
Di Kediaman Leonardo, Mami dan papi tampak membicarakan sikap kurang ajar Jia. Kedua paruh baya itu merasa Jia tak menghargai mereka berdua.
"Mami jadi menyesal membesarkan dia Papi. " gerutu Mami jengkel.
"Sudahlah Mi, jangan terus menerus membahas Jia. Mami hanya akan kesal dengan gadis tak tahu diri itu. " sahut Papi.
"Oh ya Pi, papi sudah tahu di mana keberadaan Hanna? "
Papi menggeleng. Hal itu tentu saja membuat Mami kembali bersedih. Wanita paruh baya itu menghembuskan nafas berat. Dia begitu khawatir dengan keadaan putri sulungnya.
Drap
drap
"Mami, Papi. "
Keduanya menoleh dan terkejut. Mami lekas bangkit, segera menghampiri putri yang dia rindukan. Keduanya saling berpelukan setelah itu mengobrol di ruang tamu.
Hanna tentu saja memasang wajah sendunya di hadapan kedua orang tuanya.
"Mami hiks. " ucap Hanna dengan lirih.
"Kenapa sayang, ada apa nak? " Mami tampak khawatir dengan putrinya.
"Aku hamil. " ungkap Hanna.
Jder
Seperti di sambar petir di siang hari, mami dan papi tampak terkejut dengan pengakuan putrinya. Mami langsung mendesak sang anak untuk bicara namun Hanna menggeleng.
Wanita itu menangis terisak dalam pelukan sang mami. Mami Kania tampak frustasi dan bersedih dengan apa yang di alami putrinya saat ini.
"Katakan sayang siapa ayah dari anak yang kau kandung? " tanya Mami dengan tatapan tajamnya.
"Dia hiks, dia Bryan ma. " ungkap Hanna. Mami Kania dan Papi Arnold tentu saja tertegun mendengar jawaban dari putrinya. Hanna menjelaskan bagaimana selama ini kedekatannya dengan Bryan.
Papi Arnold mengumpat pelan. Pria paruh baya itu mengeluarkan ponselnya kemudian menghubungi sang menantu. Setelah selesai dia menyimpan ponselnya dalam saku celana.
Beberapa menit berlalu Bryan datang memenuhi undangan mertuanya. Pria itu tersentak kaget melihat sosok Hanna di depannya. Papi Arnold langsung bangkit dan mendekati menantunya.
Bug Paruh baya itu melayangkan pukulannya. Bryan tentu saja terkejut dengan apa yang di lakukan sang mertua.
"Apa apaan ini? " geram Bryan.
"Kamu yang apa apaan, brengshake kamu Bryan! "
"Saat ini Hanna hamil anak kamu. " ujar Papi dengan sorot tajamnya. Bryan membulatkan mata mendengar pernyataan mertuanya. Pria itu menoleh, menatap tajam keatas Hana. Dia tentu saja tak terima dengan apa yang di tuduhkan mertuanya.
Bryan sendiri lekas mendatangi Hanna kemudian menyeretnya dengar kasar. Pria itu langsung mengarahkan tangannya pada leher Hanna.
"Berani beraninya kamu menuduh
aku! "
"Bryan. " pekik Mami dan Papi terkejut.
Hanna berusaha melepaskan cekikan tangan Bryan. Pria itu langsung menghempaskan Hanna ke lantai dengan keras. Mami lekas menolong putrinya sambil menangis.
"Keterlaluan sekali kamu, Bryan. " bentak papi.
Bryan mengeluarkan ponselnya lalu mengirim video ke nomor sang mertua.
"Sebelum berbicara dan menurutmu, lihat sendiri video yang aku kirim. " ketus Bryan dengan raut wajah datar nya.
Setelah urusannya selesai Bryan meninggalkan kediaman sang mertua. Moodnya saat ini begitu buruk akibat perbuatan Hanna. Papi Arnold langsung memeriksa ponselnya.
Deg
Plak
"Papi. " jerit mami.
Papi Arnold begitu kecewa dengan. apa yang di lakukan putri kandungnya. Hanna tentu saja terkejut, dia berusaha menenangkan sang papi. Namun justru mendapatkan tamparan untuk kedua kalinya.
"Kamu benar benar anak tak tahu diri Hanna. Bagaimana bisa kamu menipu papi dan mami? " bentak Papi dengan keras.
