Mysterious Guy

Mysterious Guy
Menginginkan wanita yang sama



“Mysterious Guy”


Author by Natalie Ernison


Kenyataan akan identitas dari Helbert sebenarnya, ternyata cukup mengejutkan bagi Velline. Terlebih lagi, provokasi dari Olivhia semakin membakarnya. Velline akhirnya mulai merasa minder, hingga menjauh secara perlahan. Namun, sosok Draco justru kembali hadir mengusik kesendirian Velline.


~ ~ ~


Ve akhirnya mendengarkan ucapan dari Draco, dan pergi bersama Draco menuju suatu tempat. Namun, Ve masih terlihat diam saja, tanpa ada percakapan diantara mereka kala itu.


“Apa alasan senior mengatakan, bahwa senior mencintaiku?” tanya Ve secara tiba-tiba. Disaat keduanya baru tiba di pinggir sebuah danau.


Draco menatapnya, dan berdiri tepat di hadapan Ve yang sedang duduk menatap burung-burung sekitar danau disenja itu.


“Tidak ada alasan, karena perasaan muncul tanpa kenal siapa dan usia.” Jawab Draco singkat.


“Tidak dapat dipahami. Perkataan senior ibaratkan angin.


Sewaktu-waktu terasa sejuk, dan bahkan seakan tak terasa.” Balas Ve dengan tatapan mata sendunya.


“Apa kau mencintaiku?” ucap Draco, sembari meraih tengkuk leher milik Ve, dan mendekati wajah Ve.


Ve tersenyum miring dan menatap kedua mata tajam milik Draco. “Aku bahkan belum mengenal senior secara benar. Dan, dari awal pertemuan saja, senior sangat kurang ajar. Lalu, bagaimana aku bisa mencintai pria kurang ajar seperti senior.” Tukas Ve dengan nada santai.


Cup


Draco justru kembali mengecup bibir milik Ve. “Kupastikan, mulut ini kelak akan menangis memanggil namaku dan tak ingin kehilangan diriku.” Ucap Draco dengan menyeringai, lalu merangkul Ve.


Draco terus mendekap Ve, dan membelai bahu milik Ve menggunakan jemari kokoh miliknya.


“Sudah malam, lebih baik aku segera mengantarkanmu pulang. Karena, aku takut tidak dapat mengendalikan diriku.” Kekeh Draco, sembari mengecup sekilas bibir milik Ve.


Ve hanya tersenyum sendu dan keduanya pun bergegas pulang.


Dalam perjalanan pulang, Draco terus menggenggam erat tangan milik Ve, seakan takut jika Ve akan menjauh darinya.


***


“Velline!” Panggil Draco sembari meraih tangan milik Ve, saat Ve akan keluar dari  mobil miliknya.


“Beristirahatlah sayang,” ucap Draco dengan tersenyum.


Cih! “Mengapa panggilannya berubah!” Guam Ve, lalu melangkah menuju tangga ke kamar kediamannya.


Setiba di kamarnya, Ve melihat keluar jendela kamar miliknya, dan Draco masih belum pergi dari halaman kediamannya.


Draco melambaikan tangannya pada Ve, dan memberikan lambang kecupan terbang/ kiss bye.


Tertoreh sebuah senyuman dibalik tirai jendela milik Ve. Ve pergi ke menuju kamar mandi miliknya untuk membersihkan diri.


Sungguh hari yang penuh kenangan baru baginya, juga Draco. Ve pun mulai menerima kehadiran Draco disisinya. Meskipun, Draco harus tetap berada disamping Olive, disisa akhir waktu Olive.


“Hei lihat! Lihat! Bukankah itu tuan muda keluarga Alvonso!” Riuh para pegawai wanita tempat Ve bekerja.


Ve menoleh dari tempat duduknya, dan melihat seorang pria dengan senyuman ramahnya. Pria tersebut menyelidiki setiap sudut lokasi, dan akhirnya menemukan Ve. Ve pun terburu-buru untuk menunduk, lalu kembali bekerja.


“Kak Helbert tidak boleh melihatku.” Batin Ve, dan kembali berkutat dengan desain majalah miiliknya. Ve begitu fokus dengan dunianya, dan tak peduli lagi sekelilingnya.


Beberapa saat kemudian...


“Permisi nona Velline, tuan muda memanggil Nona ke ruangannya.” Ucap salah seorang office boy. Hal itu pun bertepatan dengan selesainya pekerjaan yang kini ia kerjakan.


“Baik, terima kasih.” Balas Ve. Ia sangat malas bertemu kembali dengan sang tuan muda Helbert.


Ve pun mulai mengatur napasnya, dan berjalan menuju ruangan yang ialah ruangan khusus bagi para atasan. Sore itu, seluruh pegawai terlihat sedang sibuk berkemas untuk pulang. Sedangkan Ve harus menemui Helbert yang kini menantinya.


