
Hingga tangis bayi terdengar lirih setelah sunyi mencekam merenggut mereka. Ferry bernafas lega dan mulai melakukan tugasnya sebagai seorang Dokter, di sisi lain Amry juga tak kalah gesit mulai melakukan kemampuannya dalam berpindah tempat dengan cepat.
"Selamat Sa, bayinya laki laki." Raisa akhirnya tersenyum dan menatap mata hijau terang itu.
"Sudah cukup jadi Sakura, Puteramu sudah lahir. Kita harus mencari tempat yang lebih aman sekarang." Ferry mengangguk setuju.
"Aku ingin ke rumah guru." Kedua pria itupun mengangguk setuju. Memang tidak ada tempat yang lebih aman selain di sana.
Mereka akhirnya membersihkan semua hal tentang mereka di tempat itu. Satu hal yang tidak mungkin mereka tidak akan lupa saat berpergian yaitu. Membakar rumah mereka sendiri.
Raisa akhirnya berangkat setelah melahirkan menuju Amsterdam musim gugur di sana nampak sangat menawan dengan bunga bunga yang sudah menguning meski belum berjatuhan, kota yang berada di Negara Inggris tersebut mampu membuat Raisa sedikit merasa tenang di tambah saat melihat seorang wanita nampak menyambutnya dengan sangat baik.
"Raisa, selamat datang." Raisa tersenyum dan memeluk wanita itu.
"Wah, apa ini bayi mu?" Raisa tersenyum seraya mengangguk mengiyakan pertanyaan itu.
Bayi yang baru saja di lahirkan itu nampak putih bersih dengan rambut hitam mata hijau terang dan tubuh yang nampak sangat sehat tengah tertidur nyenyak.
"Ayo, biar aku antar ke rumah baru kalian." Akhirnya Raisa bernafas lega menatap sosok sang guru yang kini nampak lebih tua dari sejak terakhir mereka bertemu.
Selama perjalanan baik Raisa ataupun sang guru tak banyak berkata kata seolah mereka sudah tahu satu sama lain apa yang telah terjadi pada mereka. Memang segala sesuatu tak perlu di ucapkan meski tahu dan faham. Namun cukup membantu dan menegur saja.
Raisa akhirnya sampai di sebuah rumah di daerah Jordan. Tempat yang sangat cocok untuk menikmati sore hari yang tenang di tambah dengan suasana sungai yang mampu menyejukkan mata menjadi pilihan sang guru untuk menempatkan Raisa di tempat tersebut.
Raisa amat sangat senang di tambah di sana dirinya bisa memberikan pendidikan yang bagi putranya dia juga tidak perduli dengan lingkungan sekitar karena memang di sana lebih privat dan tidak begitu memperdulikan kepentingan orang lain, meski dalam kebersamaan mereka juga cukup baik dan sangat mementingkan kerja sama dalam bergotong royong.
Raisa akhirnya menatap ke luar jendela rumahnya yang mana nampak burung burung kecil hinggap di perahu perahu kecil yang bersandar di tepi sungai yang membelah tempat tersebut.
Keelokan tempat itu pula nampak dari warna kuning dedaunan yang memperelok keindahan sore yang nampaknya sangat tenang itu.
"Raisa, aku sudah siapakan seluruh kebutuhan mu di sini. Dan bila kamu memerlukan sesuatu jangan segan untuk memberitahukannya ke padaku." Raisa tersenyum seraya mengangguk mengiyakan ucapan sang guru.
"Baiklah, terima kasih banyak guru." Wanita itupun tersenyum dan sekilas mengecup kening bayi laki laki yang sudah terbangun dari tidurnya itu.
"Siapa namanya?" Sang guru bertanya seraya mengelus lembut pipi bayi laki laki itu.
"Amza Attahaya" Raisa memberi tahukan nama putranya.
"Amza? Nama yang indah." Raisa mengangguk mengiyakan dirinya sekelebat melihat bayangan pria yang sudah terukir di dalam hatinya tak kala nama itu di sebut.
'Karel' bisik Raisa dalam hati di mana nama itu adalah nama asli dari Gilang.
Namanya adalah Karel Attahaya dia adalah putera dari Atikah dan Nathan Athaiya bisa di katakan Karel adalah paman Raisa. Meski begitu keterikatan darah mereka cukup jauh sehingga hubungan dosa yang mereka lakukan tidak melanggar aturan darah.
