My Unexpected Husband

My Unexpected Husband
Pria sialan calon suamiku



Di sebuah kamar di lantai 2 seorang gadis cantik yang sedang berbaring sambil memandang langit langit kamarnya belum juga tertidur.


dia Masi kepikiran dengan sosok pria calon suaminya itu..


bagaimana sosoknya si pria sialan itu ya? aku kok jadi penasaran..


apakah dia punya hidung untuk bernafas.?


apakah wajahnya memiliki bentuk.?


bagaimana dengan kejiwaannya yah..?!! jangan sampai dia stegi lagi ( stegi \= setengah Gila )


waduh.... gawat dah...


semua pikirkan yang tidak baik timbul di pikiran Adelia terhadap calon suaminya itu, sampai akhirnya dia terlelap tidur dengan pikiran joroknya sendri..


*****


senyum mentari pagi yang menampakkan cahayanya di sambut dengan semangat baru dan harapan untuk lebih baik lagi oleh orang orang yang siap melakukan pekerjaan meraka untuk kelangsungan hidup mereka.


Berbeda dengan seorang gadis cantik yang masih terlelap dalam tidurnya, terbungkus dengan selimut dari ujung kaki sampai ujung rambutnya yang menambah kesan nyaman bagi siapa saja yang ada di dalamnya.


yah,... nona muda anak dari pengusaha Ahmadi Wijaya Masi bergelut dalam bobok manisnya.


sementara itu, pak Ahmadi dan sekertaris pribadinya pak Munir telah berada di ruang makan menunggu nona muda untuk sarapan pagi bersama.


pak Ahmadi mengangkat lengannya setara dada, menyingkap lengan Jaz lalu melirik jam di tangannya, sekarang sudah


pukul 07:20, sudah hampir 20 menit dia dan sekertaris nya menunggu Adelia agar sarapan bersama.. namun belum ada tanda tanda kedatangan Adelia.


mungkin kah Lia telah sarapan duluan tanpa menunggu ayah.?!


gumam pak Ahmadi dalam hati..


" Melisa..,,, " panggil pak Ahmadi kepada Art muda nya itu..


Melisa yang sementara mencuci pakaian di mesin cuci mendengar namanya di panggil, segera melepaskan kerjaan nya lalu sambil berlari kecil menuju asal suara yang menyebut namanya.


" ya tuan " ucap Melisa sopan setelah sampai di hadapan pak Ahmadi.


" apakah Adelia sudah sarapan duluan tadi.? " tanya pak Ahmadi kepada Melisa


" sepertinya belum tuan " ucap Melisa sopan.


" bisakah kamu mengecek nya di kamar atas? sepertinya dia Masi bergelut dengan kebiasaan buruknya yang suka berlama-lama berendam dalam kamar mandi. katakan padanya ayah dan pak Munir menunggu nya untuk sarapan bersama, dan berangkat kerja " ucap pak Ahmadi lagi


pak Ahmadi dan putrinya sering berangkat bersama ke tempat kerja di antar oleh pak Munir, sekertaris pak Ahmadi dan juga merupakan sopir pribadinya.


meskipun di rumah ini ada 2 motor yang di beli pak Ahmadi untuk berjaga jika para pelayan ada keperluan mendadak di luar, namun Adelia tidak bisa menggunakan nya karena dia tidak tau naik motor.. jadi ke 2 motor itu menganggur di garasi.


" baik tuan " ucap melisa sopan sambil berlalu dari tempat nya berdiri.


dia berlari pelan menaiki tangga menuju lantai 2 kamar nona mudanya,


" tokk tok tok.. " suara ketukan pintu di kamar Adelia.


" tok tok... tok... tokk...tok... permisi nona " kali ini durasinya bertambah di iringi dengan suara nya.


" TOKK.. TOK.. TOK.. TOK . TOKK... PERMISI NONA " kali ini durasinya sama namun volume nya agak sedikit naik..


hmmmppttt, mungkin nona sedang mandi kali yah.. gumam Melisa dalam pikirannya.


melihat tidak ada respon dari dalam kamar nonanya, Melisa pun berinisiatif masuk.


Dia memegang gagang pintu dan membukanya.


benar saja, pintu kamar tidak di kunci.


dia bergegas masuk dan betapa terkejutnya dia ketika melihat Nona mudanya Masi terlelap tidur terbungkus selimut dari ujung kaki sampai ujung rambut.


Memang di dalam rumah ini semua Art di beri akses bebas keluar masuk di setiap ruangan di rumah ini tanpa terkecuali.


pak Ahmadi dan Adelia sangat percaya kepada kedua pembantu itu.


