My Queen Mafia

My Queen Mafia
Keluarga



"Ayo turun kita makan malam dulu, sudah lama kita tidak makan bersama," Alika tersenyum menggandeng tangan puterinya.


"Iya bunda, Ica rindu masakan bunda" Alika terperanjat mendapatkan sebuah ucapan tak terduga dari puterinya.


"Nah gitu dong, panggilnya bunda aja jangan mami, bunda kurang suka di panggil itu," Alika tersenyum menatap puterinya.


Raisa mengangguk mengerti dan berjalan beriringan bersama bundanya menuju meja makan, Raina sudah siap dengan kursi yang sudah di sediakan untuk adik dan bundanya. Raisa memang merindukan keluarganya namun dia yang memiliki pemikiran jauh sangat ingin melindungi keluarganya dengan caranya sendiri.


"Papi gak pulang?" Raisa bertanya menatap Raina dan bundanya bergantian. Raina yang mengerti lantas menggeleng dan mengambilkan nasi untuk adik dan bundanya.


"Ck, bentar bun!" Raisa kembal berlari ke arah kamarnya dan menekan ponsel dengan tombol tombol yang menunjukkan huruf dan angka, Raisa menekan beberapa angka hingga sebuah sambungan telepon terhubung.


"Pi?, balik kalo papi gak balik aku bakal hancurin satu perusahaan papi!" ancam Alika seraya cemberut dan mata yang marah.


"Jangan ancam papi!" Rama yang tidak terima mendapatkan ancaman dari puterinya lantas membela, Raisa berdecak kesal dan mengambil benda yang semula dia sembunyikan di balik lemari.


"Ck, mau balik atau mau aku hancurin!?" tegas Raisa tak ingin kalah dari papinya, Raisa mengambil benda pipih yang seperti smart phone zaman sekarang.


"Ica!" Rama membentak puterinya yang memang beberapa hari ini selalu memusingkannya, Raisa yang telah mengantongi izin penghancuran dengan bentakan tersebutpun langsung menekan layar di hadapannya hingga keluar berbagai jenis angka dan bahasa yang tidak dapat di mengerti.


Dengan cekatan Raisa menekan layar itu hingga akhirnya dia tersenyum, dan menekan enter.


Duar... Sebuah ledakan terdengar dari balik ponsel Raisa dan sontak lma terkejut karena dia yang berada tidak jauh dari tempag kejadian perkarak menyaksikan sendiri ledakan itu.


"Itulah balasannya." ucap Raisa dan menutup ponselnya. Dari balik pintu Alika mendengarkan percakapan puteri dan ayahnya yang kurang bersahabat, Alika menghembuskan nafasnya kasar dan memandangi lantai bersih tanpa noda dengan sandal dan kaki putihnya.


'Haruskah begini jalan hidupmu nak.' bisik Alika setengah kecewa, namun dia juga entah mengapa dia teramat percaya pada puterinya bila dia akan baik baik saja.


Raisa yang telah mendapatkan kemenangan lantas tertawa kegirangan, dia memetikan ponsel dan alat pipih di tangannya dan menyimpannya ke dalam lemari di antra lipatan bajunya. Raisa tersenyum kecut saat melihat bayangan bundanya berada di balik pintu dia dapat melihat bila saat itu bundanya tengah mengusap matanya yang bertanda dia tengah menangis, hati Raisa tersayat dalam rasa bersalah, dia menatap jam tangan kecil yang melingkari tangan kirinya dan tersenyum pahit.


Raisa meraih jam tangan yang mirip dengannya yang berada di dalam laci nakas di sebelah ranjang dan menghidupkan arloji dengan aksen emas itu. Sebuah angka keluar dari arloji dengan huruf dan sebuah penghitung nada.


Raisa membuka pintu kamarnya dan tidak mendapati bundanya yang semula di tempat itu. Raisa menatap ke bawah ruangan dan melihat bundanya yang tengah menuruni tangga. Raisa berjalan mengikuti lantai yang menujukannya ke arah meja makan.