>>>


“Nona Velline, sampai jumpar hari senin!” Seru para rekan kerjanya.


“Yah, sampai jumpa kembali!” Balas Ve.


Tiba-tiba...


Sebuah cengkraman tangan menariknya hingga tertarik paksa.


“Mengapa kau selalu menghindariku, Velline!” Ucap seorang pria dengan keadaan kemeja terbuka dibagian dadanya.


“Kak Helbert, aku..—“ balas Ve terbata.


“Apa salahku padamu, mengapa kau harus siksa aku dengan sikap diammu! Apakah karena ucapan Olivhia padamu!” Ucap Helbert dengan napas tak beraturan.


Ve mendorong tubuh Helbert darinya, yang sedari ia masuk ke ruangan tersebut, sudah mengurungnya di dalam kuasa Helbert.


“Aku hanya tidak suka dibohongi. Apa salahnya jika kakak jujur tentang identitas kakak sebenarnya! Apakah, hanya karena aku miskin, kakak mencoba untuk bermaian!”


“Hanya karena itu! Apakah penting status sosial!” Helbert meraih tangan Ve, dan mencengkramnya.


“Tentu saja penting bagiku, yang hanyalah seorang pegawai biasa. Akan sangat bermasalah, jika orang-orang tahu, aku dekat dengan seorang anak pimpinan sekaligus pemilik perusahaan!” Bentak Ve kesal.


“Velline, kau sangat berubah, kau tidak seperti Velline yang kukenal dahulu!” Tukas Helbert dengan tatapan sendunya.


“Yah aku berubah, dan aku tidak ingin terlihat dengan urusanmu. Aku tidak ingin sulit, hanya karena bergaul dengan seorang tuan muda.” Ucap ve, llau meraih gagang pintu, hendak keluar dari ruangan tersebut.


Namun, Helbert justru menahannya. Meraih tubuh Ve hingga terpaut padanya. Mendekap Ve secara paksa dan membelai puncak kepala Ve.


“Velline aku sangat merindukanmu,” ucap Helbert dan mencoba mendekati bibir milik Ve.


Plak


Sebuah tamparanlah yang justru ia harus terima. “Kak Helbert, kau keterlaluan!” Pekik Ve dengan keadaan menangis, dan segera berlari keluar ruangan tersebut.


“Velline! Aku..—“ Helbert benar-benar tak menyangkan akan bertindak demikian. Kali ini, ia telah membuat gadis kecilnya kecewa karena sikap paksaan darinya.


>>>


Ve mengemasi barang-barangnya, dan mengenakan masker sehingga tidak terlihat bahwa ia sedang menangis.


Ve melangkah cepat menuju loby utama.


“Velline! Dengarkan aku Velline!” Seru Helbert yang sedari tadi mengikutinya.


Velline justru mempercepat langkahnya, ia pun tiba di loby utama.


“Loby utama A”


“Hei, Nona Velline! Baru pulang bekerja!” Sapa seseorang dari balik kaca mobil berwarna merah marun.


“Mengapa wanita ular ini selalu ada dimana-mana!” Gumam Ve kala itu, tatkala melihat Olivlah yang kini menyapanya. Disamping Oliv, sudah ada Draco yang duduk mengemudi mobil.


“Ohh, hai Nona Olivhia!” Balas Ve santai.


“Velline!” Seru Helbert dan spontan meraih tangan milik Ve.


“Ohh sungguh romantis, sepasang kekasih berbeda kasta.” Ucap Olive sembari bertepuk tangan. Draco terlihat sangat tidak senang dengan adegan tersebut.


“Kak Helbert, kau!” Pekik Ve. Bahkan didahapan Olive dan juga Draco. Helbert justru berani menggenggam tangannnya.


“Hai Olive, ingin bergabung dalam kencan buta kami malam ini?” Ucap Helbert, lalu merangkul pinggul milik Ve.


‘Tidak! Tidak! Kami akan menghabiskan waktu kami bersama. Kalian silakan lanjutkan. Dan untuk Velline, nikmatilah waktumu bersama sang tuan mudamu. Sebelum perjodohan itu tiba.” Ucap Olive dengan menaikan alis sebelahnya, lalu menaikan kembali kaca mobilnya.


“Velline, aku minta maaf, aku sungguh tidak bermaksud!” Ucap Helbert dengan sangat memohon.


“Aku lelah dengan pekerjaanku. Tolong menyingkrilah!” Tukas Ve.


“Aku akan mengantarmu pulang!” Cegat Helbert. Ve kali ini tidak dapat menolak. Mengingat kendaraan umum yang akan ia tumpangi sudah pergi dan ia harus menunggu lama lagi. Namun, dari seberang sisi jalan, Draco masih menunggu pergerakan Helbert bersama Ve kala itu.


***