
Dani tampak marah besar, dia terus memukuli Hanna. Hanna wanita itu memohon maaf pada sang kekasih. Pria itu menyingkir, membuang nafas besar.
"Kau harus menemui Zura dan yakinkan dia jika di antara kita hanya salah paham. " ujar Dani dengan tatapan sinisnya.
Hanna memegangi wajahnya yang tampak babak belur. Wanita itu mengangguk. lalu Dani memanggil pelayan dan menyuruhnya mengantar Hanna ke kamarnya.
Dani sendiri menghempaskan tubuhnya di sofa. pria itu mengeluarkan ponsel, berusaha menghubungi istrinya.
"Si4l, ke mana pria itu membawa Zura. " umpat Dani. Dia kembali menghubungi nomor sang istri namun lagi lagi usahanya sia sia.
Pria tampan itu pun memilih menghubungi sang asisten mengenai pria yang membawa pergi istrinya. Tentu saja dia tak mau bercerai dari Zura.
Samar samar suara dering ponselnya mengalihkan perhatian Dani. Dia langsung mengangkatnya tanpa basa basi.
"Pria itu bernama Caleb Winston tuam, dia asisten dari Tuan Bryan. " ujar orang kepercayaan Dani.
Dani tersentak kaget, dia meminta orangnya untuk menyelidiki Caleb. Tanpa banyak bicara dia langsung bangkit dan ke luar setelah menyimpan ponselnya dalam saku.
Dia melajukan roda tempatnya menuju ke perusahaan Bryan.
Skip
Perusahaan Bryan
brak dia menbuka pintu ruangan kerja Bryan dengan keras.
"Di mana asistenmu yang brengshake itu? " ujar Dani dengan emosi.
"Kau siapa? " tabya Bryan dengan ekspresi datarnya.
Dani memperkenalkan dirinya, dia menyebutkan tujuannya ke sini pada Bryan. Bryan membuang nafas berat, merutuki kelakuan sang asisten yang cukup ekstrim.
"Bisa bisanya membawa lari istri orang. " batin Bryan.
"Aku tak tahu dia di mana, lagipula di luar pekerjaan itu bukan kuasaku. Jika Caleb membawa lari istrimu, berarti ada yang salah pada dirimu tuan Dani! " tegas Bryan.
Dani tampak mengepalkan tangannya. Matanya berkilat, menunjukan kemarahan pada diri pria itu saat ini. Pria itu juga memberikan ancaman pada Bryan jika menyembunyikan keberadaan Caleb.
"Aku akan melaporkan nya ke
polisi. " geram Dani.
"Silakan, tapi sebelum melaporkan asistenku ke polisi, aku akan membawa bukti mengenai dirimu dan kesalahanmu hingga membuat istrimu kabur. " tegas Bryan.
Dani tampak gelagapan. Pria itu berdecak pelan, ke luar dari ruangan Bryan sambil membanting pintu. Bryan bernafas lega lalu mengeluarkan ponselnya.
"Caleb bodoh. " maki Bryan pada asistennya. Dia segera menghubungi nomor sang asisten.
"Halo Tuan! "
"Kau di mana si4l4n. Tadi pria bernama Dani mengamuk ke perusahaan. " ujar Bryan dengan jengkel.
"Maafkan saya Tuan, saya akan segera ke perusahaan. "
Sambungan terputus, Bryan mendengus pelan. Pria itu menghempaskan tubuhnya kembali ke kursi.
Tak lama Caleb datang. Bryan lekas bangkit, menghampiri asistennya itu. Bug dia melayangkan pukulannya ke wajah Caleb.
"Ini hadiah dariku karena ulahmu membuat moodku down, Caleb. " ketus Bryan dengan tatapan sengitnya.
Caleb meringis pelan. Dia merasa tuannya sudah gila hingga menonjok wajahnya seperti saat ini. Pria itu langsung duduk begitu juga dengan Bryan.
"Jelaskan! "
Bug Bryan kembali meninju lengan sang asisten dengan tatapan tajamnya. "Untuk apa kau mengurusi urusan mantan kamu yang menjadi istri orang itu? "
"Zura meminta tolong padaku tuan, mana tega aku menolaknya. " balas Caleb beralasan.
"Halah kau masih suka pada wanita itu kan? " tanya Bryan dengan tatapan curiganya.
