
Zoya telah pulang ke rumah di antar oleh Riger. Gadis itu berdecak pelan melihat sang kakak yang telah menunggunya.
"Munafik." sindir Cleo dengan tatapan datarnya.
"Maksud kakak apa ngatain aku kayak gitu. " pekik Zoya.
"Kenapa kamu harus merebut Rigel dari aku Zoy, padahal kamu tahu kalau aku cinta sama Rigel. " sahutnya penuh kekecewaan.
Cleo terus berbicara mengungkapkan apa yang dia rasakan terhadap Rigel, serta kekecewaannya pada Zoya. Zoya mengusap wajahnya kasar lalu menyeret kakaknya masuk ke dalam menuju ke ruang tamu.
Di sana dia menghempaskan tangan Cleo dengan kasar di depan sang papi. Papi Haidar tentu saja terkejut, menatap kedua putrinya secara bergantian.
"Ini masalah perjodohan antara aku dan Rigel, Papi. Cleo tak setuju, dia menyukai Rigel. " ungkap Zoya tanpa basa basi.
"Kalau kamu suka, kenapa selama ini diam saja Cleo? " tanya Papi Haidar pada putri sulungnya.
Cleo tetap bungkam, dia seakan tak memiliki alasan untuk menjawab pertanyaan sang papi. Papi membuang nafas berat, memijit kepalanya yang terasa pusing.
"Perjodohan ini sudah ada sejak opa dan omamu masih ada. " ujar Papi menjelaskan.
Zoya memilih pergi ke kamarnya. Dia enggan berdebat dengan kakaknya lalu lagi lagi di salahkan. Cleo kembali berdecak pelan, gadis itu merengek pada papinya agar menukar pasangan.
"Papi tolonglah, biar aku saja yang di jodohkan dengan Rigel. " pintanya dengan wajah memelas.
drap
drap
"Tapi aku yang tidak mau di jodohkan dengan kamu, Cleo! "
Keduanya tersentak melihat kedatangan Rigel. Laki laki itu menyapa calon mertuanya tersebut. Sorot matanya tampak tajam, tertuju untuk Cleo.
"Hanya Zoya yang aku inginkan, tak akan ada yang bisa mengubahnya. " tegas Rigel.
Cleo harus menelan kekecewaan mendengar pernyataan laki laki pujaannya. Gadis itu berusaha mencari perhatian Rigel dengan caranya. Rigel sama sekali tak peduli dengan raut wajah gadis di hadapannya saat ini.
"Semua hal di dunia ini tak selalu oamu dapatkan Cleo. Kau tahu selama ini Zoya selalu menolakku karena dia memikirkan kamu. "
"Tapi kamu justru semakin egois. Kamu benar benar saudara yang begitu buruk untuk Zoya! "
"Selama ini kau selalu mendapatkan apa yang kau mau dari Om Haidar, lalu bagaimana dengan Zoya? "
Kini suasana tampak sunyi setelah Rigel berbicara fakta mengenai Zoya. Papi Haidar sendiri merasa bersalah pada anak keduanya. Pria paruh baya itu terlalu memanjakan Cleo hingga melupakan Zoya.
"Oh ya satu hal lagi, akhir akhir ini Zoya merindukan sosok mendiang tante Vira, mommy nya. "
Deg
Cleo dan papinya tampak tertegun mendengar pernyataan terakhir mengenai Zoya. Setelah urusannya selesai Rigel langsung pamit pulang. Papi Haidar merasakan sesak setelah mendapati kenyataan mengenai putri bungsunya.
Tepat pukul tujuh malam, Rigel kembali datang. Laki laki itu datang menjemput Zoya, dia lebih dulu meminta izin. Keduanya lekas masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan kediaman Angkasa.
visual Zoya dan Rigel
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampai di sebuah hotel. Keduanya segera turun dari mobil, Rigel menggandeng kekasihnya hingga ke dalam.
"Hey bro, siapa wanita cantik di sebelahmu ini? " tanya Matthew pada Zoya.
"Zoya, my girlfriend. " jawabnya dengan nada sombong. Semua orang tercengang, menatap kearah Zoya tak percaya.
"Ish, harusnya kamu pakai gaun tertutup, aku enggak rela aset berhargaku di lihat pria lain . " ceplosnya.
