
Siang ini Rigel dan Zoya tengah makan siang bersama di Restauran. Saat ini keduanya tengah membahas perihal rencana pernikahan mereka.
Zoya tentu saja menyambut keinginan sang kekasih dengan senyuman manisnya.
"Oh ya gimana kalau pernikahan kita di bareng saja dengan pernikahan Davin dan Cleo? " tanya Zoya pada Rigel.
"Aku enggak setuju. " balas Rigel dengan cepat. Zoya tentu saja terus membujuk sang kekasih namun laki laki itu tetap kekeh dengan keputusannya. gadis itu membuang nafas berat.
Usai makan siang, keduanya pergi dari sana. Dering ponsel mengalihkan perhatian gadis itu. Zoya menunggu dengan sabar saat Rigel tengah berbicara di telepon.
Setelah selesai keduanya lekas masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan tak ada obrolan apapun di antara mereka.
Rigel mengantarkan Zoya lebih dahulu setelah itu baru pergi. Gadis itu menatap kepergian calon suami nya dengan raut sendu. Dia memilih masuk ke dalam, pergi ke ruang tamu dengan langkah gontai.
Cleo datang menghampiri sang adik. Gadis itu duduk berhadapan dengan Zoya.
"Gimana, Rigel setuju 'kan jika rencana pernikahan akan di adakan secara bersamaan? " tanya Cleo.
"Enggak kak, dia justru marah sama aku. " jawab Zoya.
"Kau bodoh tahu enggak, gitu aja gak bisa bujuk Rigel. " maki Cleo.
Plak Zoya menamparnya dengan keras. Lama lama sikap kakaknya ini semakin keterlaluan. Dia pun langsung memcengkram dagu Cleo dengan kasar.
"Sebaiknya kamu diam saja kak, atau aku akan melempar vas bunga itu ke wajah kamu. " geram Zoya dengan wajah datarnya.
Dia langsung menghempasnya hingga dahi Cleo terbentur sofa. Zoya sendiri lekas bangkit, pergi begitu saja membawa kekesalan.
Cleo meringis kesakitan. Gadis itu mengumpati kelakuan gila adiknya.Tanpa sadar kelakuan dirinya juga gila, suka merecoki hubungan Zoya dengan kekasih gadis itu.
Kini Zoya berada di dalam kamarnya. Gadis itu langsung mengirim pesan pada sang kekasih hati. Pesan itu berisi permintaan maaf darinya. Namun tak ada balasan pesan dari Rigel.
"Apa dia marah sama aku? "
Zoya lekas bangkit, pergi ke kamar mandi. Beberapa menit berlalu dia usai mandi dan berpakaian. Gadis itu kembali memeriksa ponselnya namun tak ada balasan sama sekali.
Dia melempar asal ponselnya kemudian menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Merasa lelah, kedua matanya pun mulai tertutup.
Sementara itu pria yang di pikirkan Zoya kini tampak melamun di gazebo. Rigel merasa kesal dengan sikap calon istrinya yang selalu mengalah dari Cleo. Dia pun telah memutuskan akan menunda pernikahannya dengan Zoya. Lagipula mana mau dia menikah berbarengan dengan Cleo dan Davin.
"Rigel, ada apa nak? " tanya mommy Agatha pada putranya.
Wanita paruh baya itu mendekati sang anak lalu duduk di sebelahnya. Rigel menoleh kearah sang mommy kemudian tersenyum tipis.
"Enggak ada mom. " elaknya. Mommy Agatha tentu saja tak percaya begitu saja dengan jawaban sang anak. Wanita paruh baya itu langsung mendesak sang anak untuk bicara. Rigel mau tak mau bercerita perihal kekesalannya pada Zoya.
"Jadi kamu kesal karena Zoya ingin pernikahan kalian bareng Cleo dan Davin? " tanya mommy memastikan yang di angguki Rigel.
Rigel kembali mengungkapkan, dia telah memikirkan baik baik keputusannya saat ini. Mommy sendiri hanya bisa menasehati Rigel tanpa memojokkan sang anak. Laki laki itu justru menanyakan tentang masa lalu kedua orang tuanya.
