Mysterious Guy

Mysterious Guy
Duka keluargaku



“Mysterious Guy”


Author by Natalie Ernison


Setelah menerima segala perlakuan keluarga tirinya, juga beberapa masalah lainnya. Akhirnya Ve pun benar-benar tidak sanggup atas kenyataan hidupnya kini. Ia memilih untuk pergi menjauh dan mencoba untuk memulai kisah barunya, walau harus memulai segala sesuatu dari awal kembali.


~ ~ ~


“Kediaman nenek Brant”


Jaxon baru saja mengalami pemulihan dari sakitnya, dan sakit itu sudah sekian lama ia tahan. Bahkan, semenjak mendiang ibunya masih hidup lalu sang ayah menikah dengan ibu Ve, ia sudah mengalami sakit yang cukup serius.


“Jaxon, sampai kapan kau akan marah kepada nenek?” ucap nenek Brant sembari berdiri di balik pintu kamar pribadi Jaxon.


Jaxon membuka perlahan pintu kamarnya dan mempersilakan sang nenek untuk masuk menemuinya.


“Mengapa nenek sangat kejam pada Velline. Tidakkah nenek berbelas kasihan pada nasibnya yang sudah tak memiliki keluarga!” Ucap Jaxon dengan wajah kesalnya.


“Nenek tidak ingin warisan-warisan yang seharusnya menjadi milikmu, jatuh ke tangan orang lain.”


“Lalu apa hubungannya dengan Velline, nek! Velline tidak pernah bersikap matrealis. Bahkan, sejak dulu Velline selalu mandiri.”


“Tapi malam itu, dia telah membuat nyawamu terancam Jaxon! Kau harus tahu itu!”


“Nek, kami hanya menikmati pesta, makan bersama, berbicara perihal masa depan, pekerjaan. Lalu, tidak ada tanda-tanda, jika penyakitku akan datang kembali.”


“Kau terlalu membela anak pembawa sial itu!” Tukas nenek Brant yang masih kekeh dengan pendiriannya.


“Aku sangat tidak mengerti dengan kalian semua. Mengapa, kalian sangat kejam nek. Aku merasa, ini bukanlah rumah bagiku.”


“Jaxon! Kaulah harapan nenek satu-satunya. Lihatlah! Ayah bajinganmu itu, hanya bisa gila harta dan wanita iblis!”


“Bukankah itu, adalah didikan dari nenek.” Tukas Jaxon lalu pergi dari hadapan sang neneknya.


“Anak zaman sekarang sungguh tidak tahu sopan santun dengan orang tua.” Tukas sang nenek Brant.


>>>


Nenek Brant duduk di area taman kediamannya. Sembari menyeruput secangkir teh hangat sebagai penghangat tenggorokannya.


-----Kilas balik-----


“Nenek, lihatlah! Velline sudah belajar melukis!” Ucap seorang gadis kecil, sembari menyodorkan lukisan miliknya.


“Hebat sayang, kau sangat cepat tanggap.” Tukas seorang wanita yang belum terlalu tua, wnaita itu ialah nenek Brant.


“Nek, apakah nenek sedang tidak enak badan?” ucap sang gadis kecil, yang ialah Velline kecil.


“Tidak sayang, nenek baik-baik saja.”


Hingga suatu saat...


“Kau harus belajar dengan tekun, sehingga kau akan mendapat warisan dari nenek Brant.” Ucap seorang wanita, yang merupakan ibu dari Ve kecil.


“Ibu, warisan itu apa? Apakah sejenis lukisan baru?” ucap Ve polos.


“Warisan adalah sesuatu yang dapat membuat kita menjadi kaya sayang.” Ucap sang ibu sembari membujuk Ve untuk terus beajar.


“Jadi benar. Kedatanganmu ke dalam kekuarga Brant hanya untuk warisan. Bahkan anak sekecil ini pun sudah kau ajari!” Bentak nenek Brant kala itu, yang mendapati ibu Ve bersama Ve sedang duduk bersama di dalam sebuah ruang keluarga.


“Ibu, ini tidak seperti yang ibu katakan!”


Plak


Nenek Brant menampar wajah ibu dari Ve.


”Sejak awal perjodohan kalian, aku sudah tidak setuju. Tapi, suamikulah yang kekeh untuk menerimamu dan anak itu!” Bentak nenek Brant, lalu mendorong tubuh ibu Ve.


Seteleh beberapa saat kemudian...


“Sampai kapan kau bersama wanita itu akan tinggal disini dan tidak mencari rumah baru?”


“Barnab! Kau menikahi wanita yang bahkan tidak dapat lagi memberikan keturunan bagi keluarga Brant. Cucuku hanyalah Jaxon, dan aku akan mengirimkan Jaxon ke luar negeri. Kau bawa istri dan anak tirimu pergi dari sini!”


