
Sabtu, 01 feb 2*20.
waktu berlalu begitu cepat,
tak terasa hari ini Adelia akan menikah dengan pria yang di pilih ayahnya dan harus mengubur dalam dalam harapannya untuk menunggu kedatangan kak Yu nya menjemput.
Adelia juga telah meminta cuti dari kantor tempat ia bekerja selama seminggu dengan alasan urusan keluarga.
pukul 16:15
Rumah Adelia kini cukup ramai dengan beberapa orang dari pihak keluarga terdekat pak Ahmadi yang menghadiri pernikahan itu.
mereka semua telah duduk berkumpul di ruang tamu dan ruang keluarga yang hendak menjadi ruangan untuk ijab qobul.
kedua ruangan itu sebenarnya berada dalam satu ruangan yang di batasi oleh sebuah lemari penyekat sebagai pemisah dari kedua ruangan itu.
sebelum nya, pak Ahmadi menyuruh beberapa orang dari perusahaan untuk memindahkan lemari itu ke sudut ruangan, sehingga kedua ruangan itu menjadi satu untuk proses ijab qobul anaknya.
pernikahan ini sendiri hanya berupa ijab qobul tanpa resepsi karena mengacu pada surat persyaratan yang sebelumnya telah di setujui pak Ahmadi tanpa sepengetahuan Adelia.
15 menit kemudian Adelia turun dari lantai 2 kamar menuju ke ruang tempat ijab qobul yang di mana pak penghulu sudah duduk disana. Adelia pun di giring duduk di depan pak penghulu.
Adelia menggunakan gaun pengantin berwarna biru muda yang yang di belinya di sebuah butik.
tak tanggung-tanggung harga dari gaun pengantin itu, karena memang terlihat mewah. secara, anak pengusaha nomor 2 di daerah itu.
sewaktu di tangga, Adelia sempat mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu, dia hendak mencari keberadaan calon suaminya, namun tidak ada kelihatannya.
lalu Adelia tersenyum simpul ke arah pak Ahmadi kala itu yang sedang menatap nya.
Dia juga mengenali beberapa tamu undangan yang memang hanya beberapa orang dari keluarga terdekat saja, dan beberapa orang staf penting di perusahaan pak Ahmadi.
sekitar 20 menit berlalu, namun belum terlihat ada tanda-tanda kedatangan pengantin pria.
" tuan Wijaya, sudah hampir setengah jam kita disini menunggu pengantin pria, saya masih ada beberapa urusan di tempat lain tuan " ucap si penghulu kepada Pak Ahmadi.
" maaf pak penghulu, bisakah anda menunggu beberapa menit lagi?!! " ucap pak Ahmadi dengan wibawanya. lalu mengambil ponsel dari sakunya dan berdiri dari duduknya.
" kita tunggu 30 menit lagi, jika dia belum datang, maka kita batalkan pernikahan ini" sambung nya yang kemudian berjalan ke arah teras depan rumah untuk menelepon fikhy, calon menantunya yang di ikuti pak Munir dari belakang.
mendengar penjelasan ini, hati Adelia langsung berbunga bunga. dia merasa senang jika hal itu terjadi.
Namun di sisi lain hati nya juga merasa sedih setelah dia melihat guratan wajah pak Ahmadi yang terlihat sedih. beberapa dari antara tamu undangan juga sudah mulai berbisik mencibir antara satu dengan yang lain.
Di teras depan rumah, pak Ahmadi terlihat gelisah. pasalnya nomor yang di telpon nya tidak aktif.
guratan wajah nya terlihat sedih dan kecewa, sampai akhirnya senyum manis mekar di wajah pria paru baya itu.
Mata pak Ahmadi menangkap sosok pria tampan yang mengenakan jas pengantin senada dengan gaun yang di kenakan oleh Adelia putrinya.
" maafkan saya ayah mertua, ada sedikit kendala dalam perjalanan, dan saya lupa mengechas ponsel saya " pria itu berbicara sembari menunjukkan ponsel nya yang dalam keadaan mati total.
" ah, tidak apa-apa nak. mari masuk, kami telah menunggu mu." ucap pak Ahmadi lembut dengan senyum kebahagiaan di wajah nya
mendengar percakapan pak Ahmadi dengan seseorang di teras depan rumah yang di yakini bahwa calon suami Adelia telah tiba, sontak para tamu undangan yang hadir saat itu langsung memalingkan wajah mereka ke arah pintu.
mereka terkejut ketika melihat sosok pria tampan berkulit sawo matang dengan hidung mancung dan mata sipit, bibirnya tipis dan seksi.
tinggi badan dari pria ini sekitar 185 cm atau lebih.
" inikah suami kak Lia ? yah ampun, tampan banget. aku juga mau " ucap seorang anak gadis berusia sekitar 15 atau 16 tahun yang juga merupakan tamu undangan yang hadir saat itu.
