
" pa, aku titp adek malam ini disini dulu yah, aku masih harus kembali ke tempat kerja. sebentar akan ada kapal yang masuk. lumayan buat nambahin uang jajan adek nanti. " ucap fikhy yang kemudian di balas oleh pak Ahmadi
" baiklah Nak, berhati-hati lah saat bekerja. tetap utamakan keselamatan. "
ucap pak Ahmadi.
" terimakasih ayah " ucap fikhy sembari berjalan meninggalkan pak Ahmadi di ruang tamu.
tak berselang lama, pak Ahmadi pun masuk ke kamarnya untuk beristirahat. hari ini memang dia begitu merasa capek yang luar biasa.
..
**
keesokan paginya
Adelia terbangun dari tidurnya, dia mencoba melihat sekeliling untuk melihat keberadaan suaminya, fikhy.
Namun Adel begitu terkejut ketika mendapati bahwa dia sendirian di kamarnya.
" Mana dia? bukankah seharusnya dia mengambil sesuatu yang merupakan haknya sebagai suami?
ahh pria sialan, ternyata benar kamu orang baik. batin Adelia.
Dia bangun lalu berjalan ke arah lemari, seperti biasanya. Dia menyapa foto kak Yu yang ada di lemari itu.
" selamat pagi kak Yu., apa kabar? seperti nya kita hanya akan berteman jika kakak datang suatu saat nanti." ucap Adelia kepada sebuah foto dan kemudian berjalan ke arah ruang ganti, mengambil handuk lalu berjalan ke arah kamar mandi dan melakukan kebiasaan buruknya.
Berendam air hangat lama lama dalam bathtub.
beberapa menit pun berlalu, akhirnya Adelia turun dari lantai 2 untuk menuju ruang makan. dia hendak sarapan.
di sana pak Ahmadi dan sekertarisnya pak Munir Tenga sarapan.
melihat kedatangan Adelia, pak Munir menghentikan sarapan lalu hendak berdiri mempersilahkan Nona mudanya namun di hentikan Adelia.
" tidak apa-apa pak Munir, saya bisa sendiri. lanjutkan saja sarapan nya pak" ucap Adelia sopan sembari duduk di kursi samping ayahnya.
" terimakasih Nona muda " ucap pak Munir sembari duduk dan melanjutkan sarapan
" Lia, maaf ayah dan pak Munir tidak menunggu sarapan bersama. ada beberapa urusan di kantor yang harus segera di selesaikan " ucap pak Ahmadi
yah, memang di rumah itu kegiatan makan bersama sangat di prioritaskan. pasalnya hanya di saat seperti itulah anggota rumah bisa bersama.
mereka selalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
" tidak apa-apa ayah, lalu mana kak fikhy ? maksudnya suami Adelia " tanya Adelia kepada pak Ahmadi ayahnya. mulutnya masih belum terbiasa dengan suamiku.
mungkin dia masih tidur kali yah. ucap Adelia dalam hatinya. dia berpikir bahwa suaminya itu tidur di kamar tamu.
" oh, itu,... suami mu semalam pergi ke pelabuhan tempat kerjanya. katanya ada kapal yang masuk, jadi dia pergi bekerja "
ucap pak Ahmadi
" oh iya nak, jangan lupa kemasi barang mu yah, sebentar suami mu akan menjemput mu pulang ke rumah kalian. nanti ayah akan menyuruh pak Munir untuk mengantarkan kalian. " sambung nya.
ehhhh apaaa....
bahkan di malam pertama dia meninggal kan ku sendirian dan pergi bekerja?
pria sialan yang aneh. tapi tidak apa-apa, itu lebih baguskan. aku tidak perlu melayani nya.
gerutu Adelia dalam hati
" iyah ayah, beberapa pakaian lia telah Lia siapkan ke dalam koper, sebentar tinggal mengangkut nya ke dalam mobil. "
" baiklah kalau begitu" ucap pak Ahmadi menutup percakapan mereka.
Pak Ahmadi dan sekertarisnya telah selesai dengan sarapan mereka, lalu beranjak dari meja makan meninggalkan Adelia yang masih berkutat dengan sarapan nya.
mereka berdua pun berjalan ke arah mobil dan setelah nya langsung berangkat ke kantor.
sementara tak lama kemudian Adelia juga selesai dengan sarapan nya, berbincang beberapa saat dengan bi Mila lalu beranjak menuju kamarnya di lantai 2.
Seharian ini dia hanya bermalas-malasan karena memang dia Masi cuti untuk empat hari kedepan.
tak terasa waktu berputar begitu cepat, sekarang pukul 12:45 ketika Adelia terbangun dari Bobo siangnya.
Dia berjalan menuruni tangga menuju ruang makan, dan lagi lagi dia terkejut melihat seorang pria tampan sedang duduk menunggu nya di ruang meja makan, si fikhy. seorang pria yang telah resmi menjadi suami nya.
