My Unexpected Husband

My Unexpected Husband
Pria menakutkan



" m'- maafkan saya tuan, saya tidak sengaja. " ucap Melisa terbata masih tertunduk, dia menekuk lututnya dan mencoba berdiri, di tatapnya pria yang di tabrak nya barusan, ingin memastikan siapa orang itu.


terlihat lah sosok pria tampan dengan mata sipit dan hidung yang mancung berbadan kekar yang menatapnya seperti mata elang yang siap menukik menerkam mangsanya.


seketika tubuh Melisa lemas, wajahnya pucat, darahnya seperti berhenti mengalir, bibirnya menggigil, tubuhnya gemetar.


Melisa ketakutan ketika matanya membaca nama pria yang di tabrak nya barusan.


'Hanzo Zhu' siapapun di negeri ini mengenalnya.


sekertaris yang juga orang nomor 2 di Alicia group, pria tampan yang kasar dan dingin.


Nama pria ini terkenal ketika tiga tahun lalu dia dan Presidir nya menjatuhkan dan menggulung sebuah perusahaan besar sekelas nya.


perusahaan itu bermain curang kala itu saat melakukan kerjasama dengan 'Alicia Group'.


waktu itu perusahaan ' Alicia Group ' Masi berada di nomor urut 2 di negara ini.


Kejeniusan serta kepintaran presiden 'Alicia Group' di tambah keuletan serta kekejaman sekertaris Hanz mampu menggulung perusahaan nomor 1 di negara ini kala itu. perusahaan itu bangkrut dalam semalam, dan yang lebih mengerikan lagi yaitu hilangnya sang pemilik perusahaan entah kemana. bagai di telan bumi.


itulah akibatnya jika berurusan dengan ' Alicia group' ,


tidak ada 1 pun anggota keluarganya yang tau kemana pria pemilik perusahaan itu.


..


pria mengerikan itu hendak berjongkok mencengkeram kerah baju Melisa namun niatnya terhenti ketika seorang pria tampan berkaos putih oblong berbicara.


" apa yang mau kau lakukan Hanz ? ' bukankah sudah kukatakan agar tidak kasar lagi terhadap wanita.? dia hanya tidak sengaja menabrak mu pria telepati" ucap pria tampan itu.


" sepertinya kamu harus bersiap siap dan mengemasi pakaian mu, hari Senin besok akan ku kirim kamu ke Afganistan untuk menjinakkan bom." sambungnya lagi.


" tapi tuan?!!.." ucap si pria seram itu ketakutan, membela diri


sial, sepertinya tuan muda kepo ini sungguh sungguh dengan perkataan nya barusan


gerutu sekertaris Hans dalam hatinya.


" hei hei Hans,,apakah barusan kamu memaki saya dalam hatimu? ku peringatkan sekali lagi, jika hal seperti ini terjadi lagi, maka tidak akan segan-segan aku mengirimmu kesana.


sebelumnya aku akan menyuruh mu menelan granat, bukankah kau pria yang keras.? "


ucap pria berkaos oblong putih itu sambil berjalan mendekati Melisa yang masih terduduk ketakutan. lalu berjongkok di depan Melisa.


" i....iyah tuan muda, mohon ampunan nya, dan beri saya kesempatan yang terakhir " ucap sekertaris Hanz yg kejam itu. dia kini sungguh ketakutan.


aishhh,, bahkan dia tau apa yang kupikirkan, dia yang mengataiku telepati, tapi dia sendiri bisa mengetahui apa yang kupikirkan..


dan sepertinya dia akan mengirim ku kesana seperti waktu itu dia mengirim salah satu direktur pemasaran ku ke Afrika memberi makan gajah.


gerutu sekertaris Hans dalam hati.


" heiii Hanz, bukankah sudah ku katakan agar tidak memaki saya dalam pikiran mu ? baiklah, besok kau berangkat. "


kini pria itu berbicara sambil mengamati dengan seksama wanita cantik yang sedang terduduk ketakutan ini, dia terlihat seperti menyamakan wajah wanita ini dengan sebuah foto di ponselnya.


hmppptt, sepertinya bukan wanita kecilku, namun wajah mereka begitu mirip. ucap pria tampan itu.


sementara sekertaris Hanz hanya diam saja, dia tau pasti tuannya akan tau apa yang akan di katakan nya.


sambil berkata dalam hatinya.


maafkan saya tuan muda. mohon kesempatan nya.