"Dasar ngaku ngaku. " Zoya pun mencubit lengan Rigel dengan pelan. Rigel melototi setiap teman temannya yang menatap penuh puja Zoya nya.
"Enggak aku sangka kamu cantik juga Zoy. " puji Matthew. Zoya menanggapinya dengan senyuman. Rigel sendiri semakin kepanasan, dia tak suka pria lain memuji kecantikan Zoyanya.
Gelak tawa terdengar dari bibir para laki laki teman satu kampus Rigel. Salah satu dari mereka menanyakan perihal Cleo. Banyak yang tahu tentang Cleo yang terus menerus mengejar Rigel.
Rigel mengajak sang kekasih berkeliling, lalu keduanya mengambil minuman. Zoya tak suka dengan wine dan sejenisnya.
"Sudah lepasin tangan kamu dari pinggangku. " gerutu Zoya.
Rigel sama sekali tak peduli. Pemuda itu begitu posesif pada si cu eh si cantik Zoya. Dia merasa perlu menjaga ketat gadisnya dari para buaya jantan yang ada di sekitarnya.
Laki laki itu tak berhenti mengomel sendirian. Zoya menoleh, menatap lekat wajah masam Rigel. Dia hanya bisa tertawa melihat wajah calon tunangannya tampak kusut.
"Nikmati saja pestanya Rigel. Lagipula bukannya jiwa playboymu meronta ronta di sini. Banyak gadis cantik dan seksi, kau tinggal meluncurkan jurus mautmu. " celetuknya santai.
"Cih, tertawa saja terus. " ketus Rigel jengkel.
Tawa Zoya langsung meledak. Gadis itu tentu saja terhibur dengan aksi konyol Rigel. Dia kembali meminum jus orange, lalu menatap sekitarnya. Pandangannya tertuju pada Cleo yang datang bersama Davin.
"Kak Cleo datang. " gumam Zoya.
Rigel langsung menoleh, raut wajahnya berubah datar. Keduanya memilih kembali mengobrol biasa. Cleo menarik Davin menghampiri Rigel dan Zoya.
"Hai Rigel. " sapa Cleo dengan senyuman lebarnya.
Rigel hanya menanggapi dengan deheman. Davin sendiri menyapa Zoya dengan basa basinya. Keduanya memilih mengobrol, mengabaikan kelakuan Cleo yang cukup memalukan.
Dia berdecak pelan, meraih pinggang Zoya kemudian memeluknya. Gadis itu meliriknya tajam namun di abaikan Rigel. Laki laki itu tak suka Zoya mengabaikan dirinya.
"Kenapa kalian mengabaikan aku sih. " protes Cleo sambil menghentakkan kakinya kesal.
"Ya kelakuan kamu saja bikin malu, malaslah berdekatan dengan kamu Cle. " ketus Rigel.
Zoya langsung menyenggolnya. Kedua mata Cleo berkaca kaca, dia menatap sendu kearah Rigel. Davin menghela nafas berat, melihat drama yang di mainkan oleh Cleo. Laki laki itu memilih menarik calon tunangan dan mengajaknya menjauh.
Setelah kepergian Cleo, Rigel pun bernafas lega. Zoya langsung mencubiti lengan Rigel dengan kesal.
"Harusnya kamu tak ngomong seperti tadi Rigel. " omel Zoya.
"Biarkan dia sadar, sikapnya itu merepotkan orang lain. " jawab Rigel dengan santai.
Huh
Keduanya kembali menikmati pestanya. Rigel mengajak Zoya berdansa bersama pasangan lainnya. Lagi lagi Rigel mencari kesempatan dalam kesempatan. Zoya tentu saja tak membiarkan Rgel menciumnya lagi.
Larut malam, keduanya ke luar dsn pamit pulang pada Matthew dan lainnya. Rigel melajukan roda empatnya meninggalkan area hotel. Zoya berulang kali telah menguap.
"Kalau ngantuk tidur saja, Zoy zoy baby. " ucap Rigel.
"Berhentilah memanggilku dengan panggilan mengelikan itu, Tuan
Jelly. " protes Zoya. Gadis itu segera memejamkan mata. Belum sempat Rigel menyela, Zola sudah tertidur.
Rigel menghela nafas berat, memilih fokus ke depan. Dia lebih dulu mengantarkan Zoya ke rumah gadis itu setelah itu langsung pulang.