
Di sisi lain Hanna tampak bahagia setelah mendengar Jia mengalami keguguran. Dia sama sekali tak takut dengan kabar mengenai anak buahnya yang tertangkap. Saat ini dia tengah bersembunyi di tempat yang aman dan tak mudah di ketahui siapapun.
"Sayang, kenapa kamu senyum senyum sendiri? " tanya Ardani pada kekasih hatinya.
"Tentu saja senang, Jia telah kehilangan bayinya akibat kecelakaan itu. " ungkap Hanna dengan senyuman liciknya.
"Aku harap dia tak akan bisa hamil lagi. "
Dani hanya diam saja tak berkomentar. Pria itu mencium wanitanya dengan liar dan panas.
"Dani, kapan kau akan bertanggung jawab pada janin dalam perutku? " desak Hanna.
"Nanti, kau harus menghancurkan Bryan lebih dahulu. " sahut Dani dengan seringai miringnya.
Hanna langsung cemberut. Dani kembali merayunya dengan kata kata manis membuat Hanna luluh dengan mudahnya. Wanita hamil itu tentu saja menuruti sang kekasih hati.
Tanpa Hanna sadari jika dirinya hanya di manfaatkan oleh Dani untuk kepentingannya sendiri. Wanita itu kembali memeluk sang kekasih dengan posesif.
Diam diam Danu tersenyum miring. Sepertinya pria itu telah memiliki rencana yang sesuai dengan tujuannya selama ini.
"Jangan biarkan orang tua kamu tahu tempat kita bersembunyi. " ujar Dani yang di angguki Hanna.
"Aku lapar. " rengek Hanna. Dani langsung melepaskan pelukannya, kemudian memesan makanan melalui gofood. Wanita hamil itu memilih bersandar di sofa kemudian membuka majalahnya.
Tak lama Dani bangkit, ke luar sebentar. Pria itu kembali dan menyerahkan makanan pada Hanna. Dani sendiri lekas bangkit dan pergi ke kamarnya.
"Kau harus bertahan, aku masih butuh kamu agar bisa menikmati kemewahan seperti ini. " ucap Hanna sambil menyentuh perutnya.
Setelah selesai makan, Hanna memilih menyalakan televisi. Kini kabar mengenai Jia telah sampai di berbagai media. Hanna tentu saja ta menyiakan kesempatan. Dia pun mengambil ponselnya kemudian membuat postingan ke sosial media.
"Ini akan sangat menyenangkan bila Jia malah jadi gila setelah kehilangan bayinya. " ceplosnya. Hanna benar benar menikmati penderitaan Jia dan Bryan saat ini. Wanita itu sama sekali lupa dengan ancaman Bryan tempo hari.
Hanna langsung bangkit, beranjak menuju ke kamarnya. Setelah memakai pakaian serba tertutup serta kaca mata hitam, Hanna langsung ke luar di antar sopir.
Skip
Setelah memastikan keadaan aman, Hanna lekas turun dan bergegas nenuju ke ruangan rawat Jia. Tak ada siapapun yang berjaga di luar.
Cklek
Hanna masuk ke dalam, dia segera menghampiri adiknya tersebut. Wanita itu melepaskan kaca matanya, meledek kearah Jia.
"Aku dengar kau keguguran Jia! "
Jia menoleh, terkejut melihat kehadiran sosok kakaknya. Namun dia masih diam saja saat Hanna mendekatinya.
"Bagaimana kabar kamu sekarang, sepertinya Tuhan belum mengizinkan kamu menjadi seorang ibu. " ceplosnya dengan tatapan sinis.
Jia hanya diam membisu. Pikirannya saat ini tak karuan. Hanna sendiri memamerkan kehamilannya yang tampak sehat pada Hanna. Merasa di acuhkan membuat Hanna kesal, wanita itu lekas bangkit dan menarik rambut Jia.
"Ssh. " Jia merasakan sakit saat rambutnya di tarik. Wanita itu membalasnya dengan cara mencengkram tangan Hanna lalu memelintir nya.
Dia lantas turun dari ranjangnya. Setelah itu menyeretnya ke tengah ruangan.
"Apa jangan jangan kamu pelakunya hingga membuat aku kehilangan bayiku? "
"Iya memang aku, kenapa? " ketus Hanna.
Seringai terbit di sudut bibir Jia. Jiapun menatap kearah perut rata sang kakak. Dia mengayunkan kakinya ke arah perut Hanna.
