My Unexpected Husband

My Unexpected Husband
sahabat terbaik



Adelia mulai menyendok nasi ke piring makan dan mengambil beberapa lauk yang ia masak sendiri dan mulai sarapan pagi.


sendok pertama pun masuk ke mulutnya,


" uhuk uhuk, puih...., masakan apa ini. aku bisa membunuh suamiku jika menghidangkan masakan ini kepadanya " ucap Adelia setelah menelan sendok pertama makanan hasil karyanya itu dengan di bantu segelas air.


usaha pertamanya gagal total. lauk yang baru saja dia masak begitu buruk rasanya.


dia seperti meminum air laut.


sementara untuk Nasi sendiri, dia sudah bisa memasaknya di penanak dengan baik.


sebelumnya dia sudah sering membantu suaminya di dapur untuk menanak nasi. dan hanya itu saja yang Adelia bisa lakukan dengan baik.


Dia mengambil ponselnya lalu memesan beberapa jenis makanan dari online tanpa nasi.


tidak berselang lama pesanannya datang, Adelia pun langsung sarapan.


setelah selesai, dia mengambil ponselnya lalu menghubungi pak Ahmadi ayahnya.


dia hendak meminjam mobil perusahaan bersama seorang sopir untuk mengantarnya mengelilingi kota untuk mencari fikhy suaminya.


beberapa menit Adelia menunggu dan datang juga akhirnya mobil yang dia pinjam dari ayahnya.


sewaktu pak Ahmadi bertanya perihal peminjaman mobil, Adelia berbohong bahwa dia dan suaminya akan jalan jalan ke arah pusat kota. Dia takut kalau dia jujur ke ayahnya untuk mencari fikhy suaminya yang telah pergi dari sehari yang lalu.


mobil pun melaju ke arah jalanan tanpa tujuan.


mereka hanya akan berkeliling untuk mencari keberadaan fikhy.


jam berputar begitu cepat, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 16:50


Adelia dan sopirnya masih berkeliling mencari fikhy. bahkan makan siang pun Adelia lupa.


di tempat lain, Mira Nia dan jejhe telah selesai dengan pekerjaan mereka dan hendak menuju ke rumah sahabat mereka itu.


setibanya di depan pagar rumah pak Ahmadi, mereka langsung di sambut sekuriti yang memang sudah mengenal tiga gadis itu.


si sekuriti pun membuka pagar gerbang dan mempersilahkan mereka masuk.


di dalam rumah, pak Ahmadi dan pak Munir sekertaris nya sedang duduk di ruang tamu.


" selamat sore om" ucap jejhe


" eh nak jejhe, Mira, Nia. selamat sore. ada apa nak? "


" om, kak Lia nya ada? sejak kemarin kami menghubungi nya namun tidak ada respon " ucap jejhe


" iyah om, apakah dia baik baik saja? " ucap Mira menimbal


" Iyah om, kami menghawatirkan nya. Tadi dia tidak masuk kerja " ucap Nia.


mendengar penuturan ketiga sahabat Adelia ini, pak Ahmadi mengerutkan dahi.


" apakah Lia tidak memberi tahu kalian kalau dia sudah menikah?!!! dia tidak tinggal disini lagi nak. dia sekarang tinggal bersama suami nya. " ucap pak Ahmadi


mendengar ini, ketiga sahabat Adelia itu langsung kaget bukan main.


ternyata benar yang di katakan sahabat mereka itu bahwa dia telah menikah. namun ketiga gadis ini malah tidak mempercayai nya.


mereka saling bersitatap satu dengan yang lain.


jejhe pun mengambil ponselnya lalu menunjukkan sebuah foto ke arah pak Ahmadi.


" om, apakah pria ini suami kak Lia? " sembari menunjukkan foto fikhy yang di ambilnya diam diam.


" Iyah nak jejhe, mereka telah menikah sejak empat bulan yang lalu "


seketika tubuh jejhe melemas,


dia ambruk di ruang tamu rumah pak Ahmadi dengan air mata yang mengalir deras di wajahnya.


dia sangat menyesali perbuatannya yang telah mencintai suami sahabatnya.


