My Queen Mafia

My Queen Mafia
Pelit pangkal kaya



"Pernah makan cuangki gak?" tanya Gilang melihat Raisa yang kini nampak sedikit kelelahan karena sempat beberapa kali Gilang menangkap basah Raisa yang tengah memijat pinggangnya yang nampak sangat kesakitan.


Raisa menggelang mendapat pertanyaan itu dan tersenyum simpul setelahnya, dia juga sudah merasa cukup berbelanja hari itu dan memilih mengikuti langkah Gilang yang kini tangan mereka saling berpegangan layaknya benar benar seorang kekasih.


Gilang dan Raisapun berhenti di sebuah tempat pedagang cuangki dan memesan dua porsi, namun mata Raisa tiba tiba terbelalak saat seorang wanita dengan kerudung besar dengan seorang pria kini mengahmpirinya, wanita itu berdiri tegak tepat di hadapan Raisa dengan dua tangannya yang tersilang.


"Raisa?" sapa wanita itu terkejut, dan sontak saja Raisa juga terkejut dan berdiri bersamaan dengan Gilang yang mendapatkan sapaan tersebut.


"Cie..cie... Yang bilangnya ta'arufan tapi kenyataannya pacaran! Ehem.. Ehem..!" singgung Raisa terkekeh melihat saudari kembarnya kini tengah menggaet seorang pria tampan yang berdiri tepat di samping Raina dengan jas dokter dan kemeja putih.


"Eh, ih apaan si! Kamu juga.. Aa cie cie siapa ini Ica?" tanya Raina menatap pria yang kini berdiri di belakang Raisa.


"Ah iya, sayang kenalin ini Raina saudari kembarku, dan ini saha maneh?" tanya Raisa menggunakan logat sunda pada pada pria yang kini berdiri di samping kakaknya, berpura pura tidak tahu.


"Aku Fansuri panggil saja Fans." ucap pria itu memperkenalkn dirinya pada Raisa dengan menelungkupkan tangannya di dada ta'dzim, sontak saja Raina dan Raisapun tertawa dan mengikuti gerakan ta'dzim Fans.


"Waah jadi doble makan ini ya?" ucap Raina terkekeh, melihat Raisa dan Gilang yang nampak sederhana memesan cuangki di pinggir jalan.


"Kita udah ini mau pulang, o ya jangan minta traktiran ke gue!" ucap Raisa menunjukan ibu jarinya pada Raina.


"Oke oke, pelit pangkal kaya!" ucap Raina terkekeh dengan sebauh pangkal yang sering di ucapakan saudara kembaranya itu.


"Hahah let's do it, bener banget!" ucap Raisa tertawa dan menggenggam tangan Gilang yang kini sudah berkeringat karena takut kekurangan uangnya.


"Sekarang gentian kamu kak yang traktir, cuma cuangki doang kok! Para laki biarin bayar masing masing!" ucap Raisa terkekeh dan menerima pesanannya, begitupun Raina dan Fans yang kini sama sama tengah menunggu makanannya.


"Beli ice crame dulu yo!" ajak Raisa menggaet tangan saudari kembarnya menjauhi dua pria tersebut.


"Kenapa de?" tanya Raina bingung, dia tahu pasti bila saudari kembarnya itu pasti tengah ingin mengutaran sesuatu hingga menariknya menjauh dari dua orang tersebut.


"Aku besok mau daftarin diri ke KUA, kamu gak papa kan ce?" tanya Raisa berharap dia yang akan menikahi kakaknya tidak akan menyinggung saudarinya itu.


"Gak papa de, aku juga baru pulang daftar tadi!" ucap Raina hingga akhirny tawa keraspun bergema dari keduanya, penampilan mereka yang layaknya bumi dan langit itupun memancing perhatian para pengunjung pasar, beberapa mata sempat menangkap bagaimana keakraban saudara itu, namun kembali tidak memperdulikan.


"Hahah, untungdeh kalo gitu! O ya aku pinjem satu kartu kamu boleh? Sama duit sejuta doang?" tanya Raisa memperlihatkan wajah memelas dan memohonnya pada Raina.


