Mysterious Guy

Mysterious Guy
Tinggal kenangan



“Mysterious Guy”


Author by Natalie Ernison


Draco sangat murka atas apa yang baru saja ia ketahui. Kenyataan yang sangat menyesakan baginya. Baru mengetahui siapa ayah kandungnya, dan juga hampir kehilangan wanita yang sangat ia cintai. Diwaktu yang bersamaan, Velline pun akan segera menjadi istri bagi pria lain. Semua seakan begitu menyesakkan hati.


~ ~ ~


Dalam perjalanan pulang dari Villa, tempat Ve menyelesanggarakan pernikahan bersama Carlos. Mr. Grissham mengalami kecelakaan dan sedang berada dalam masa kritis.


Ve pergi ke rumah sakit, dan masih mengenakan gaun pengantin miliknya. Draco pun tetap bersamanya, disaat titik terendah didalam hidupnya.


“Rumah Sakit S”


“Ayah, kumohon bertahanlah ayah...” isak Ve sepanjang perjalanan. Bagian bawah gaun pengantinya sudah dikoyakkan, sehingga memudahkan Ve untuk melangkah.


Semua anggota keluarga Grissham, bahkan Mr. Reyhard berkumpul disana.


Seorang dokter muncul dari ruang Unit Gawat Darurat. “Dokter, bagaimana keadaan ayahku?” ucap Ve dengan berderaian air mata. Melangkah dengan tertatih, dan Draco berada disisinya.


“Tuan Grissham sedang berada didalam masa kritis.” Ucap sang dokter.


Pengawal yang pergi bersamanya telah mati ditempat, sedangkan Mr. Grissham masih sempat diselematkan.


“Dua anggota keluarga, silakan masuk.” Ucap sang dokter. Mereka pun secara bergantian melihat keadaan Mr. Grissham. Mereka mendesak sang dokter, untuk dapat memindahkan posisi ruangan Mr. Grissham.


Dengan segala upaya, akhirnya Mr. Grissham dapat dipindahkan di ruangan rawat inap VIP.


Ve enggan untuk mengganti pakaiannya, dan ia terus berada di depan pintu ruangan Unit tempat Mr. Grissham di rawat. Tak ada satupun yang dapat membujuknya.


Ruangan VIP


Mr. Grissham terbaring lemah dengan segala peralatan medis yang melekat di tubuhnya.


“Mari-ah...” ucap Mr. Grissham dengan suara lirih. Mrs. Mariah dengan segera mendekati Mr. Grissham.


“Ayah...” isak Mrs. Mariah, mencengkram ujung sisi ranjang pasien.


“Aku min-ta maa-f atas semua yang telah aku laku-khan.” Ucap Mr. Grissham dengan nada terbata, dan susah payah menarik napasnya.


“Yah, aku pun minta maaf atas semua kesalahanku.” Isak Mrs. Mariah dan hampir tak mampu mengeluarkan suaranya.


“Mariah, titip Velline... rawat dia seperti anak-muh...”


Mrs. Mariah mengangguk lirih. “Jangan katakan hal yang tidak benar. Kau pasti akan sehat kembali.” Isaknya.


“Vell-in.. Drac-ohh....” panggil Mr. Grissham dengan suara lirih.


“Ayah...” Ve duduk di kursi, samping ranjang pasien.


Mr. Grissham meraih tangan milik Ve dan juga tangan milik Draco. meletakkannya diatas perutnya.


“Ayah melepaskan restu untuk kalian. Draco jaga Velline, seperti kau menjaga hidupmu sendiri. Jangan buat Velline menderita.”


Draco mengangguk dengan berlinangan air mata. “Tentu saja ayah. Tapi ayah harus sembuh, untuk melihat pernikahan kami.” Isak Draco.


Mr. Grissham tersenyum dan juga berderaian air mata pilu.


“Mariah, berikan cincin itu!” Ucap Mr. Grissham pada Mrs. Mariah.


Sebuah kotak berwarna kuning keemasan, diberikan pada Mr. Grissham. Mr. Grissham membuka pelan kotak tersebut, yang berisikan sepasang cincin emas mengkilat.


“Cincin ini telah ayah siapkan dihari pernikahan kalian satu tahun yang telah lalu.” Lirih Mr. Grissham, dan semakin membuat Velline terisak hingga meraung-raung.


Selama ini, Mr. Grissham begitu tersiksa melihat Ve yang kesepian, semenjak kenyataan akan hubungannya bersama Draco. namun, Mr. Grissham tak ingin menunjukkan kesedihannya pada semua orang, ia bahkan berlaku seakan-akan ia sangat egois.


Sebenarnya, Mr. Grissham hanya tak ingin Ve bernasib sama seperti ksiah cinta pilunya. Setiap melihat Draco bersama Ve, semua luka masa lalu seakan muncul kembali. Itu membuat Mr. Grissham tak sanggup.


