tersebut.
“Disaat aku sedang kesusahan, kau justru bersenang-senang disini. Berapa uang yang sudah kau dapatkan, dari pria-pria itu!” Bentak Draco dnegan napasnya yang tak beraturan.
“Senior, mengapa kau mengatakan hal yang sangat kejam.” Ucap Ve lirih, dan wajahnya terlihat memucat.
“Jika hanya karena uang kau menjual tubuhmu, sungguh sangat murahan. Bukankah, itu sama halnya seperti seorang *******!” Tukas Draco dengan penuh emosi.
Plak
Ve menampar wajah Draco. “Cukup! Jika sudah cukup mengataiku, lebih baik pergi dan jangan pernah kembali lagi!” Pekik Ve.
“Pergi! Yah, aku akan pergi setelah memastikan sesuatu.” Tukas Draco, dan membawa tubuh Ve melayang bersamanya.
“Lepaskan aku! Lepaskan!” Pekik Ve kala itu.
>>>
Draco membawa tubuhnya ke atas gedung tinggi, bagian tertaras yang terdapat area kosong nan sepi pula.
“Berapa pria yang telah menggerayangimu! Katakan padaku!” Bentak Draco.
Ahk... “Hentikan! Kau ********!” Teriak ve, sembari menutup kedua telinganya.
“Masih berlaga suci dihadapanku, setelah apa yang kau lakukan!”
“Apa hakmu! Apapun yang aku lakukan, tidak ada hubungannya denganmu, senior ********!” Isak Ve.
“Tidak ada! Kau bilang tidak ada hmm!” Draco meraih rahang Ve, dan mencengkramnya kuat.
“Sakk-kitt...” pekik Ve.
“Lalu, bagaimana denganku Velline. Aku selalu berharap kau baik-baik saja, saat aku tiada. Tapi yang kau lakukan, sungguh sesuatu yang menyakitkan untukku.”
“Jangan!! Ahkkk Jang-ann...” Pekik Ve, saat Draco menyingkap kaus yang sedang ia kenakan. Tidak hanya itu, Draco bahkan ***********************#####*******, tentu saja sangat mudah bagi Draco.
“Jangan!!!” Teriak Ve.
“Aku akan memastikan, apakah dibawa** sana masih utuh, ataukah sudah puas dinikmati pria bajing*n!” Bentak Draco.
***************. Tak hanya itu, Draco juga memastikan ******** Ve masih seperti dulu atau sudah tak lagi menjadi gadis manis.
Namun, seketika itu pula ia menjadi terbungkam. Saat didapatinya Ve yang masih perawan dan baik-baik saja. Tidak ada sesuatu yang merubahnya.
Plak
Ve menampar wajah Draco dengan terisak.
“Sudah puas! Puas mempermalukanku! Aku yang berjuang untuk hidupku, saat semua orang mengecewakanku dan membuangku! Lalu kau datang hanya untuk merendahkanku! Melecehkanku seperti ini...” Teriak Ve, lalu membenarkan pakaiannya.
Draco benar-benar terbungkam, dan ia sangat menyesali apa yang telah ia perbuat pada Ve malam ini.
“Velline, apakah kau belum sempat melakukannya bersama pria yang bersamamu?” ucap Draco lagi, dan melangkah mendekati Ve.
“Katakan Velline!”
Bugh
Draco meninju tembok dan hampir mengenai kepala Ve. Ve sangat ketakutan, karena belum pernah sebelumnya ia melihat Draco semarah ini.
“Aku bahkan tidak pernah berhubungan dengan pria manapun. Jika kau mendapati sesuatu yang membuatku seakan murahan. Mungkin, kau terlalu cepat percaya dengan orang lain. Mereka semua adalah teman-teman kerjaku, dan..—“
Draco langsung mendekap Ve, memeluk erat dan hal itu semakin membuat Ve terisak pilu.
“Lepaskan aku senior. Kau akan ikut kotor jika memeluk seorang ******* sepertiku...” isak Ve semakin pecah, tatkala Draco membungkam mulutnya dengan kecupan Draco yang sangat gila.
“Aku tahu, kau tidak akan sembarangan dengan pria. Tapi, kumohon! Jangan pergi disaat aku sedang sangat membutuhkanmu... karena, aku tidak akan sanggup tanpamu.” Ucap Draco dengan tatapan mata yang hampa.
“Apakah Debie telah mengatakan hal lain pada senior?” ucap Ve lirih.
“Aku sudah mempercayakanmu pada wanita yang bernama Debie. Aku sungguh bingung mencarimu...”
“Lalu mengapa kau meninggalkanku tanpa kabar berita?”
“Lalu, mengapa senior mengabaikanku selama ini? Tidakkah kita sama, aku bahkan tidak diharapkan.”
“Siapa yang tidak diharapkan. Katakan sekali lagi!”
“Senior..—“
Draco kembali mengecup bibir milik Ve. Sungguh sebuah kerinduan yang tak sanggup ia tahan. Begitu pula dengan Ve, ia sangat mengharapkan Draco bersamanya. Namun, keadaan membuat semua seakan tak mungkin.
****