"Tidak tuan, saya hanya berniat menolongnya saja apalagi putrinya Zura begitu kasihan. " sahut Caleb dengan sungguh sungguh.
Bryan menghembuskan nafas berat. Dia memberikan nasehatnya pada sang asisten. Caleb kembali diam, dia menghempaskan tubuhnya ke sofa.
"Baiklah aku tak akan melarangmu menolong wanita itu dan anaknya. Hanya saja jaga batasanmu Cal, dia masih istri orang. Jika ingin mendekatinya, tunggu dulu sampai wanita itu bercerai dari suaminya. " ucap Bryan.
Kedua mata Caleb mendelik kearah sang atasan tersebut. Bagaimana bisa bosnya itu berpikir jika dia berniat memperjuangkan Zura dan Lista?
Bryan menelisik jam di tangannya, lalu dia bangkit di susul Caleb. Keduanya meninggalkan perusahaan.
Calon hot daddy itu bergegas menjemput istrinya dan mengajaknya jalan. Setelah menjemput Jia, Bryan mengajaknya pergi ke kafe.
"Kenapa mas, kok wajah kamu di tekuk kayak gitu? "
"Nanti mas ceritain sayang. " balas Bryan tersenyum tipis. Jia pun mengangguk, dia membiarkan suaminya fokus menyetir.
Skip
Bryan memesan makanan untuk dirinya dan sang istri. Dia sengaja memesan jus, mengingat Jia tak boleh minum kopi.
"Caleb membawa seorang wanita ke penthousenya. Wanita itu telah memiliki suami dan anak. " ujar Bryan. Dia menjelaskan masalah Caleb saat ini pada istrinya.
"Mungkin saja suami wanita itu berselingkuh mas, makanya dia pergi dari rumah. Seorang istri tak akan pergi tanpa sebab, dia pasti memiliki alasan kuat. " ucap Jia tanpa memojokkan asisten dari suaminya.
"Aku pun akan melakukan hal sama bila kamu selingkuh. " cetusnya.
Bryan langsung melotot kearah sang istri. Jia terkekeh pelan melihat ekspresi dari suaminya. Tak lama pesanan mereka datang. Keduanya menyudahi obrolan, memilih fokus pada makanan masing masing.
Lima belas menit berlalu mereka selesai makan. Jia mengusap perutnya yang menonjol, mulai terlihat. Wanita itu tentu saja bahagia, kehamilan kali ini dia begitu berhati hati.
Bryan mendekat, turut memberikan usapan di perut istrinya. Keduanya benar benar tak sabar menantikan si kembar lahir kedunia.
Pria tampan itu segera memanggil pelayan, menyerahkan selembar uang. Setelah itu mengajak istrinya pergi. Kali ini tujuan mereka mall, Bryan sengaja ingin membuat istrinya tak merasa jenuh.
Tiba di sana, Bryan dan istrinya menuju ke toko pakaian wanita. Pria tampan itu meminta istrinya membeli beberapa pasang lingerie. Jia hanya menggeleng, suaminya ini sama sekali tak malu. Di saat para pelayan tampak senyum senyum kearah mereka.
"Mas kamu ini, aku lagi hamil lho. " protes Jia.
"Lagipula aku sudah bertanya pada dokter sayang, asalkan mainnya pelan pasti aman. "
"Huft iya deh. " Seringai terbit di audut bibir Bryan. Dia tampak puas mihat istrinya begitu pasrah. Bryan mengajak istrinya ke kasir, membayar belanjaan mereka. Setelah selesai Jia membiarkan sang suami yang membawa belanjaannya. Wanita itu benar benar menuruti perintah Bryan.
Bryan melajukan roda empatnya dengan kecepatan sedang. Keduanya langsung pulang ke Villa, istana mereka sendiri. Sepanjang perjalanan, Jia terus mengusap perutnya.
Tiba di Villa keduanya langsung turun. Bryan menaruh barangnya di dalam kamar lebih dulu setelah itu memapah sang istri.
"Mas Bryan, aku bisa jalan sendiri. Lagipula aku tak mengunakan highheel. " ucap Jia. Bryam menanggapinya dengan senyuman, keduanya segera duduk di sofa.
"Awas saja kalau pakai heel, aku akan hukum kamu baby! "
"Aku selalu kalah kalau debat sama kamu mas. " gerutu Jia. Bryan terkekeh pelan, mencium istrinya tepat di atas bibir wanita cantik itu.