
Dengan sigap sekertaris Hanz mengambil alih menggendong Melisa dalam dekapan nya. seperti menggendong seorang bayi.
yah tubuh kekar nan atletis sekertaris Hanz bukan lah suatu masalah jika hanya menggendong melisa. bahkan 5 hari 5 malam dia sanggup tanpa melepaskan gadis itu.
sementara beberapa pengunjung yang tengah berkerumun itu mengalihkan kameranya mengikuti tuan muda Yu yang berjalan ke luar dan sebagian lainnya Masi tetap ke arah sekertaris Hanz dan calon istri masa depannya itu.
mereka masih saja belum menyadari siapa pria yang tengah menggendong melisa saat ini. mereka masih terpukau dengan pria yang tak kalah tampan dari pria yang.
beberapa orang di antara mereka saling berkata,
"wah,.. wanita itu begitu beruntung. dia bahkan bergantian di peluk oleh 2 pria tampan bak malaikat itu," ucap salah seorang pada orang yang lainnya. hal ini sontak membuat kaum hawa yang menyaksikan itu iri. mengapa bukan mereka yang ada di pelukan pria itu, tanpa mereka tau yang sebenarnya di mana salah satu dari pria tampan ini hendak mencongkel mata Melisa.
sementara Adelia dan ketiga temannya berjalan ke arah kerumunan masa itu yang sebelumnya telah selesai melakukan pembayaran di kasir toko tempat mereka berbelanja pakaian mereka sambil menunggu kedatangan Melisa tadi.
" siapakah di antara kalian yang datang bersama gadis ini ? " ucap sekertaris Hanz kepada parah pengunjung yang tengah mengerumuni dirinya dan Melisa yang masih pingsang.
" jika tidak ada maka enyah lah dari hadapan ku " ucap sekertaris Hanz lagi dengan suara tegas dan lantang.setengah membentak.
Dia meminta para masa itu pergi dari hadapannya, bukan. lebih tepatnya mengusir mereka.
hal ini sontak membuat para pengunjung itu menatap Hanz menyelidik. dan betapa terkejutnya mereka melihat sebuah nama yang terpampang di sana,
' Hanzo Zhu'
Dan sebuah logo yang ada di bahu kanan Hanz, logo kebesaran 'Alicia group'
Dengan segera mereka memasukkan ponsel mereka ke dalam saku dan tas, mereka menundukan kepala lalu mundur perlahan secara teratur menjauh dari sekertaris kejam itu.
Sementara dari kejauhan Adelia melihat dengan jelas wajah gadis yang sedang di gendong oleh seorang pria tampan, tak lain adalah Melisa Art nya itu.
dia berlari ke arah Hanz dan, bruukkkk
Adelia memukul pundak Hanz dengan sekuat tenaganya.
" hey, apa yang kau lakukan kepada adiku, " ucap Adelia setengah membentak dengan wajah dingin.
lalu pria yang di pukul Adelia pun berbalik dan menatap Adelia dengan wajah yang tak kalah dingin nya, dengan tatapan mata elang yang siap menukik menerkam mangsanya.
" wanita bodoh, akan aku patahkan lengan dan jari jari tangan mu itu ". kata kata itu yang hendak sekertaris Hanz katakan, namun dia berusaha menahan emosi nya dan menelan kembali kalimat yang hendak keluar dari mulutnya.
Dia mengingat kembali perkataan tuan mudanya yang hendak menjadikan nya penjinak Bom. Hanz tau betul siapa tuan mudanya itu. Dia tidak pernah bermain main dengan perkataan nya.
" apakah kalian yang datang bersama gadis ini " ucap Hanz datar sembari berjalan pelan menuju sebuah kursi panjang yang ada di dekat situ yang memang di sediakan kepada pengunjung untuk beristirahat atau menunggu.
Dia membaringkan Melisa dengan lembut di kursi itu dengan hati hati. sambil berkata dalam hati,
wajah mereka begitu mirip.
" i..- Iyah tuan " jawab jejhe ketakutan, dia telah mengenali logo kebesaran yang ada di bahu kiri jas yang di kenakan pria tersebut.
sementara Adelia dan kedua temannya lagi kebingungan melihat jejhe yang sedang ketakutan.
" baiklah, tolong berikan ini kepada calon istri masa depan ku, katakan padanya untuk segera menghubungi ku dalam 2 hari kedepan. jika dia tidak menghubungi ku dalam 2 hari kedepan, maka kalian yang harus bertanggung jawab" ucap Hanz sembari mengeluarkan kartu nama serta iPhone keluaran terbaru yang baru saja di belinya beberapa waktu yang lalu.
Hanz menitipkan iPhone tersebut kepada jejhe.
sepertinya Hanz telah membaca keadaan di mana salah satu dari ke empat orang itu telah mengenali nya.
lalu berjalan pergi dengan wajah datar tanpa ekspresi, dan tidak menggubris perkataan Adelia.
" heeiiii.. apa maksud mu mengancam kami ha..?" ucap Adelia dengan nada menantang namun tidak di hiraukan lagi oleh Hanz yang telah berjalan menjauh dari mereka.
setelah kepergian Hanz, fokus mereka kini beralih ke Melisa yang masih pingsan.
mereka berusaha membangun kan Melisa, dan tidak berselang lama Melisa pun bangun.
" kak Lia, maafkan Lisa kak sudah membuat kak Lia dan teman'2 menunggu " ucap Melis yang kini telah dalam posisi duduk di kursi itu.
" tidak apa-apa Lisa, sebenarnya apa yang terjadi? mengapa kamu sampai jatuh pingsan ? tanya Adelia prihatin.
namun pas di depan situ Lisa menabrak seseorang kak" ucap Lisa sambil menunjuk tempat tadi dia terduduk karena menabrak seseorang.