Kini, sepasang cincin dari keluarga Grissham pun menjadi milik Ve dan Draco sebagai penerus generasi Grissham.


“Velline, maafkan ayah. Draco maafkan ayah.”


“Yah ayah..” mereka sama-sama menangis didalam perasaan haru bahagia, karena hubungan mereka akhirnya mendapatkan restu dari Mr. Grissham.


“Rey... jaga Mariah...” ucap Mr. Grissham pada Mr. Reyhard.


“Velline, Draco! menikahlah setelah ayah pergi untuk selamanya. Hiduplah dengan bahagia..” ucap Mr. Grissham.


Perlahan genggaman tangannya pada kedua tangan Draco dan Ve pun terlepas. Tak ada lagi tanda kehidupan. Mr. Grissham mulai menutup matanya, seraya dengan linangan air mata terakhirnya.


“Ayah! Ayah!!” Ve menjerit histeris. Mr. Grissham menghembuskan napas terakhirnya, tepat setelah mengatakan semua isi hatinya.


Baru beberapa tahun Ve merasakan kasih sayang yang tulus dan sebenarnya dari seorang ayah. Namun, kini semua hanyalah tersisa kenangan bahagia. Kebahagiaan sesaat yang ia rasakan bersama Mr. Grissham.


Seluruh kasih sayang, telah Mr. Grissham curahkan pada Ve. Walau semua akan terlalu cepat berlalu.


Suasana haru bahagia, bercampur dengan kedukaan keluarga Grissham. Belum sempat menyaksikan pernikahan Ve bersama Draco, Mr. Grissham sudah peri untuk selamanya.


Ve mendekap tubuh tak bernyawa Mr. Grissham, dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi. Mrs. Mariah pun sudah tak mampu berkata-kata.


“Mengapa ayah pergi meninggalkanku ayah... ayah bangun ayah!” Isak Ve. Draco memeluk Ve dan berusaha untuk menenangkan Ve.


Draco pun turut merasakan duka mendalam, atas kepergian Mr. Grissham yang telah menjadi ayahnya selama tiga puluh tahun terakhir. Tentu bukanlah waktu yang singkat bagi mereka, sekalipun di ujung perjalanan, Mr. Grissham berseteru dengan Draco.


Sesuatu yang Draco sesalkan ialah, disaat terkhir Mr. Grissham, ia justru harus merasakan rasa bahagia sesaat. Belum cukup rasanya, bagi Draco untuk membalas budi Mr. Grissham.


Mr. Grissham telah pergi untuk selamanya, tak ada yang dapat mereka perbuat. Mereka hanya bisa melepaskan kepergian Mr. Grissham. Jasad Mr. Grissham pun disemayamkan di pemakaman khusus anggota keluarga Grissham yang terhormat. Suasana duka tentu tak terelakkan lagi.


*********


Beberapa minggu setelah kematian Mr. Grissham, Draco dan Ve segera merancangkan pernikahan mereka, sesuai dengan pesan terakhir dari Mr. Grissham. Namun, sebelum hari-H pernikahan mereka, Mr. Reyhard justru masih bersikeras meminta Mrs. Mariah untuk menjadi istrinya.


Di sebuah resto xx


Mereka melakukan pertemuan khusus, dan Mr. Reyhard sudah sangat mantap dengan rencananya.


Duduk berhadapan, dan saling menatap satu sama lain.


“Mariah, aku ingin menikahimu secara benar. Maukah kau menjadi istriku?” ucap Mr. Reyhard secara langsung dan penuh keyakinan.


Mr. Mariah tersenyum sendu. “Maaf Rey, aku tidak bisa bersamamu. Aku hanya mencintai Grissham, sekalipun suamiku telah pergi untuk selamanya. Namun, aku ingin mengadikan seluruh sisa hidup dan cintaku, hanya untuk keluargaku.”


“Mariah, kau butuh pendamping, dan aku siap.” Mr. Reyhrad meraih tangan milik Mrs. Mariah.


“Aku tidak bisa. Mungkin, dengan begini lebih baik. Terima kasih untuk segalanya.” Mrs. Mariah bangkit dari tempat duduknya, dan melangkah pergi.  Ia meninggalkan Mr. Reyhard seorang diri disana.


“Satu hal yang tak bisa kulakukan, ialah membuatmu mencintaiku. Aku melupakan hal penting ini, bahwa aku tidak dapat menggantikan posisinya dihatimu.” Mr. Reyhard tersenyum sendu. Ia kini menyadari, bahwa rasa cinta Mrs. Mariah pada Mr. Grissham tak akan pernah tergantikan.


Rasa cinta hingga matii, itulah yang kini terjadi pada Mrs. Mariah, Mr. Grissham.


****


~Tamat~