“Tapi bu, kami hanya memiliki kedai roti kecil-kecilan. Tolong bu!” Mohon Mr. Barnab.


“Apa gunanya aku menampung seorang wanita ular disini! Bahkan sudah berniat untuk menerima warisan dariku! Sinting!” Tukas nenek Brant.


Sejak saat itulah, Mr. Barnab bersama sang istri juga Ve berpindah ke tempat lain.


Bahkan saat kepergian mereka saja, nenek Brant tidak ingin menoleh dan menghantar kepergian mereka.


“Ibu, mengapa kita pergi dari rumah besar nenek! Mengapa bu?” rengek Ve kala itu.


“Kita akan tinggal di tempat baru sayang, bersabarlah untuk itu.” Ucap sang ibu. Mereka pun pergi, dan menyewa sebuah rumah sederhana.


***


“Kediaman keluarga Barnab Brant”


Awal-awal hidup bersama dan terpisah dari sang ibu, Mr. Barnab masih terlihat baik-baik saja. Menjadi suami yang baik, dan juga ayah yang menyayangi Ve. Sekali pun Ve bukanlah darah dagingnya sendiri.


Menemani sang istri yang kerap kali ke rumah sakit untuk check up.


Hingga suatu saat....


Mr. Barnab terlihat begitu gusar dan menjambak rambutnya sendiri.


“Ada apa sayang, mengapa kau terlihat tidak baik?” tanya ibu Ve kala itu.


“Semua gara-gara kau! Kita menjadi lebih sulit, dan ibu marah pada keluarga ini. Apa yang telah kau katakan pada Velline waktu itu. Sehingga ibu begitu marah!” Bentak Mr. Barnab secara tiba-tiba.


“Aku hanya berusaha membujuk Ve agar dia berniat belajar dengan baik. Namun, ibu salah tanggap akan hal itu, dan menganggapku mengharapkan warisan.”tukas Mrs. Noara, ibu Ve.


“Tolol! Berarti benar, kau penyebabnya! Dasar sialan!” Bentak Mr. Barnab lalu mendorong tubuh lemah ibu Ve hingga terjatuh.


“Dasar wanita penyakitan tak berguna, kau bahkan tak mampu melayaniku dengan baik. Lalu apa gunanya kau menjadi seorang istri!” Bentak Mr. Barnab, lalu menendangi ibu Ve bagaikan tak barang tak berguna.


Ahkkk...


“Ampun ayah, ampun!” Isak ibu Ve, yang kesakitan akibat tendangan dari Mr. Barnab.


Mr. Barnab pun pergi dari hadapannya, lalu duduk di are halaman samping kediaman baru mereka. Sementara ibu Ve, hanya bisa menahan sesak hatinya.


>>>


“Kakak ipar!” Panggil seorang wanita muda, yang merupakan saudari perempuan dari ibu Ve.


“Naomi, yah ada apa?” jawab Mr. Barnab yang sedang sangat kacau.


Tiba-tiba saja, Mrs. Naomi mendekap Mr. Barnab dari arah belakang.


“Aku tahu, kakakku tidak bisa memberikanmu pelayan ranjang  yang baik. Kakak ipar sangat kesepian, bukan?” goda Mrs.Naomi.


“Jangan Naomi, kau adalah adik iparku. Jangan begini.” Tukas Mr. Barnab lalu pergi dari hadapan Mrs. Naomi.


Cihh... “Jual mahal, lihat saja nanti!” gumam Mrs. Naomi sinis.


Seiring berjalannya waktu, Mrs. Naomi tak henti-hentinya berusaha menggoda Mr. Barnab dengan segala penampilan seksi. Hingga pada titik Mr. Barnab benar-benar tak mampu menahan naluri prianya.


Sebagai seorang pria yang sudah menikah, sudah seharusnya mendapatkan pelayanan terbaik. Namun, tidak baginya.ibu Ve tak mampu melakukannya, karena sakit yang ia derita.


Suatu saat, semua orang begitu sibuk. Ve juga Jaxon sekolah, ibu Ve sibuk menjaga kedai roti milik mereka. Sementara Mr. Barnab sedang tidak sehat, sehingga ia harus beristirahat sejenak.


Karena kehausan, ia pun pergi ke dapur untuk mengambil air. Tanpa sengaja menubruk Mrs. Naomi yang baru saja selesai membersihkan diri, dengan handuk yang masih melingkar di tubuhnya.


Ahkk... Pekik Mrs Naomi, saat handuk yang melingkar di tubuhnya terjatuh begitu saja. Tentu saja, memperlihatkan berbagai pemandangan indah bagi kaum pria. Terlebih lagi, Mr. Barnab yang sudah cukup lama tidak mendapatkan pelayanan ranjang.


****