My Queen Mafia

My Queen Mafia
Amanah



Begitulah runtuyan kejadian di masa lalu yang mengharuskan keluarga besar Attahaiya harus bercerai berai.


..._____________________***______________________...


"Aku berjanji akan melakukan yang terbaik untuk menyatukan kembali keluarga kita nek!" Ucap Raisa menyentuh buku dengan sampul hitam di upuk matanya.


Kamar mandi yang semula tertutup akhirnya terbuka menampakkan wajah manis dengan senyum di bibirnya menatap Raisa yang berdiri di sudut ruangan memperhatikan lalu lalang pekerjanya.


"Kenapa belum berganti pakaian?" Tanya Gilang dengan wajah penasaran sedikit mengangkat alisnya yang yang tebal.


"Aku menunggumu untuk memilihkan pakaian yang tepat untukku." Jawab Raisa menatap tetesan air yang jatuh menyentuh tubuh atletis Gilang yang nampak malu dengan wajah bersemu.


"Apa kau malu? " Tanya Raisa menangkap rona indah di pipi Gilang, sontak Gilang mengelak dan berusaha menyembunyikan rona wajahnya.


Raisa terkekeh geli menatap bagaimana ekspresi wajah Gilang yang sangat menggemaskan, Raisa mendekat kian ingin menggoda Gilang yang sudah terlihat layaknya kepiting rebus.


"Orang tuaku pasti menyukaimu, kamu sangat manis." Ucap Raisa melingkarkan tangannya di pundak Gilang dan membuat pria itu sedikit salah tingkah.


Cup, sebuah ciuman di layangkan Raisa di pipi kanan Gilang dan membuat pria itu gelagapan dengan tubuhnya yang amat sulit dia kendalikan. Bagian tubuh bawahnya sudah menegang, belalai gajah yang meronta membuat Raisa kian terkekeh karena dengan jelas benda yang seperti tongkat itu tengah menyentuh pahanya yang mulus.


"Mau aku bantu?" Tanya Raisa mengangkat handuk bagian bawah Gilang dan membuat pria itu gelagapan dan sangat sulit menyeimbangkan tubuhnya, Gilang berusaha menghentikan sentuhan jemari lembut Raisa yang kini menyentuh bagian sensitifnya.


"Hentikan itu! Aku takut kebablasan lagi." Ucap Gilang menyentuh jemari Raisa dan berusaha menghentikan wanitanya itu untuk kembali berbuat hal yang di luar batas.


"Kita sudah pernah kebablasan, kenapa tidak kita coba sekali lagi?" Raisa tanpa rasa malu menempelkan bibirnya di bawah bibir Gilang dan sedikit memberikan keliaran di antara rongga mulut Gilang.


"Aku bena..nar ti..dak ta...han." Gilang berucap dengan nafas tersegal akibat ciuman panas dari bibir Raisa, Raisa terkekeh geli. Dia mengangkat handuk bawah Gilang dan mulai mengelus bagian belalai Gilang yang sudah sangat menegang dan membuat Gilang sedikit merem melek.


Tok.. Tok.. Tok...


Pintu kamar Raisa terdengar di ketuk membuat hal yang sedang berlangsung pun ambyar seketika dan hancur sirna kemesraan tersebut. Gilang terperanjat menatap wajah santai Raisa yang nampak sama sekali tidak memperlihatkan wajah berdosa.


"Kenapa?" Tanya Raisa membuka pintunya saat melihat seorang pengawalnya mengetuk pintu dan terlihat terburu buru.


"Maaf nona itu, anu.. Tuan Rayanza ada di depan dan menanyakan anda." Ucap Pengawal tersebut, sekilas Pengawal tersebut menatap Gilang yang nampak bertelanjang dada dan bintik merah ke hitaman di sekitar leher dan dadanya.


"Suruh dia masuk, biarkan saja dia menunggu. Ganggu saja!" Sungut Raisa kembali membanting pintu. Pengawal itu hanya dapat elus dada menyaksikan bagaimana sifat Raisa yang sulit di tebak kini nampak sangat tidak ingin di ganggu.


"Semoga anda selamat tuan Rayan." Ucap Pengawal Raisa lirih berdo'a untuk Rayanza yang selalu kena jahil dari sepupunya itu, apalagi kini nampak Raisa yang tengah kesal.


