Mysterious Guy

Mysterious Guy
Apakah ini takdir kita?



”Mysterious Guy”


Author by Natalie Ernison


Velline menerima tindakan yang tidak menyenangkan dari para rekan kerja barunya. Semua berawal dari rasa iri hati, dan juga kecemburuan sosial mereka terhadap Velline. Velline yang memiliki paras menawan, penampilan menarik, bentuk tubuh ideal. Idaman para kaum pria, tentu saja akan menimbulkan rasa iri dari para pegawai yang memang tidak menyukainya.


~ ~ ~


”Taman xx”


”Bagaimana dengan pekerjaan barumu, apakah ada yang membuatmu tergannggu?” ucap Draco, menatap wajah sendu.


”Para pegawai lama beranggapan, jika aku menjilat pada atasan.” Balas Ve santai, sembari bersandar di punggung kursi tempat ia sedang duduk.


”Apakah mereka menindas wanitaku!” tukas Draco, sembari menyentuh wajah milik Ve dengan kedua tangannya. Menatap Ve dengan tatapan yang dalam.


”Aku bisa nengatasinya, jangan buat permasalahan semakin rumit.” Ve menepis tangan milik Draco dari wajahnya.


”Kau tidak perlu bersikap kuat, jika sebenarnya kau membutuhkanku.”


”Bukankah, aku memang harus selalu menjadi yang kuat!”


”Tapi, bukan berarti aku tidak berhak tahu permasalahanmu.”


”Permasalahan Debie sudah cukup membuat semuanya runyam. Aku tidak percaya denganmu.” Ve memicingkan matanya.


Ve masih takut dengan segala tindakan dari Draco, yang hampir saja membuat Debie terbunuh saat malam pertengkaran mereka.


“Kau tidak pernah mau jujur dengan masalahmu. Termasuk, saat tuan Anderson mempermalukanmu.” Tukas Draco dengan tatapan tajamnya.


“Semua sudah berlalu, tak perlu lagi dibahas.”


“Velline! Aku hanya peduli denganmu. Apakah itu salah?”


“Sakit Senior! Kau selalu membuatku tersakiti!”


“Maafkan aku, aku hanya emosi.” Ucap Draco, setelah mencengkram kedua bahu Ve mengunakan tangannya.


“Mari menikah.” Ucap Draco dengan lantang.


“Apa menikah! Gila!” Balas Ve tak percaya. Tentu saja hal itu terdengar aneh baginya.


“Lalu, sampai kapan kau ingin terus bermain denganku?”


“Bermaian, siapa yang bermain! Senior, kau selalu sesuka hati. Hidupku sudah cukup sulit, tak perlu menambah beban hidupku.”


“Kita selalu bertengkar hanya karena permasalahan kecil seperti ini. Setelah menikah, kau tak perlu lagi bekerja.”


“Aku tidak yakin denganmu. Kau terlalu mudah mengucapkan kata pernikahan. Apakah kau pikir, menikah itu adalah hal yang mudah senior?” Ve menatap ke arah Draco.


“Mulai besok, kau tak perlu lagi bekerja disana. Aku akan menjamin hidupmu.”


“Dan aku tidak suka bergantung dengan siapapun. Karena, hal itu hanya akan menyusahkanku saja.”


“Velline, aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku.”


“Aku pun lebih bersungguh-sungguh.” Balas Ve dengan tatapan mata yang sendu.


“Semua wanita hanya akan menjadi pengasuh anak, dan bekerja di rumah. Mengapa tidak sekalian saja, kau berhenti bekerja.”


“Cukup senior. Kau terlalu egois dengan pemikiranmu sendiri.” Ve pun bergegas pergi dari hadapan Draco.


“Velline, kukatakan berhenti. Atau aku akan sangat marah!” Seru Draco, saat Ve sudah melangkah pergi dari taman tersebut.


“Pria egois! Kau hanya memikirkan kehendakmu sendiri!” Ve mempercepat langkahnya.


“Velline!” Seru Draco, lalu meraih kedua tangan Ve.


“Lepaskan aku. Bebaskan aku dari semua ini, aku terlalu lelah dengan hidupku.  Tolong, jangan menambah beban hidupku.” Ucap Ve lirih.


“Diamlah.” Tukas Draco, memeluk tubuh Ve.


“Sudah banyak beban pikiran dan hidupku. Kumohon, jangan menambah duka dihidupku. Jika, senior tidak serius, lebih baik tinggalkan aku.”


“Maafkan atas semua ucapanku. Aku hanya tidak ingin kelelahan dengan segala pekerjaanmu.” Ucap Draco lembut, membelai puncak kepala Ve.


Draco kerap kali tersulut emosi, jika Ve tidak menuruti perkataannya. Bahkan semua yang berhubungan dengan Ve, akan sangat mudah membuatnya emosi. Rasa sayang yang berlebihan, membuat Draco seakan ingin mengekang hidup Ve. Hal itu sangat tidak Ve sukai.


***


“Perusahaan xx”


Baru saja tiba di kantor, beberapa pegawai terlihat ramai. Mereka berkerumun, dan saling berbicara, seakan terlihat begitu serius.


