My Queen Mafia

My Queen Mafia
Janji



Ternyata benar tidak semua hal yang nampak baik baik saja itu, benar benar baik baik saja. Saat itu Raisa memang sedikit terluka karena sebelumnya dia di kejar kejar oleh Adit dan tergores tembakan di tangannya.


Namun hal sekecil itu tidak akan menghentikan tekad Raisa untuk menyelamatkan keluarganya, saat kejadian berlangsung Ikhnapun menyaksikan bagaimana perlawanan yang di berikan gadis kecil berusia tujuh tahun itu hingga akhirnya rencana cadangan yang di lakukan Raisalah yang berhasil membuat Adit terkecoh dan akhirnya terjebak.


Kejadian di bandara itulah waktu yang di tunggu tunggu Raisa untuk melakukan penangkapan pada Adit, dan benar saja Rayan yang sudah berada dan menunggu dirinyapun dapat sedikit membantu dan sekaligus menerangkan situasi yang tengah genting terjadi.


...***...


...__________...


Pertemuan saudara kembarpun akhirnya berlalu dan Raisa kini kembali ke markas utama dimana tempat dirinya berlatih ketahanan fisik dan mental.


Beberapa bulan dan tahun pun kembali berlalu saat kedua gadis itu tumbuh dalam sosok yang kontras berbeda, Raina yang hidup dengan sosok sosok orang baik, dan agama sebagai pelopornya sedangkan Raisa dia hidup dalam tegangan tinggi yang dikelilingi oleh penjahat dan dunia mafia yang begitu kental.


Hingga dalam sebuah samaran mengharuskan Raisa menutupi tubuhnya yang sebenarnya dan menjadi seorang karyawan di salah satu perusahaan.


Tidak di sangka di tempat itu pula dia bertemu dengan sosok pria yang selalu memperhatikan dan selalu mendukungnya dalam berbagai kesempatan dialah Rian, Rian tidak seperti karyawan lainnya yang merasa tidak suka pada Raisa, dengan telaten dan penuh perhatian Rian selalu mencurahkan seluruh kemampuannya untuk membantu Raisa, hingga tanpa terasa bunga bunga cinta bersemi di hati Raisa dan diapun akhirnya benar benar jatuh cinta pada pria bernama Rian tersebut.


Tidak perlu waktu lama bagi Rian meluluhkan hati Raisa hingga Raisa akhirnya sempoyongan dan benar benar jatuh dalam pelukannya, tanpa di sadari Raisa sedari awal tujuannya memanglah untuk mengawasi Raisa agar wanita itu tidak bertindak di luar kendali atasannya.


Hingga waktu demi waktu berlalu dan waktu penyelesaian miskin harus berakhir di mana Raisa yang di bantu rekannya Ismi membongkar seluruh kelakuan busuk di balik perusahaan tersebut, tapi nahas bagi Raisa rekan yang dia percayaipun ternyata seorang penghianat yang dapat menerkamnya kapanpun dia mau.


Untung bagi Raisa yang tidak pernah membocorkan identitas dirinya pada siapapun hingga akhirnya memudahkannya untuk menghilang dan membunuh identitas tersebut.


Hingga dia penghianat itupun benar benar menampakkan dirinya yang sebenarnya di hadapan Raisa, Raisa benar benar tidak habis pikir akan apa yang dia alami saat itu, entah dosa apa dan yang mana hingga dirinya di khianati oleh pria yang di cintai dan teman yang dia percayai, ternyata mereka adalah sosok sosok yang tidak ada bedanya dengan para lintah darat yang maju tak gentar membela yang bayar.


...***...


..._________...


Sebuah aroma nikmat tercium dari hidung Raisa matanya mulai menggeliat terbuka dan menatap mentari yang kini perlahan menerpa wajahnya, perlahan Raisa mulai mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal dalam semak semak mimpi malam itu.


"Ternyata bukan mimpi! " Bisik Raisa menatap langit langit kamar yang berwarna putih.


"Sudah bangun? " Seorang pria datang menyapa Raisa yang masih tertidur di atas Ranjang dengan sisa sisa sakit di sekujur tubuhnya.


