My Queen Mafia

My Queen Mafia
Amarah Raisa



Gilang menggayuh sepeda dengan riang dengan seorang gadis di belakangnya dan belanjaan pada dua buah keresek yang kini di pangkuan Raisa.


"Ini kok panas? Apa isisnya?" tanya Raisa melihat sebuah keresek kecil dalam belanjaan sayuran.


"Itu cuangki yang belum sempet kamu makan tadi!" ucap Gilang, tersenyum lembut menatap jalanan yang nampak cerah.


"Wahhh, perhatian sekali! Kaya yang beneran mau nikah aja!" ucap Raisa dan sontak saja Gilang mengngerem sepedanya dan membuat Raisa terkejut hingga akhirnya tersungkur pada punggung Gilang.


"Kenapa berhenti?" tanya Raisa merasa heran dengan kelakuan pria yang ada di depannya itu.


"Lihat di sana!" Gilang menunjuk pada salah satu lapangan besar dan nampak beberapa orang yang tengah mendirikan tenda tenda dagangan dan beberapa besi besar di naikan ke atas dan nampak menjulang.


"Ya?" Raisa belum faham dan malah mengangkat wajahnya menatap wajah Gilang tidak faham, Gilang tersenyum simpul dan mengacak acak rambut Raisa.


"Masa masih tanya? Nanti malam minggu pasti rame banget di sana, kita ke sana yu?" ujar Gilang penuh semangat.


"Mau ngapain?" tanya Raisa ragu, Raisa yang semasa anak anak tidak pernah merasakan keramaian dan keriahan pasar malampun kembali bertanya seraya mengangkat alisnya.


"Ya main lah, malah tanya ngapain!" ucap Gilang tersenyum lembut mencubit hidung Raisa Gemas.


"Heh! Kamu tau! aku jujur aku memang sudah mengagumimu sebagai Mr.G tapi, aku tidak yakin bila kamu juga punya perasaan yang sama denganku?" ucap Raisa sedikit Ragu, sedangkan Gilang memilih kembali melajukan sepedanya mengikuti trotoar jalan yang mengarah ke rumahnya.


"Anggap aku juga begitu! Mungkin kejadian kemarin adalah cara tuhan mempertemukan kita! Mari kita menikah sungguh sungguh dan benar benar membina rumah tangga yang baik." ucap Gilang memberikan pengarahan pada Raisa yang mungkin saat itu tengah dilanda dilema.


Raisa akhirnya mengangguk, namun mustahil baginya berhenti di dunia mafia, karena sudah jelas bila dia meninggalkan dunia itu maka bisa saja keluarganya dalam bahaya dan bisa memberikan masalah baru baginya.


Raisa dan Gilang akhirnya sampai di depan rumah Gilang, Gilang dengan gembira membuka rumahnya seraya menggenggam tangan Raisa dan belanjaan mereka. Gilang memberikan keresek berisi pakaian Raisa pada pemiliknya sedangkkan keresek sayuran dia ambil.


"Simpan ini dan beristirahatlah dulu sebentar!" ucap Gilang menyerahkan bungkusan itu dan berlalu menuju dapur, Gilang memisahkan sayuran sayuran yang mudah busuk dan tahan lama. Raisa berlalu ke kamar yang semalam dia tempati dan menaruh keresek belanjaannya.


Tidak pernah di bayangkan Raisa seblumnya bila dirinya dengan uang 200 ribu harus bisa membeli begitu banyak barang, Raisa mengeluarkan sebuah underwer dengan sebuah pita di depannya, senyum di pipi Raisa kembali terukir, dia bahkan belum pernah mengenakan underwer di bawah harga 200 ribu sebelumnya dan kini dia harus mengenakan underwer dengan harga 5000 rupaiah.


Raisa juga melihat sebuah Bh yang mana dengan harga 20 ribu, Raisa lagi lagi terkekeh dua jenis ********** itu dia beli masing masing 3 pasang dan sebuah baju tidur setelan dengan gambar tedy bear pun tak luput dari pandangan Raisa, karena setelan baju tersebut dia beli dengan harga 30 ribu saja.


