
Adelia berjalan setengah berlari menuruni tangga rumahnya sambil menggerutu.
mulutnya terlihat seperti mengunyah sesuatu didalam nya.
*pria sialan..
pria sialan... sumpah, aku sudah membenci mu sebelum aku melihat mu. baru mengetahui namamu saja telah membuatku sial selama 2 hari ini.
semalam aku tidak bisa tidur, dan sekarang... aku hampir saja terlambat ke tempat kerja.
setibanya Adelia di lantai dasar rumah ini, pak Munir dan ayahnya tengah sarapan di ruang makan yang memang seruangan dengan anak tangga dasar ke lantai 2 rumah itu.
langkah kaki Adelia terhenti ketika mendengar suara ayahnya.
" Lia, ayo sarapan nak. maaf ayah dan pak Munir tidak menunggu. " ucap pak Ahmadi kepada putrinya.
yah, memang pak Ahmadi dan sekertaris nya itu sudah terlalu lama menunggu Adelia, jadi mereka memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu.
Adelia pun berhenti sejenak lalu menoleh ke arah suara dengan wajah mutungnya. wajah khas orang yang sedang jengkel.
" terimakasih ayah, lain waktu saja. Lia sudah telat ke kantor " ucap Adelia singkat dengan wajah tanpa ekspresi.
" hmppptt,.. baiklah. apa perlu pak Munir mengantarmu? "
sambung pak Ahmadi lagi.
" tidak perlu ayah, Lia telah memesan taksi online. terimakasih. " ucap Adelia lagi datar tanpa ekspresi lalu melanjutkan langkahnya menuju ke pintu rumah meninggalkan pak Ahmadi yang santai saja melanjutkan sarapan nya dan pak Munir yang matanya melotot heran menatap punggung Adelia yang berlalu pergi dari hadapan Mereka.
pak Munir terkejut dengan apa yang dia lihat barusan, sifat Dingin dari seorang wanita cantik yang merupakan nona mudanya itu.
pasalnya selama ini dia bekerja menjadi sekertaris pak Ahmadi, dia tidak pernah melihat hal seperti ini.
selama ini yang dia lihat adalah sosok seorang Adelia yang suka tersenyum, sopan, ramah dan hampir tidak pernah terlihat marah.
beda halnya dengan pak Ahmadi. dia terlihat santai sambil menghabiskan sarapan nya.
pak Ahmadi telah mengenal betul sosok yang seperti apa anaknya ini.
meskipun dia merawat dan mendidik Adelia dengan lembut dan hampir tidak pernah berbicara keras, apalagi membentak Adelia.
Namun di dalam diri Adelia masih tetap ada sifat yang keras dan Dingin.
mungkin salah satu dari orang tua kandung Adelia memiliki sifat itu.
jadi mau di didik selembut apapun seseorang jika sifat bawaan gen, maka sifat itu akan tetap ada meski sedikit.
semoga saja sifat Dingin nya itu tidak di perlihatkan kepada suaminya nanti, saya takut menantu saya nanti lari ketakutan dari rumah..
ucap pak Ahmadi dalam hati, cemas.
sementara di gerbang depan seorang sekuriti beranjak dari duduk kemudian berlari ke arah pintu gerbang dan membukanya.
dia menunduk hormat ketika Adelia melewati nya.
" selamat pagi nyonya. " ucap Deni sang sekuriti sopan.
Adelia menghentikan langkahnya tepat di depan Deni sang sekuriti yang menyapanya.
" apa katamu ? apakah aku terlihat setua itu hingga kamu memanggilku dengan sebutan Nyonya.? " ucap Adelia setengah membentak dengan wajah datarnya. lalu melirik Deni dengan tatapan membunuh.
" maaf kak, maksud saya no -,.nona muda yang cantik" ucap Deny terbata. nyalinya menciut.
Deni merupakan seorang sekuriti muda di rumah itu, dia menggantikan sekuriti sebelumnya yang di tarik pak Ahmadi ke perusahaan. sebenarnya gaji yang di berikan pak Ahmadi cukup besar bagi seorang sekuriti karena selisih gaji mereka tidak terlalu jauh, namun pak Ahmadi melihat potensi yang ada di sekuriti sebelumnya sehingga mempekerjakan nya di kantor.
usia Deni sekarang 21 tahun. pak Ahmadi yang membawa nya masuk ke keluarga itu untuk di pekerjakan sebagai sekuriti di rumah itu 2 tahun yang lalu.
