Mysterious Guy

Mysterious Guy
Kekuatan hati



“Mysterious Guy”


Author by Natalie Ernison


Hari yang cukup melelahkan bagi Velline, selama ia memulai usaha maupun pekerjaan utamanya. Penghasilan yang ia peroleh pun tidaklah sepadan dengan rasa lelah. Siang hingga malam, ia terus bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri. Ia tak ingin bergantung pada siapapun, termasuk Draco, si pria jahilnya.


~ ~ ~


“Perusahaan XX”


“Nona Velline, hari ini tuan Anderson menugaskanmu untuk pergi ke perusahaan A.” Ucap salah seorang asisten dari Mr. Anderson.


“Oh, baiklah kak. Aku akan mengemasi barang-barangku terlebih dahulu.” Ucap Ve, lalu bersiap-siap untuk segera pergi.


“Tidak perlu, kau bisa langsung pergi sekarang. Atau gajimu akan dipotong.” Titah Mr. Anderson yang muncul secara tiba-tiba.


“Selamat siang tuan Anderson,” sapa sang asisten sembari menunduk memberi penghormatan, begitu pula Ve.


Setelah mengatakan hal it, Mr. Anderson pun pergi dari hadpan Ve.


“Nona, jika kau membutuhkan tumpangan, kau bisa meminta pertolongan supir.”


“Tidak kak, aku bisa pergi menggunakan kendaraan umum saja.” Tukas Ve, dan ia pun bergegas untu segera melangkah pergi.


Cuaca yang begitu terik, dan Ve harus menaiki kendaraan umum untuk tiba di perusahaan tersebut.


“Mengapa, sepertinya aku mengenal alamat dari perusahaan ini” batin Ve kala itu, dan ia pun bergegas pergi.


***


Hampir satu jam penuh, Ve harus menempuh perjalanan yang cukup jauh jaraknya. Lelah memang, tapi ia harus melakukannya. Terlebih lagi, siang hari ini, sikap Mr. Anderson cukup berbeda, dan Ve tidak mengerti.


“Perusahaan A”


Akhirnya, Ve pun tiba di perusahaan tersebut.


Sebuah gedung yang tinggi menjulang, mewah tentunya. Karena, terletak di area perkantoran kota tersebut.


Tak ingin berlama-lama, Ve pun bergegas untuk segera pergi ke perusahaan tersebut.


“Apakah ini benar, perusahaan Brandie Group?” tanya Ve pada salah seorang security.


“Benar sekali Nona. Nona silakan pergi aula, tempat diadakannya rapat.” Ucap sang security.


“Baik tuan, terima kasih banyak.” Ucap Ve dengan tersenyum ramah.


Berjalan menyusuri area tempat tersebut. Hingga akhirnya tiba di sebuah pintu, yang bertuliskan selembar kertas “Ruang rapat”.


Seorang office boy menyambutnya, sembari mempersilakan Ve untuk duduk. Sementara itu, semua orang sudah siap untuk mengikuti rapat.


Setelah beberapa saat kemudian...


“Baiklah, apakah ada diantara saudara sekalian yang merupakan tamu utusan dari perusahaan lain?” tanya sang pemimpin rapat.


Dengan penuh percaya diri, Ve mengacungkan tangannya, dan berdiri. “Aku tuan, aku diutus dari perusahaan So.” Ucap Ve sembari menebar senyuman ramahnya.


“Perusahaan So?” jawab salah seorang anggota rapat. Ve sangat mengenali suara ini.


Betapa terkejutnya Ve, saat melihat sosok yang menjawab ucapannya.


“Siapa yang memerintahkanmu untuk datang kemari? Apakah perusahaan So sudah kehabisan anggota?” ucap seorang pria sembari berdiri menghadap Ve.


“Ayah,” gumam Ve pelan.


Yah, pria yang menyela ucapannya ialah Mr. Barnab, ayah tiri jahatnya.


“Seorang pegawai rendahan dan masih sangat baru tidak diterima disini.” Tukas Mr. Barnad.


Ve hanya terdiam kaku, dan ia sangat malu hari ini. Sudah datang jauh-jauh, namun justru hanya untuk dipermalukan.


“Maaf, tuan Barnab. Aku hanya menerima perintah, dan terima kasih untuk kesempatan hari ini.” Jawab Ve dengan tangan yang gemetar, menahan kemelut dihatinya.


Semua mata tertuju pada dirinya, dan Ve perlahan keluar dari ruangan rapat tersebut.


>>>


“Velline!” Panggil seseorang dari arah pintu ruangan rapat. Ketika menolah, Ve pun terkejut untuk kesekian kalinya.


“Kak Jaxon,” ucap Ve lirih.


Jaxon Brant



Saudara laki-laki tiri Ve, anak dari Mr.Barnab.


“Kemana saja kau selama ini, mengapa tidak memberikan kakak kabar?” ucap Jaxon, lalu mengusap puncak kepala Ve.