"Apa maksud papi, jelas jelas ini anaknya Bryan. " sahut Hanna dengan kekeh.
"Lihat video ini. " sentaknya lagi. Papi menunjukkan videonya. Hanna pun mengambil ponsel sang papi dan memeriksa. Wanita hamil itu sontak terkejut, tubuhnya bergetar hebat. Dia menjatuhkan ponsel sang papi. Hanna langsung menangis, menyakinkan kedua orang tuanya jika Bryan lah ayah dari bayi yang dia kandung.
Tuan Arnold begitu kecewa dengan sang anak. Pria paruh baya itu kembali mengamuk, setelah itu pergi dari sana.Mami Kania memeluk dan berusaha menenangkan sang putri. Dia lekas bangun dan membantu Hanna berdiri.
"Kita duduk dulu sayang. " ucap Mami.
Setelah berada di sofa, Hanna kembali menangis dalam pelukan sang mami. Mami Kania merasa iba dan prihatin dengan putrinya itu. Saat ini tak ada yang bisa dia lakukan selain menenangkan diri lebih dahulu.
Satu jam berlalu
Hanna menghapus air matanya dengan kasar. Wanita itu meminta bantuan sang mami. Mami Kania tentu saja akan melakukan apa saja untuk putrinya itu.
"Sebaiknya kita manfaatkan kehamilan kamu untuk menghancurkan Jia. " ungkap Mami Kania.
"Apa mami yakin hal itu akan berhasil? "
"Percayalah sayang, kita coba
dulu! "
Hanna mengangguk pelan. Diam diam dia menyeringai miring tanpa di sadari sang mami. Wanita itu tengah menjalankan rencana licik di balik semua dramanya. Dia merasa sedikit tenang saat ini. Tangannya terulur menyentuh perutnya yang masih rata.
"Mam, aku pamit ke kamar ya. " ujar Hanna
"Pergilah sayang, tenangkan diri kamu. " balas Mami Kania.
Hanna lekas beranjak, berjalan pelan menuju ke kamarnya di lantai dua. Dia lekas masuk ke dalam kamarnya lalu menguncinya dari belakang.
Dia menaruh tasnya di atas meja. Wanita itu menyentuh lehernya. Hanna semakin tertarik dengan Bryan, dia sama sekali tak peduli dengan resiko yang akan dia terima.
Di sisi lain
Jia baru selesai mengobati luka memar di wajah suaminya. Wanita hamil itu begitu khawatir dengan Bryan. Bryan mengecup keningnya dengan lembut, mengatakan jika dirinya baik baik saja.
"Aku enggak papa sayang, jangan cemas hm. " pinta Bryan.
"Tapi aku takut kehilangan kamu
mas. " cicit Jia. Bryan mengulas senyumnya, hatinya menghangat saat istrinya mencemaskan dirinya. Pria itu lekas memeluknya dari samping, tangannya membelai perut buncit Jia.
Cup calon hot daddy itu mencium istrinya agar tenang. Terbukti Jia membalas ciuman sang suami. Tak lama keduanya mengakhiri ciuman mereka.
Bryan memilih membahas hal lain agar istrinya segera lupa. Pria itu tak ingin membuat Jia stres dengan masalahnya. Selain itu Bryan juga tak akan membiarkan Hanna menyakiti istrinya.
"Maafin aku sayang, sepertinya aku harus bersikap lebih posesif padamu. Hanna telah kembali, takutnya wanita itu akan menyakiti kamu nantinya. " gumam Bryan dalam hati.
Jia sendiri menghembuskan nafas berat. Dia berusaha mengontrol dirinya agar tetap tenang. Wanita itu menuruti perintah sang suami. Kali ini dia memilih mengalah, tak ingin memicu perdebatan hingga tercipta pertengkaran lagi.
Dia meminta maaf pada sang suami, membenamkan kepalanya di dalam rengkuhan Bryan. Kini keheningan melanda keduanya. Jia larut dalam pikirannya sendiri begitu juga sebaliknya.
Tak lama Katty dan Aston datang menghampiri keduanya. Bryan membiarkan istrinya mengobrol dengan Katty. Setidaknya berhasil menahan emosinya di depan sang istri agar Jia tak semakin curiga.
"Aku akan menjagamu dengan sekaut tenaga aku. "