
"Copot saja listriknya! Tapi jangan coba coba menggoda laki orang! Dasar sampah!" ucap lagi Raisa dengan sangat kuat Raisa menendang perut wanita itu hingga tersungkur.
Beberapa pria yang turut bersama wanita itupun mengangangkat lengan bajunya seraya menghertakan jemari tangan mereka, Raisa tersenyum sinis, dengan cepat Raisa melempar garpu di tangannya ke arah daerah kelelakian salah satu pria tersebut hingga akhirnya sebuah jeritan terdengar dari pria tersebut dan tumbang.
Dua pria lainnyapun tiba tiba ikut merasa sakit dan kembali menatap Raisa, Raisa tersenyum evil dan melemparkan sendok di tangannya menuju daerah leher salah satu pria hingga akhirnya jeritan kembali terdengar bersama dengan aduhan selayaknya orang pertama, sedangkan yang terakhir kian waspada lagi lagi Raisa tersenyum licik dan hendak melemparkan mangkuk di tangannya, namun pria itu sudah ketar ketir dan memberikan sifat waspadanya khas ketakutan.
"Heh, kalian cuma banci!" Ucap Raisa pada para preman tersebut.
"Laporkan ini ke polisi dan katakan bila yang melakukan semuanya ini adalah wanita badut itu! Bila tidak... Heheheh, kamu sudah tahukan apa akibatnya?" ucap Raisa mengancam pada pria terakhir.
Pria itupun mengangguk anggukan kepalanya dan lari terbirit birit amat ketakutan, Gilang yang melihat itupun terpaku dan menyksikan sebuah tontonan laga yang luar biasa licik dan mungkin itulah konsekwensi yang akan di terima siapapun yang berani menyinggung Raisa.
"Masih belom bangun? Apa mau gue tambahin mangkuk?" ucap Raisa mengangkat mangkuknya hingga tiga orang manusia biasa itupun takluk di depan seorang iblis seperti Raisa, Raisa sempat mengangkat mangkuknya namun ketiga orang itupun bangkit dan berlari terbirit birit memegang daerah daerah yang mamang terasa begitu menyakitkan.
Gilang menggelengkan kepalanya menyaksikan bagaimana tindakan Raisa dalam melawan, Raisa yang memang sudah terbiasa menghajar para sampah dan berandalan hanya mengibas ngibaskan tangannya seraya menyerahkan mangkuk yang sempat dia bawa pada Gilang yang masih terpaku di depan mulut pintu.
"Melawan berandalan seperti itu saja tidak bisa, lemah sekali kau!" tegas Raisa kesal seraya menarik kursi yang semula dia duduki, dia memperlihatkan wajah cemberut dan sangat kesal. Gilang mengangkat alisnya melihat bagaimana amarah Raisa yang meledak ledak dan nampak wajahnya memerah padam.
"Mengapa semarah itu? Aku tidak mungkin menarik begitu banyak perhatian dengan kemulusan hidupku. Menyembunyikan identitas itu bukan hanya dengan cara mengganti keterangan dan KTP saja, tapi juga jalan hidup seseorangpun terkadang menjadi pandangan." ucap Gilang mendekat dan menaruh mangkuk tersebut di meja tepat di depan Raisa.
"Tapi tidak seperti tadi! Apa kamu tidak sadar wanita gila itu tadi menggodamu dan kamu malah diam saja? Apa kamu tidak risih dengan itu? Astaga!" Raisa bediri menghadap Gilang yang kini menatapnya lekat.
"Apa kamu cemburu?" tanya balik Gilang hingga akhirnya wajah yang semula nampak merah padam terbakar amarahpun bersemu dan berusaha menghindar.
"Ti...tidak! Siapa bilang aku cemburu?" Raisa gugup bukan main dia akhirnya memutuskan ingin menghindari pria di hadapannya dan menjauh. Ada perasaan aneh dengan debaran yang besar mendebur dalam dada Raisa saat itu.
"Maaf, aku memang salah." ucap Gilang menggenggan tangan Raisa erat hingga akhirnya menghentikan langkah gadis dan berbalik menatap Gilang.
"I..itu urusanmu. Aku tidak mau tinggal disini, Ayo pindah dan pergi dari sini!" Ajak Raisa yang memang sudah tidak suka dengan berbagai jenis orang disana, meski tidak semua orang di sana jahat namun bila mereka terus dalam masalah dan di bayangi berandalan semacam itu Raisa juga cukup kesal.