"Jia akh. " teriak Hanna kesakitan kala tendangan bertubi tubi dia rasakan pada perutnya. Jia sama sekali tak iba sedikitpun pada Hanna.
Tak berhenti di situ, Jia juga mengambil vas bunga, brrniat melemparkannya kearah Hanna.
Brak pintu terbuka lebar, Bryan yang baru kembali membeli minuman tampak terkejut. Dia langsung memanggil suster yang lewat.
"Jia sayang, turunkan vas bunga
itu. " Bryan lantas mengambil vas bunga lalu menaruhnya kembali ke atas meja. Dia lekas membawa istrinya duduk di sofa. Pria tampan itu menghela nafas panjang, menatap sendu kearah istrinya.
"Sayang, apa yang kau lakukan pada wanita itu? " tanya Bryan.
"Dia telah mengaku sebagai pelaku dari kecelakaan aku. Aku hanya sedikit menendang perutnya tadi, agar dia merasakan sakitnya kehilangan calon anak? "
Bryan meneguk ludahnya kasar. Dia tampak ngeri dengan apa yang di lakukan istrinya barusan. Pria itu berusaha menyadarkan istrinya atas tindakan Jia barusan yang cukup ekstrim.
Jia sendiri kembali menatap lurus ke depan. Wanita itu masih terngiang dengan apa yang di ucapkan Hanna padanya. Terdengar hembusan nafas berat ke luar dari bibir Jia.
"Aku sama sekali tak menyesali tindakan aku barusan! "
Bryan hanya bisa menarik istrinya ke dalam pelukannya. Dia pun tak mengatakan apapun atau menyudutkan wanitanya.
Sementara dokter dan suster tengah menangani keadaan Hanna saat ini. Merela tampak miris dengan keadaan sang pasien yang cukup memprihatinkan.
Usai melakukan opetasi keduanya ke luar dari ruangan. Bryan datang menemui dokter, menanyakan perihal keadaan Hanna.
"Bagaimana keadaan wanita itu dokter? " tanya Bryan.
"Janin dalam kandungan sang pasien tak bisa di selamatkan. Selain itu ada kerusakan dalam rahimnya yang mengakibatkan nyonya Hanna akan sulit hamil. " ungkap Dokter panjang lebar. Dokter membeberkan apa saja hal yang membuat rahim sang pasien rusak.
Bryan tak bergeming. Pria itu justru memastikan Hanna lebih dulu setelah itu kembali ke ruangan Jia. Dia menghubungi petugas cctv agar menghapus rekaman di ruangan sang istri.
Setelah di rasa urusannya selesai, Bryan kembali menemani sang istri tercinta. Dia berusaha menghibur wanitanya agar melupakan kejadian tadi. Pria tampan itu memperhatikan wanitanya yang tengah tertidur.
"Rasa sakit hatimu pada Hanna sudah terbalaskan sayang. Wanita itu berhak mendapatkan hukuman setimpal seperti yang kau rasakan,
nyawa di balas nyawa. " batin Bryan.
Bryan mencium kening istrinya. Dia kembali diam sambil mengamati wajah cantik istrinya.
"Aku janji akan menjagamu dengan tepat. Tak akan kubiarkan orang lain menyakitimu lagi! "
drap
drap
Bryan menoleh, sang mertua datang. Pria itu lekas bangkit dan mengajak daddy Alan ke luar. Dia lekas memberitahu kejadian tadi pada mertuanya.
"Bagaimana dengan Jia? " tanya Daddy Alan.
"Dia baik saja Dad, tak merasa menyesal telah menyakiti Hanna. " ungkap Bryan.
"Baiklah kau di sini saja, aku ingin memgetahui kesehatan wanita penganggu itu. "
Bryan hanya berdehem,dia membiarkan mertuanya pergi. Pria itu duduk di kursi sambil memegang ponselnya. Daddy Alan mencari informasi mengenai Hanna. Pria paruh baya itu tak akan membiarkan siapapun yamg menyakiti putrinya akan hidup tenang.
cklek
Daddy Alan masuk ke dalam ruangan Hanna. Tampak terjadi keributan di mana Hanna mengamuk. Wanita cantik itu menangis histeris setelah dokter memberitahu keadaan dirinya yang sebenarnya.
"Aku enggak mungkin kehilangan anakku, tidak. " teriak Hanna frustrasi.
Wanita itu kembali tak sadarkan diri. Suster segera menolongnya, membaringkan ke atas ranjang. Daddy Alan sendiri berdecak pelan, segera duduk di atas sofa. Dia akan memberi perhitungan dengan Hanna.