" baiklah Hanz, ingat kata katamu itu " ucap pria berkaos putih itu.


" dan bagaimana keadaan mu nona cantik.? apakah ada yang terluka? sepertinya kamu barusaja menabrak beton datar " ucap pria itu lagi sambil melirik Sekertaris nya dengan tatapan mematikan.


" ti... tidak tuan, sa..saya baik baik saja, te.. terimakasih perhatian nya " ucap Melisa terbata, gadis itu Masi ketakutan. dia masih menundukkan wajahnya.


" tidak apa-apa nona cantik, tidak perlu takut lagi terhadap nya. Dia hanyalah seorang pria penjinak Bom." ucap pria itu sambil jemarinya menunjuk sekertaris Hanz.


Hanz melotot ke arah tuan mudanya dan Melisa,


ehh,,.. tuan muda. aku ini orang nomor 2 di 'Alicia group' loh,.. menyombongkan dirinya dalam hati.


" Hanzzzzz.., tidak ada yang mengizinkan kamu bicara, tutup mulutmu." ucap pria berkaos putih itu sedikit membentak.


kejadian ini sontak membuat hati Melisa yang masih menunduk ketakutan sedikit tenang, dia sedikit melengkung kan bibirnya menahan tawa, bagaimana tidak,...


dia sama sekali tidak mendengar sekretaris 'alicia group' itu berbicara, namun pria yang tengah berjongkok yang mencoba menenangkan Melisa malah membentak si pria kejam yang hendak mencongkel mata Melisa dan menggantinya dengan kamera cctv itu.


" tidak apa-apa tuan, terimakasih banyak. saya tidak takut lagi terhadap nya." ucap Melisa yang masih menunduk.


" hmmmm, baiklah. lalu mana kekasih mu,? maksud saya suami atau pacarmu.? jangan katakan jika wanita secantik dirimu jalan sendirian. " ucap pria itu lagi.


perkataan pria di depannya ini sontak membuat wajah Melisa merah merona, pasalnya dia tidak pernah berpacaran selama ini.


" maaf tuan, saya belum kepikiran untuk hal itu, maksud saya, saya tidak memiliki pacar, apalagi menikah. saya bersama Nona muda saya dan teman-teman nya. mereka sedang berada di toko pakaian di dekat sini. " ucap Melisa malu malu namun masih tetap menunduk. dia Masi sedikit merasa ketakutan dalam hatinya. dia takut menatap pria menyeramkan yang berdiri tepat di belakang pria berkaos putih yang telah menyelamatkan dirinya dan matanya itu.


mendengar hal yang di ucapkan Melisa membuat pria tampan berkaos putih ini yang merupakan Presidir 'Alicia group' tersenyum simpul.


baiklah, seperti nya ini adalah kesempatan emasku.


ucap tuan muda Yu dalam hatinya, yang kemudian menatap sinis sekertaris nya., seolah mengatakan apakah kau tak melihat nya.? dia Masi ketakutan melihat mu ada di dekatnya pria telepati. pergilah dari situ lalu menatap tembok.


seakan tau apa yang ada di pikirannya tuan muda Yu, si sekertaris Hanz pun beranjak dari tempatnya berdiri lalu menuju ke tiang besar yang menyangg bangunan itu lalu menatap nya. sambil menggerutu dalam hati


wanita bodoh, mengapa kau katakan bahwa kau belum memiliki kekasih hah? ternyata selain matamu tidak berfungsi, otakmu juga cukup dangkal.


tanpa kau sadari kau telah menerima perjodohan ini.


" lalu mengapa kamu berjalan sendirian nona cantik ? " tanya Presidir itu lagi


" saya barusan dari toilet tuan, dan tanpa sengaja saya menabrak pria itu" jawab Melisa jujur dan Masi dalam posisi menunduk dia berbicara.