"Ta..pi? A..ku tidak ada uang lagi untuk membeli rumah baru." ucap Gilang masih menggenggam erat tangan Raisa dan menatap sendu kemampuannya.
"Kita tinggal di rumah kakekku!" Ucap Raisa lagi tersenyum sekilas.
"Ya, memang besar rumahnya tapi tidak terawat, tidak ada satupun keluargaku yang ingin tinggal di rumah itu karena konon katanya rumah itu pembawa sial, tapi aku gak percaya yang begituan bukan sebuah hal atau perkara yang membuat hidup seseorang sial tapi orangnya saja yang sial." ucap Raisa menjelaskan pandangannya tentang rumah besar keluarga Attahaya yang kini terbengkalai begitu saja dan hanya beberapa pelayan saja yang memang di tugaskan untuk membersihkan tempat itu.
"Hmmm, baiklah." ucap Gilang lagi seraya tersenyum simpul. Mungkin benar takdir yang bisa mempertemukan mereka dan kini takdir pula yang membawanya pada rumah keluarga besarnya rumah kakeknya.
"Tapi tunggu! Aku akan kemasi barang barangku di sini dulu setelah itu baru kita pindah!" ucap Gilang lagi berusaha memberikan senyum terbaiknya pada Raisa.
"Apa kamu mengingat semua akun dan juga barang barang berhargamu? Apa barang paling berharga di rumah ini?" tanya Raisa mengangkat alisnya dan melepaskan tangan gilang dari tangannya seraya memeriksa arloji di tangannya.
"Hanya sebuah foto saja." ucap Gilang berusaha tersenyum simpul, Raisapun mengangguk dan menyilangkan tangannya di depan dada.
"Ambil fotonya dan kemas barang barang berhargamu saja, aku keluar sebentar!" ucap Raisa seraya keluar dari rumah itu. Gilangpun akhirnya mengemasi barang barangnya berupa baju dan beberapa alat pelshdisc dan sebuah foto keluarga, Gilang memasukan semua itu kedalam sebuah koper.
Raisa keluar rumah dan dengan cepat mengendarai sepedanya, namun dia kembali teringat sesuatu dan kembali lagi ke rumah Gilang mengambil segepok uang dan juga kartu hitam yang sempat di berikan Raina kepadanya. Gilang hanya menatap kaku bagaimana Raisa yang pulang pergi dan sedikit terkejut saat segepok uang Raisa miliki dan dia bawa.
Raisa menggoes sepeda milik Gilang dan membeli 10 liter bensin dari seorang pedagang bensin eceran, Raisa kembali dengan cepat dan melihat Gilang yang nampak sudah siap, Raisa mengambil keresek tempat dia semula menyimpan pakaian baru yang di belikan Gilang dan menarik tangan Gilang kemudian ke luar rumah.
"Kopernya di simpen di bagian depan sepeda dan ikat dengan kencang!" ucap Raisa seraya membawa satu kompan penuh berupa bensin memasuki rumah, Raisa mengguyur rumah tersebut dengan bensin dan menyalakan kompor kemudian.
Raisa dengan cepat ke luar rumah dan melihat gilang yang nampak sudah siap, Raisa tersenyum evil dan mengibas ngibaskan tangannya.
"Ayo pergi ke arah sana dan bawa sepedanya dengan kecepatan paling cepat!" ucap Raisa seraya duduk di mana Gilang sudah siap menggoes.
Gilang mengangguk dan menggoes sepedanya dengan cepat hingga akhirnya mereka sudah bersepeda sejauh 500 meter dan nampak kepulan asap dari rumah Gilang membumbung tingga, Raisa tersenyum sekilas dan sekitar dua puluh menit kemudian para damkarpun nampak berduyun duyun dengan mobil kebesaran mereka menuju rumah Gilang.
Raisa tersenyum puas atas kinerjanya sendiri, dia juga tidak tahu sebenarnya apa yang kini di rasakan Gilang. Mungkin benar bila Raisa adalah gadis sadis, tanpa perasaan manusia, Raisa layaknya iblis wanita yang menjelma menjadi sosok malaikat cantik di dunia.
Mungkin semua orang juga tidak akan menyangka bila wajah polos yang di miliki Raisa ternyata menyimpan jutaan noda darah di tangannya, dan jutaan kehancuran di dadanya yang sudah terbiasa Raisa lakukan tanpa tahu bagaimana perasan orang lain.
Bersambung...