
Beberapa hari kemudian, Jia dan suaminya menghadiri sidang perceraian Azura dengan Dani. Selama sidang, terjadi perdebatan di antara dua pihak.
Azura mencoba tetap tenang, meski amarah dalam dadanya begitu berkobar.
"Hanya wanita gila yang mau bertahan dalam rumah tangga yang tak sehat. Apalagi suaminya justru bermesraan dengan wanita lain, tak hanya berpegangan namun berciuman dan melakukan hubungan layaknya suami istri. " ujar Azura.
"Aku dan putriku bisa menjalani hidup tanpa lelaki egois seperti dia pak Hakim. Harusnya sebelum selingkuh, dia perlu berpikir tentang anaknya lebih dulu. " sindir Zura dengan tatapan sinisnya.
Suasana kini tampak tegang. Pihak Dani terus memberikan perlawanan. Jia tentu saja berusaha menenangkan Azura yang tampak terbawa emosi.
Beberapa jam kemudian, Azura dan Dani resmi bercerai. Azura tampak lega setelah bukti bukti yang dia miliki berguna di dalam persidangan.
Dani sendiri tentu saja tak terima. Pria itu menyusul mantan istrinya hingga ke luar. Dia lekas mencekal tangan Azura dengan erat. Azura menghempaskan tangan sang mantan, raut wajahnya tampak datar.
"Maafkan aku Zura. Aku khilaf. Hanna selama ini terus menggoda
aku. " ungkap Dani pada mantan istrinya.
"Aku sudah tak peduli mas, kamu bisa menikahi wanita simpanan kamu itu. Tak ada lagi hubungan di antara kita berdua. " ujar Zura dengan wajah datarnya.
Zura berjalan melewati mantan suaminya itu. Setelah kepergiannya, Jia dan suaminya mendatangi Dani.
"Hanna ada di rumah sakit, bukankah selama ini kau memanjakannya tuan Dani? "
"Diam. Jangan campuri urusanku. " sentak Dani. Duda itu langsung melenggang pergi begitu saja. Bryan mengajak istrinya pergi dari sana.
Zura telah sampai penthouse. Janda cantik itu menghampiri sang anak, memeluk Lista dengan erat. Caleb sendiri hanya diam saja, tampak memperhatikan keduanya. Zura melepaskan pelukannya lalu mengajak putrinya duduk.
"Sayang, besok ikut mama pindah ya? " bujuk Zura dengan lembut.
"Kok pindah, Lista suka tinggal di sini sama uncle Caleb ma. " ucap Lista dengan mata berkaca kaca.
"Tapi sayang, mama punya alasan kenapa kita harus pindah. "
Lista justru menggeleng. Gadis manis itu tak setuju dengan pernyataan mamanya.
"Aku gak mau pindah ma hiks. " Lista langsung bangkit, berlari menuju ke kamarnya sambil menangis. Zura menatap kepergian putrinya dengan sendu.
Caleb berdecak pelan, dia merasa Zura sangat egois kali ini. Zura berniat menyusul putrinya namun Caleb menahannya. Fokusnya beralih pada pria di sebelahnya saat ini. Wanita itu pun kembali duduk di sofa.
"Kau egois. " ucap Caleb.
"Aku tahu, kamu tak perlu ikut campur Cal. Semua bantuanmu selama ini aku akan terus mengingatnya. " ujar Zura.
"Inilah yang aku takutkan. Aku hanya tak ingin kelak saat Lista dewasa, dia menjadi manja dan menginginkan apa yang ingin dia miliki. "
Caleb tak habis pikir dengan jalan pikiran Zura. Pria itu melarang Zura mengajak Lista pindah. Tentu saja Zura sangat kesal dengan sikap Caleb saat ini.
Wanita itu memilih bangkit, pergi neninggalkan Caleb begitu saja. Dia menemui sang anak lebih dulu namun pintu kamar di kunci Lista. Mau tak mau Zura pergi ke kamarnya, membiarkan putrinya tenang.
Tepat pukul dua, Caleb mengajak Zura dan Lista jalan jalan. Pria itu membawa Lista ke taman bermain. Di sana dia membiarkan si manis itu bermain dengan sepuasnya.