"O iya aku Gilang. " ucap pria itu berusaha memperkenalkan dirinya dan untuk mengurai kegugupan yang ada.


"Oh ya, aku Raisa! " ucap Raisa untuk pertama kalinya dia mengatakan nama aslinya di hadapan seseorang, sudah cukup baginya di khianati namun entah mengapa seakan jiwanya terus berontak agar percaya pada sosok baru yang sudah menemani malamnya.


"Aku sudah membuat sarapan, ayo makan bersama! " ajak Gilang memperlihatkan senyum tampannya.


"Hmmm" hanya kata singkat itu yang mampu keluar dari mulut Raisa, ada secercak tidak rela saat dirinya akan kabur dan meninggalkan pria itu, hingga akhirnya Raisapun mengenakan seprai yang dia belit di tubuhnya sebelum akhirnya mengikuti langkah pria yang kini membawanya pada sebuah dapur sederhana.


Tanaman tanaman hias nampak indah dari balik jendela dapur bahkan anggrek nampak berbunga dengan cantiknya menghiasi meja makan tersebut, Raisa dengan perlahan duduk di kursi yang terbuat dari kayu dengan meja berupa bulatan pohon yang nampak indah.


"Maaf beginilah rumahku, dan aku hidup sendiri di rumah ini. " ucap Gilang menyuguhkan sebuah nasi goreng dengan hiasan brokoli dan telur dadar berbentuk hati.


"Oh ya, aku ingin mendaftarkan diri ke KUA, aku sudah berbuat hal yang di luar batas dan sudah sepatutnya aku bertanggung jawab padamu. " ucap Gilang dan sontak saja Raisa tersendat hingga akhirnya dia terbatuk batuk dan menatap Gilang tajam.


"Uhuk, Uhuk.. apa?" Raisa bertanya lagi berusaha meluruskan pendengarannya yang sekan baru saja mendengar sesuatu hal yang di luar ekspektasi nya.


"Begini, aku memang bukanlah dari keluarga berada dan juga memiliki banyak harta, tapi aku juga seorang pria yang bertanggung jawab atas apa yang sudah aku perbuat, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya baik itu aku ataupun kamu. Tapi untuk saat ini maka izinkan aku untuk bertanggung jawab atas dirimu. " ucap Gilang pasti.


'Pria ini boleh juga.' ucap hari Raisa menyelipkan rasa kagum pada sosok pria yang baru saja di kenalnya.


"Apa hal yang bisa kamu berikan padaku? dan bentuk tanggung jawab seperti apa saja yang akan kamu lakukan? " tanya Raisa penasaran, meski memang kemarin sebenarnya merupakan kesalahan dirinya seutuhnya, namun dia juga tidak bisa melepaskan pria yang sudah merenggut kehormatannya yang sudah dia simpan untuk sang suami.


"Aku akan berikan apapun yang sekiranya aku mampu, dan bentuk tanggung jawab yang akan aku berikan kepadamu adalah seluruhnya, baik itu lahir maupun batin. " ucap Gilang dengan sebuah senyum simpul di bibirnya menjawab pertanyaan yang terlontar dari Raisa.


"Sampai kapan ikatan pernikahan ini akan berlanjut? " tanya lagi Raisa, dia tidak ingin kecolongan dan terjatuh pada lubang yang sama.


"Aku tidak tahu, tapi dalam hidupku aku sudah berjanji bila aku hanya akan menikah satu kali, namun bila kamu menginginkan perpisahan suatu hari nanti maka akupun tidak akan bisa apa apa, tapi janjiku selalu aku tepati meski suatu hari kamu memutuskan berpisah akun tidak akan menikah lagi. " Gilang dengan penuh keyakinan mengutarakan perinsipnya.


"Janji memang amat mudah di ucapkan dan sangat mudah pula di ingkari, aku tidak suka dengan obralan semacam itu! " tegas Raisa dan hampir membuat Gilang menatap ke arah wanita di hadapannya.


Bersambung...