
“Mysterious Guy”
Author by Natalie Ernison
Velline kembali diganggu oleh sosok pria yang selalu membuat masalah baru dalam kehidupannya. Draco kini muncul kembali, bahkan melakukan perbuatan yang tidak senonoh pada Velline.
~ ~ ~
Didalam kamar milik Ve, Draco mencumbunya dan membuat tanda kepemilikkan yang cukup banyak. Area **** ***** Ve terdapat beberapa tanda-tanda kepemilikkan dari Draco.
Draco hampir kehilangan kendali atas dirinya, dan hampir saja membuat Ve kehilangan keperawanannya pada malam itu juga. Ve terus terisak di sisi kasur miliknya.
“Kau adalah pria yang sangat bajing*n!” Isak Ve kala itu, Draco hanya duduk disebelah dirinya.
“Maafkan aku.” Ucap Draco singkat, lalu pergi dari hadapan Ve. Ve ditinggalkan, saat masih dalam keadaan trauma akibat pelecehan yang Draco perbuat padanya.
Sungguh malam yang sangat menakutkan bagi Ve kala itu. Hal yang sangat tidak terduga harus menimpanya, dan bahkan tak pernah sekalipun terbayangkan olehnya.
***
Tibalah malam acara kebersamaan perusahaan tempat Ve kala itu bekerja. Ve hadir seorang diri, dan berpanampilan anggun.
Semua tamu yang hadir adalah para kalangan atas. Ve mulai merasa kurang percaya diri atas dirinya sendiri.
“Hai, Nona Velline!” Sapa salah seorang rekan kerjanya, dan karena itulah membuat Ve tidak merasa kesepian lagi.
“Kau tahu, malam ini adalah malam yang sangat menakjubkan!” Ucap rekan Ve.
“Menakjubkan! Apakah sehebat itu?” ucap Ve santai.
“Tentu saja, karena malam ini adalah malam dimana, tuan muda dari keluarga Alvonso hadir.” Bisik rekan cerewet Ve kala itu.
“Benarkah?” Ve membalasnya hanya dengan nada biasa.
Setelah beberapa saat kemudian...
Muncullah soerang pria dengan penampilan yangs angat memukau, semua mata tertuju padanya.
“Velline, lihatlah!” Serunya, sembari menunjukkan Ve pada sosok tuan muda dari keluarga Anderson Alvonso. Ve sangat terkejut dengan apa yang ia lihat malam ini.
Pria yang merupakan tuan muda dari keluarga Alvonso ialah, Helbert, teman baiknya. Helbert yang selalu bersikap manis padanya, dan tidak pernah menunjukkan identitas aslinya pada Ve.
“Kak Helbert,” gumam Ve dengan tatapan sendunya.
Semua tamu begitu menikmati acara malam itu, dan begitu pula halnya dengan sosok wanita yang sedari awal acara terus memperhatikan Ve.
>>>
“Hei!” Seru seorang wanita pada Ve, kala itu Ve sedang berdiri di sisi aula utama.
Ve menoleh ke sang empunya suara.
“Mengapa kau tidak bergabung bersama calon keluarga barumu?” Ucap si wanita, yang ialah Olivhia, si wanita sombong.
Ve tertegun, mengingat ucapan dari Helbert kala itu, yang mengatakan bahwa dirinya ialah kekasih dari Helbert.
“Kuperingatkan padamu, Helbert bukanlah pria yang puas dengan satu wanita. Lihatlah!” Ucap Olivhia sembari mengarahkan gelas yang sedang ia genggam ke arah Helbert.
“Wanita itu adalah anak dari keluarga terpandang, dan memiliki aset yang cukup melimpah. Jika tidak salah, dia akan dijodohkan bagi Helbert.” Tukas Olivhia, menatap Ve dengan tatapan merendahkan.
“Ohh, begitukah! Itu bukan urusanku.” Balas Ve santai.
“Bukankah kau adalah kekasihnya, atau jangan-jangan, kau hanyalah permainan bagi Helbert!” Ucap Olivhia dengan tersenyum puas.
“Kucari dimana-mana, ternyata disini?” ucap seseorang yang datang menghampiri Ve juga Olivhia.
“Hai sayang! Aku hanya ingin mengingatkan kepada wanita ini saja, bahwa Helbert tidaklah sepadan dengannya.” Ucap Olivhia dengan tersenyum miring.
Olivhia
Pria itu ialah Draco. Yah, pria yang telah bersamanya kemarin malam.
Tangan Ve sudah sangat bergetar menahan segala amarahnya, atas semua hinaan dari Olivhia.
“Baik, jika sudah selesai berbicara, bisakah aku pergi.?” Tukas Ve santai, lalu menatap ke arah Draco. Olivhia menyadari, adanya kontak mata antara Draco dengan Ve.
“Yah, pergilah! Dan, berkacalah!” Kekeh Olivhia.
