My Sexy Husband (Love Or Obsession)

My Sexy Husband (Love Or Obsession)
Bab 31 Hanna Koma



Pagi harinya kediaman Jia dan Bryan kedatangan orang tua angkatnya. Seusai sarapan, Jia langsung menemui papi Arnold dan nyonya Lea.


"Apa ada hal penting hingga tante dan om datang ke sini? " tanya Jia basa basi.


Jia telah mengubah panggilan nya pada kedua orang tua Hanna. nyonya Lea meminta maaf atas perbuatan putrinya terhadap Jia. Wanita itu dengan bijak memberikan pilihan pada nyonya Lea.


"Ak sudah memaafkan Hanna tapi hukum tetap berjalan. Selain itu Hanna juga harusnya malu dan meminta maaf pada Zura, wanita yamg dia rebut suaminya. " tegas Jia.


Mami Lea merasa malu dengan anak angkatnya ini. Selama ini dirinya selalu bersikap buruk pada sang anak. Jia sendiri selama ini menghormati dan menyayangi mereka seperti orang tua sendiri. Papi Arnold juga meminta maaf pada Jia, dia mengungkapkan segala penyesalannya.


Jia menoleh kearah suaminya dengan tatapan lekat. Bryan sendiri paham dengan arti lirikan istrinya tersebut. Pria itu merasa istrinya terlalu baik dan mudah memaafkan orang lain.


"Ish Mas Bryan, kenapa diam saja sih. " batin Jia kesal. Wanita itu tetap berusaha tenang, kembali mengobrol dengan orang tua Hanna.


Dering ponsel milik tuan Arnold menyita perhatian mereka. Pria paruh baya itu langsung mengangkatnya. Suara teriakan membuat semua orang panik.


"Jia, kami berdua pergi dulu nak. " ucap Papi Arnold.


"Memangnya ada apa? " tanya Jia dengan raut herannya.


Mereka semua lekas beranjak. setelah masuk ke mobil masing masing keempatnya lekas pergi.


Skip


Rumah sakit


"Maaf sebenarnya apa yang terjadi pada putri kami? " tanya Nyonya Lea.


"Putri Anda di pukuli setelah tertangkap kamera sedang mencuri di mall. " ungkap seorang wanita.


Semua orang tampak terkejut. Tak lama dokter menjelaskan langsung keadaan Hanna saat ini. Nyonya Lea langsung menangis histeris dalam pelukan suaminya.


Bryan sendiri meminta istrinya untuk duduk di kursi. Jia benar benar tak habis pikir dengan kelakuan suaminya yang posesif tak tahu tempat. Fokusnya kembali tertuju pada dokter yang menjelaskan kondisi Hanna saat ini.


"Sayang, kamu di sini saja. Biar aku yang urus administrasi. " ujar Bryan yang di angguki Jia. Calon hot daddy itu langsung pergi dari sana.


Beberapa saat kemudian mereka sama sama pergi ke ruangan rawat Hanna. Jia menatap miris keadaan sang kakak angkat. Meski sempat membenci Hanna, namun nalurinya tetap saja merasa iba dengan keadaan Hanna saat ini.


Nyonya Lea sendiri tampak menangis di dekat sang anak. Jia memilih mendekat, memperhatikan Hanna yang masih dalam keadaan koma. Wanita hamil itu berusaha menguatkan nyonya Lea.


Setelah itu menatap lurus kearah Hanna dalam tatapan diam. "Aku sudah memaafkan kamu kak, bagiku kau tetaplah kakakku, meski kita tak sedarah. " ucap Jia.


Hanna tetap diam. Tak ada pergerakan apapun, tentu membuat orang tua Hanna hancur.


Tepat pukul sebelas siang, Jia pamit pulang. Dia pun ke luar dari ruangan Hanna, menghampiri sang suami tercinta.


"Kita pulang sayang. " ujar Bryan yang di angguki Jia. Keduanya pergi ke parkiran kemudian masuk ke mobil dan langsung jalan.


Sepanjang perjalanan tak ada obrolan apapun di antara mereka. Jia menerima telepon dari sang mommy tercinta, setelah selesai dia lekas menyimpan ponselnya dalam tas.


