
Hari berikutnya, Hanna dan Dani kembali bertengkar hebat. Pria itu mengusir Hanna dari apartemennya.
"Pergilah dari sini, aku sudah tak membutuhkanmu lagi, Hanna! "
"Jangan kau usir aku Dani. " pinta Hanna sambil memohon.
Dani menepis kasar tangan Hanna. Pria itu begitu marah dengan kebohongan Hanna selama ini.
"Pergi dari sini. " teriak Dani sambil menyeret Hanna dan mendorongnya ke luar. Setelah itu dia segera masuk ke dalam apartemen. Hanna pun menangis sesegukan, wanita itu tak memiliki uang saat ini.
Hanna berjalan gontai meninggalkan apartemen Dani. Dia telah kehilangan segalanya. Tiba tiba dia teringat dengan kedua orang tuanya. Hanna lekas pergi menemui orang tuanya dengan sisa uang di sakunya.
Di Kediaman keluarga Leonardo. Hanna lantas mencari orang tuanya. Mami Lea langsung bangkit, memeluk putrinya penuh kerinduan.
"Sayang kau ke mana saja selama ini? " tanya Mami.
"Aku tinggal bersama Dani. " Hanna mengatakan perihal masalah yang di hadapinya pada sang mami. Wanuta itu turut menyalahkan Jia atas peristiwa keguguran hingga rahimnya rusak.
Mami Lea tentu saja meradang. Wanita itu tak terima atas apa yang di alami putrinya. Dia lekas bangkit, pergi begitu saja. Hanna diam diam tersenyum miring, segera menghapus air mata palsunya.
Hanna bangkit,melenggang pergi ke kamarnya.
Sementara nyonya Lea telah berada di kediaman Davidson saat ini. Wanita itu tampak berteriak, memanggil Jia dengan emosi. Mami Agatha muncul, wanita paruh baya itu tak mengizinkan putri nya ke luar.
"Ada apa? "
"Di mana Jia, wanita itu begitu kejam dan aku merasa menyesal telah membesarkannya. " ucap nyonya Lea.
"Jia yang menendang perut Hanna hingga putriku keguguran. "
Dia tak berhenti memaki dan berkata kasar tentang Jia. Nyonya Agatha tentu saja tak terima. Plak dia melayangkan tamparan ke wajah nyonya Lea.
Takkan dia biarkan siapapun menyakiti putrinya. Nyonya Lea menatap tajam kearah nyonya Agatha.
Plak
plak
"Bukan tanpa alasan putriku melakukan hal kejam tersebut pada putrimu, Lea! "
"Karena Hanna yang menyuruh orang untuk mencelakai Jia hingga dia kehilangan kehilangan bayi pertamanya beberapa bulan lalu? " bentak Nyonya Agatha.
Deg
Nyonya Lea terguncang mendengar pernyataan nyonya Agatha barusan. Dia tak percaya, merasa nyonya Agatha hanya mengarang cerita.
Nyonya Agatha berdecak pelan, raut wajahnya tampak menahan gejolak amarahnya yang hampir meledak.
"Kalau kau tak percaya terserah, kami memiliki barang bukti. Lagipula menantuku sudah melaporkan Hanna ke polisi. " ujarnya dengan enteng.
Nyonya Lea kembali terkejut dengan pernyataan nyonya Agatha. Wanita itu mengumpat kasar, berusaha mengarahkan tangannya namun di cekal kuat oleh nyonya Agatha sendiri.
Daddy Alan ke luar, bergegas menghampiri istrinya. Pria paruh baya itu berusaha melerai istrinya yang tampak lepas kendali.
"Kau jangan buta. Hanya karena Hanna putrimu, kau selalu tutup mata akan kesalahannya. Apa yang dia dapatkan ini adalah hasil perbuatan dirinya sendiri. " sentak nyonya Agatha.
"Mom, hentikan. " pinta Daddy Alan.
"Apa sih Dad, minggir. Aku belum puas membuatnya sadar. Kalau perlu aku akan mencuci pikirannya agar kembali jernih. " geram nyonya Agatha.
Mommy Agatha membuang nafas berat. Pandangannya kembali menajam yang tujukan pada nyonya Lea.
"Selama ini kau selalu di bodohi putrimu itu. Kau menganggap putrimu putih suci tanpa dosa. Namun sebenarnya Hanna adalah ular betina. " ketus Nyonya Agatha.
