
Hari demi hari di lalui Jia dengan suka cita. Kediaman Davidson dan Smith tampak berbahagia atas kelahiran cucu mereka.
Gareth Jayden Smith dan Giordan Zayden Smith
Putra kembar dari Jia dan Bryan. Jia begitu terharu melihat kedua putranya lahir dengan selamat. Bryan mencium istrinya penuh cinta, mengumamkan kata terima kasih pada wanitanya. Seorang ibu pasti akan rela bertaruh nyawa demi sang buah hati agar terlahir ke dunia.
"Sekarang aku resmi menjadi seorang ibu. " gumam Jia dengan menitikkan air mata. Bryan mengulas senyumnya, kembali menciumi sang istri dengan suka cita. Pria itu berkali kali mengumamkan kata terimakasih atas perjuangan lua biasa dari Jia.
Semua orang tampak terharu terutama mommy Agatha dan daddy Alan. Mereka telah menjadi seorang oma dan opa sekarang.
Jia bersandar di kepala ranjang di bantu suaminya. Wanita itu meminta sang suami memberikan salah satu putranya. Bryan tenru saja menuruti permintaan sang istri. kini baby Gio berada dalam gendongan mommy tercinta.
"Mommy akhirnya bisa menggendong kamu sayang. " ucap Jia dengan senyuman lebarnya. wanita itu tak berhenti menciumi pipi sang anak. tak lama dia pun menyerahkan Gio pada Bryan. Bryan menaruh putranya kembali ke dalam box bayi. Keduanya kembali mengobrol di sana.
Sore harinya kini giliran Rigel dan tunangannya yang datang menjenguk sang kakak. Keduanya memberikan selamat pada Jia dan Bryan.
Di sisi lain Hanna telah tersadar dari komanya. Wanita itu ternyata telah kehilangan ingatannya saat ini. Saat ini dia di temani kedua orang tuanya.
"Mami sangat senang melihat kamu sudah sadar nak setelah koma berbulan bulan lamanya. " ujar Mami Lea.
"Kalian siapa? "
"Hanna, kami berdua orang tua kamu nak. " sahut mami Lea yang menyebutkan nama dirinya dan sang anak.
Hanna menyentuh kepalanya yang terasa sakit. Mami Lea berusaha menenangkan nya. Papi sendiri lekas memanggil dokter untuk memeriksa keadaannya.
Dokter datang, segera memeriksa keadaan Hanna saat ini. Setelah selesai dokter menjelaskan jika Hanna telah pulih dan hanya perlu istirahat dan tak perlu terburu buru mengembalikan ingatannya.
Setelah Dokter pergi, Mami meminta sang anak untuk istirahat. Hanna hanya bisa mengangguk patuh. Wanita itu membuang nafas berat, penasaran dengan semua memori ingatannya yang telah dia lupakan.
"Mami ceritakan padaku, apa saja yang terjadi selama ini? " tanya Hanna.
Mami langsung melirik suaminta yang memberi kode agar tidak mengatakan kebenaran. Mami pun menurut, kembali fokus pada putrinya lalu memberikannya sedikit nasehat. Hanna mengangguk, segera memejamkan mata.
Mami bernafas lega, menatap sendu kearah sang anak. Dia terpaksa menyembunyikan kebenaran pada sang anak. Sudah cukup lama Hanna terus menganggu kehidupan Jia selama ini.
"Dengan kamu amnesia, setidaknya kamu tak akan menganggu Jia lagi nak. " batin wanita paruh baya itu.
back to back
Gelak tawa mewarnai ruangan rawat Jia. Rigel tak henti hentinya menggoda sang tunangan hingga membuat Zoya kesal. Gadis itu memilih mengobrol dengan Jia, berusaha menghindari Rigel.
"Oh ya kak, si kembar sangat tampan. Kalau boleh tahu siapa nama mereka? " tanya Zoya.
"Gareth dan Giordan. " jawab Jia dengan senyuman di bibirnya.
"Wah nama yang keren. Semoga si kembar kelak tak memiliki sikap usil seperti unclenya yang menyebalkan itu. " sindir Zoya pada calon suaminya.
