My Unexpected Husband

My Unexpected Husband
istri kejam



Adelia begitu heran dengan apa yang di lihatnya ketika dia masuk ke dalam rumah.


seorang pekerja buruh pelabuhan memiliki sebuah rumah permanen bertipe 36 dengan dua kamar tidur, satu ruang tamu yang telah di isi sofa minimalis, sebuah kamar mandi yang cukup luas dan sebuah ruang makan.


di pojok belakang, ada sebuah dapur yang cukup luas juga, bisa membuat orang yang sedang memasak cukup merasa nyaman.


Di dalam kamar utama, terdapat sebuah lemari pakaian yang sudah berisi pakaian wanita yang seukuran tubuh Adelia. dan juga sebuah kursi bersama meja rias yang disana sudah ada perlengkapan kecantikan wanita. Adelia begitu tertegun melihat hal ini.


wauawwww, seorang buru pelabuhan dengan rumah nya. aneh,...


saya aja di gaji segitu dari kantor belum punya rumah pribadi. ucap Adelia sembari matanya Masi melihat lihat sekeliling.


Di kamar itu juga sudah ada buthcafer dan tempat tidurnya.


sempat Adelia berpikir bahwa semua barang ini adalah milik mantan istri fikhy, tadinya dia berpikir bahwa suaminya itu seorang Duda muda. Namun dia segera menepis semua pikiran buruknya itu.


pasalnya di beberapa pakaian yang di dalam lemari Masi merekat Lebel dan merk dari pakaian tersebut.


tak lama kemudian fikhy suaminya masuk,


" dek, itu semua adalah milikmu, kakak telah mempersiapkan jauh hari sebelumnya " ucap fikhy sambil menunjuk ke arah lemari dan meja rias.


" hmmmm, terimakasih " ucap Adelia singkat.


sebenarnya Adelia begitu terkejut dan kagum dengan suaminya, namun lagi lagi egoh mengalahkan nya.


" apakah kamu ada kesibukan? ada yang ingin aku bicarakan "


ucap Adelia yang kemudian berjalan ke arah ruang depan yang merupakan ruang tamu, lalu dia duduk di sofa yang ada di sana.


" ada apa dek" ucap fikhy sembari duduk di sofa berhadapan dengan Adelia.


" kita langsung ke intinya saja. mengacu pada surat persyaratan yang kamu buat, aku tidak ingin tidur seranjang denganmu. apakah kau keberatan ? jika kamu keberatan, maka aku akan kembali ke rumah ayahku." ucap Adelia datar tanpa ekspresi.


" tidak apa-apa dek, itu memang kamarmu. kakak menyediakan kamar itu dengan segala keperluan mu, jadi itu memang kamar khusus untuk mu " ucap fikhy santai dengan senyum yang merekah di bibirnya.


" lalu bagaimana denganmu? " ucap Adelia lagi dengan wajah datar tanpa ekspresi.


" tenang saja dek, Kaka akan tidur di kamar belakang, Kaka sudah membeli karpet dan selimut " ucap fikhy


" lalu bagaimana dengan status kita? maksudnya aku akan memperkenalkan kamu kepada para sahabat ku jika suatu saat kita bertemu tanpa sengaja ?"


" terserah adek saja "


" hmppppp, bagaimana jika kukatakan kalau kamu itu Kaka sepupu ku, apakah kamu keberatan ? "


" tidak dek, sama sekali tidak. jangankan sebagai sepupu, adek kenalkan Kaka sebagai seorang suruhan ayah juga tidak apa-apa" ucap fikhy sambil tersenyum manis ke arah istrinya.


sementara Adelia sudah jengkel, dia kehabisan kata untuk menyerang suaminya.


" baiklah" ucap Adelia sembari berjalan menuju ke arah kamarnya dengan wajah kesal.


" maaf dek " suara fikhy menghentikan langkah Adelia. namun Adelia tidak menoleh ke arahnya.


" mau makan malam apa? biar kakak pesan kan. " ucap fikhy lagi


" apa aja, terserah kamu" jawab Adelia ketus sambil masuk ke kamarnya dan langsung mengunci pintu kamar.


sebenarnya hati fikhy begitu sakit serasa di iris oleh ratusan silet tajam, dia merasa sedih dengan istrinya yang selalu bersikap dingin terhadap nya.


..


.


beberapa menit berlalu, pesanan fikhy pun tiba. dia membayar pesanannya itu lalu membawanya ke ruang makan.


tok tok tok , suara ketukan di pintu kamar Adelia


" permisi dek Lia, ayo makan. makanya udah datang " ucap fikhy dari balik pintu.


Adelia yang masih memainkan ponselnya di kamar Masi jengkel


" gak usah sok prihatin. makan saja duluan, saya nanti aja " jawab Adelia ketus.


" baiklah dek, kakak makan duluan yah. jangan lupa makan nanti. makannya ada di meja makan yah. " ucap fikhy sembari berjalan ke arah ruang makan.


