
"Sudah hus hus.. Kalian pulang gih! biar aku aja yang rawat kak Ikhna" ucap Raisa sangat khawatir dengan Ikhna yang nampak tak berdaya.
" I can't be rash in my actions! (aku tidak boleh gegabah dalam bertindak), uuh aku harus gimana, kak Ikhna butuh dokter tapi aku juga bingung siapa yang bisa bantu aku!" Raisa mondar mandir dan akhirnya dia tak punya pilihan lain dia mengkopi identitas Ikhna yang terdaftar di dinas pencatatan sipil dengan cara meretas.
Dengan sigap Raisa akhirnya berhasil mendapatkan identitas Ikhna dan sebuah jaminan kesehatan, Raisa yang memang mata duitan selalu merasa rugi saat berkaitan dengan uang itulah kenapa diapun meretas sebuah lembaga jaminan kesehatan, untuk mendapatkan perawatan gratis di rumah sakit untuk Ikhna.
Raisa kembali menelpon para pengawalnya yang semula dia usir dan meminta untuk membantunya membawa Ikhna ke rumah sakit.
Beberapa hari Ikhna di rawat namun tak ada perubahan, dan Ikhna selalu memanggil nama pamannya membuat Raisa tak tega dan menelpon sang paman hingga kejadian itupun terjadi.
Raisa menjebak Adit dengan pertukaran informasi, Adit yang tidak curiga dan menganggap Raisa sebagai rival dari perusahaan Rayan akhirnya membocorkan rahasia perusahaan Rayan dengan imbalan uang dua koper.
Raisa tertawa saat mendapatkan celah dan terjadilah hal di bandara di mana Adit berencana kabur dari negara itu bersama uangnya.
..._______________________...
...***...
Di ruangan rumah sakit di sebuah ruangan kelas VIP Ikhna di rawat, Rayan setia memegangi tangan Ikhna berharap gadis pujaannya terbangun.
"Pa..man.." Ikhna kembali mengigau memanggil Rayan, Rayan terperanjat dan mengusap kepala Ikhna yang seperti tengkorak saja itu.
"Aku di sini, aku di sini sayang... Jangan takut!" Rayan meneteskan air matanya merasakan rasa sakit yang sama dengan apa yang dirasakan iIkhna, dia merasa sangat gagal menjaga Ikhna, dengan bodohnya dia mempercayakan Ikhna pada Adit tanpa dia tahu bagaimana sepak terjang pria itu.
.........
Di tempat yang berbeda Raisa tersenyum puas mendapatkan bayaran dari teman onlinenya dan dia juga merasa amat geram pada Adit.
"Heh dia belum pernah ngerasain di sayat pisau daging kayanya!" ucap Raisa dan kembali keluar dari tempat persembunyiannya, namun dia kembali terbelalak saat mendapatkan pesan dari teman onlinenya.
✉ "' Tuan aku sudah tidak mendengar lagi jeritan dan tangis sekarang, terima kasih banyak, saya selanjutnya tidak perlu ragu kembali dalam bertindak. "
Isi pesan itu, Raisa tersenyum tak membalas dia kembali membuka sepedanya saat keluar dari gorong gorong markasnya, mengayuh sepeda dengan sangat cepat menuju sebuah tempat tersembunyi ruangan bawah tanah.
"Buka pintunya!", seru Raisa melihat para pengawalnya yang tengah berjaga.
"Baik nona, silahkan!", seru salah satu pengawal yang tengah berjaga di pintu seraya membukakkan pintu untuk Raisa.
Raisa tersenyum puas melihat Adit yang masih meringkuk di balik jeruji besi, "malam om jahat!" sapa Raisa dengan tatapan mengintimidasi.
"Lepaskan aku bocah! Aku akan mengampunimu bila kau melepaskan aku!" Adit murka menggerbrak gebrak pintu besi di hadapannya.
"Duuhh.. Aku jadi gak takut...heheh.. Heh... Kenapa aku harus melepaskanmu pria bodoh dan jahat! kamu pikir aku idiot hah, dan lagi aku tak butuh pengampunan darimu karena aku saja tidak akan mengampunimu", ucap Raisa dengan sombongnya duduk di kursi besi di sebrang penjara Adit.
"Aa... Sial..", ucap Adit berteriak, "aaaa...huft..", Adit terdiam saat dia berteriak untuk kedua kalinya sebuah benda masuk ke dalam mulutnya.
"Ups maaf om aku kelepasan, kamu terlalu berisik!", ucap Raisa tanpa rasa bersalah setelah melemparkan sebuah pil obat pada mulut Adit.
"Apa yang kamu berikan padaku bocah sialan!" teriak lagi pria itu dengan sangat ganas, Raisa menyeringai penuh kemenangan.