Rainapun akhirnya membukakan dompetnya dan merogoh beberapa uang lembaran berwarna merah melebihi jumlah yang di minta Raisa dan menyerahkan salah satu kartu hitamnya yang memang milik Raisa yang sempat di berikan padanya.


"Kodenya tanggal lahir kita, dan pake bijak bijak duitnya. Jangan kumpul kebo!" tegur Raina hingga akhirnya Raisapun terkekah geli menyelipkan uang dan kartu tersebut ke dalam saku jaketnya.


"Hmmm dia nampaknya pria yang baik, aku setuju setuju aja tuh." ucap Raina menarik lengan Raisa ke sebuah kedai ice crame dan membeli beberapa ice crame, sedangkan Raisapun bernafas lega, setidaknya Raina sudah memberikan lampu hijau dan kini tinggal ayah dan bundanya saja.


"Hai! Lama ya?" tanya Raisa mengampiri dua pria itu yang berbicara dan sesekali tertawa akrab.


"Iya lama!" ucap Gilang menarik lengan Raisa hingga wanita itupun terjatuh dalam pelukannya.


Berbeda dengan Raisa dan Gilang yang sanagat memperlihatkan kemesraan mereka Raina dan Fans hanya beradu pandang dan tersenyum kemudian.


"Ayo pulang!" ajak Raisa berdiri dan menatik lengan Gilang, Gilang yang sudah melakukan pembayaran lantas mengikuti langkah Raisa.


"Bye bye beby, jangan lupa kirimin scen kartu keluarga ke tempat biasa ya say!" teriak Raisa melambaikan tangannya saat dirinya dan Gilang sudah berlalu dengan sepeda.


Raina benar benar spicless menatap mereka berdua yang nampak sangat bahagia dengan sepeda yang sangat sederhana saja, dia tidak menyangka bila adiknya akan menemukan pria yang cocok dengan sifatnya.


"Gilang memiliki pandangan yang luas dan sangat cerdas" puji Fans melihat kepergian Raisa dan Gilang di antara keramaian.


"Ya aku juga tidak menyangka Raisa akan menemukan sosok pria yang cocok dengannya." ucap Raina menambahkan.


"Gilang sanagt cerdas, tapi sayang saat aku tawari pekerjaan dengan gaji besar dia sama sekali tidak tertarik." ucap Fans merasa aneh, karena dari penampilannya sangat jelas bila Gilang bukanlah sosok orang yang berada namun dia juga bingung mengapa Gilang menolak penawarannya yang memang cukup menggiurkan.


"Setiap orang memiliki caranya sendiri dalam hidup, lebih dalam dia hidup maka dia akan lebih diam, layaknya padi yang kian berisi maka kian menunduk." ucap Raina, dia sedari awalpun sudah merasa bila kedua insan itu memang sudah di takdirkan bersama.


"Iya, aku juga merasa seperti itu, mungkin dia tengah melindungi sesuatu dan belum saatnya dia untuk memperlihatkan diri." ucap Fans menambahkan.


"Tunggu! Apakah mungkin selama ini Raisa memang sudah bersama pria itu? namun Raisa menyembunyikannya hingga akhirnya situasi aman dan kondusif?" Raina mulai menyimpulkan tebak tebakan yang kini tergambar di kepalanya, dia sama sekali bingung harus bagaimana menyikapi adiknya itu.


"Maybe, aku berpikir seperti itu!" ucap Fans memiliki pemikiran yang sejalan dengan Raina, keduanyapun saling beradu pandang dalam kebingungan yang ada.


Fans dan Raina tertawa saat menyadari apa yang sedang terjadi, dimana keduanya tengah menghawatirkan atau bahagia mereka sama sekali tidak tahu namun mereka sangat bersyukur bila Raisa akhirnya mendapatkan pawang yang tepat untuk dirinya. Mereka hanya berharap Raisa mampu menjaga kehormatannya meski selalu berduaan dengan pria, yang nyatanya hal yang mereka khawatirkan itu sudah benar benar terjadi.


Bersambung...


Jangan lupa tinggalakn jejakmu ya!


Salam cinta dari Lii😘😘😘