My Unexpected Husband

My Unexpected Husband
Balas budi



" nhak,. kesini lah. "Ucap pak Ahmadi sambil tangannya menepuk lembut sofa di sampingnya. seakan menyuruh anak gadisnya itu untuk duduk di sampingnya.


Adelia yang baru saja tiba di rumah sepulang kerja, berjalan gontai dengan wajah yang memelas, kemudian duduk di sofa samping ayahnya, pak Ahmadi.


" ayah,... apakah ayah sudah yakin dengan keputusan ayah ini ? "


tanya Adelia kepada pak Ahmadi setelah dia duduk di samping ayahnya itu.


" Iyah nak, ayah sudah sangat yakin dengan keputusan ayah, dia pria yang baik." ucap pak Ahmadi menjawab pertanyaan putri kesayangannya itu.


" tapi yah,..?'!! "


Adelia menggantung kalimatnya.


kembali Adelia mengingat percakapan waktu siang tadi di tempat kerja antar dia dan ayahnya di telepon mengenai keputusan ayahnya yang menjodohkan Adelia dengan pria yang telah di pilih ayahnya itu.


sebenarnya yang menjadi masalah bukan karena perjodohan itu, melainkan sosok pria yang akan menjadi calon suaminya itu memiliki profesi yang kurang mapan menurut Adelia. bagaimana tidak, Adelia yang seorang pekerja kantoran akan menikah dengan seorang pria yang memiliki profesi dibawah nya.


Adelia sungguh bingung dengan apa yang di pikirkan pak Ahmadi, ayahnya.


seakan tau apa yang hendak di katakan putrinya yang menggantung kalimat,


pak Ahmadi pun bicara..


" Lia,... '( panggilan sehari-hari Adelia Sodiq ) "


ucap pak Ahmadi dengan lembut.


" bukankah seorang pria yang baik tidak di ukur dari profesinya.? asalkan dia mau bekerja keras dan berusaha, ayah yakin dia sanggup membahagiakan mu nak"


ucap pak Ahmadi kemudian.


" tapi ayah, apakah dia tidak akan minder dengan pekerjaannya kepada Adelia? dan bagaimana bisa dia membahagiakan Adelia dengan profesinya yang seperti itu?!! "


jawab Adelia lembut, berusaha mengubah pikiran ayahnya secara tidak langsung.


Bukannya Adelia matre atau tidak menghargai profesi seseorang, akan tetapi dia juga wanita, dia menginginkan sosok seorang suami yang memiliki pekerjaan yang mapan, setidaknya pekerja kantoran sama seperti nya.


bukan seorang buruh pelabuhan.


" nak., fikhy itu anak yang baik, dia berasal dari keluarga baik-baik. ayahnya adalah sahabat ayah..


dan juga ayah harus tau diri untuk Berbalas Budi."


ucap pak Ahmadi lagi.


Mendengar perkataan ayahnya mengenai Balas Budi, Adelia yang sedari tadi bicara menunduk kini mengangkat wajah nya menatap pak Ahmadi.


Adelia mengerutkan dahi , bingung...


" maksud ayah? "


tanya Adelia yang kini menatap ayahnya, dia bingung dengan perkataan ayahnya itu.


" Nak, Perusahaan milik ayah yang telah merubah kehidupan keluarga kita, yang menunjang sekolah mu sejak sekolah dasar dan yang menunjang uang kuliahmu, serta yang menopang keuangan keluarga kita adalah pemberian ayah fikhy, sahabat ayah itu.


waowwww,.. tajir amat nih orang, perusahaan sebesar milik ayah ini di kasi begitu aja?!!


berarti mantan anak Sultan dong nih calon suamiku.


ehhhh..... apa tadi, calon suami?!! ogah dehh..


jangan harap saya mau mencintai mu..


gumam Adelia dalam hatinya.


memang menurut warga yang tinggal di sekitar daerah itu ( pinggiran kota ), Perusahaan milik pak Ahmadi Wijaya ini tergolong besar. Perusahaan ini mempekerjakan kurang lebih 300 orang pegawai nya, dengan bangunan berlantai 4 yang cukup megah.


karena letak perusahaan ini di pinggiran kota dan jauh dari daerah perkotaan menjadikan perusahaan ini nomor 2 terbesar di daerah itu.


Akan tetapi, jika perusahaan ini berdiri di tengah daerah perkotaan, sungguh jauh jika dibandingkan dengan perusahaan lain milik para pengusaha handal. perusahaan milik pak Ahmadi Wijaya ini Masi di kategorikan di kelas menengah kebawah.


Mengingat bahwa kota Jak*rta menjadi pusat pebisnis yang datang dari segalah penjuru dunia untuk bersaing saat ini.


" lalu ayah, mengapa dia menjadi seperti saat ini.? maksud Lia,.. mengapa dia skrang hanya menjadi seorang buruh pelabuhan "


tanya Adelia setelah pikiran nya kembali dari ketertakjubnya.


pak Ahmadi beranjak dari duduknya di sofa kemudian berjalan pelan ke arah lemari riasan yang ada di ruang tamu, yang di dalam lemari itu terpajang sebuah foto pernikahan.


" 15 tahun yang lalu, sebulan setelah mendiang ibumu meninggal dunia, ayah mendapat kabar bahwa perusahaan besar milik sahabat ayah jatuh bangkrut, mereka kehilangan segalanya. yang tersisa dari kekayaan mereka adalah perusahaan milik ayah ini." ucap pak Ahmadi menjawab pertanyaan putrinya.