"Lalu kenapa mommy mau sama daddy? " tanya Rigel sambil menatap sekitarnya. Laki laki itu takut sang daddy mendengar pertanyaan tersebut. Mommy Agatha tertawa melihat tingkah konyol sang anak.
"Ya karena mommy cinta sama daddy kamu nak. Jika tak cinta mungkin kamu enggak akan lahir kedunia. " balas mommy sambil tersenyum.
"Iya banyak. Hal inilah yang membuat daddy kamu cemburu enggak jelas. "
Ehem
Daddy Alan mendekati anak dan istrinya. Rigel tertegun, cengengesan melihat kehadiran sang daddy. Daddy Alan langsung pun menjitaknya setelah tahu sang anak membicarakan dirinya.
"Sakit Dad. " protes Rigel.
Pria yang di panggil daddy itu memilih duduk di sebelah sang istri. Dia sengaja bermesraan dengan mommy di depan sang anak.
"Sudahlah aku jadi nyamuk di antara orang tuaku sendiri. " gerutu Rigel. Laki laki itu langsung pamit, dia berniat menjenguk sang kakak yang masih di rumah sakit.
Mommy Agatha mencubit lengan suaminya yang menertawakan putra mereka. Daddy Alan menghentikan tawanya, menikmati sore hari bersama istri tercintanya.
"Dad, Gimana kalau lusa saat Jia udah di bolehin pulang. Biarkan Jia dan si kembar tinggal bersama kita. Aku akan membantu Jia mengurus kedua cucu kita. " ucap mommy.
"Boleh saja mom, tapi diskusiin dulu sama Jia dan Bryan. " balas Daddy dengan bijak.
"Aku harap kedua cucuku tak mewarisi sikap dingin Bryan dan sikap tengil unclenya, Rigel. "
Mommy Agatha tertawa mendengar keluhan dari suaminya mengenai kedua cucu mereka. Wanita paruh baya itu menyandarkan kepalanya di pundak sang suami. Kini keduanya tampak bernostalgia mengenang masa lalu.
Tepat pukul tujuh malam, Rigel kembali. Laki laki itu segera bergabung bersama orang tuanya di ruang tamu. Dia terhenyak melihat kehadiran Zoya namun Rigel hanya diam saja. Gadis itu tentu saja sedih melihat kekasihnya mengabaikan dirinya.
"Rigel. " tegur mommy pada putranya.
Mereka mulai makan malam bersama. Belum sempat menghabiskan makanannya, Rigel langsung pergi begitu saja. Zoya menatap sendu kepergian calon suaminya.
"Ya ampun anak itu. " gerutu mommy. Wanita paruh baya itu menoleh kearah Zoya dengan nada ibanya.
"Maafin sikap Rigel ya nak, tante sudah tahu jika kalian sedang berselisih paham. "
Zoya menunduk. Gadis itu semakin merasa bersalah pada kekasihnya. Tak seharusnya dia terus menerus bersikap egois tanpa memikirkan perasaan Rigel.
"Kita lanjutkan makannya sayang, nanti bicaranya bisa di lanjutkan. "
Zoya mengangguk dan melanjutkan makan malamnya hingga selesai. Daddy Alan pergi ke kamar, membiarkan istrinya berbicara dengan Zoya. Mommy Agatha langsung mengajak Zoya berbicara di ruang tamu.
"Ini juga salah aku tante. Selama ini Rigel selalu menuruti keinginan aku dan selalu mengalah. " sesal Zoya.
"Sabar ya sayang, Rigel pasti aka memaafkan kamu nak. Sebaiknya kamu istirahat dan menginap di sini saja. " ucap Mommy Agatha.
"Enggak usah tante, enggak enak sama tetangga. " tolak Zoya dengan halus. Momny Agatha tak bisa memaksanya, diapun mengantarnya hingga ke depan. Setelah kepergian Zoya, wanita paruh baya itu menutup pintunya lalu masuk ke dalam.
Terdengar helaan nafas berat ke luar dari bibirnya. Mommy Agatha segera pergi ke lantai dua, menyusul suaminya ke kamar mereka.
Sementara Rigel tampak gelisah dalam tidurnya. Seakan ada sesuatu yang menganggu pikirannya. Namun dia mencoba menepisnya, segera memejamkan kedua matanya.