" ehh bocah ingusan, bicara apa kamu. itu calon suami Kaka mu tau" ucap seorang wanita paru baya Kepada putri nya yang terpesona oleh kehadiran fikhy yuan, suami Adelia. calon suami maksudnya.
sementara Adelia langsung menundukan kepalanya.
" akhirnya datang juga lu pria sialan" gerutu Adelia dalam hati sembari menundukkan kepalanya dalam.
bukan karena malu, Adelia memang sudah jengkel karena menunggu tadi, dan juga dia memang tidak ingin melihat wajah calon suaminya itu, malas.
Pengantin pria yang baru saja datang pun menebar pesona dengan senyuman lalu duduk di samping mempelai wanita yang sudah resah menunggunya.
" maaf yah dek, sudah menunggu lama" ucap fikhy kepada Adelia pelan. hanya mereka berdua yang mendengar nya.
tanya penghulu kepada pengantin pria
" kita langsung saja pak, " ucap fikhy tegas
" baiklah " ucap penghulu itu lagi.
tak lama kemudian acara ijab qobulpun selesai dengan suara lantang dan tegas fikhy berucap tanpa satupun kesalahan kalimat.
" bagaimana saksi?!! sah?? "
" Saaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhh......." ucap mereka serempak.
yah ampun, cincin pernikahan nya... aku lupa mengambil nya tadi di laci lemari.
aduh, bagaimana ini... ucap fikhy dalam hati. Seketika wajah mempelai pria ini berubah drastis. dia tampak kebingungan
sementara Adelia masih tertunduk, tubuhnya memelas,
penantian selama 17 tahun pun pupus.
bukan karena yang di nantikan mengkhianati Adelia, melainkan Adelia yang menikah duluan.
sebenarnya hati Adelia juga sangat capek. makanya dia menerima pilihan ayahnya dan mencoba menerima kenyataan hidup.
acara pun di lanjutkan dengan dengan prosesi tasyakuran. dan kira kira tiga jam berlalu dan acara pun selesai.
sebelum nya, pak Ahmadi telah memberi tahukan kepada penghulu mengenai masalah cincin pernikahan dan profesi menantunya itu.
sebenarnya bisa saja pak Ahmadi membelikan cincin pernikahan terhadap anak dan menantunya itu. namun pak Ahmadi lebih mengarah kepada bagaimana usaha fikhy untuk membahagiakan putri tunggal kesayangannya itu.
disisi lain, fikhy sangat bersyukur karena acara pemakaian cincin pernikahan memang di lewatkan dan tidak sama sekali di singgung.
sementara Adelia, ini adalah kesempatan untuk mempermalukan fikhy, pria yang kini telah sah di mata hukum dan agama sebagai suaminya.
akan tetapi tidak di lakukan nya. meskipun Adelia tidak menyukai pria ini namun dia tidak sampai sejauh itu akan bertindak. Dia berusaha menjaga perasaan ayahnya yang begitu di cintai dan di sayangi Adelia.
Pria yang telah bersusah payah merawat nya sendiri sejak kecil.
tak beberapa lama keadaan rumah kembali stabil, tamu undangan sudah pulang kembali ke rumah mereka masing masing.
Adelia pun berjalan kembali ke arah kamarnya di lantai 2, di temani bi Mila yang mengikuti dari belakang.
setiba di kamar nya, Adelia melepaskan perhiasan yang menempel di tubuhnya dan kemudian mengganti pakaiannya menggunakan piyama tidurnya.
Dia telah siap dengan segala konsekwensinya yang telah sah menjadi istri dari pria yang tidak ia kenal. termasuk memberikan tubuhnya jika suaminya datang dan meminta hubungan suami-istri. Adelia lupa dengan salah satu poin dari surat persyaratan bahwa suaminya tidak akan menyentuh Adelia jika tidak ada izin dari Adelia.
Dan sebenarnya, isi dari surat persyaratan pernikahan itu lebih banyak menguntungkan Adelia sendiri secara sepihak.
karena kecapean, Adelia yang sedari tadi menunggu kedatangan suaminya sembari memainkan ponselnya kini sudah terlelap dalam tidurnya.
Di lantai satu, fiky dan pak Ahmadi mertuanya Masi asik berbincang mengenai pekerjaan.
tak berselang lama fikhy pun berpamitan.
" pa, aku titp adek malam ini disini dulu yah, aku masih harus kembali ke tempat kerja. sebentar akan ada kapal yang masuk. lumayan buat nambahin uang jajan adek nanti. " ucap fikhy yang kemudian di balas oleh pak Ahmadi
" baiklah Nak, berhati-hati lah saat bekerja. tetap utamakan keselamatan. "
ucap pak Ahmadi.
" terimakasih ayah " ucap fikhy sembari berjalan meninggalkan pak Ahmadi di ruang tamu.
tak berselang lama, pak Ahmadi pun masuk ke kamarnya untuk beristirahat. hari ini memang dia begitu merasa capek yang luar biasa.
.......
..
Bersambung.........