" hmmmm, baiklah tidak apa apa, jangan takut lagi. Dan bolehkah saya meminta nomor ponsel mu" ucap pria tampan berkaos putih itu lagi.


namun Melisa Masi menunduk diam, dia berpikir jika orang nomor 2 Alicia group yang dingin dan kejam itu takut dan menuruti pria di depannya ini, itu berarti......


pria di depannya ini adalah tuan muda Yu, orang nomor 1 di Alicia group yang lebih kejam dan dingin dari pada sekertaris nya itu.


kembali badan Melisa bergetar ketakutan.


mulutnya tidak bisa berkata lagi. di pikirannya adalah dia akan berakhir hari ini, seperti mitos yang beredar di kalangan masyarakat bahwa siap saja yang berurusan dengan 'Alicia group' akan berakhir mengenaskan.


kembali Melisa ketakutan, wajahnya kembali memucat. dengan bibir yang bergetar dia berusaha mengucapkan kalimat nya sebisa mungkin tidak menyinggung presidir 'Alicia group' yang tengah berjongkok di depannya ini yang sedari tadi menatap melisa.


" sekertaris Hanz " ucap pria tampan berkaos putih itu lagi yang mengagetkan Melisa dan membuatnya semakin ketakutan.


tamatlah riwayat ku, kak Adelia, tuan besar, bi Mila selamat tinggal. ucap Melisa dalam hati.


tanpa disadari Melisa telah menitikkan air mata, dia menangisi dirinya sendiri untuk yang terakhir kali.


" Iyah tuan muda, saya telah menatap tembok sedari tadi tuan. " jawab sekertaris Hanz sigap.


" bukan itu maksudku " ucap tuan muda Yu lagi sambil berdiri. karena memang sedari tadi dia berjongkok di depan Melisa.


" Iyah tuan, baiklah "


seakan tau apa maksud tuan mudanya itu,sekertaris Hanz berlari ke arah sebuah konter, toko yang menjual berbagai jenis smartphone, lalu membeli sebuah iPhone keluaran terbaru beserta kartu perdana yang langsung di install nya, dia sudah yakin bahwa wanita itulah calon istri masa depannya.


setelah sekertaris nya pergi, Presidir muda yang tampan itu kembali berjongkok di depan Melisa, dia melihat Melisa menangis tanpa suara yang terlihat dari air mata gadis itu yang meniti perlahan dari kelopak matanya.


" jangan takut terhadap ku, itu hanya mitos yang beredar di kalangan masyarakat, aku tidak sejahat itu " ucap Presidir muda tampan itu


yang kemudian Dengan lembut mengusap pipi serta mata Melisa yang yang terpejam menitikan air mata.


Mendapat perlakuan lembut dari Presidir Alicia group ini sontak membuat Melisa kaget dan takjub bukan main, pasalnya yang dia ketahui tentang pria ini, dia adalah orang yang yang keras, dingin dan kejam.


sedangkan yang Melisa alami saat ini yaitu sifat yang lembut dan penuh kasih, dan tidak memandang status sosial.


**


memang di kalangan masyarakat, pria pemilik 'Alicia group' ini terkenal kejam, dingin, dan keras.


itu adalah sifat yang di warisi tuan muda Yu dari ayahnya, namun masyarakat tidak tau bahwa itu hanya berlaku jika ada rekan atau lawan bisnis yang bermain curang dengannya. Tuan muda Yu tidak akan segan-segan menghancurkan nya seperti yang di lakukan beberapa tahun silam yang sampai membuat namanya dikenal kejam oleh kalangan masyarakat.


hal ini tentu sangat berbeda jauh dari sifat sekretaris Hanz yang sapu rata, sama saja.


sementara sifat yang sebenarnya memdominasi tuan muda Yu adalah sifat dari ibunya yang lembut, penuh kasih, sabar, ramah, tanpa memandang status sosial dan bahkan selalu menghargai dan menghormati orang lain.


Terlebih pada seorang wanita, seperti yang saat ini dia tunjukkan kepada Melisa.


Namun tuan muda Yu ini tidak menyadari sesuatu yang membahayakan bagi beberapa wanita yang ada di dekatnya.


pesona membunuh.


**


Melisa pun merasa sedikit tenang, dia mencoba menepis pikiran buruknya terhadap pria ini.


" terimakasih tuan atas kebaikan hatinya, tapi tidak perlu sampai membelikan saya ponsel tuan " ucap Melisa seolah tau kalau pria didepannya ini telah menyuruh sekertaris nya membelikan Melisa phonsel.


" tidak apa apa nona. saya memberikan itu dengan senang hati, tapi kalau bisa tatap saya selagi bicara, jujur saja saya tidak suka dengan hal itu." ucap pria tampan itu lagi.