Raisa menggeleng pelan dan mengeluarkan kembali sebuah baju berwarna hitam dengan gambar kucing manis berwarna jingga, selain itu Raisa juga membeli beberapa celana pendek dan kaos pendek dengan harga 20 ribuan saja.


Raisa terkekeh kembali dan mengambil sebuah baju berwarna putih dengan celana pendek berwarna senada, Raisa membawa pakaian itu menuju kamar mandi dan mengenakannya. Raisa melihat tampilan dirinya di cermin dan melihat bunga melati di balik jendela kamar, Raisa membuka jendela kamar itu dan mengambil beberapa kuntum bunga melati, Raisa mengepang rambutnya sendiri, dan menyelipkan bunga bunga melati itu dalam kepangannya hingga nampak sangat mempesona.


"Raisa, ini cuangkimu tadi! Aku sudah menghangatkannya lagi." ucap Gilang dan membuka pintu melihat Raisa yang nampak tengah bercermin dengan penampiannya yang sudah jauh berbeda.


Raisa tersenyum saat Gilang membuka pintu, dan hampir saja cuangki di tangan Gilang jatuh namun Gilang berhasil kembali tersadar saat hawa panas dari mangkuk itu menyadarkannya dari pemandangan cantik wajah Raisa yang membuatnya terpana.


"Aku cantik gak?" tanya Raisa berputar memperlihaykan tampilannya, dengan cepat Gilang mengangguk.


"Bagus deh kalo kamu suka, ayo makan bareng!" ajak Raisa menerima mangkuk cuangki dari tangan Gilang. Gilang menggeleng pelan dan tersenyum lembut kemudian.


"Aku sudah tadi! Sekarang kamu makanlah dan aku juga nambahin sedikit sayuran di dalamnya." ucap Gilang memperlihatkan bagaimana pangsit dan bakso beserta dengan beraneka jenis sayuran dalam mangkuk tersebut.


"Terima kasih, aku makan dulu deh!" ucap Raisa berlalu menghampiri Gilang dengan bakso cuangkinya dan duduk di sebuah kursi rotan dan mulai menyantap makanannya.


Gilang yang masih terpaku dan menatap kagum kecantikan Raisapun hanya bisa terdiam menyaksikan bagaiama Raisa yang tengah menyantap makanannya.


Namun ketenangan itu tiba tiba buyar saat sebuah gedoran pintu membuat Raisa dan Gilang terkejut, Gilang melihat sekilas dari jendela dan akhirnya membuka pintu.


"Kamu belum bayar tagihan listrik saat sudah tiga bulan, kami akan melepaskan sambungan listrik ke ruamhmu!" ucap seorang wanita dengan sebuah perhiasan emas yang hampir sampai ke ketiaknya.


"Aduuh nyonya, tolong beri aku waktu dua hari lagi saja untuk membayar semuanya." ucap Gilang memohon pada wanita itu.


"Hah? Tidak bisa!" ucap wanita itu seraya menggebrakan tangan besarnya ke pintu, sontak Raisa yang sedang makanpun terkejut dan hampir menelan bulat bulat sebuah bakso yang ada di mulutnya. Namun Raisa berusaha sabar dan memilih tidak bertindak terlebih dahulu.


"Nyonya saya mohon, beri saya waktu sedikit saja!" ucap Gilang memelas.


"Heheh, bagaimana bila kau bayar tagihanmu ini dengan bermalam denganku selama satu minggu dan puaskan aku selama itu!" ucap wanita itu menyentuh dagu Gilang dengan seringainya.


Sontak saja sang Ratu mafia yaang mendengar prianya tengah di godapun murka, Raisa menggebrakkan tangannya ke meja dan mngambil sisa makannya menuju depan pintu tersebut.


Byuuur, Raisa mengguyurkan kuah cuangki yang masih panas itu ke wajah gemuk wanita yang semula menggoda Gilang, Gilang yang melihat itupun terdiam menyaksikan bagaimana Raisa ikut bertindak.


"Copot saja listriknya! Tapi jangan coba coba menggoda laki orang! Dasar sampah!" ucap lagi Raisa dengan sangat kuat Raisa menendang perut wanita itu hingga tersungkur.


Bersambung...