"Mas, kamu enggak mau bantu suntikin dana ke perusahaan om Arnold? " tanya Jia pada suaminya.


Bryan hanya diam saja. Jia mendesah pelan, tak mengerti jalan pikiran sang suami. Wanita itu terus membujuk sang suami namun Bryan tetap kekeh dengan keputusannya.


Beberapa menit berlalu mereka sampai di mansion Bryan. Pria tampan itu pun melepaskan sabuk pengamannya. Jia menahan tangan sang suaki, wanita itu menatap Bryan dengan lekat.


"Kamu mau 'kan bantu mereka


"Apa kamu lupa dengan sikap mereka dulu yang semena mena sama kamu. Apalagi Hanna 'lah penyebab calon anak pertama kita pergi? " ujar Bryan dengan nada datarnya.


Jia kembali bungkam. Bryan lekas turun dan di susul istrinya. Pria itu masuk ke dalam. Dia sengaja menghindar dari Jia agar tak lagi di desak.


.


Wanita hamil itu mengadu pada bayi dalam kandungannya. Jiapun segera masuk ke dalam dengan langkah ringan.


Kini dia duduk di sofa dengan bibir cemberut. Jia berusaha mencari cara agar bisa membujuk sang suami. Namun dia sangat takut jika suaminya marah besar padanya.


Nina datang menghampiri sang majikan. Dia menaruh segelas teh di atas meja.


"Kamu sudah balik Nin? " tanya Jia.


"Iya Nyonya, baru tadi sampainya, serta acaranya lancar. " ungkap wanita itu dengan malu malu.


"Jangan lupa undangannya ya, aku dan mas Bryan pasti akan hadir ke pesta pernikahan kamu Nina. " ungkapnya dengan raut cerianya.


Nina mengangguk, mengiyakan permintaan sang majikan. Selama ini dia beruntung memiliki majikan yang baik seperti Jia.


Jia juga mengatakan perihal kehamilannya pada Nina. Nina turut senang mendengar kabar bahagia tersebut. Gelak tawa mewarnai obrolan keduanya. Wanita hamil itu terhibur dengan sikap Nina yang lucu.


Jia juga sering di ajak curhat oleh Nina. Dia tentu saja menanggapinya dengan santai serta memberikan saran untuk Nina.


"Nin, aku mandi dulu dan kamu tolong siapin rujak untukku. " pinta Jia yang di angguki Nina.


Keduanya lekas pergi dari sana menuju ke tempat tujuan masing masing.


pukul satu siang, Jia bersama Nina bersantai di Gazebo. Berbagai camilan, jus dan rujak telah di siapkan. Jia berusaha melupakan kekesalannya pada sang suami.


Tak lama Rigel dan Zoya datang berkunjung, segera bergabung bersama Jia.


"Kebetulan kalian datang, yuk bantu aku habiskan ini semua. " ceplos Jia sambil tertawa.


"Awas lho kak Jia entar gendut. " sahut Rigel usil. Zoya langsung mencubit lengan sang tunangan. Jia langsung menatap tajam adiknya tersebut. Dia paling tak suka jika ada yang mengatai dirinya gendut.


Rigel langsung meminta maaf, lantas mencicipi buah yang di iris kecil kecil. Jia mendengus pelan, kembali memakan rujaknya.


"Kak Bryan mana? "


"Ada dia di kamar. " balas Jia dengan singkat. Wanita hamil itu sibuk makan, Zoya tersenyum kecil melihat kelakuan sang calon kakak ipar.


Wanita beda usia itu sibuk bergosip hingga mengabaikan Rigel. Rigel sendiri tak habis pikir, kenapa para wanita suka sekali bergosip?


Diapun memilih tak ambil pusing. Rigel hanya diam saja sesekali menanggapi ucapan sang kakak. Jia menyudahi obrolannya, sesekali mendapat teguran dari Rigel.


"Hentikan makan rujaknya kak, entarbkak Bryan marah lho. " sahut Rigel dengan santai.


Jia membuang nafas berat, memilih mengalah dan mencari aman. Dia mengedarkan pandangannya, benar saja Bryan saat ini mengawasinya dari kejauhan. Tatapan pria itu tampak sangat datar saat ini.


"Huft mas Bryan lagi mode singa." gumam Jia.