
”Mysterious Guy”
Author by Natalie Ernison
Akibat sikap temperamen ibunya yang cukup buruk, akhirnya Velline harus menerima perlakuan kejam dari sang ibu. Pada saat yang sama, Draco tiba dan melihat semua kekejaman ibu Velline. Draco sangat marah dan segera membawa Velline pergi bersamanya.
~ ~ ~
”Mansion kediaman Draco Grissham”
Ahkk.. ah... Ve memekik, saat Draco mulai memgobati bekas pukulan dan juga cambukan dari ibunya.
”Apakah ini sangat menyakitkan?” tanya Draco sembari menatap wajah Ve.
Ve mengangguk sebagai tanda mengiayakan, apa yang Draco pertanyakan padanya.
Draco menghela napas sejenak, sembari terus memgobati Luka memar pada tubuh Ve.
”Jika kehadiranku di sana tidak diterima. Maka, tinggallah bersamaku,” ucap Draco dengan raut wajah santainya.
”Tidak, terima kasih tuan Draco. Aku masih mampu bekerja untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak.” Tukas Be penuh keyakinan.
”Kau jangan terlalu banyak berpikir, aku hanya menawarkan di bagian samping mansion. Ada kamar kosong, kau bisa tempati itu bersama dengan para pelayanku.” Tukas Draco, lalu berdiri di hadapan Ve.
“Maafkan aku, karena perlakuan ibuku begitu buruk pada anda,” sesal Ve.
”Justru kau yang harusnya dikasihani, aku baik-baik saja. Perihal ibumu, sepertinya kau harus benar-benar mencari kebenaran tentang hubungan darah diantara kalian.”
”Apakah kau ingin berkata, bahwa aku bukan anak kandung dari ibu Dan ayahku?” balas Ve yang terlihat tidak sependapat dengan Draco.
”Lalu menurutmu apa lagi! Kau saja diperlakukan secara tidak baik dan bahkan sangat kejam. Apakah, kau masih yakin, itu ibumu!” Tukas Draco dengan tatapan dingin pada Ve.
”Jika aku memang bukan anak ibu, maka itu bukanlah urusan anda, tuan Draco.”
”Kau sangat keras kepala, aku hanya mencoba untuk membantuku. Jika kau tidak suka, kau boleh pergi dari mansionku!” Tukas Draco dingin.
Ve menoleh ke arah Draco dengan memicingkan matanya. ”Aku akan pergi, dan terima kasih atas kebaikan anda.” Ve pun melangkah perlahan, manahan segala rasa sakit akibat perbuatan ibunya.
”Sungguh wanita yang tangguh akan pendirian. Lihat saja, sampai kapan kau akan keras hati padaku.” Gumam Draco penuh kekesalan.
***
Ve malangkah dengan tertatih, bekas cambukan maupun pukulan ibunya masih terasa perih.
”Aku harus kemana?” batin Ve. Melihat betapa angkuhnya gaya bicara Draco, membuat Ve bergegas pergi dari hadapannya.
Tepat di sisi jalan, Ve tersandung Dan membuat bagian mata kakinya terbentur trotoar jalan. Hal itu membuat kakinya terasa sakit, dan sangat sulit untuk melangkah.
”Sampai kapan kau akan terus keras kepala? Ucap Draco yang diam-diam mengikuti Ve sedari tadi.
Dengan sigap, Draco mengangkat tubuh Ve dan membawanya kembali ke mansion.
Wajah Ve memerah malu, kali ini ia Tak bisa menolak kebaikan dari Draco.
”Aku tahu, kau tidak nyaman berada di mansionku. Jadi, kau boleh beristirahat di sini. Besok, kita akan pikirkan semuanya,” ucap Draco lalu pergi dari hadapan Ve.
Saat berada di dalam kediaman tersebut, Ve begitu gelisah Tak menentu. Ia masih teringat akan keadaan sang ibu di rumah.
”Apakah aku sungguh bukanlah anak kandung ibu?” batinnya.
Ve terus memikirkan tentang perlakuan sang ibu yang sangat tidak layak disebut sebagai seorang ibu.
“Apakah hari ini, kita bisa mencari tempat tinggal untukku?” ucap Ve pada Draco, saat mereka sedang menyantap sarapan bersama. Draco menatap Ve dengan tatapan penuh makna terselubung.
“A-apa yang kau lihat dariku?” ucap Ve curiga.
Draco tersenyum miring. “Tali bra milikmy terlihat,” ucap Draco lantang. Ve sangat malu, bagaimana mungkin seorang pria seperti Draco berkata demikian.
“Lalu, kapan kau akan menemaniku mencari tempat tinggal?” ucap Ve lagi.
“Habiskan sarapanmu, lalu kita akan pergi.”