"Dia adalah sosok antagonis yang sebenarnya. Sekali lagi kau mengusik putriku, akan kupastikan kau akan mengalami hal lebih dari
ini! "
Daddy Alan segera memanggil sekuriti. Dua sekuriti langsung menyeret nyonya Lea ke luar dsri kediaman Davidson. Nyonya Agatha menepis tangan suaminya, dia melenggang pergi ke ruang tamu.
Nyonya Agatha melirik kesal kearah suaminya. Daddy Alan menyentuh tangan istrinya namun di tepis.
"Mom. " Jia datang menghampiri kedua orang tuanya. Wanita hamil itu duduk di sebelah sang mommy. Ya dia mulai membiasakan memanggil mommy Agatha.
"Kenapa sih? "
"Enggak papa sayang. Oh ya tadi mommy menjambak rambut nyonya Lea dengan keras. " ungkap mommy mengebu gebu.
Jia melongo mendengar pengakuan sang mommy. Mommy Agatha menjelaskan kejadian tadi pada sang anak. Wanita cantik itu mengenggam tangan sang ibu, meminta maaf atas kehebohan yang dia perbuat.
"Tak perlu minta maaf nak, Hanna pantas mendapatkannya! "
Mommy Agatha memberikan nasehatnya pada Jia. Meminta sang anak untuk fokus pada kandungannya saat ini, Jia tentu saja mengangguk. Pelayan pun lantas mengantarkan minuman untuk ketiganya.
Nyonya Lea telah memberitahu putrinya mengenai laporan Bryan pada polisi. Hanna tentu saja khawatir sekaligus takut. Wanita itu tak ingin menghabiskan waktunya berada di dalam penjara.
"Ma, lakuin sesuatu. Aku tak ingin masuk penjara dan satu lagi Jia harus merasakan apa yang aku
rasa! " pinta Hanna dengan wajah kesalnya.
"Maafin Mami sayang, mami tak bisa bantu. Kamu minta tolonglah pada Papi, siapa tahu bosa membantu
kamu. " ucap Mami Lea.
"Mami. " sahut Hanna yang tampak kecewa. Wanita itu lekas bangkit, menemui sang papi di ruangan kerjanya. Nyonya Lea memiliki alasan, dia masih teringat dengan ancaman dari nyonya Agatha padanya.
Dia membuang nafas, lalu beranjak dan pergi ke ruangan kerja sang suami. Terjadi keributan besar di sana. Hanna mendapatkan tamparan dari sang papi. Tuan Arnold tampak marah besar pada Hanna.
"Kamu ini anak tak tahu diri, Hanna. Kami merawat dan membesarkan agar membawa nama keluarga kita lebih terkenal bukannya bikin malu seperti ini! " bentak Papi.
Hanna menunduk setelah mendengar bentakan papinya. Papi berdecak pelan, berusaha mengontrol dirinya agar penyakitnya tak kambuh.
"Kau tahu ada hacker yang meretas perusahaan papi, intinya saat ini kita berada di ambang kebangkrutan. "
Hanna tentu saja terkejut mendengar penjelasan papinya barusan. Papi Arnold mengguncang bahu anaknya. Saat ini Hanna tampak bungkam, dia menerima kemarahan dari sang papi.
Mami Lea mendekat, berusaha menenangkan sang suami. Dia teringat penyakit suaminya yang mudah kambuh kapan saja. Tubuh Hanna seketika lemas, tubuhnya lirih ke lantai.
"Ternyata penilaian papi terhadapmu sangat salah, Hanna. Justru kau biang masalah dari semua nya. Papi justru malu dengan keluarga Davidson terutama Jia. " gumam Papi Arnold. Pria paruh baya itu teringat dengan putri angkatnya tersebut. Teringat bagaimana sikapnya yang tak baik pada Jia.
Mendengar nama Jia di sebut membuat tangan Hanna terkepal kuat. Hanna menatap lurus ke arah sang papi dengan tatapan datarnya.
"Anak papi itu aku, bukan Jia. Kenapa Papi justru membela dia daripada aku, putri kandung papi sendiri. " pekik Hanna.
"Hanna. " tegur Mami Lea namun di hiraukan oleh Hanna.
Hanna mengusap wajahnta kasar, setelah mengungkapkan apa yang dia rasakan. Wanita itu memilih ke luar dari ruangan kerja sang papi sambil membanting pintu.