" lalu ayah? " Adelia merubah posisi duduknya senyaman mungkin, dia ingin mendengar cerita ayahnya.


melihat putri kesayangannya seperti penasaran, pak Ahmadi melanjutkan ceritanya.


pada saat berbicara melalui telepon, ayah hendak menyerahkan kembali perusahaan ini kepada mereka, namun dengan tegas sahabat ayah itu menolak nya. sahabat ayah mempercayakan perusahaan ini ketangan ayah untuk di kelola dan hendak menitipkan harta berharga mereka saat itu kepada ayah, anak tunggal mereka."


pak Ahmadi pun menghentikan ceritanya,dan kemudian menatap putrinya,


sedangkan Adelia hanya duduk diam. seolah menantikan kelanjutan cerita ayahnya.


melihat Putri nya hanya diam, pak Ahmadi pun melanjutkan ceritanya.


" setibanya ayah dari luar kota, ayah bergegas ke kediaman keluarga sahabat ayah itu. namun sungguh miris, ayah tidak mendapati mereka di sana.


bertahun tahun ayah mencari informasi dan keberadaan keluarga itu. namun hasilnya nihil, sampai suatu waktu ayah menyerah untuk mencari."


" kasian sekali yah, sungguh menyediakan nasib mereka " ucap Adelia tanpa sadar, dia terbawa suana.


" hmptt,.. tapi ayah sangat bersyukur sekarang. ayah telah mendapatkan informasi tentang anak itu. dan ayah telah bertemu dengannya. "


" apakah ayah telah membicarakan hal ini Dengannya.? " tanya Adelia ke pak Ahmadi.


semoga aja dia tau diri dan menolaknya.gerutu Adelia dalam hati.


"sudah nak, dan dia menyetujuinya." ungkap pak Ahmadi sambil tersenyum.


ehhhh... apa..?!! dia mau menerima nya begitu saja, padahal dia sama sekali tidak mengenalku....


ahhh,.. sialan, mengapa aku jadi sebodoh ini. sudah pastilah dia mau, dengan posisi nya seperti itu. gerutu Adelia dalam hatinya.


" lalu bagaimana dengan mertua ku ayah? apakah mereka baik baik saja.?"


plakkk,... Adelia menepuk keras jidatnya, merutuki kebodohannya.


whattt... tadi apaaa... mertuaku...


sialan, bisa bisanya lidahku kepeleset.. belum apa-apa dia sudah membuat ku seperti orang bodoh. pria sialan..... tunggu saja kamu nanti..


kesal Adelia dalam hati.


"maksud Lia calon mertua ayah" sambil memalingkan wajah ke sembarang arah seperti orang bodoh.


hahahahahaahhhh,


pak Ahmadi tertawa dalam hati sambil menyujikan senyum yang tidak dapat di artikan di wajahnya melihat tingkah konyol putri kesayangannya itu.


" kalau untuk mertuamu, ayah kurang yakin nak, maksud ayah. ayah tidak mengetahui nya.." jawab pak Ahmadi mengejek putrinya sambil tertawa kecil.


" ayolah ayah, jangan ngejekin Adelia lagi, Adelia serius bertanya." uangkap Adelia dengan sifat manjanya.


tadi itu lidah Adelia cuman kepeleset yah..


gumam Adelia dalam hati.


" baiklah-baiklah, ayah juga tidak tau dengan keadaan calon mertuamu nak. sewaktu ayah menanyakan itu kepada fikhy, dia hanya diam saja. tak menjawab pertanyaan ayah " jawab pak Ahmadi lagi.


" apakah ayah akan bahagia jika Lia menikah dengannya? " tanya Adelia.


tidak apa-apa lah aku ngorbanin sedikit perasaan ku, ayah sangat baik terhadap ku. entah apa jadinya jika tidak ada ayah yang merawat ku sejak kecil.


lagian ini juga bekalku ke akhirat nanti. kan berbakti dan membuat orang tua bahagia.


Adelia tersenyum dengan pikirannya sendiri.


Adelia memang anak yang baik dan penurut. meskipun pak Ahmadi bukanlah ayah kandung nya, tetapi dia begitu mencintai dan menyayangi ayahnya itu. di otaknya hanyalah bagaimana cara membalas kebaikan orang yang telah merawat nya sejak kecil, dan bagaimana cara membuat ayahnya ini bahagia.


" nak, ayah akan sangat bersyukur dan bahagia jika kamu mau menikah dengannya. ayah rasa inilah waktunya membalas Budi baik keluarga itu." jawab pak Ahmad dengan lembut.


" baiklah ayah, lia akan menikah dengannya " Adelia pun berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah ayahnya lalu memeluk ayah nya sayang.


baiklah pria sialan, aku akan memberi mu sedikit kesempatan.. gerutu Adelia dalam hati untuk calon suami nya itu.


" terimakasih nak, ayah sangat bahagia memiliki putri sepertimu. " ucap pak Ahmadi membalas pelukan putrinya sambil tangan kanannya membelai lembut puncuk kepala Adelia.


Lia,.... maafkan ayah nak. ayah sedikit berbohong dengan cerita itu. ayah harap suatu saat nanti kamu dapat menerima kenyataan nya.


ucap pak Ahmadi dalam hatinya.………


……………………………………


***Bersambung,,.


Hay reeders**, author penulis baru yah.. mohon maaf jika ada salah penulisan. Author menulis dengan hp jadi mungkin banyak typo nya.


oh iyah, cerita ini hanyalah hayalan author semata. mohon maaf jika ada kesamaan latar, nama pemeran, ataupun profesi karakter yang sama,. semoga para readers selalu sehat dan di limpahkan berkatnya.


Amin*...………