Keduana menyelesaikan sarapan bersama, dimeja makan yang sama.
***
Draco pun bersedia menemani Ve untuk mencari tempat tinggal yang baru baginya.
Cuaca yang begitu terik membuat Ve sangat kegerahan, dan akhirnya duduk sejenak di sisi jalan.
“Kau orang kaya, tapi mengapa harus berjalan kaki seperti ini!” Keluh Ve kesal.
“Karena, wanita yang tangguh tidak akan manja. Hanya karena hal kecil seperti ini.” Ve mengembungkan kedua pipinya, dan membuat Draco tak mampu menahan tawanya.
“Apa yang kau tertawakan!” Tukas Ve kesal.
“Kau lucu Velline Brant.” Ucap Draco, hal itu cukup membuat Ve tersipu.
“Sudahlah, wanita tangguh tidak akan cepat tergoda hanya karena kalimat murahan seperti itu.”
“Apa yang kau bicarakan! Dasar pria aneh!” Gumam Ve saat berjalan di belakang Draco.
“Aku memang aneh, dan hanya kau yang mengahui keanehanku.” Ucap Draco, sambil menahan langkah Ve. Ve terbungkam tatkala mendengar ucapan dari Draco. Draco menatapnya tajam dan begitu dekat, sangat dekat.
“Ehmm... sepertinya, kita sudah tiba di alamat rumah itu,” ucap Ve pelan, dan kembali mengatur napasnya.
“Lagi pula, siapa yang memintamu untuk pergi dari mansionku. Tidakkah bagus, jika kau tinggal dan membantu pekerjaan rumah.”
“Kau pikir ucapanmu itu sangat lucu! Tukas Ve kesal, lalu meninggalkan Draco di belakangnya.
>>>
Ve pun melakukan transaksi pembayaran pada seorang pengurus rumah sewa yang akan menjadi tempatnya bernaung. Beruntung, Ve masih menyimpan sejumlah uang di dalam rekeningnya.
Namun, tabungannya sudah mulai menipis. Ve melihat layar ponsel miliknya, dan melihat laporan saldo yang sudah sangat tipis. Ve menghela napas panjang, dan mencoba untuk memutar otak, agar dapat berpikir dengan tenang.
Ternyata, Draco sudah melihatnya dari belakang Ve.
“Sudah kukatakan bukan, kau seharusnya tetap tinggal bersama pelayanku. Menjadi tukang rumput, juga cuci baju. Sehingga kau tak perlu repot memikirkan tempat tingga, uang dan..—“
Plak
Ve memukul wajah Draco secara tiba-tiba.
“Jika kehadiranmu disini hanya untuk mengejekku, lebih baik kau pergi! Aku tahu, bagimu, ini hanyalah masalah biasa. Kau yang tidak pernah merasa, sulitnya mencari uang!” Bentak Ve kesal.
“Ohh ia! Terima kasih atas segala bantuannya. Aku akan segera mengganti uang lelahmu, tuan Draco.” Tukas Ve, lalu melangkah cepat memasuki rumah sewa miliknya.
Setelah beberapa saat kemudian...
>>>
“Vellin! Vellin!” Seru seseorang dari lantai dasar, tepatnya dihalaman tempat rumah yang kini Ve tempati.
“Siapa itu!” Ucap Ve dengan mengernyitkan keningnya.
Ve beranjak dari tempat ia kala itu sedang membereskan barang-barang lama ruangan tersebut.
Berjalan ke arah jendela miliknya.
“Kau!” Ucap Ve terkejut.
Draco berdiri di halaman sembari menggenggam beberapa paper bag dan menyodorkan ke arah Ve.
“Vellin, maafkan aku sayang! Jangan hukum aku seperti ini!” Seru Draco sembari menyeringai.
“Kau! Apa yang kau lakukan!” Ucap Ve, Ve sangat malu pada tetanggang-tetangga barunya.
“Wah Nona, kekasihmu sangat tampan. Maafkan saja kesalahannya, sungguh pria yang penuh perjuangan.” Ucap salah seorang tetangga Ve.
“Menyebalkan!” Ucap Ve, lalu turun ke halaman.
“Kau membuatku malu! Apa yang..—“
“Kau lelah, bukan! Mari, kita makan bersama.” Ucap Draco yang tengah menyajikan makanan di meja tamu lantai dasar.
“Kau tidak perlu repot dan membuat keributan.” Ucap Ve malu.
“Perasaan bersalahmu, simpan dulu. Karena, makanan ini tidak akan nikmat jika terlalu lama dibiarkan.” Ucap Draco, dan memberikan Ve ayam bakar juga juice buah.
Ve tersenyum sendu.
Ia sudah sempat salah paham dengan gaya bergurau Draco padanya.
****