( maaf yah readers, author lupa memperkenalkan 1 orang karakter lagi di rumah Adelia di episode sebelumnya. soalnya gak ada momennya..😊😊, oh Iyah. jangan lupa, seorang yang baik hati sudah pasti orang yang bijak )
**
sementara si sekuriti Deni mengikuti dari belakang kemudian menutup pintu pagar setelah Adelia menaiki mobil taksi.
dia hendak tertawa melihat kejadian di depannya, namun di urungkan niatnya itu mengingat dia baru saja kena gertakan dari nona muda itu. kemudian kembali ke tempat duduknya di dalam pos jaganya.
25 menit berlalu.
sampailah taksi yang di tumpangi Adelia di depan kantor dia bekerja.
Adelia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, melihat jam.
08:10,
syukurlah, ucap Adelia dalam hati dan kemudian mengeluarkan uang dari dompet dalam tasnya lalu membayar taksi itu dan bergegas keluar dari mobil menuju kantor tempat dia bekerja.
terlihat seorang sekuriti bergegas keluar dari pos jaga kemudian membungkuk sopan
" selamat pagi Bu Adelia " ucap sekuriti itu sambil mengulum bibirnya dalam, berusaha menahan tawa agar tidak pecah melihat sesuatu yang barusan terjadi di depannya.
Adelia berhenti sejenak, menoleh ke arah sekuriti yang menyapanya dengan wajah datar. kemudian berlalu pergi masuk ke dalam gedung kantor nya itu tanpa menggubris sapaan si sekuriti.
Dia berjalan cepat ke arah ruangannya, membuka pintu lalu masuk ke dalam ruangan pribadinya kemudian menutup pintu dengan membantingnya keras, pluakkkkkk.. bunyi keras dari arah ruang Adelia.
dia sangat kesal hari ini. Moodnya sungguh tidak baik pagi ini.
" PRIA SIALANNNNN....." teriak Adelia sekuat tenaga ketika dia sudah duduk di dalam ruang kerjanya.
untung saja ruang kerja Adelia kedap suara, jadi suaranya tidak terdengar sampai keluar.
Adelia begitu kesal pagi ini. Bagaimana tidak, semalam dia tertidur larut malam karena memikirkan calon suaminya dengan hal hal buruk di otaknya. paginya dia telat bangun sampai dia terburu-buru mengejar waktu agar tidak terlambat ke tempat kerja karena dia sudah harus kerja pukul 08:30.
Lebih konyol nya lagi, puncuk kepalanya agak sedikit bengkak saat ini karena 2 kali ke jeduk di mobil. pertama sewaktu dia naik ke mobil taksi di depan rumahnya, kemudian dia kejeduk lagi tadi pas turun dari mobil di depan tadi.
**
kejadian membanting pintu ruangan kerja Adelia sontak membuat ketiga sahabat Adelia yang juga merupakan bawahannya kaget bukan kepalang. pasalnya ini adalah kali pertama mereka melihat sifat Dingin atasan yang sekaligus sahabat mereka itu.
Nia, Mira dan jejhe yang berada di meja teler saling berhadapan satu dengan yang lain dengan diam dan pikiran mereka masing-masing.
detik berlalu, menit berganti.
tak Terasa jam menunjukkan pukul 4 sore, Adelia mematikan komputernya lalu menenteng tas kerjanya.
Adelia keluar dari ruangan kerjanya kemudian menguncinya. dia berjalan ke arah meja teler di mana ke 3 sahabat nya itu berada dengan senyum yang merekah di bibir mungilnya nan seksi itu.
terlihat ketiga gadis itu telah selesai dengan pekerjaan mereka dan hendak keluar dari meja itu bersamaan.
" hy Lia, " ucap mereka bertiga bersamaan.
" hy juga Mira, Nia ,jejhe " ucap Adelia dengan senyum yang masih mengambang di bibir nya
" Lia, kamu ada kesibukan gak hari ini ?" tanya Nia sambil tersenyum.
" emang kanapa ? yukk sambil jalan " tanya Adelia balik sambil mengajak 3 sahabat nya itu keluar dari gedung kantor tempat mereka bekerja.
" yuk jalan-jalan ke pusat kota, ini kan hari Sabtu. kita malam mingguan." ucap Mira menimbal percakapan mereka. sementara si jejhe hanya diam, nyimak. sambil tersenyum simpul.
" katanya sih ada mall baru yang di resmikan beberapa waktu lalu" sambung Nia lagi.
" Iyah Ly, dan katanya itu adalah mall terbesar di negara ini loh, dan terbesar ke 2 di Asia tenggara, coba liat deh di hp kalian. beritanya Masi menjadi top trending sejak di resmikan sampai sekarang. " kini jejhe yang sedari tadi nyimak pun bicara.
..
....
...bersambung...