Ve pergi dari kedua manusia yang sangat menyebalkan baginya. Ve sangat marah, tatkala melihat sikap biasa Draco saat bersama wanita lain. Terlebih lagi, Helbert yang selama ini tidak pernah mengatakan yang sebenarnya pada Ve.
Mengetahui, jika pria yang selama ini begitu baik padanya akan segera bersama wanita lain. Ve hanya bisa menghela napas, dan menyadari akan posisinya yang sangat tidak mungkin berada di tengah-tengah mereka.
***
Semenjak acara malam itu, Ve sudah tak lagi meresponi pesan maupun panggilan dari Helbert. Ve bahkan terkesan, selalu menghindarinya. Ve hanya fokus dengan pekerjaannya, juga usaha kecil-kecilannya.
Kini, Ve mulai tidak dapat lagi mempercayai orang-orang disekitarnya. Karena, semakin Ve dekat dengan seseorang, maka semakin banyak luka baru yang ia rasakan.
Suatu saat, Ve berjiarah ke makam mendiang ibunya.
Ve membawa sebolot rendaman bunga segar, dan juga bunga utuh. Meletakkannya di atas makam, mendiang ibunya. Ve duduk di samping makam ibunya, dan mulai menyirami air dari bunga itu.
“Bu, apakah kau tahu, aku sangat merindukan ibu. Hidupku tak semudah dulu bu, begitu banyak hal yang membuatku kecewa dan terluka. Apa yang harus kulakukan bu... aku tidak memiliki satupun sosok yang dapat kuandalkan...” Ucap Ve dengan terisak.
“Bu, siapa ayah kadungku sebenarnya... mengapa aku harus menghadapi ini seorang diri. Aku tidak sanggup bu...” ucap Ve dengan nada yang semakin lirih.
Setelah beberapa saat kemudian...
Ve akhirnya beranjak dari makam mendiang ibunya, dan berniat kembali ke kediamannya.
Seorang pria sedang berdiri dihadapannya, dan ternyata sudah sedari tadi berada di belakang Ve.
Ve berjalan lurus, seolah tak peduli pada pria yang kini ada dihadapannya. Pria tersebut meraih tangan milik Ve, dan menautkan tubuh keduanya.
“Lepaskan!” Bentak Ve, dan mendorong pria tersebut.
“Kau masih marah padaku?” ucap si pria.
“Senior, sudah cukup kau mengusik kehidupanku, dan membawa masalah baru didalam hidupku. Mulai saat ini, jangan pernah muncul kembali dihadapanku.” Tukas Ve, lalu terus berjalan.
Namun, Draco justru meraih kembali kedua tangan milik Ve. Draco menarik paksa tangan ve, dan membawanya menuju mobil miliknya.
“Masuklah!” Titah Draco, sembari memaksa Ve untuk masuk ke dalam mobil miliknya.
“Apa maumu senior! Kau ********! Kau hanya bisa mempermainakanku! Kau sama saja seperti pria ******** pada umumnya! Kau!” Isak Ve, sembari memukul dada kekar milik Draco.
Draco hanya terdiam, membiarkan Ve memukul dirinya. Draco menyadari akan kesalahannya.
“Aku tidak pernah bertunangan dengan Oliv, dan kami tidak memiliki hubungan apapun. Dimasa lalu, keluarganya sangat baik pada keluargaku, sehingga berniat untuk melakukan perjodohan. Aku sudah pernah menolak. Namun karena suatu alasan, aku pun membiarkannya untuk mendekatiku.”
“Diam! Aku tidak peduli dengan semua omong kosongmu! Kau hanya pria bermulut manis, dan berhati busuk!” teriak Ve kala itu.
“Yah, aku memang pria busuk. Namun, aku hanya ingin memberikan kebahagiaan singkat pada hari-hari terakhirnya. Itu saja,Velline. Dan aku tidak akan pernah melepaskanmu, sampai kapanpun.” Tukas Draco.
Ve tertegun, dan terdiam akan apa yang Draco katakan padanya.
Draco menyentuh wajah Ve.
“Oliv hanya memiliki sisa hidup selama kurang lebih satu tahun. Setelah itu hanya mujizat yang dapat menyelematkannya. Oliv adalah sahabat baikku, dan aku tidak pernah mencintainya sebagai kekasih.”
Ve terdiam dan menatap ke dalam sorot mata sendu milik Draco. Yah, sebuah tatapan hampa yang hanya ia tunjukkan pada Ve.
“Lalu, kenapa harus aku yang menjadi pelampiasanmu, senior?” ucap Ve lirih.
“Apakah, hanya karena alasan, aku mengetahui identitas senior. Lalu, senior bisa berbuat sesuka hati padaku?”
“Karena aku mencintaimu, melebihi apapun.” Tukas Draco, lalu membungkam mulut Ve dengan kecupannya.
***