Sampai akhir acara makan malam itupun baik Raisa ataupun Alika keduanya tak saling berbicara hingga Alika yang memutuskan masuk ke dalam kamarnya.


Tok.. Tok.. Tok.. Pintu kamar Alika terdengar di ketuk, Alika bangkit dari tidurnya karena sebelumnya dia langsung ke kamar dan merebahkan dirinya. Alika membuka pintu dan melihat gadis kecil di bawah matanya, Raisa tengah termenung menatap kaki putih di hadapannya.


"Bunda Ica boleh masuk?" Raisa memohon tapi enggan menatap bundanya dan lebih memilih menundukkan wajahnya.


Alika membukakan pintu dan memperizinkan Raisa masuk, dengan was was Raisa mulai mengeluarkan jam tangan yang semula dia bawa dan mungkin akan muat dengan pergelangan tangan bundanya.


"Bunda, ini untuk bunda!" Raisa menyerahkan jam tangan itu dan kembali menjelaskan. "Maaf Alik tahu Alik salah jam itu sudah aktif dan akan bertahan selama satu bulan, dan setiap bulan harus di isi batrai dengan cara di cas, ini juga bisa menghubungkan kita bunda!, bunda bisa lihat denyut nadi alik dan di mana alik berada, itu bukan GPS tapi alik memberikan fitur agar kita saling terhubung, dalam kondisi tertentu kita juga bisa beradu pesan di sana, maaf!. Alik hanya tidak suka bila papi terus berada di luar tanpa menghiraukan bunda dan kakak." Alika mengatur nafasnya karena air mata tak dapat di tahan dan membasuhi pipi kecilnya.


Dengan sekejap Alika yang menatap Raisa yang nampak penuh sesal itu lantas memeluk puterinya penuh cinta dan sayang. Bagaimana mungkin dirinya bisa membiarkan gadis kecil seperti Raisa keliaran tanpa pendamping namun itulah pilihannya meski usianya belia melihat keteguhan hati Raisa Alika pun akhirnya mengerti.


"Maafin bunda sayang! bunda hanya takut." akhirnya air mata mengalir membasuhi kedua wanita yang saling berpelukan itu.


Raina yang berada di balik pintu pun tersenyum dan meninggalkan keduanya, Raina memasuki kamarnya dan membuka lembaran mashaf untuk menghafal. Tekadnya untuk menjadi hafidzoh memang tak gentar siang malam dia belajar dan meresapi setiap makna yang terkandung di dalamnya.


Keduanya memang jauh berbeda namun seakan mereka yang tercipta untuk satu sama lain hingga akhirnya merekapun dapat saling memahami tanpa harus saling berucap. Raina sering memperhatikan diam diam tingkah Raisa begitupun Raisa yang selalu memperhatikan kakaknya keduanya selalu saling melindungi dalam berbagai hal dalam perjalanan hidup yang pernah mereka lewati.


Hingga akhirnya malam itu Raisa memutuskan untuk tidur di kamar sang bunda, dan memeluk aroma kerinduan yang selalu ada dalam setiap waktunya.


Rama tiba di kediaman saat waktu menuju dini hari, semua pemandangan kediaman megah itu nampak sepi hanya beberapa penjaga yang terbangun yang nampak tengah berpatroli. Rama menginjakkan kakinya masuk ke dalam rumah dan mendapati Raisa yang tengah memeluk Alika di dalam kamarnya.


Hati Rama yang sebelumnya memang sudah marah besar akhirnya tersadar dan melihat dua wanita beda usia itu yang nampak saling mencintai membuat hatinya luluh. Rama membuka kamar Raina sedikit dan di lihatnya Raina yang tengah mengerjakan sholat malam. Dan sekali lagi hati rama benar benar seakan kembali ke rumah. Dia merasa kecewa akan dirinya sendiri yang kini jarang meluangkan waktunya bersama keluarga.


Bersambung...


Jangan lupa Like dan komentar dan jangan lupa masukin list bacaan kamu..!


Terimakasih