Akhirnya dalam kesendirian Raisa mulai membiasakan dirinya menjadi seorang ibu, tidak tidur malam dan selalu memperhatikan sang anak.
Raisa menjadi sedikit lebih terbiasa saat sudah beberapa bulan mengurusi sang putera Amza tumbuh dengan baik dan sangat cerdas. Seakan mengetahui emosi dan siapa ibunya Anda menjadi anak yang pendiam meski diamnya itu bukan karena tertekan namun lebih terkesan dingin dan kejam sama seperti sang ibu.
5 Tahun Kemudian
Tidak ada alasan untuk meninggalkan kota Amsterdam pada musim panas. Karena, inilah masa terbaik untuk hanya bersepeda di sekitaran Leidseplain dan Dam Square sambil menikmati sinar matahari yang merupakan surga tahunan bagi warga kota itu.
Raisa masih ingin duduk di pinggir pantai Blomendahl berbekal makanan kecil dan air dingin bersama anak satu satunya, atau mungkin Raisa akan memilih menikmati koffie verkeerd di salah satu kafe bersama dengan Amza dari pagi hingga sore hari menikmati kedamaian.
Sambil merapikan pakaian yang sudah rapih dan tersusun menumpuk di atas sebuah koper kini Raisa kembali menatap barang barang yang di bawanya terlalu banyak, namun kemudian Raisa kembali menggeleng dia sudah merasa itu hanya yang penting penting saja yang dia bawa dan beberapa benda itu nampaknya hal yang berarti bagi Raisa yaitu buku bukunya.
Pintu tiba tiba terbuka di balik punggungnya nampak sosok seorang wanita yang kini sudah nampak semakin tua terlihat dengan rambut yang kian memutih dan gerakannya yang sudah tidak selincah dulu.
"Sudah Sa, jangan terlalu membebankan terlalu banyak bawaan pada kopermu. Bila masih banyak yang harus kamu bawa biar aku saja nanti yang kirim ke Jakarta." Raisa tersenyum tipis, dirinya urung membereskan buku bukunya yang menumpuk pada kopernya lagi karena memang walau bagaimanapun koper itu tidak dapat memuat benda sebanyak itu.
Seorang bocah laki laki tiba tiba masuk dengan baju kaos putih dan celana kegombrangan menatap sang Momy yang nampak kesulitan.
"Momy, apa memerlukan bantuan ku?" Raisa tersenyum memandang putranya yang tanpa terasa dengan jelas kini sudah pandai memahami situasi.
"Nee(tidak), Momy sudah membereskan segalanya." Kini Amza menatap koper dan buku buku Momynya yang cukup banyak namun dia kembali mengerti saat menatap guru Raisa atau Amza sering memanggilnya Oma.
Raisa tahu saat saat damai yang seperti keajaiban itu akan berakhir pada waktunya dan semua yang akan terjadi itu sekan sudah tidak bisa terelakkan lagi.
Raisa selalu berharap bila keajaiban akan menghampirinya dan tidak membawanya kembali pada dunia yang beberapa tahun itu sekan menghilang dirinya berharap bisa tetap menjalani hari harinya seperti ini. Beberapa tahun Raisa bersama keajaiban berupa kedamaian itu ternyata keajaiban yang di miliki Raisa punya tanggal kadaluarsa.
Cukup hanya lima tahun saja yang di rasa waktu enam tahun itu sesingkat kedipan mata.
"Apa setelah urusan mu selesai kamu akan kembali?" Pertanyaan itu keluar dari dari bibir gurunya yang sungguh bijak dan luar biasa itu.
"Ja(ya), aku akan kembali bila urusanku sudah selesai." Raisa berharap demikian namun hatinya yang dalam dia merasa entah kapan itu dan tahun berapa.
Raisa menatap sebuah kalender yang tergantung di sudut ruangan kamarnya memperlihatkan bulan Juni 2020.
Keluarganya yang kaya raya mempunyai banyak hal yang bisa mereka dapatkan dengan mudah tidak sulit bagi mereka mendapatkan apa yang di inginkan. Namun kehidupan yang di dambakan Raisa adalah kehidupan yang damai tanpa hingar bingar dan sorotan tajam. Namun sekali lagi seolah takdir menghianatinya di usianya yang baru dua puluh delapan tahun itu dirinya merasa sudah terlalu tua untuk terus bertugas.
Bersambung...