“Mereka memang pembawa masalah, sudah sepantasnya menerima hukuman dari bos.” Cela para pegawai lainnya.


Ve enggan untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Ve acuh saja, dan pergi menuju meja kerjanya. Pekerjaan sudah cukup menumpuk, dan harus segera diselesaikan.


Suara riuh para pegawai kian membuat Ve terusik, dan akhirnya ia pun melangkah mendekati para pegawai yang sedang berkerumun. Betapa terkejutnya Ve, saat melihat di layar monitor tepatnya di ruang utama kantor.


Di layar monitor telah terpampang rekaman video dirinya saat ditindas para pegawai lainnya.


“Kalian  keluar dari perusahaan ini, atau aku akan melaporkan perbuatan kalian ke pihak berwajib!” Ancam Maxwell yang terlihat begitu marah.


Beberapa pegawai itu pun dipecat secara tidak hormat dari perusahaan tempat Ve bekerja. Ve hanya diam tak memberikan respon apapun.


>>>


Maxwell memanggil Ve, dan mengajak Ve untuk berbicara.


“Maaf, jika tindakanku seakan membuatmu malu. Tapi, mereka pantas menerima semua itu.”


“Terima kasih kak Maxwell. Maaf, jika kehadiranku membuat kakak kehilangan banyak pegawai.”


“Velline Brant,” ucap Maxwell.


“Ia kak?”


“Tetaplah menjadi wanita yang kuat. Selamat bekerja.” Maxwell tersenyum pada Ve.


Ve kembali bekerja, lalu dengan segera menyelesaikan segala tugas tanggung jawabnya. Karena hari ini, Draco berjanji untuk mempertemukan dirinya dengan keluarga dari Draco.


***


Seperti perjanjian mereka, Draco kini membawa kedua orang tuanya untuk bertemu dengan Ve.


“Resto D”


Ve pun tiba bersama salah seorang supir, yang Draco perintahkan untuk menjemput dirinya.


Di sebuah meja makan, sudah ada dua pasangan pria wanita yang duduk bersama dengan Draco. Kedua pasangan itu ialah org tua dari Draco.


“Ayah, ibu perkenalkan. Ini adalah Velline, calon istriku.” Ucap Draco dengan bangga.


Raut wajah kedua orang tuanya terlihat biasa saja, karena ini pertama kalinya saling bertemu.


“Selamat malam, paman dan bibi.” Ucap Ve memberi salam pada kedua orang tua Draco.


“Selamat malam, Nona Velline.” Balas kedua orang tua Draco.


Mrs Grissham



Tatapan mata Mr. Grissham seakan terlihat sendu, saat menatap Ve. “Selamat malam Nona Velline. Sedang bertemu denganmu.” Ucap Mr. Grissham.


Mereka pun menyantap makan malam bersama, dan suasana malam itu sangatlah istimewa bagi Draco juga Ve. Karena, setelah berbincang-bincang. Ibu dari Ve terlihat mulai menyukai Ve, namun Mr. Grissham merasa ada sesuatu yang begitu mengganjal di batinnya. Sesuatu yang tidak dapat ia katakan saat itu juga.


Setelah memperkenalkan Ve pada kedua orang tuanya, Draco semakin mempercepat tanggal pernikahan mereka. Semua persiapan pun sudah tersusun dan tertata dengan sangat rapi. Begitu pun dengan Ve, ia terlihat sangat bahagia saat ini.


Hingga suatu saat, M. Grissham mengajak Ve untuk bertemu tanpa sepengetahuan dari Draco maupun Mrs. Grissham.


“Kediaman Velline”


Di halaman samping kediaman Velline.


Mr. Grissham mengajaknya untuk saling bertemu dan membicarakan beberapa hal.


“Paman, terima kasih atas segala hadiah yang telah paman berikan.” Ucap Ve tersenyum ramah.


“Yah Velline, terima kasih telah hadir didalam keluargaku.” Ucap Mr. Grissham, menatap sendu wajah Ve.


“Paman, mengapa wajah paman terlihat murung?”


“Velline, matamu sangat mirip dengan wanita yang dulu pernah menjadi masa laluku.” Ucap Mr. Grissham secara tiba-tiba.


“Velline, siapa nama ibumu?”


“Ibuku, adalah Noara, paman.” Seusai Ve menyebutkan nama tersebut, Mr. Grissham membelalak. Meraih tangan milik Ve, dan mulai menangis secara mengejutkan.


“Paman, apakah paman mengenal ibuku?”


“Jangan-jangan, Noara diam-diam menyembunyikan semua ini dariku...” isak Mr. Grissham.


“Paman, apa maksud paman!” Ve mulai penasaran dengan apa yang kini Mr. Grissham katakan.


Masa lalu, dan ada hubungannya dengan ibunya dimasa lalu.


“Velline, apakah usiamu kini sudah dua puluh lima tahun?” tanya Mr. Grissham.


Mr. Grissham



Ve mengangguk mantap, seketika itu pula Mr. Grissham mendekap Ve erat. Ve ternganga, dan masih bingung.


“Velline anakku...” lirih Mr. Grissham.


***