Melisa berjalan ke arah jendela samping tempat tidur Adelia dan kemudian menyingkap gorden lalu membuka jendela kamar itu, membuat udara segar pagi masuk ke dalam kamar.


lalu dia duduk di tempat tidur samping Adelia yang terbungkus selimut.


" hy nona cantik, ayo bangun. ayah dan pak Amir sedang menunggu Mu di ruang makan untuk sarapan bersama " ucap Melisa sambil menggoyang lembut tubuh Adelia yg terbungkus selimut. lalu menyingkap selimut itu dari tubuh Adelia dari atas kepalanya.


selain wajah mereka yang sangat mirip, Adelia dan Melisa pembantunya itu juga sangat kompak.


tidak jarang pula Adelia mengajak Melisa untuk menemaninya pergi berbelanja atau sekedar jalan jalan di mall.


Adelia juga sering membelikan Melisa pakaian.


memang Adelia dan Melisa sudah bersahabat sejak kedatangan Melisa di rumah ini sebagai Art mereka.


Namun bi Mila sering melarang Melisa untuk tidak terlalu akrab dengan majikannya itu.


bi Mila takut jika Melisa terlalu akrab dengan nona muda dia akan tidak tau diri dan mengurangi rasa hormat Melisa terhadap Adelia, nona muda Mereka.


sebaliknya, Melisa malah semakin segan dan hormat terhadap Adelia karena kebaikan Adelia terhadapnya.


yang di bangunkan dari tidurnya tampak menggeliat menandakan dia sudah setengah terbangun dari tidurnya. lalu duduk bersandar di sandaran tempat tidur itu.


" hngggg Lisa, ada apa? kenapa membangunkan saya sepagi ini " ucap Adelia sembari meregang kan kedua tangannya. mengumpulkan nyawa nya yang belum kembali ke tubuhnya.


" kak Lia, ini sudah jam 07:30 kak, kakak gak kerja? " ucap Melisa


" ayah dan pak Amir menunggu kak Lia untuk sarapan bersama di bawah " sambungnya lagi.


mata Adelia terbelalak mendengar perkataan Lisa, dia memalingkan wajah dari Melisa kemudian menatap jam dinding di kamar itu.


sontak dia kaget dan terkejut.


" PRIA SIALANNNNNNNN "


Adelia berteriak keras sambil meremas rambutnya.


kemudian dia lompat dari tempat tidur duduknya, berlari ke arah ruang ganti, menyambar handuknya yang tergantung di sana lalu menuju kamar mandi untuk mandi.


sementara Melisa langsung merapikan tempat tidur ketika Adelia sudah masuk ke kamar mandi untuk mandi.


Pria sialan..?!! siapa dia..? perasaan kak Lia gak pernah cerita deh soal laki - laki, pacar atau kekasih.


sudahlah. bukan urusan ku ahhh.. gumam Melisa dalam hati.


setelah merapikan tempat tidur Melisa pun kembali turun ke lantai bawah, lalu menuju ke tempat mesin cuci. karena dia Masi sementara mencuci pakaian.


sebelumnya dia memberitahukan pak Ahmadi bahwa Adelia akan turun sedikit lagi.


15 menit berlalu.


kini Adelia sudah memakai pakaian kerjanya dan bersiap ke tempat kerja.


" selamat pagi kak Yu, aku berangkat kerja dulu yah.


oh iyah kak Yu, lihatlah,.. belum menjadi suamiku dia telah mengusahakan ku. si pria sialan itu " Adelia berbicara kepada foto yang ada di dalam lemari riasan nya itu. Dengan wajahnya yang tampak kesal.


seakan foto itu mendengar perkataannya.


yah, menyapa foto ini setiap hari sejak kepergian kak Yu nya 17 tahun lalu sudah merupakan rutinitas Adelia sebelum dia memulai segala sesuatu.


bagaimana tidak, sebangun tidurnya yang pertama dia sapa adalah foto ini.


meskipun foto ini sudah berusia 17 tahun tetapi masih awet sampai sekarang.


bagaimana tidak, dia menjaga foto ini bagaikan dia menjaga nyawanya.


***


Adelia berjalan setengah berlari menuruni tangga rumahnya sambil menggerutu.


mulutnya terlihat seperti mengunyah sesuatu didalam nya.


*pria sialan..


pria sialan... sumpah, aku sudah membenci mu sebelum aku melihat mu. baru mengetahui namamu saja telah membuatku sial selama 2 hari ini.


semalam aku tidak bisa tidur, dan sekarang... aku hampir saja terlambat ke tempat kerja.


...........


***** bersambung.....


hy readers, pembaca yang bijak selalu meninggalkan jejak yah..


😁😁😁😁❤️❤️