" i..Iyah tuan, baiklah, maafkan saya " ucap Melisa yang kemudian mengangkat wajahnya perlahan mencoba melihat wajah dari pria yang telah menolongnya dan menyelamatkan matanya dari Hanz yang hendak mencongkel mata Melisa.


dannnn deg,


seketika mata Melisa melotot hampir saja keluar dari kelopak matanya, mulutnya ternganga, lagi lagi jantung nya serasa berhenti berdetak.


udara di sekitar Melisa terasa habis, dia sesak bernafas. pandangan nya mulai terasa gelap dan bruukkkk.. Melisa jatuh pingsan


dengan sigap pria tampan pemilik perusahaan 'Alicia group' itu meraih tubuh Melisa yang hendak jatuh ke lantai dari duduknya. pria itu dengan sigap menjangkau tubuh Melisa agar kepalanya tidak terbentur ke lantai.


satu kata yang terakhir di dengar tuan muda Yu dari mulut Melisa,


" inikah malaikat pemilik 'Alicia group', " sebelum Melisa jatuh pingsan.


hal ini sontak menjadi perhatian para pengunjung di dekat situ. mereka pun berdatangan melihat apa yang sebenarnya terjadi, mereka pun terkejut dan saling meraih ponsel mereka masing masing.


Bagaimana tidak, ketampanan pria yang mereka liat saat ini yang tengah merangkul seorang wanita yang biasa biasa saja, tidak ada 1 pun yang istimewa dari gadis itu. namun mereka tidak tau bahwa pria itu adalah Presidir Alicia group, yang mereka kenal dengan sifat dingin, keras dan kejam.


memang kalangan masyarakat mengenal nama tuan muda Yu, namun masih banyak yang tidak tau persis seperti apa wajah pria tersebut.


sementara itu di dalam toko pakaian, Adelia dan ketiga temannya telah kuatir, Melisa belum juga kembali dari toilet,


anak ini, kemana dia pergi. jangan bilang dia tersesat. gumam Adelia dalam hatinya sambil berjalan ke arah luar toko.


dia melihat beberapa pengunjung berjalan ke arah sebuah kerumunan yang tak jauh dari mereka saat ini.


Adelia pun masuk ke dalam toko yang di mana ketiga temannya Masi asik melihat dan mencoba beberapa pakaian sambil menunggu kedatangan Melisa. dia pun memberitahu perihal kerumunan itu dan mereka hendak kesana, sekalian ingin mencari Melisa yang belum kembali dari toilet. siapa tau Melisa ada di sana.


Namun sebelum itu mereka ke kasir untuk membayar beberapa belanjaan mereka di toko pakaian itu.


sedangkan sekertaris Hans yang berjalan dari toko membeli ponsel melihat itu langsung berlari ke arah tuan mudanya itu.


dia menyelinap di antara kerumunan masa itu


haaaaahhhhh, lagi lagi seperti ini.


lihatlah tuan mudah, anda lebih kejam daripada saya. saya memang membentak gadis ini tadi, namun dia hanya ketakutan.


Sementara anda.... anda membuat nya jatuh pingsan dengan pesona membunuh mu.


gerutu sekertaris Hans dalam hati.


seolah mengetahui sekertaris nya telah berada di dekatnya, tuan muda Yu berbicara


" Hanz, lihat sekeliling mu, dan dia milik mu. waktu mu 11 bulan dari sekarang. " lalu menatap sekertaris nya itu. Seolah berkata melalui pandangan nya,


dapatkan restu dari orangtuanya atau setidaknya berpacaran dengannya sebelum aku benar-benar mengirimmu untuk menjinakkan Bom.


lalu berjalan ke arah luar mall menuju mobil mewah milik nya yang berada di parkiran.


Dengan sigap sekertaris Hanz mengambil alih menggendong Melisa dalam dekapan nya. seperti menggendong seorang bayi.


yah tubuh kekar nan atletis sekertaris Hanz bukan lah suatu masalah jika hanya menggendong melisa. bahkan 5 hari 5 malam dia sanggup tanpa melepaskan gadis itu.


sementara beberapa pengunjung yang tengah berkerumun itu mengalihkan kameranya mengikuti tuan muda Yu yang berjalan ke luar dan sebagian lainnya Masi tetap ke arah sekertaris Hanz dan calon istri masa depannya itu.


******


**


bersambung...