Setelah selesai makan malam sendirian, ponsel fikhy berdering. dia langsung mengangkat telepon itu.


tak lama berselang dia berjalan kembali menuju ke arah kamar Adelia lalu berbicara dari balik pintu


" dek, kalau mau tidur nanti jangan lupa kunci pintu rumah yah. kakak mau berangkat kerja " ucap fikhy berpamitan pada istrinya tanpa di gubris sedikitpun oleh istrinya itu,


lalu keluar rumah berjalan menuju motornya yang terparkir di garasi.


dia pun melajukan motornya ke arah jalan menuju tempat kerja.


beberapa menit berlalu Adelia yang sedang berada di kamarnya pun keluar menuju ruang makan, perutnya sudah keroncongan meminta di isi.


Dia memakan makanan itu tanpa memanaskannya.


setelah selesai makan, dia kembali kedalam kamarnya untuk beristirahat.


Dia menuju toilet, setelah beberapa saat diapun keluar dari toilet.


tiba tiba dia terpikirkan untuk melihat suaminya itu.


Adelia berjalan ke arah kamar belakang, berharap suaminya sudah tertidur disana. dia mencoba membuka pintu kamar itu dan benar saja, kamar tersebut tidak di kunci.


namun apa yang dia cari tidak ada disana.


mungkin dia tiduran di sofa ruang tamu. ucap Adelia dalam hati ketika melihat kamar suaminya kosong.


Dia pun berjalan ke arah ruang tamu dan lagi lagi dilihatnya kosong. tidak ada juga disana suaminya itu.


ehh... disini juga gak ada, belum pulang kerja juga yah...


hmppppp sudahlah, lagian untuk apa aku mikirin dia.


cerotos Adelia lagi dalam hatinya.


kemudian dia berjalan lagi ke arah kamarnya untuk melanjutkan tidur..


..


.


pagipun tiba,


pukul 06:15 pagi Adelia terbangun dari tidurnya. dia hendak ke kamar mandi.


dia hendak beranjak dari tempat tidur namun hidung nya mencium suatu aroma yang begitu menggugah selera.


ternyata suaminya sedang menyiapkan sarapan pagi mereka.


kapan dia pulang kerja? trus kapan dia tidur.??


jam segini udah masak sarapan.


ucap Adelia dalam pikirannya.


namun lagi lagi ego mengalahkan Adelia, dia berjalan ke arah handuknya lalu langsung menuju ke kamar mandi untuk mandi.


Beberapa menit kemudian dia keluar dengan handuk yang melilit tubuhnya dan langsung menuju ke kamarnya.


sementara fikhy suaminya telah selesai menyiapkan sarapan pagi mereka. lalu dia mengajak istrinya itu untuk sarapan bersama, dan lagi. fikhy harus makan sendiri. istrinya menolak untuk makan bersama.


hati fikhy begitu sakit mendapatkan perlakuan seperti ini dari istri kesayangannya.


Namun dia tidak berdaya, hanya senyum yang berusaha ia pertahankan untuk tetap mekar di wajahnya yang terlihat lelah dan lesu.


sampai kapan kamu akan terus dingin seperti ini dek,...


Fikhy pun selesai dengan sarapan nya.


dia kembali berpamitan kepada istrinya untuk berangkat kerja, dan lagi. dia tidak di gubris sama sekali oleh istrinya.


akhirnya dia pergi bekerja dengan tidak semangat.


jam telah menunjukkan pukul 12:45, fikhy baru saja tiba di rumah dari tempat kerjanya. dia hendak memasak untuk makan siang mereka berdua.


fikhy berjalan ke arah dapur dan hendak memasak untuk dirinya dan istrinya itu.


namun dia begitu terkejut ketika melihat makan yang tadi pagi dia masak untuk sarapan tidak tersentuh sedikitpun, itu berarti Adelia istrinya tidak sarapan. mungkin lebih tepatnya tidak memakan makanan yang sudah sepenuh hati dia siapkan.


semalam dia pulang dari bekerja pukul dua subuh, hanya tidur beberapa saat kemudian sudah memaksakan tubuh nya untuk bangun lebih awal agar bisa menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. untuknya dan istrinya.


namun kenyataannya istri kesayangannya itu malah tidak menghargai sedikitpun usahanya.


terlihat jelas di wajah fikhy guratan kekecewaan dan kesedihan.


namun lagi, dia berusaha tetap tersenyum.


Pria itu tetap melanjutkan kegiatan memasak nya meskipun dia tau bahwa Adelia tidak akan menyentuh masakan nya itu.


setelah selesai, dia langsung menyiapkan masakan nya itu ke meja makan dan menutup nya kembali dengan penutup makan lalu mengambil makanan yang tidak di sentuh istrinya itu lalu membawanya ke dapur.


di dapur, dia menuangkan nasi goreng buatannya tadi pagi itu ke piring makannya.


dia menatap piring makan dengan nasi goreng di atasnya dengan senyum kepahitan di iringi air mata yang jatu menetes.


dek,, mengapa kamu begitu kejam. jika kamu tidak mencintaiku, setidaknya hargai sedikit usahaku.


setelah selesai makan, fikhy pun berjalan pergi kembali ke tempat kerja dan kali ini tidak berpamitan. hatinya sakit.


fikhy mengambil motornya di garasi lalu melajukan kendaraannya itu dengan kecepatan maksimal, dia berusaha melepaskan rasa sedihnya dengan mengebut di jalanan.


..


**


Bersambung,.....