Mira dan Nia juga langsung mengeluarkan air mata dan memeluk jejhe yang kini terduduk di lantai,


setelah ketiga gadis itu selesai mengeluarkan kesedihan dan rasa bersalah mereka dengan air mata, mereka langsung meminta alamat Adelia lalu berpamitan dan segera beranjak dari rumah pak Ahmadi ke rumah Adelia dan suaminya.


di sepanjang jalan, ketiga gadis itu tak hentinya mengeluarkan air mata.


mereka sangat menyesali apa yang telah mereka lakukan terhadap sahabat mereka.


sesampainya di alamat yang di berikan pak Ahmadi, ketiga gadis itu langsung masuk dan memarkirkan motor yang mereka kendarai di halaman rumah lalu mengetok pintu rumah Adelia.


ketiga nya bergantian mengetok dan memanggil namun tidak ada respon dari dalam.


ketiganya pun memutuskan untuk menunggu beberapa waktu kedepan lagi.


Di dalam sebuah mobil, Adelia mengenali dua buah sepeda motor dari arah jalan masuk ke rumah nya.


sontak hati adelia sedikit senang melihat ketiga sahabat nya sedang duduk di atas motor menunggu kedatangan nya.


ternyata mereka lah memang sahabat ku yang terbaik.


gumam Adelia dalam hati.


mobil berhenti di depan pagar rumah Adelia, Adelia turun dari mobil dan mobil pun berlalu dari situ.


ketiga sahabatnya melihat Adelia turun dari mobil sambil berjalan ke arah mereka dengan wajah sedih dan tubuh yang gontai memelas.


wajah Adelia terlihat sangat pucat dan mata nya bengkak. badannya pun langsung kurus padahal baru sehari di tinggal pergi.


( orang bilang, di tinggal pas sayang sayangnya


" Mira, Nia jejhe. apa kabar kalian? " tanya Adelia yang agak kebingungan karena dia tidak pernah memberitahukan alamatnya ini


jejhe pun langsung berjalan ke arah Adelia dan langsung memeluk nya di susul Mira dan Nia sembari menangis.


" Lia, maafkan kami. kami benar benar merasa bersalah terhadap mu " ucap Mira sambil menangis dan masih dalam keadaan berpelukan keempat sahabat itu.


" Iyah kak Lia, maafkan kami. waktu itu kami tidak memercayai kak Lia " ucap jejhe menyambung kata sambil terisak


" Iyah Lia, tolong maafkan kami " ucap Nia menimbal.


" tidak apa-apa sahabat ku tersayang, itu semua salahku. aku malu waktu itu mengakui kebenaran nya " ucap Adelia


" kalian sama sekali tidak bersalah, aku lah yang berbohong sejak awal dan memberikan harapan palsu ke kalian bertiga. harusnya tak ku lakukan hal itu. kini aku sendiri lah yang menderita, aku baru menyadari bahwa empat bulan lebih bersamanya telah membuat hatiku mencintai fikhy. namun kini dia telah pergi meninggalkan ku. hiks hiks hiks hiks," sambung Adelia di iringi pecahnya tangisan.


" maksud mu apa Lia? " tnya Nia


" fikhy telah pergi sehari yang lalu, kami bertengkar dan aku mengusirnya, hiks...hiks...hiks.. " suara tangisnya semakin memiluhkan.


" aku sendiri juga bingung, dia tidak seperti ini.


biasanya kalau kami bertengkar dan aku memarahinya, dia yang selalu meminta maaf dan membujukku meski dia tidak salah. hiks hiks hiks " ucap Adelia sesegukan.


karena dia semakin merasa hatinya seperti semakin di sayat oleh pisau silet yang sangat tajam. begitu perih rasanya.


tangisan Adelia pun pecah di pelukan ketiga sahabatnya itu.


dia menangis terisak isak.


ketiga sahabatnya pun jadi ikut ikutan menangis.


..


.


Di tempat lain,


di sebuah bengkel kecil. terlihat seorang gadis cantik sedang di Bantu pria tampan memperbaiki sebuah sepeda motor yang tampak hancur bagian depannya. tak lain adalah motor fikhy yang mengalami kecelakaan beberapa waktu silam.


motor itu tampak cukup menyedihkan. bagian depannya mengalami kerusakan yang cukup parah.


mereka saling bekerja sama dengan baik meski fikhy tidak mengerti apapun tentang urusan bengkel.


waktu terus berputar, tak terasa waktu sudah mulai gelap.


kedua orang itupun berbenah dan kemudian menutup bengkel.