Rigel terkekeh pelan mendengar sindiran sang kekasih. Bryan menggeleng pelan melihat kelakuan adik iparnya. Pria itu lekas bangkit, mengajak Rigel ke luar setelah berpamitan pada Jia.
Setelah kepergian para pria, dua wanita beda usia itu melanjutkan obrolan random mereka. Samar samar dering ponsel menyita perhatian keduanya. Zoya mengambilkan ponsel milik calon kakak iparnya.
"Tante baik nak. Hanna saat ini sudah sadar, hanya saja dia kehilangan ingatannya. " ujar nyonya Lea.
Jia terkejut mendapatkan kabar ini. Dia turut merasakan sedih, wanita itu mengatakan tak bisa hadir karena baru melahirkan. Beberapa saat berlalu Jia mengakhiri sambungan teleponnya. Zoya langsung mengambilnya lalu menaruhnya di atas meja.
Setengah jam berlalu para pria kembali dan membawakan makanan. Bryan lekas menyuapi istrinya makan. Zoya sendiri lekas makan dengan lahap sambil memperhatikan si kembar.
Tepat malam harinya, hanya Bryan yang ada di dalam ruangan menemani istri dan anak anaknya. Banyak hal yang mereka bahas dan diskusikan bersama.
"Mas, besok aku bisa pulang belum mas? " tanya Jia pada suaminya.
"Tiga hari lagi sayang. " jawab Bryan. Jia langsung cemberut mendengar jawaban sang suami. Bryan tersenyum tipis, menciumi istrinya dengan gemas.
oek
oek
Bryan lekas meraih si kecil Gareth lalu menyerahkan pada sang istri. Jia dengan sigap segera memberikan nya asi. Calon wajah hot daddy itu tampak memelas melihat putranya yang begitu rakus. Dia hanya bjsa bersabar dan mengalah dengan kedua putranya.
Usai minum, Jia mengusap dan mengecupi tangan mungil putranya dengan penuh kelembutan. Gareth kecil kembali terlelap dalam pelukan sang mommy.
Dengan hati hati dia segera menyerahkan Gareth pada Bryan. Pria itu menaruh putranya kembali ke dalam box. Setelah itu dia turut naik ke atas ranjang, berbaring di belakang sang istri.
"Tidur sayang. Kamu harus jaga kesehatan kamu. " bisik Bryan dengan lembut.
Jia lekas memejamkan kedua matanya. Tak lama pasangan suami istri itu tertidur pulas.
Tengah malam Jia terjaga, wanita itu turun dari ranjang dengan hati hati. Dia nenghampiri putranya yang tampak menangis. Jia lekas menggendong Gior yang langsung terdiam dalam pelukannya.
"Cup cup sayang, kenapa kamu menangis hm? "
Jia lekas menimang putranya, berusaja menenangkan sang anak. Bryan ikut terbangun, pria itu menghampiri istrinya.
Baru beberapa saat Jia menaruh Gior dalam boxnya lagi. Bryan meminta istrinya beristirahat, sementara pria itu berbaring di atas sofa.
Keesokan harinya, momny datang membawakan pakaian ganti dan sarapan untuk anak dan menantunya. Setelah berganti pakaian, Jia lekas sarapan bersama sang suami. Mommy Agatha kini tengah sibuk menggendong salah satu cucunya yang tampan.
"Selamat pagi cucu oma yang tampan. " sapa mommy Agatha. Dia lekas duduk di sofa. Daddy Alan mencium kepala sang cucu dengan penuh kasih sayang.
Selesai sarapan Jia memperhatikan interaksi orang tuanya dengan baby Gareth. Dia mengulum senyumnya, melihat orang tuanya tampak bahagia saat ini. Tak ada lagi yang dia inginkan selain kebahagian keluarga besarnya.
"Sayang kamu sudah kenyang belum? " tanya Bryan. Jia lekas menoleh kearah sang suami dan tersenyum tipis.
"Sudah mas! "
Bryan mengangguk, dia memilih fokus pada ponselnya. Dia tengah menghubungi Caleb untuk menggantikan dirinya di kantor. Saat ini mana mungkin dia meninggalkan istri dan anak anaknya di rumah sakit.