Dia pun berjalan ke arah suaminya itu.
" sudah lama menunggu " ucap Adelia datar.
meskipun Adelia tidak jadi mempermalukan suaminya itu kemarin di acara nikah, bukan berarti Adelia telah menerima nya secara keseluruhan.
pasalnya pria ini sama sekali tidak di kenalnya. di tambah lagi tidak ada cinta dan profesi sang suami yang belum bisa di terima dengan baik oleh Adelia.
sontak yang di tanya memalingkan pandangannya ke arah suara
" ohh adek, tidak apa-apa. kak juga belum lama sampai dan langsung menuju ke sini. tadi di perjalanan cuaca begitu panas, jadi kakak masuk mencari air buat minum " jawab suami nya ..
" oh " jawab Adelia singkat lalu duduk bersama di ruang makan.
bi Mila telah selesai mempersiapkan makan siang dan mempersilahkan nona dan tuan barunya itu untuk makan, sementara bi Mila kembali ke dapur untuk berberes beres.
untuk sementara waktu kedepan bi Mila harus bekerja ekstra, pasalnya Melisa baru akan kembali seminggu lagi.
Hal seperti ini memang sudah terjadi dari beberapa tahun sebelumnya, jadi bi Mila memang sudah terbiasa jika ponakannya pulang kampung.
Di meja makan, suasana yang dulunya begitu hangat kini berubah drastis.
sempat terjadi kecanggungan di antara pasangan suami istri itu.
Adelia sama sekali tidak melayani suaminya itu seperti seharusnya yang di lakukan seorang istri, namun fikhy suaminya memaklumi akan hal itu.
mungkin Adelia belum terbiasa.
Beberapa menit berlalu dan akhirnya makan siang mereka pun selesai.
" maaf dek, apakah ayah telah memberi tahu mu " ucap fikhy, berusaha mencairkan suasana.
" hmmmm " jawab Adelia datar
" baiklah jika begitu "
kembali keadaan terasa canggung, sifat Dingin Adelia kembali terlihat.
Hal itu membuat suaminya bingung memulai percakapan.
" bolehkah aku meminjam ponsel mu? aku akan menelepon ayah untuk memberi tahu kalau kamu sudah datang. tadi ayah berpesan untuk menghubunginya jika kamu sudah datang. ayah akan menyuruh pak Munir mengantarkan kita " lagi lagi Adelia berucap datar tanpa ekspresi.
memang tadi sebelum Adelia turun untuk makan siang, dia mengecas ponselnya di lantai 2 kamarnya.
" oh Iyah, nih" ucap fikhy sembari memberikan ponselnya kepada istrinya dengan senyum yang tulus.
mengapa wanita ini begitu dingin terhadap ku?
ah,.. mungkin karena baru pertama. mungkin kedepannya dia akan sedikit melunak.
" nih, sebentar lagi pak Munir tiba" ucap Adelia lagi dengan wajah datar tanpa berterima kasih kepada suaminya.
sedingin itukah hatimu nona cantik?!! baiklah
aku akan berusaha untuk meluluhkan hati keras mu itu.
ucap fikhy lagi dalam hatinya sembari tangannya menerima ponsel yang di kembalikan Adelia.
Tak berselang lama pak Munir tiba, mereka berdua pun bergegas.
Adelia berjalan menaiki tangga menuju kamarnya yang di ikuti sang suami dari belakang.
" eh, mau apa kamu? apa yang mau kamu lakukan? " ucap Adelia ketika telah berada di depan pintu dan merasa sedang di ikuti.
Dia lupa bahwa pria yang di belakang nya ini adalah suaminya.
" dek, kan kakak sekarang suamimu, kakak rasa tidak masalah kalau kakak membantu mu mengemasi barang-barang yang hendak dibawa" ucap fikhy lembut kepada istrinya.
lagi lagi kecanggungan tercipta di antara mereka.
" tidak ada yang perlu di kemasi, saya telah menyiapkan dari beberapa hari lalu " ucap Adelia ketus. ego mengalahkan kebaikan hatinya selama ini.
Dia benar-benar tidak bisa menerima status dan profesi suaminya itu.
" kamu hanya perlu menenteng nya keluar " sambung Adelia datar
" oh baiklah dek, mana yang harus kakak bawah ?" tnya fikhy lembut
" ada di dalam " sembari Adelia membuka pintu kamarnya.
sebenarnya Adelia merasa malu dan risih karena sebelumnya kamar ini tidak pernah di masuki oleh siapapun selain Melisa yang masuk untuk merapikan saja. Di tambah lagi dengan keadaan kamar Adelia bag kapal pecah. berantakan minta ampun.
melihat hal ini suaminya hanya tersenyum simpul. dia memaklumi keadaan istrinya ini.