"Cape ya?" Tanya Raisa yang sudah berganti pakaian dengan baju berwarna merah muda dengan sedikit aksen putih dan hiasan bunga bunga kecil, rambut Raisa nampak terukir indah dengan sebuah tiara tiara berbentuk bunga mengukir rambut itu.


"Cape lah! Aku baru dateng loh, gak di kasih air? Atau jangan jangan aliran air ke rumah ini sudah di putus ya? " Sindir Rayanza karena dia dapat melihat bagaimana sifat irit yang kini sangat lekat dalam tubuh Raisa yang biasanya glamor dengan barang barang bermerek.


"Oh ya, aku lupa! Paman belum memberi uang jajan bulan ini. Mana? " Pinta Raisa menyodorkan tangannya dan nampak wajah pias dari Rayanza yang membuat Raisa sedikit tidak tega.


"Sabar dong! Eh itu siapa? " Rayanza kebingungan saat melihat seseorang keluar dari dalam kamar Raisa dengan wajah tampan dan jas hitam menampakkan sebuah pemandangan yang layak di acungi jempol.


"Laki aku lah, mau apa kesini? " Tanya Raisa to the point dia amat yakin bila Rayanza datang kesana tentulah akan membawa sebuah hal yang sedikit tidak penting bagi Raisa dan selalu meminta bantuannya.


"Laki? Kamu udah nikah? " Bukan menjawab Rayanza malah bertanya dan menatap lekat tubuh Gilang dari atas hingga bawah.


"Belum, aku tidak sepertimu paman. Aku tidak akan melepaskan pria yang aku suka sepertimu yang melepaskan tante Ikhna." Ucapan dari bibir Raisa menghunus tajam membelah kepercayaan diri dari Rayanza seketika.


"Kalian sekamar? Tapi belum menikah. Apa Alika tau? " Tanya lagi Rayanza kian kepo dengan hubungan keponakannya itu.


"Tau! Aku juga pasti akan di gantung bunda hari ini. Jadi, jangan cari masalah denganku atau akan aku seret paman bersamaku dalam masalah ini!" Ancam Raisa membuat Rayanza merasa ngeri ngeri sedep mendapatkan ancaman itu. Rayanza tidak takut pada Alika atau Rama namun dia takut bila Ikhna tau dan akan membuatnya puasa beberapa hari.


"Iya, ampun! Ampun! Paman kesini juga cuma mau kasih ini! Ingat simpen baik baik! " Ucap Rayanza memberikan sebuah kunci dengan lambang keluarga Attahaiya di atasnya. Raisa tersenyum getir dan menerimanya.


"Di keluarga ini hanya kamu satu satunya orang yang sangat sulit di tebak orang, kamu juga bukan seorang yang lemah atau memiliki kelemahan. Aku percayakan itu padamu." Ucap Rayanza tersenyum tulus berusaha memberikan kepercayaan penuh pada sang keponakan.


"Baiklah, tapi aku tidak janji akan menjaganya dengan baik. Karena sekarang aku mungkin akan dalam masalah. " Ucap Raisa mengerti dengan situasinya yang kian rumit.


"Sesulit apapun situasimu aku yakin kamu mampu menjalankan amanah ini, aku percaya padamu! " Rayanza berdiri dan menepuk pundak yang terlihat lemah namun sangat kokoh milik Raisa, sebuah harapan besar dia gantungkan untuk masa depan keluarganya pada gadis kecil sadis bernama Raisa.


'Di dunia ini tidak ada satupun yang boleh aku percaya, aku juga tidak bisa mempercayakan apapun pada orang lain. Aku hanya percaya pada tanganku sendiri.' ucap Raisa dalam hatinya menggenggam erat kunci tersebut.


Di tempat itu Gilang menjadi penonton dengan mata meneliti setiap hal yang terjadi tanpa sedikitpun dia lewatkan, atau sekecil apapun dia lupakan.


"Terkadang orang yang paling dekat adalah orang paling berbahaya!" Singgung Rayanza lirih setengah berbisik menatap bagaimana mata Gilang yang tajam memperhatikan gerak gerik mereka.


"Aku tahu, dia Eays." Ucap Raisa terdiam sejenak dan bisikan itu kian membuat Gilang curiga.


"Pilihanmu sangat unik." Rayanza kembali berbisik dan menaruh sesuatu di lengan Raisa dan dengan mata tajamnya Gilang dapat melihat hal tersebut.


Bersambung...