" siapa orang itu Lis? lalu mengapa kamu sampai pingsan? apakah pria tampan tadi menggendongmu yang kau tabrak? ataukah dia memukul atau menampar mu sampai kau jatuh pingsan ? kini Mira yang bertanya dengan beberapa pertanyaan sekaligus. sembari dia memeriksa tubuh Melisa memastikan tidak ada bekas memar tindakan kekerasan.
" pria yang ku tabrak tadi adalah " ucap Melisa menggantung kalimat, kini wajahnya kembali memucat.
" sekertaris Hanz, orang nomor 2 Alicia group yang terkenal kejam " kini jejhe yang menjawab pertanyaan Mira dengan bibir bergetar sambil menyodorkan kartu nama yang di titipkan Hanz kepadanya dengan wajah yang memucat dan tangannya bergetar.
menurut mitos, orang yang berurusan dengan Alicia group akan mendapatkan nasib malang. itulah sebabnya jejhe ketakutan, dan hanya dia yang menyadari hal itu tadi.
" A... Alicia group ?.. " ucap Mira terbata sambil matanya melotot, hampir saja copot dari kelopak matanya.
"se,... sekertaris Hanz " ucap Nia yang tidak kalah terbatanya mengucapkan kalimat nya. dia terkejut dan ketakutan.
sementara Adelia, seketika sekujur tubuhnya mendingin. kini tubuh nya bergetar deras, dia ketakutan.
wajahnya memucat lebih pucat dari Melisa sekarang. bibirnya pun menggigil ketakutan di iringi air matanya yang menetes perlahan membasahi pipinya.
bagaimana tidak, Adelia lah yang mencoba menantang sekertaris Hanz tadi, dia bahkan telah memukul pundak sekertaris kejam itu tanpa terkontrol.
Dalam ketakutan Adelia dan ke empat temannya itu, Melisa pun bicara.
" tenang saja kak, tidak perlu takut. aku punya teman tampan yang di takuti sekertaris kejam itu. dia bahkan menuruti semua yang di katakan pria tampan itu,,.... ahhh aku jatuh cinta terhadap nya. " ucap melisa sambil kedua tangannya memegang dada sembari tersenyum senyum aneh menatap langit langit mall itu seraya menenangkan majikan dan ke tiga temannya itu.
" sebenarnya aku tadi pingsan karena terpesona menatap pria tampan itu yang wajahnya begitu dekat dengan wajahku. " sambung Melisa lagi.
" maksud mu tuan muda Yu? " tanya Adelia bingung.
" mungkin kak, jika orang nomor 2 Alicia group begitu takut terhadap nya, itu bisa di pastikan bahwa orang itu nmor 1 di Alicia group." sambung jejhe yang masih kebingungan.
" Iyah kak, itu benar tuan muda Yu, pangeran tampan pemilik 'Alicia group'. dan ternyata kak, dia orangnya baik dan lembut loh kak, dia tidak sekejam rumor yang kita dengar selama ini. buktinya dia baik terhadap ku kak, " ucap melisa yang terlihat bahagia dengan senyum yang merekah di bibirnya.
di sisi lain Adelia tertekun mengingat kalimat barusan,
*kak Yu,.... panggil aku kak Yu.
aku adalah tuan muda keluarga Yu.
mungkinkah itu dia?? tapi mana mungkin. aku saja tidak pernah mendengar kabarnya setelah dia pergi meninggalkan ku tanpa jejak 17 tahun lalu.
dan kalaupun itu dia, tidak mungkin dia akan datang menjemput ku, dia pasti tidak lagi mengingat janjinya terhadap ku*.
Dan,, aku juga harus tau diri, aku sungguh hanyalah sebutir debu baginya. banyak wanita yang lebih cantik yang pantas bersanding dengannya. pikiran Adelia yang masih ragu.
seketika dia merasa sedih, di tambah lagi dengan pernikahan nya yang akan berlangsung beberapa waktu kedepan.
sementara jejhe kebingungan dengan penjelasan Melisa, jelas jelas dia melihat tadi bahwa sekertaris Hanz lah yang menggendong Melisa. dan juga sekertaris Hanz lah yang mengatakan bahwa Melisa adalah calon istrinya.
" kak, kok kalian pada bengong? kita pulang aja yuk kalau sudah tidak ada lagi yang mau di beli " ucap Melisa sambil tersenyum, dan membuyarkan lamunan Adelia dan ketiga sahabat nya.
" hmppptt,.. iyah, ayo " ucap Adelia sembari menatap jam di ponselnya yang menunjukkan pukul 20:30 ( setengah sembilan malam )
mereka pun beranjak dari tempat itu menuju mobil mereka yang ada di parkiran, Adelia dan jejhe duduk kembali di kursi depan dengan jejhe yang menyetir, sedangkan Melisa, Mira dan Nia duduk di kursi belakang mobil seperti tadi.
mobil pun melaju ke arah pinggiran kota menuju rumah Adelia. sesampainya di rumah Adelia, mereka pun turun dari mobil yang telah di parkiran jejhe di garasi mobil lalu mereka pun masuk ke dalam rumah.
ketiga teman Adelia langsung masuk ke kamar tamu depan yang sudah menjadi seperti kamar khusus bagi mereka bertiga jika bermalam di rumah itu, sementara Adelia Langsung naik ke kamarnya di lantai 2 dan Melisa pun masuk ke dapur hendak membantu bi Mila berbenah di dapur.
sebelumnya mereka berlima telah makan malam di sebuah warung makan di pinggir jalan sewaktu perjalanan pulang tadi.
Mira, Nia dan jejhe juga telah memberi tahu orang rumah bahwa mereka akan menginap di rumah Adelia sahabat mereka.
...
Bersambung.**