Pak Ahmadi memanjakan Adelia sampai sampai merapikan tempat tidur nya saja tidak bisa.
sontak Adelia berusaha untuk mencoba melipat selimut dan merapikan tempat tidur nya, beberapa kali dia mencoba namun tidak bisa Serapi yang di buat Melisa. dia pun mendengus kesal.
melihat istrinya kewalahan, fikhy pun berinisiatif untuk membantu, sebelumnya dia telah memindahkan dua koper milik Adelia ke depan pintu luar kamar.
satu koper Adelia berukuran besar dan satunya lagi berukuran sedang.
fikhy berjalan ke arah Adelia yang bersusah payah merapikan tempat tidurnya.
" dek, sini biar kakak yang merapikan. kamu tunggu di depan pintu aja " ucap fikhy kepada sang istri.
" emang bisa" ucap Adelia datar
" hmmmm, kakak usahakan."
tak berselang lama, fikhy telah selesai merapikan tempat tidur itu, dan sama persis seperti di rapikan Melisa.
hal ini sontak membuat Adelia terkejut dan kagum
ehh,, bahkan pekerjaan seorang Art bisa di lakukan nya. ucap Adelia dalam hati sambil tersenyum simpul.
setelah selesai merapikan tempat tidur,
mereka pun berjalan menuruni tangga menuju lantai satu, dengan fikhy yang berjalan di depan dengan kedua koper Adelia di tangannya. dia menenteng koper itu bagaikan tidak ada isinya. terlihat begitu mudah dia menuruni tangga dengan kedua benda berat itu
sementara Adelia yang berjalan di belakang nya tertegun,
seperti tidak ada isinya aja dia menenteng koper itu ucap Adelia dalam hatinya.
setelah tiba di lantai satu, fikhy langsung berjalan ke arah halaman depan rumah di mana mobil pak Munir telah menunggu dengan kedua koper di tangannya,
sedangkan Adelia masuk ke arah dapur mencari bi Mila lalu berpamitan.
Adelia berjalan menuju ke arah mobil yang di dalamnya pak Munir dan suaminya sedang mengobrol.
Adelia pun langsung masuk dan duduk di kursi belakang, karena memang Fikhy suaminya harus duduk di depan memandu pak Munir di kursi kemudi.
mobil pun melaju ke arah jalanan yang memang padat dengan beberapa pengguna jalan lainnya.
" rumah ku tidak terlalu jauh dari sini pak, sekitar 4 sampai limapuluh menit perjalanan " ucap fikhy kepada pak Munir yang tengah menyetir mobil.
sementara Adelia di kursi belakang duduk bersandar dengan pikirannya.
seperti apa rumah pria ini, jangan bilang dia membawaku ke sebuah gubuk kumuh Reok milikinya. aku tidak sanggup...
...
.
sekitar satu jam perjalanan akhirnya mereka tiba di sebuah jalan masuk ke perumahan, terlihat beberapa rumah minimalis berjejeran.
sudah ada beberapa yang terisi, namun masih ada beberapa yang masih kosong.
seperti nya ini perumahan yang baru saja selesai di bangun.
Di kursi belakang Adelia ketiduran.
tak lama kemudian mobil berhenti di sebuah halaman rumah.
Adelia pun kini telah terbangun dari tidurnya.
dia mengucek matanya dan menguap pelan lalu turun dari mobil.
Betapa terkejutnya Adelia ketika melihat apa yang ada di depannya.
sebuah rumah tipe 36 yang berdesain klasik dan minimalis.
ternyata pikiran buruknya selama di mobil tadi salah total.
pasalnya gubuk yang di pikirnya akan menjadi tempat tinggalnya itu adalah sebuah rumah minimalis, dengan sedikit halaman depan dan garasi mobil di sampingnya dan telah di pasang pagar keliling.
di garasi dia melihat sebuah sepeda motor matic yang terlihat kusam dan sepertinya sudah di beli dari 4 atau 5 tahun lalu karena bentuknya yang agak mengenaskan dengan beberapa goresan di bodi motor itu.
" ehh adek,.. udah bangun " ucap fikhy yang baru saja keluar dari dalam rumah meletakkan koper ke dalam kamar mereka. dan kemudian melihat istrinya sudah berdiri di samping mobil yang terparkir di halaman rumah itu.
" hmmmm " ucap Adelia singkat.
" mana pak Munir? " tanya Adelia kemudian
" ada di dalam dek, pak Munir menumpang toilet sebentar " jawab fiky sembari tersenyum tulus
tak berselang lama pak Munir pun keluar dan langsung berpamitan untuk kembali ke perusahaan.
setelah mobil pak Munir pergi, fikhy berjalan ke arah pagar lalu menutup nya. sementara Adelia sudah masuk ke dalam rumah baru mereka.
....
**
Bersambung,......