“Aku rasa, kakak sangat sibuk,” balas Ve dengan mata yang berkaca-kaca.


“Tunggu aku di cafe seberang, aku akan menyelesaikannya rapat terlebih dahulu.” Ucap Jaxon dengan tersenyum pada adik kesayangannya.


Ve sangat menuruti apa yang Jaxon katakan, karena sedari kecil keduanya sangatlak akrab.


>>>


“Cafe xx”


Ve duduk di dalam cafe yang Jaxon katakan padanya beberapa saat yang lalu. Sebuah cafe terbuka, dan terletak tepat di seberang gedung perusahaan Brandie Group.


Duduk dengan ditemani ponsel miliknya, perasaan Ve sungguh tak dapat ungkap dengan kata-kata. Hanya karena kehadirannya saja, Mr. Barnab dengan tega mempermalukan dirinya ditengah rapat penting. Ve tidak pernah tahu, apa yang terjadi antara perusahaan Brandie Group dengan So Group, tempatnya bekerja.



“Sudah memesan makanan?” ucap Jaxon yang baru saja tiba.


“Belum kak, hanya ar mineral,” jawab Ve ramah.


Jaxon pun duduk di kursi berhadapan dengan Ve, menatap Ve dengan segala rassa simpatinya.


“Pelayan! Tolong buatkan juice buah segar dan ini!” Titah Jaxon pada salah seorang pelayan cafe.


“Bagaimana dengan perusahaan yang telah kakak kelola di luar negeri?” ucap Ve dengan tersenyum, seolah tak terjadi apa-apa padanya.


“Semuanya baik-baik saja, dan aku bahkan tidak tahu mengenai kematian ibu.” Tukas Jaxon dan terus menatap Ve.


“Oh, yah... ibu sudah sakit-sakitan sejak lama kak.” Balas Ve dengan wajah sendunya.


“Velline?”


“Yah kak Jaxon?”


“Maafkan atas segala tindakan ayah, dan aku tidak tahu akan semua permasalahan di rumah. Sungguh maaf, karena kau harus mengetahuinya setelah kematian ibu.” Sesal Jaxon.


“Sudahlah kak, semua sudah berlalu. Aku sudah terbisa dengan hal ini.”


“Velline, masih pantaskah aku menjadi kakakmu?”


“Mengapa kakak mengatakan hal seperti itu? Kakak akan selalu menjadi pria tangguh bagiku.”


“Aku benar-benar tidak menyangka, jika keluarga kita akan seperti ini. Kedatanganku pun untuk menyelesaikan semuanya. Itulah tujuanku kemari.”


“Jadilah pria hebat dan selalu menjadi kebanggaan ayah.”


“Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana perlakuan tuan Anderson terhadapmu.”


“Maksud kakak?”


“Tuan Anderson adalah musuh besar ayah sejak dulu. Ayah pernah bekerja di perusahaan dan akhirnya keluar, semua karena persaingan bisnis dengan tuan Anderson. Sejak saat itu, mereka saling membenci dan menjatuhkan. Ayah akhirnya membuka toko roti bersama ibu, dan kini ayah kembali ke pekerjaannya.”


“Apa? Bagaimana mungkin!” Ve sangat tidak menyangka akan apa yang ia baru saja dengarkan.


“Seorang pegawai dari perusahaan So Group secara tiba-tiba datang ke perusahaan Brandie Group. Tidakkah itu hal yang sangat aneh?”


“Aku sungguh tidak tahu kak,” ucap Ve lirih dan enggan untuk meneruskan menyantap makanan miliknya.


“Sekarang kau tahu, bukan? Mulai besok, kau tidak perlu bekerja lagi.”


Drrtttt.... Mr. Anderson memanggil...


“Kak, tuan Anderson memanggilku” ucap Ve dan menyekap air matanya.


“Mulai hari ini kau dipecat dari perusahaan So Group. Sisa dari gajimu, akan segera kau terima.”


Bip


Panggilan pun terputus, dan Ve hanya terdiam membisu.


“Itulah cara licik tuan Anderson. Namun, seharusnya kau tidak terlibat dalam hal ini.”


“Kak Jaxon, mengapa semua orang begitu kejam!” Ucap Ve lirih, dan terus terisak didepan Jaxon.


“Tidak mengapa Ve, setelah ini kau akan belajar tentang kekuatan hati.” Ucap Jaxon, sembari meraih kedua tangan Ve.


“Tenanglah Ve, aku akan segera mencarikanmu pekerjaan yang jauh lebih baik.” Ucap Jaxon menenangka Ve.


Yah, hari ini Ve belajar hal baru, bahwa tidak semua orang sunguh-sungguh tulus dalam berbuat baik. Kini, Ve menyadari bahwa dirinya hanyalah alat bagi Mr. Anderson untuk mencari perkara baru pada Mr. Barnab.


****