"Heh, bukan apa apa aku hanya mengurangi masa fonis dari kejaksaan untuk hukumanmu!" ucap Raisa, seraya memanggil pengawalnya.
Adit terdiam mendengar dirinya akan di lepaskan dia kebingungan sudah pasti orang orang itu tak akan melepaskannya begitu saja, namun dia berpikir itu sangat bagus bagusnya setidaknya dia bisa kabur dari jerat hukum atau melarikan diri.
Raisa menyeringai setelah keluar dari tempat itu dan kembali menggoes sepedanya menuju sebuah gerbang menjulang dengan banyak penjaga dan pengawasan.
"Nona muda, selamat datang", sapa salah satu penjaga seraya membuka pintu.
Raisa membalas ucapan itu dengan senyuman dan langsung masuk ke dalam rumah megah itu.
"Ica...!", dari dalam mami ica atau alika datang langsung menjewer telinga putrinya.
"Aw...mami ah... Ampun ampun..", raisa berteriak kesakitan, sedangkan raina yang baru keluar dari rumah terkekeh melihat saudara kembarnya mendapat hukuman.
"Kak bantuin ica kak, mami berubah jadi monster kak!", raisa melambai lambaikan tangan meminta bantuan raina yang tengah terkekeh geli melihat kelakuan raisa.
"Jangan nakal de kalo gak mau di hukum!", balas raina, raisa berdecak kesal dan mengucapkan sebuah jampi jampi yang mampu membuat alika langsung melepaskan jewerannya.
"Kalo kalian jahat gini ica bakal kabur dan gak akan balik lagi!", teriak raisa yang sontak saja membuat alika langsung melepaskan tangannya dari telinga putri kecilnya.
"Haduuuh!, bunda beneran pusing sama kamu ca!", alika memijit pelipisnya merasakan denyutan di kepalanya.
"Udah bun jangan di pikirin toh sekarang ica juga sudah pulang, ayo kita makan saja mumpung ica sudah pulang", ucap raina dengan kerudung besarnya yang nampak mempesona.
"Ah iya, ica masuk dan mandi!, bunda mau ngomong sama kamu!", ucap alika, dia memang tak suka di panggil mami tapi raisa selalu memanggilnya seperti itu.
"Asssiaaap..", raisa berjingkrak memasuki rumah bak istana itu berlari ke kamrnya dan langsung mengunci diri di kamar, mengeluarkan benda benda berbahaya dari dalam bajunya dan langsung menyimpannya di belakang lemari, raisa tersenyum setelahnya dan mandi.
Setelah selsai raisa menggunakan pakaiannya, sebuah baju dengan tangan lima senti meter dengan rok pendek terpakai raisa, raisa tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin.
Tok tok tok, "ca ini bunda!", raisa mendesah pasrah dan membuka pintu.
"Heheh mami", raisa nyengir mempersilahkan alika masuk, alika duduk di tepi ranjang dan membuka sebuah kotak.
"Kamu pilih yang mana yang mau kamu ambil, bunda sudah tawarkan pada raina tapi dia bilang dia ingin mengambil benda yang tidak kamu pilih", ucap alika di mana dua kotak itu berisi masing masing dua buah cincin.
Raisa tersenyum, dia pikir dirinya akan di marahi maminya tapi untunglah alika hanya menanyakan hal semacam itu, raisa berpikir dengan jari telunjuk di letakan di depan dagunya, "ica suka yang ini!", ucap raisa mengambil kotak berwarna biru tua.
"Baiklah, jaga baik baik itu milik.. Eh tunggu! tumben kamu tidak mengambil benda dengan berlian yang berkilau", ucap alika menyindir raisa yang memang sangat tau harga sebuah barang dan dia tahu di kotak berwarna merah harganya sangat mahal namun entah mengapa hatinya sangat ingin mengambil cincin dalam kotak berwarna biru.
"Aku suka yang ini mi!", ucap raisa sehingga sebuah senyum mengemang di wajah cantiknya.
"Kamu memang tidak berubah sayang, jaga dirimu baik baik!, bunda tidak tahu kamu bagaimana di luar sana, usiamu masih belia sayang bunda takut kamu kenapa kenapa, kedua cincin ini peninggalan kakak dari ayahmu, kakek nathan", ucap alika mengelus lembut tangan mungil raisa penuh sayang, hingga air mata merembas dan terjatuh dari mata alika.
"Ica baik baik aja ko mi, mami jangan sedih ica janji gak akan membuat masalah dan membahayakan diri ica, jadi mami jangan khawatir ya", raisa mengusap air mata alika lembut.
"Bagaimana mungkin bunda tidak khawatir sayang, ica juga putri bunda dan bunda juga sangat sayang ica", ucap alika mengelus lembut pipi raisa.
Raisa tersenyum pahit dan tersenyum kemudian memeluk ibunya penuh rasa sayang.
Bersambung...