"Kau temani saja Lista bermain, aku akan membeli minuman. " ujar Caleb. Zura mengangguk, dia membiarkan Caleb pergi.
suara langkah kaki mendekati mereka. Zura tentu saja terkejut, bertemu mantan suaminya. Dia langsung memeluk sang anak dengan erat.
"Lista sayang, sini sama papa. " ucap Dani pada putrinya.
"Enggak mau, papa suka marah marah. " sahut Lista. Dani langsung menatap tajam mantan istrinya tersebut. Pria itu merasa Zura telah mempengaruhi putri mereka.
"Papa kangen sama kamu nak. " Dani menggenggam tangan putrinya. Caleb mendekat, menepis tangan Dani dan menjauhkannya.
Zira sendiri mengajak putrinya menjauh. Dia sangat yakin jika putrinya takut bertemu dengan Dani, papa kandungnya. Hot mommy itu membawa sang anak menuju ke mobil.
"Anda seharusnya tak perlu memaksa Lista. Apa anda enggak lihat jika putri anda begitu takut melihatmu?"
Dani mengepalkan tangannya dengan erat. Dia merasa pria di hadapannya saat ini terlalu ikut campur dalam masalah keluarganya. Ria itu langsung mendorong tubuh Caleb dan menghajarnya.
"Kau hanya orang asing di sini, Lista putri kandungku, brengshake. " umpat Dani.
Caleb membalas pukulan Dani, menyadarkan pria itu atas kesalahannya selama ini. Suasana di sana menjadi heboh. Dia lekas membersihkan pakaiannya setelah itu berlalu pergi.
Brum
Caleb membawa Zura dan Lista pergi. Dani hanya bisa merutuki kepergian mereka dengan tatapan penuh kebencian. Sepanjang perjalanan tak ada obrolan apapun. Zura sibuk menenangkan sang anak hingga putrinya tertidur dalam pangkuannya.
Ketiganya memilih langsung pulang setelah berkeliling sebentar. Tiba di penthouse, Zura lekas turun dan membiarkan Caleb menggendong Lista hingga ke kamar gadis mungil itu.
Skip
Kamar Lista
Zura memperhatikan bagaimana Caleb yang begitu menyayangi lista dengan tulus. Pria itu tak pernah meninggikan suaranya di depan Lista. Wanita itu ke luar di susul oleh Caleb, tak lupa menutup pintu secara perlahan.
Kini mereka berdua mengobrol di teras taman. Caleb mengenggam tangan Zura secara tiba tiba. Zura tersentak kaget, dia langsung menoleh kearah Caleb. Zura justru fokus pada luka di wajah Caleb. Wanita itu memintanya untuk tetap di sana, dia segera ke dalam.
Beberapa saat berlalu Zura kembali sambil membawa kotak obat. Dia mulai membersihkan luka di sudut bibir Caleb dan pipi pria itu. Caleb sendiri terus menatapnya dalam diam.
Zura telah selesai mengobati luka di wajah Caleb. Wanita itu meminta maaf telah melibatkan Caleb dalam masalahnya.
"Tak perlu minta maaf lagipula, kalian berdua adalah tanggung jawabku. " ujar Caleb dengan tatapan seriusnya.
Zura pun tertegun mendengar pernyataan Caleb barusan. Wanita itu mengulas senyumnya, berbalas menyentuh tangan Caleb.
"Wanita yang akan menjadi istrimu kelak akan sangat bahagia dan beruntung Cal. " ucapnya dengan tulus.
Caleb sendiri tersenyum tipis tanpa menanggapi ucapan Zura. Keduanya kembali mengobrol ringan membahas hal lain. Zura terhibur dengan ucapan konyol yang di sampaikan Caleb padanya.
Dia begitu beruntung bisa mengenal Caleb. Caleb pria yang baik dan bertanggung jawab. Dia hanya bisa mendoakan supaya Caleb menemukan jodohnya yang tepat.
Zura langsung bangkit, dia pamit ke dalam. Caleb menatap kepergiannya dengan tatapan sulit di artikan. Dering ponsel mengalihkan fokusnya yang hanya tertuju pada Zura.