
Davin menyusul tunangannya di makam Zoya. Laki laki itu hanya menampilkan wajah datarnya memperhatikan Cleo yang menangis.
"Bukankah ini yang kau harapkan sedari dulu? " tanya Davin dengan tatapan sinisnya.
"Maksud kamu bicara seperti itu apa hah? " pekik Cleo.
"Enggak perlu drama deh Cle. Sekarang sainganmu telah tiada, kau pasti menggunakan kesempatan ini untuk mendekati Rigel 'kan? "
"Gadis licik dan tak tahu malu seperti kamu tak pantas untuk Rigel. Dia pantas mendapatkan gadis yang jauh di atas kamu. " Setelah mengatakan hal itu Davin langsung pergi begitu saja.
Cleo menatap datar kepergian Davin. Tak lama dia beranjak dari sana membawa seonggok penyesalan dalam dirinya. Sepanjang jalan, Cleo tampak menangis terisak.
Tiba di mansion, Cleo merasakan suasana tampak dingin. Gadis itu menghampiri pelayan nya yang tampak panik.
"Ada apa Bi? " tanya Cleo.
"Em begini nona, Tuan Haidar tadi pingsan di kamar beliau. Saat ini pengawal telah membawanya ke rumah sakit. "
Cleo membulatkan mata. Dia lantas berlari ke luar dan pergi ke rumah sakit. Gadis itu tampak sangat khawatir dengan keadaan sang papi.
Skip
Tiba di rumah sakit, Cleo langsung mencari ruangan papinya. Dia berniat masuk ke dalam namun suster melarangnya.
"Sus kenapa saya di cegah, saya ingin melihat kondisi papi saya! " ujarnya.
"Tapi tuan Haidar tak ingin bertemu dengan siapapun nona termasuk anda. " ujar suster.
Cleo memaksa masuk namun suster menahannya dengan tegas. Tubuh gadis itu seketika lunglai, dia langsung duduk di kursi dengan raut sendunya. Diam diam dia menangis sendirian tanpa peduli orang orang sekitarnya yang memperhatikannya.
"Kenapa papi juga menjauhi aku. Sekarang aku sadar, karena sikap angkuh dan menyebalkanku membuat semua orang terluka, marah dan kecewa padaku. " ucap Cleo lirih.
Cleo hanya bisa menangis saat ini. Tak lama seorang wanita datang, dia adalah aunty Eline dan keluarganya. Gadis itu langsung menyapa keluarga pamannya.
"Aunty. " panggilnya dengan mata sembab. Aunty Eline pun menghampirinya, sementara Arga dan ayahnya masuk ke dalam ruangan tuan Haidar.
"Kenapa kamu tidak masuk ke dalam ruangan papi kamu nak? " tanya aunty Eline pada sang keponakan.
"Papi enggak mau berbicara sama aku, aunty hiks. "
Aunty Eline mengajak keponakannya itu pergi ke taman rumah sakit. Di sana keduanya berbicara dengan leluasa. Cleo menyesali sikapnya selama ini pada mendiang Zoya.
Aunty Eline menghembuskan nafas berat. Wanita paruh baya itu kembali menatap keponakan sulungnya tersebut.
"Semuanya telah terjadi, Cleo. Zoya telah pergi untuk selama lamanya, penyesalan kamu hanyalah sia sia. " ujar Aunty Eline.
Cleo sendiri kembali menangis, meratapi penyesalannya yang tak bisa mengembalikan sosok adiknya ke dunia. Iri dan dengki membuatnya buta hingga membenci saudara sendiri.
Aunty Eline mengusap punggung sang keponakan. Dia sangat tahu jika Cleo benar benar menyesali perbuatannya selama ini. Wanita paruh baya itu langsung memeluk Cleo, berusaha menenangkannya.
Aunty Eline kehilangan kata kata. Dia bingung memberikan solusi untuk Cleo saat ini. Dia berharap semuanya akan kembali seperti semula tanpa kehadiran Zoya.
Satu jam berlalu Cleo mulai tenang dan lekas menghapus air matanya. Gadis itu menoleh kearah bibinya dengan tatapan sendu sambil meminta maaf.
"Aunty, tolong jaga papi dengan baik. Aku mau pulang, lagipula papi tak ingin bertemu sementara dengan aku. " ucap Cleo dengan lirih.
Setelah mendapatkan izin, Cleo pergi dari sana. Sepertinya dia telah memutuskan untuk menenangkan diri. Gadis itu menepikan mobilnya cukup jauh, lalu mengeluarkan ponselnya.
"Halo Dav? "
"Pertunangan kita telah di batalkan. " ujar Davin tanpa basa basi. Laki laki itu tak berhenti memaki dengan kata kata kasarnya. Cleo menutup sambungan begitu saja dan melajukan roda empatnya lagi.
Gadis itu memilih beres beres dan pergi dari kediaman sang papi. Selama ini Cleo merasa menjadi anak yang tak tahu diri. Sekarang ini dia telah memutuskan hal besar dalam kehidupannya. Sebelum pergi, Cleo menatap kediaman sang papi dengan sendu.Gadis itu memilih menaiki taksi dan pergi dari sana.
Sore harinya, tuan Haidar pulang dari rumah sakit. Nyonya Zeline dan keluarganya memutuskan menginap dan menjaga Tuan Haidar untuk sementara.
"Relakan kepergian Zoya, jangan terus terusan menyalahkan diri sendiri dan Cleo. " ucap Nyonya Eline dengan bijak.
Tuan Haidar hanya diam saja. Pria paruh baya itu tak peduli dengan nasehat dari sang adik. Dia lekas pamit dan pergi ke kamarnya. Sementara salah satu pelayan datang menghampiri nyonya Eline.
"Maaf nyonya, ini ada surat dari nona Cleo untuk tuan Haidar. " ujar sang pelayan. Nyonya Eline segera membukanya, wanita itu tampak kaget seusai membacanya.
"Ya Tuhan Cleo, kenapa kamu pergi nak. " Nyonya Eline tak menyangka jika sang keponakan memutuskan pergi dari rumah. Wanita paruh baya itu menghargai keputusan Cleo saat ini.
Dia pun lekas bangkit, segera memberitahu sang kakak atas kepergian Cleo dari rumah.
Beberapa jam berlalu, langit berubah menjadi gelap. Respon Tuan Haidar hanya diam saja hal itu membuat nyonya Eline geram dengan sikap kakaknya itu.
Kini mereka makan malam bersama dalam suasana tegang dan panas. Arga sendiri lekas menghentikan aksi dari ibunya tersebut. Nyonya Eline membuang nafas berat, memilih diam. Usai makan malam, para pria pergi ke kamar masing masing.
Usai beres beres meja, nyonya Eline bergegas menuju ke kamar. Wanita itu meraih ponselnya lalu mencoba menghubungi nomor Cleo.
"Nomornya gak bisa di hubungi bagaimana ini? "
Tuan Alkan mendekati istrinya, memperhatikan istrinya yang menaruh ponsel wanita itu di meja. Terdengar suara helaan nafas berat ke luar dari bibirnya.
"Biarkan Cleo pergi Mam, mungkin di tempat baru nanti dia akan melupakan rasa bersalahnya pada mendiang Zoya. " ucap Tuan Alkan dengan bijak. Nyonya Eline mengangguk setuju. keduanya membicarakan perihal masalah Cleo saat ini dengan Tuan Haidar.
Keduanya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Cleo. Mereka berdua lekas naik ke atas ranjang, berbaring di sana. Nyonya Eline memeluk tubuh sang suami, dia tetap belum memejamkan kedua matanya.
Di sisi lain Cleo telah sampai di negara L. Tiba di sana sudah cukup larut malam. Gadis itu berencana akan memulai kehidupan barunya di sana. Setelah mandi Cleo lekas membaringkan tubuhnya yang terasa sangat lelah. Dia teringat dengan keadaan papinya, berharap sang papi akan segera sembuhdari sakitnya.
"Maafin Cleo pi, Cleo belum bisa menjadi putri kebanggaan papi. Aku akan mewujudkan mimpi yang ingin di capai oleh Zoya. " ucapnya penuh tekad.